Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 203

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 203

Namun, sebelum sempat ia memenuhi tantangan dan mengangguk dengan mata berapi-api, mendadak Ok-ciangkun muncul bersama pembantu-pembantunya yang lain, yaitu Sam-hek Bi-kwi dan Siang-an Ji-bin.

"Hun Kiat, Kun Houw, kenapa kalian mau bertempur dan membuat keributan lagi? Apa yang terjadi di sini, dan siapa yang meledakkan gedung?" Hun Kiat memutar tubuhnya.

Bentakan Ok-ciangkun yang cukup berwibawa itu mengejutkan mereka semua dan secara otomatis menghentikan pertempuran.

Hun Kiat yang garang, begitu melihat kemunculan sang panglima, langsung berseru sambil menunjuk Kun Houw. "Dia memasukkan mata-mata, Ciangkun! Kun Houw berkhianat dengan menyembunyikan dua orang musuh di pasukan cadangan!"

Ok-ciangkun terkejut. "Betulkah, Kun Houw?"

"Tidak!" Kun Houw tentu saja tidak mengaku. "Aku tidak memasukkan mata-mata, Ciangkun. Hun Kiat memfitnah dan sengaja mencari gara-gara denganku!"

"Hmm, bagaimana ini?" Ok-ciangkun mulai geram. "Siapa yang berbohong di antara kalian?"

Hun Kiat tertawa mengejek. "Jelas yang berbohong adalah Kun Houw, Ciangkun. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada kedua guruku ini!"

"Benar!" Sin-thouw-liong Mu Ba menggeram marah. "Kami melihat Kun Houw memasukkan mata-mata, Ciangkun. Golok Kilat dan temannya yang entah siapa bersembunyi di tempat ini!"

"Ya!" Mayat Hidup menyambung sambil terkekeh-kekeh dan terbatuk-batuk. "Kun Houw memang menyembunyikan musuh Anda, Ciangkun. Sebaiknya geledah saja tempat ini dan bawa dia menghadap Kaisar!"

Ok-ciangkun mengerutkan kening, mulai termakan oleh hasutan tersebut. "Benarkah, Kun Houw? Kau memasukkan Golok Kilat dan temannya ke dalam pasukanmu?"

Kun Houw tetap tenang. Ia sekarang banyak "ketularan" kepandaian Shi Shih. Ia banyak belajar dari selir itu mengenai berbagai kecerdikan, termasuk cara mengelabui dan membuat orang percaya. Maka, mendengar Hun Kiat dan guru-gurunya menyudutkannya dengan pernyataan-pernyataan yang berbahaya, Kun Houw tidak takut, bahkan tertawa mengejek.

Ia tahu lawannya tidak memiliki bukti lagi setelah Golok Kilat dan Kam Ek bunuh diri serta hancur lebur di dalam gedung. Sambil menggelengkan kepala menghadapi sang panglima, Kun Houw membantah.

"Ciangkun, Anda tahu sendiri bagaimana hubunganku dengan iblis-iblis busuk ini. Hun Kiat dan guru-gurunya selalu memusuhiku. Anehkah jika mereka mencari gara-gara dengan menyebar fitnah atau semacamnya untuk menjatuhkanku? Jika tidak percaya, periksa saja tempatku. Tadi mereka disuruh memanggil Anda agar dapat melihat siapa orang yang dituduh sebagai Golok Kilat yang tidak kukenal itu. Namun, karena Hun Kiat menyerang secara membabi buta dan tidak tahu aturan saat menangkap orangku, akibatnya orangku tewas di dalam gedung."

Ok-ciangkun tertegun. "Benarkah demikian, Hun Kiat?"

Hun Kiat meradang. "Mereka tewas karena bunuh diri, Ciangkun! Golok Kilat dan temannya sengaja melakukan itu demi menyelamatkan Kun Houw agar jejaknya tidak dapat dilacak!"

"Hmm!" Kun Houw mengejek. "Mereka tewas karena ji-suhumu melempar kembali granat tangan itu, Hun Kiat. Jika tidak, tentu saja mereka tidak akan binasa!"

"Tetapi mereka sengaja bunuh diri! Mereka ingin menghilangkan jejak dengan meledakkan senjata peledak itu!" Hun Kiat gusar dan melotot ke arah Kun Houw.

Namun, Kun Houw yang membalas dengan senyum mengejek dan suara dingin langsung menangkis, "Bisa jadi. Namun, jika gurumu tidak melemparkan kembali granat tangan itu ke arah anak buahku, tentu mereka masih hidup, Hun Kiat. Karena mereka tewas akibat ulah kalian, sekarang aku menuntut pertanggungjawaban atas kematian kedua anggota pasukanku!"

Wajah Hun Kiat pucat pasi. Ia sangat marah diserang balik seperti ini. Ok-ciangkun yang kemudian memandang ke arah sang ji-suhu tiba-tiba bertanya, "Mayat Hidup, benarkah kau melemparkan kembali granat tangan kepada anak buah Kun Houw?"

"Benar!" jawab Mayat Hidup dengan bingung. "Namun, hal itu kulakukan karena anak buah Kun Houw melemparkan granat tangan ke punggungku, Ciangkun. Jika tidak, tentu aku tidak akan melakukannya!"

"Dan hal itu dilakukan oleh anak buahku karena kalian hendak menangkap mereka secara sewenang-wenang. Mayat Hidup, kalian sudah kuperingatkan bahwa perbuatan kalian melanggar aturan, tetapi kalian tetap nekat. Kalian tidak mau memanggil Ok-ciangkun ataupun membawa surat penangkapan dari Kaisar!" Kun Houw balik menjebak. Ia berada di atas angin karena tindakan Mayat Hidup dan rekan-rekannya memang melanggar aturan, tanpa melalui prosedur yang benar, serta melampaui batas kewenangan.

Ok-ciangkun yang dapat menerima alasan ini tiba-tiba memandang berang ke arah Hun Kiat dan para gurunya. "Hun Kiat, benarkah kalian melakukan penangkapan tanpa surat perintah? Benarkah Kun Houw telah memperingatkan hal itu dan kalian mengabaikannya?"

Hun Kiat tertegun dan tidak menjawab.

"Benarkah, Hun Kiat? Kau mengabaikan semua ini dan melanggar aturan?" Ok-ciangkun mengulangi pertanyaannya dengan nada membentak, mulai marah pada pemuda itu.

Hun Kiat yang merasa mendongkol hanya bisa melotot ke arah Kun Houw. Akhirnya ia mengangguk, lalu berkelebat pergi meninggalkan tempat itu. "Benar! Tetapi Kun Houw itu bocah siluman, Ciangkun! Dia selalu menyelamatkan diri di balik tipu muslihat yang busuk!"

Kun Houw tersenyum penuh kemenangan. Ia melihat Hun Kiat pergi dengan perasaan dongkol, yang awalnya berniat menuduh kini malah menjadi pihak yang tertuduh. Sementara itu, Mayat Hidup dan Mu Ba yang mendelik gusar kepadanya—namun takut ditinggal sendirian—akhirnya ikut mengejar pemuda itu sambil berseru kepada Ok-ciangkun, "Ok-ciangkun, apa yang dikatakan muridku memang benar! Kun Houw berlindung di balik muslihat busuk untuk menyembunyikan mata-mata. Anda harus berhati-hati menghadapinya!"

Ok-ciangkun merasa gusar. Ia merasa dipermainkan oleh orang-orang ini, berada di antara ragu dan percaya. Namun, karena ia mengetahui permusuhan lama antara Kun Houw dan Hun Kiat, akhirnya Ok-ciangkun menganggap Hun Kiat hanya sekadar mencari gara-gara. Ia menganggap peristiwa itu telah selesai dan tidak mengambil tindakan lebih lanjut.

Namun, karena Hun Kiat masih penasaran dan selalu memprovokasinya pada hari-hari berikutnya dengan menceritakan bahwa Kun Houw benar-benar menyembunyikan mata-mata, akhirnya keyakinan sang panglima yang kini menjabat sebagai menteri pertahanan itu mulai goyah. Sebenarnya, ia tidak melihat Kun Houw sebagai sosok yang berbahaya. Ia telah membuktikan sendiri bahwa pemuda itu bermusuhan dengan ayah kandungnya sendiri. Jadi, tidak mungkin Kun Houw bekerja sama dengan Golok Kilat atau orang-orang dari Ho-han-hwe, atau setidaknya simpatisan Ho-han-hwe yang dipimpin oleh Pendekar Gurun Neraka, karena pemuda itu jelas-jelas bermusuhan dengan pendekar besar tersebut. Panglima itu pun telah menyaksikan sendiri betapa Kun Houw rela terluka parah demi bertarung melawan pendekar itu—sebuah pertempuran hebat yang sungguh-sungguh mempertaruhkan nyawa. Namun, karena Hun Kiat dan guru-gurunya terus-menerus meyakinkannya bahwa pemuda itu memang menyembunyikan mata-mata, lambat laun sang panglima mulai curiga dan waswas. Ia pun mulai mengamati gerak-gerik Kun Houw, diam-diam memperhatikan sepak terjang pemuda itu, bahkan memerintahkan anak buahnya untuk ikut melakukan pengawasan.

Hingga pada suatu hari, ketika ia melihat sebuah bayangan menyelinap ke dalam kamar pemuda itu, Ok-ciangkun terkejut setengah mati dan membelalakkan matanya. Ia melihat bayangan tersebut bergerak cepat bagaikan hantu masuk ke kamar Kun Houw. Tanpa tahu siapa sosok itu, ia segera mengejar dan mengintainya. Namun, ketika ia tidak menemukan apa-apa di dalam kamar selain Kun Houw yang tengah tertidur lelap di atas pembaringan, sang panglima tertegun sambil mengucek matanya. Apakah penglihatannya yang salah? Ataukah ia baru saja melihat hantu di kegelapan malam? Rasa penasaran Ok-ciangkun pun semakin membuncah. Ia kembali mengintai dan mengawasi kamar Kun Houw secara diam-diam pada malam-malam berikutnya.

Ketika bayangan itu kembali muncul dan benar-benar terlihat memasuki kamar Kun Houw, sang panglima segera berkelebat dan memerintahkan anak buahnya untuk mengepung tempat itu. Ia yakin kali ini si penyusup akan tertangkap basah. Namun, begitu ia mendobrak pintu kamar dan mendapati Kun Houw yang terkejut di atas pembaringannya, mendadak sang panglima dibuat bingung dan tercengang kembali. Ia tidak melihat siapa pun di sana. Kamar itu kosong melongpong. Kun Houw, yang tentu saja berang karena pintunya didobrak secara tiba-tiba, langsung menegur Ok-ciangkun karena merasa terganggu dan tidak tenang dengan tindakan sang panglima yang membangunkan orang tidur. Ok-ciangkun yang mati kutu dengan wajah memerah menahan malu akhirnya melompat pergi setelah meminta maaf kepada Kun Houw.

Anehnya, sejak kejadian itu, bayangan yang sering muncul di kamar Kun Houw tidak pernah terlihat lagi pada malam-malam berikutnya. Rupanya sosok itu sangat berhati-hati atau takut karena merasa gerak-geriknya telah tercium. Ok-ciangkun yang merasa bingung sekaligus jengkel akhirnya mulai yakin dan curiga bahwa Kun Houw memang menyembunyikan sesuatu yang tidak beres. Pemuda itu tampaknya sedang menjalin hubungan rahasia dengan seseorang—sosok bayangan misterius yang selalu berhasil lolos setiap kali ia datang menggerebek. Hal ini diam-diam membuat sang panglima bergidik dan sangat terkejut, karena ia menyadari bahwa pemilik bayangan itu pastilah seorang tokoh berilmu tinggi dengan kesaktian luar biasa, bahkan mungkin lebih tangguh daripada dirinya sendiri.

Hari demi hari berlalu hingga satu bulan telah terlewati sejak peristiwa itu. Tiba-tiba, Ok-ciangkun dibuat terkejut ketika suatu hari Kun Houw melabrak Mayat Hidup! Kejadian ini baru diketahui sang panglima sedikit terlambat. Menjelang pagi, ia mendengar suara gaduh di halaman belakang rumahnya, disusul jeritan ngeri Mayat Hidup yang roboh terpelanting. Ketika bergegas ke belakang untuk memeriksa, ia mendapati Kun Houw telah dikepung oleh banyak orang.

Apa yang sebenarnya terjadi? Rupanya ini adalah ajang balas deman Kun Houw. Seperti yang telah kita ketahui, Kun Houw menyimpan dendam yang sangat mendalam kepada Mayat Hidup dan rekan-rekan iblis itu. Dendam setinggi langit membakar dadanya atas kematian guru dan ibunya. Namun, karena terikat perjanjian satu tahun dengan Ok-ciangkun, Kun Houw terpaksa memendam seluruh kebencian itu. Ia bersabar menunggu saat yang tepat, sembari menahan diri setiap kali melihat musuh-musuhnya berkeliaran bebas di depan mata.

Namun, pada malam itu, saat ia sedang duduk-duduk di luar sambil termenung menatap rembulan, mendadak Kun Houw terkejut ketika sinar rembulan yang baru saja tersapu awan membentuk bayangan ibunya. Kun Houw tertegun. Ia mendongak ke atas dan melihat bulan perlahan-lahan berubah bentuk menjadi sangat jelas, menampilkan seraut wajah seorang wanita.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment