Chapter 202
Begitu keduanya mendengar Hun Kiat bicara seperti seorang kaisar, tiba-tiba keduanya menubruk dan menangkap si Golok Kilat.
"Orang she Kwee, mengaku saja terang-terangan, tak perlu menyamar!"
Kwee Cin terkejut. Ia menyadari posisi dirinya dan Kun Houw berada dalam bahaya. Ia merasa marah sekaligus gentar karena Hun Kiat berhasil menangkap basah dirinya sebagai Golok Kilat, anggota Ho-han-hwe.
Kun Houw tidak membiarkan dua iblis itu membekuk Kwee Cin. Ia tiba-tiba membentak dan mendorong lawannya, lalu berkelebat maju mengerahkan Jing-liong Sin-kang.
"Mu Ba, pergi kau, jangan kurang ajar!"
Hun Kiat tidak tinggal diam. Pemuda ini sudah waspada terhadap gerak-gerik Kun Houw. Begitu lawannya menghantam gurunya, Hun Kiat berkelebat menghantam punggung Kun Houw dengan pukulan Pek-hong-ciang, ilmu yang dipelajarinya dari mendiang Ciok-thouw Taihiap.
"Kun Houw, kau yang kurang ajar! Rupanya kau sengaja menyembunyikan pengkhianat!"
Kun Houw terpental. Saat ia sedang menyerang Mu Ba dan Mayat Hidup yang menubruk Kwee Cin, ia mencelat dan bergulingan akibat pukulan curang Hun Kiat. Sementara itu, Mayat Hidup dan Mu Ba yang terdorong angin pukulan Jing-liong Sin-kang terhuyung-huyung. Mereka marah, membelalakkan mata, lalu maju kembali dengan ragu memandang Kun Houw.
Hun Kiat mengejar dan menghadang Kun Houw, lalu berteriak kepada dua gurunya, "Suhu, tangkap saja Lao Kim gadungan itu! Dia si Golok Kilat, aku yakin!"
Mu Ba dan rekannya bergerak. Mereka merasa tenang setelah Hun Kiat menghadang Kun Houw. Keduanya tertawa melompat ke depan, tiba-tiba kembali menubruk Kwee Cin yang menggigil memegang goloknya. Kwee Cin maklum bahwa bahaya maut sedang mengancam dirinya, bahkan mungkin juga Kun Houw. Melihat dua iblis itu menyerang dengan nafsu membunuh, si Golok Kilat meraung dan memapak dengan putaran goloknya.
"Mayat Hidup, kalian menghina komandanku... sing-sing!"
Mayat Hidup terkekeh. Ia merasa geli melihat si Golok Kilat mencoba menyerangnya, perbuatan yang dianggapnya lucu dan tolol. Sambil mencengkeram dan menyentikkan jari mengerahkan Coan-kut-ci (Jari Penusuk Tulang), iblis tinggi kurus ini menyambut golok lawan dengan kuku hitamnya yang kotor namun keras seperti baja. Begitu golok bertemu kuku jarinya, golok itu patah menjadi dua!
"Pletak!"
Si Golok Kilat terkejut. Ia memang tahu kesaktian lawannya. Ia maklum kepandaiannya tak mungkin mampu menghadapi Mayat Hidup, namun melihat goloknya patah dalam satu gebrakan, ia tidak bisa menahan keterkejutannya. Saat itu, Mayat Hidup menusukkan telunjuknya sambil terkekeh dingin, menyambar tenggorokan lawannya dengan kecepatan kilat. Sebelum menyadari apa yang terjadi, tubuh Golok Kilat terbanting roboh tertotok jari Mayat Hidup.
"Bruk!"
Golok Kilat tak berdaya di atas lantai. Ia mendelik memandang lawan dengan penuh amarah. Ketika Mayat Hidup menyambar tubuhnya untuk dilemparkan ke arah Mu Ba yang sedang terbahak menyeramkan, tiba-tiba teman di belakangnya—yang bukan lain adalah Kam Ek si Tombak Pendek—menyergap sambil mengayunkan granat tangan.
"Kun Houw, keluar!"
Mu Ba dan teman-temannya terkejut. Mereka melihat orang tak dikenal itu menyambitkan dua granat tangan, satu ke arah Golok Kilat dan satunya lagi ke punggung Mayat Hidup. Serangan yang tak terduga itu amat berbahaya dan dahsyat. Mayat Hidup berhasil mengelak dan menangkap granat tangan yang dilemparkan ke punggungnya, lalu melenting keluar dan melemparkan balik granat tersebut ke arah si Tombak Pendek.
Begitu granat meledak menghantam sasaran, ruangan itu ambruk dan berantakan.
"Blaar!"
Kun Houw dan orang-orang lainnya meloncat keluar, berjungkir balik menyelamatkan diri. Ketika ruangan itu roboh dan Mu Ba mengumpat, ternyata dua orang yang tertinggal di dalam hancur akibat ledakan. Wujud mereka tak dapat dikenali lagi karena pecah menjadi beberapa potong.
Kun Houw yang menggigil menahan marah tiba-tiba tertegun pucat memandang reruntuhan bangunan itu. Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi: Tombak Pendek ingin menyelamatkan mereka semua dengan cara bunuh diri, sekaligus memusnahkan Golok Kilat hingga hancur lebur. Karena jasadnya sudah tidak berbentuk, tak mungkin ada bukti yang bisa diteliti. Mereka adalah pasukan berani mati!
Kun Houw yang terbelalak melihat kejadian itu tiba-tiba menggeram marah kepada Hun Kiat, merasa bahwa kini tak ada bukti lagi untuk menuntutnya.
"Hun Kiat, kau binatang keparat! Kau membunuh dua anggota pasukanku!"
Hun Kiat tertegun. Ia juga tidak mengira teman Golok Kilat tersebut melakukan tindakan bunuh diri dengan granat tangan hingga Golok Kilat tewas. Dengan begitu, ia tak bisa lagi menuduh Kun Houw sebagai orang yang menyembunyikan pengkhianat. Melihat Kun Houw melompat maju membentaknya dengan marah, Hun Kiat mundur dan merasa bingung.
"Hm, anak buahmu itu yang keparat, Kun Houw. Golok Kilat rupanya tikus busuk yang sengaja menyelamatkan dirimu!"
"Jahanam, kau menuduh dan melanggar batas kewenanganmu, Hun Kiat. Kini aku menuntut pertanggungjawabanmu atas kematian dua orang anak buahku!"
Kun Houw menggetarkan lengan, sadar bahwa kedudukannya kini di atas angin karena lawan kehilangan bukti. Hun Kiat yang memandang bingung tiba-tiba marah, menyadari ada semacam permainan antara Kun Houw dengan Golok Kilat dan temannya itu. Ia mengejek sambil melompat mundur, lalu mengibas lengan memberi isyarat kepada gurunya.
"Suhu, Kun Houw rupanya memelihara anjing busuk. Sekarang kita tangkap saja dia dan serahkan pada Ok-ciangkun!"
"Ha-ha, betul, Kiat-ji. Rupanya kita tertipu oleh dua orang itu. Golok Kilat dan temannya menyelamatkan Kun Houw dengan kematian mereka!"
Kun Houw marah. "Kau masih menuduhku juga, Mu Ba? Apa kau punya bukti atas hinaanmu ini?"
Mu Ba melotot. "Tak perlu bukti lagi, Kun Houw. Kematian mereka jelas melindungi dirimu. Mereka jelas Golok Kilat dan entah siapa lagi!"
"Hm, aku akan merobek mulutmu untuk fitnah yang terlampau kotor ini, Mu Ba. Kau ternyata sama dengan muridmu, menuduh tanpa bukti!"
Kun Houw membentak dan berkelebat ke depan, menghantam muka lawan dengan pukulan Jing-liong Sin-kang.
"Dukk!"
Mu Ba mencelat terlempar. Ia mencoba menangkis tapi kalah kuat oleh sinkang Kun Houw yang luar biasa, warisan Bu-beng Sian-su yang dipelajari pemuda ini di gua bawah jurang. Mu Ba berteriak, terguling-guling, lalu melompat bangun. Kun Houw yang mengejar untuk melampiaskan kemarahannya segera melepas serangan susul-menyusul hingga Mu Ba berkaok-kaok, jatuh bangun, dan memaki-maki pemuda itu.
Namun, saat Kun Houw siap membunuh lawannya, ia mendengar bentakan Hun Kiat dan Mayat Hidup yang maju bersamaan.
"Kun Houw, lepaskan guruku. Kubunuh kau!"
Kun Houw berbalik. Ia melihat Hun Kiat melepas pukulan ke punggungnya—kembali berbuat curang untuk menolong gurunya—disusul Mayat Hidup yang menusukkan Jari Perusak Tulang ke dadanya. Dua serangan itu sangat berbahaya dan ganas. Kun Houw merendahkan tubuh untuk mengelak, tiba-tiba menerima pukulan Hun Kiat yang dinilai paling berbahaya.
"Dess!"
Kedua pemuda itu sama-sama tergetar, terhuyung dua langkah, dan saling melotot. Mu Ba yang tertolong segera melompat bangun, menggereng sambil mencabut tengkorak bayi.
"Hun Kiat, bunuh bocah ini! Kun Houw sengaja menyimpan mata-mata... wurr!"
Tengkorak bayi itu menyambar dengan kecepatan kilat dan menghantam kepala Kun Houw dengan hebat. Namun, Kun Houw menghindar dengan membungkuk. Tapi Mayat Hidup dan Hun Kiat yang marah segera membantu dari kiri-kanan, mengeroyok Kun Houw dengan bentakan keras.
Ketika Mayat Hidup menggerakkan tongkat dan memainkan Coan-kut-ci dengan tangan kiri, sementara Hun Kiat menyerang dengan pukulan Pek-hong-ciang, Kun Houw terkena dua gebukan tongkat dan tengkorak yang mengenai pinggangnya.
"Plak-dess!"
Kun Houw terlempar. Ia membentak marah dan melompat bangun; ia tidak terluka karena telah melindungi diri dengan sinkangnya. Namun, melihat Mu Ba dan dua temannya mengejar dengan serangan ganas, sementara Hun Kiat menghantam dengan pukulan sinkang, terpaksa Kun Houw mencabut Pedang Medali Naga untuk menerima tiga serangan beruntun itu.
"Plak-cring-dess!"
Mu Ba dan Mayat Hidup berteriak kaget melihat sinar kebiruan berkeredep menyilaukan mata. Mereka terbelalak melihat Kun Houw mencabut pedang ampuhnya. Ketika tongkat terbabat sementara tengkorak bayi putus disambar Pedang Medali Naga, dua iblis tua itu melempar tubuh bergulingan dengan muka pucat. Mereka melompat bangun melihat Kun Houw berdiri gagah dengan mata berkilat memandang mereka bertiga tanpa berkedip. Mereka gentar dan ciut nyalinya setelah dalam segebrakan saja Kun Houw membuat mereka tunggang-langgang.
Hun Kiat yang tertegun melihat kehebatan Kun Houw akhirnya didorong oleh dua gurunya yang bersembunyi di belakang punggungnya.
"Kiat-ji, maju hadapi lawanmu itu! Biar kami mengeroyok di belakangnya!"
Hun Kiat terkejut; ia merasa malu melihat sikap kedua gurunya yang pengecut dan terang-terangan menunjukkan sikap gentar. Ia mendengus, menggerotokkan jari, lalu melompat maju dan menyuruh gurunya minggir.
"Kun Houw, majulah. Biar kita bertanding satu lawan satu!"
Kun Houw terbelalak. Ia marah dan benci sekali kepada murid Mayat Hidup ini, anak yang dipungut dan dipelihara ibunya, tapi yang justru membunuh ibunya. Hal itu membuatnya ingin membalas sakit hati dan menelan lawannya bulat-bulat.