Chapter 204
Wanita yang cantik dengan rambut riap-riapan, mata sayu, dan memandangnya penuh tuntutan.
Wanita yang dikenal sebagai ibunya, Tok-sim Sian-li!
Kun Houw yang terkejut memandang hal ini, tiba-tiba mendengar suara seakan dari alam mimpi.
"Kun Houw, apa yang kau lakukan kepadaku? Kenapa kau bersahabat dengan ayahmu itu? Ah, aku ingin kau membunuh ayahmu itu, Kun Houw! Bukan malah bersekutu dan bersahabat dengannya. Kau mengingkari janji. Kau menipu ibumu...!"
Kun Houw yang tertegun oleh suara tanpa rupa ini mendadak melihat bayangan ibunya di rembulan sana menangis, bercucuran air mata, dan memandang marah kepadanya.
Kun Houw yang terpana melihat semua ini tiba-tiba mendengar suara itu lagi, "Kun Houw, aku ingin ayahmu menemani aku di sini. Alam baka terlampau panas bagiku. Aku tersiksa, aku ingin ayahmu ikut...!"
Kun Houw menggigit bibir. Dia memang teringat janjinya, teringat ikrarnya di saat ibunya mengembuskan napas terakhir. Hal itu selalu membuatnya ngeri dan mengeluh. Dia tersiksa oleh tekanan batin yang menghimpit dadanya, menyadari bahwa ayahnya sebenarnya adalah seorang pendekar sejati yang tidak patut dimusuhi, apalagi harus dibunuh hanya untuk menemani ibunya di alam baka!
Kun Houw yang tiba-tiba menangis sambil menggigit bibir mendadak menjatuhkan diri, berlutut menghadap rembulan.
"Ibu, ampuni aku. Aku belum dapat memenuhi permintaanmu itu!"
Aneh sekali. Bayangan bulan yang berubah bentuk menjadi Tok-sim Sian-li itu mendengus, dan ketika Kun Houw menangis, dia malah mencaci maki.
"Kun Houw, aku tidak peduli kau bisa atau tidak! Yang penting aku menuntut janjimu. Kau harus membunuh ayahmu itu untuk menemaniku di sini...!"
"Tidak!" Kun Houw menutup wajahnya. "Aku tidak dapat melakukan hal itu, Ibu. Aku... aku tidak dapat memusuhi ayah kandungku sendiri...!"
"Kalau begitu, kukutuk kau, Kun Houw! Kau akan gagal dalam setiap percintaanmu jika tidak memenuhi janjimu!"
Bagaikan petir yang meledak tiba-tiba, bayangan rembulan di atas sana kembali seperti semula. Lenyaplah bayangan Tok-sim Sian-li yang gusar itu, tergantikan seperti biasa oleh rembulan yang kuning keemasan, bersih dari noda mega. Bulan itu tampak tersenyum memandang Kun Houw, tetapi Kun Houw yang melihat senyum itu sebagai senyum kutukan tiba-tiba menangis tersedu-sedu.
"Ibu, kau kejam... kau... kau..."
Kun Houw roboh terguling. Dia pingsan untuk beberapa saat.
Ketika bulan tepat berada di puncak kepala dan Kun Houw sadar dari tekanan batinnya, mendadak bulan yang tadi menyerupai bayangan ibunya kini berganti wujud menjadi gurunya, Bu-tiong-kiam Kun Seng!
"Kun Houw..."
Kun Houw kembali tertegun.
"Ini adalah saat yang tepat untuk membalas kejahatan iblis-iblis itu. Mengngapa kau hanya termenung di situ? Ayo berdiri, anak baik! Cari dan balaskan kematian gurumu ini!"
Kun Houw terkejut. Dia melihat ke arah rembulan, teringat bahwa saat itu genap satu tahun sejak ia mengikat janjinya kepada Ok-ciangkun. Berarti, lewat tengah malam ini, dia sudah terbebas dari ikatan sumpahnya. Dia tidak perlu lagi tunduk kepada Ok-ciangkun dan boleh membalas dendam!
Kun Houw yang bangkit berdiri dengan kaki menggigil tiba-tiba mendesis, lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap rembulan.
"Suhu, teecu bersumpah untuk membalas dendam atas kematianmu. Percayalah, malam ini juga teecu akan mencari dan membunuh mereka!"
Seketika itu juga, bayangan Bu-tiong-kiam Kun Seng lenyap, digantikan kembali oleh wajah rembulan yang bulat penuh. Kun Houw merasa seakan berada di alam mimpi. Dia bangkit berdiri terhuyung-huyung sembari mengepalkan tinjunya, menatap bulan yang kembali tersenyum kepadanya. Senyum yang bagi Kun Houw terasa mengiris hati hingga membuatnya menggigit bibir.
Begitu dua suara gaib itu lenyap mengiang di telinganya, tiba-tiba Kun Houw mencabut pedang, menghadap ke arah istana Ok-ciangkun.
"Mayat Hidup, kamulah yang pertama kali akan kudatangi. Bersiaplah kau!"
Kun Houw berkelebat, melangkahkan kakinya menuju bagian belakang gedung Panglima Ok, tempat tinggal Mayat Hidup. Hanya dalam sekejap, dia melompat melewati tembok kamarnya.
Ketika tengah malam telah lewat dan waktu perjanjiannya habis, Kun Houw mendobrak jendela kamar Mayat Hidup yang saat itu baru saja memeluk seorang wanita tidak dikenal.
"Mayat Hidup, keluarlah! Aku akan membunuhmu...!"
Mayat Hidup terkejut. Dia baru saja terkekeh bersama seorang dayang istana yang disergapnya untuk melampiaskan nafsu, tidak menyangka Kun Houw akan menantang dan menerobos masuk ke kamarnya saat sedang asyik bermesraan.
Melihat Kun Houw membentak beringas sambil mencabut Pedang Medali Naga, Mayat Hidup berteriak keras. Ia melemparkan dayang yang ada di pelukannya, mengira Kun Houw akan langsung menyerang, sehingga ia mempergunakan tubuh dayang yang telanjang bulat itu sebagai tameng untuk menangkis.
Kun Houw yang tentu saja marah atas kelicikan lawannya mendengus dan mengelak. Ia menangkap dayang itu dengan tangan kirinya, lalu mendorongnya keluar. Dayang tersebut menjerit di luar pintu kamar, roboh terguling-guling, lalu bangkit dan jatuh kembali bagaikan melihat setan di siang bolong, begitu ketakutan hingga terkencing-kencing.
Sementara itu, Mayat Hidup melompat dari tempat tidurnya dan menyambar tongkat. Ia berseru keras lalu melesat menerobos genteng, karena tidak bisa melarikan diri lewat jendela yang dihalangi oleh Kun Houw.
Namun, Kun Houw segera menyusul dengan bentakan nyaring, mengikuti jejak lawannya menerobos genteng.
"Mayat Hidup, tidak ada gunanya kau lari...!"
Mayat Hidup gentar. Dia melihat Kun Houw berjungkir balik di atas kepalanya, melompati dirinya, dan kini telah berdiri menghadangnya dengan mata berapi-api, tampak sangat ganas dan menyeramkan.
Mayat Hidup yang terkejut mencoba berpura-pura tidak tahu. Ia menekan rasa kagetnya dan bertanya dengan suara parau, "Kun Houw, apa yang kau inginkan? Apakah kau sudah sinting?"
Kun Houw tersenyum dingin. "Kau tidak perlu berpura-pura, Mayat Hidup. Aku datang untuk menagih nyawa guruku, juga ibuku!"
"Ah!" Mayat Hidup terbelalak sambil terbatuk-batuk. "Kau tidak dapat memusuhiku, Kun Houw. Kau terikat perjanjian dengan Ok-ciangkun. Kita adalah kawan!"
"Hm!" Kun Houw mencibir. "Malam ini masa perjanjianku telah habis, Mayat Hidup. Ingatlah kembali berapa lama aku berjanji kepada panglima itu. Lihatlah posisi rembulan!"
Mayat Hidup terkejut. Dia mengamati rupa rembulan, memahami artinya, dan mengingat-ingat. Ketika dia menyadari bahwa posisi rembulan saat itu persis sama dengan posisinya setahun yang lalu, tiba-tiba iblis tinggi kurus ini tersedak dan terbatuk-batuk.
"Kun Houw, ini... eh, ini bukan waktunya kita bercanda. Kau harus menemui Ok-ciangkun terlebih dahulu jika ingin menyelesaikan perhitungan lama!"
"Hm, kau ingin mencari bantuan, iblis tua? Apakah kau takut menghadapiku?" ejek Kun Houw.
Ejekan itu tepat mengenai sasaran, membuat Mayat Hidup mendengus gusar. Dia merasa marah sekaligus gentar, dilingkupi rasa takut dan malu.
Namun, merasa harga dirinya terusik, Mayat Hidup tiba-tiba membentak dan mengayunkan tongkatnya.
"Kun Houw, aku tidak takut menghadapi pedangmu! Kau boleh mencobanya jika berani...!"
Wuuut! Tongkatnya menyambar cepat mendahului kata-katanya, menyerang Kun Houw dengan hantaman dari bawah ke atas. Mulutnya berkata tidak takut, tetapi tangannya justru menyerang lebih dulu.
Kun Houw mendengus melihat kepicikan lawannya. Ia menggerakkan tangan kirinya, melancarkan tamparan yang disertai pengerahan Jing-liong Sin-kang.
Plak! Tubuh Mayat Hidup pun tergetar.
Iblis tinggi kurus itu terdorong dan hampir terpental, tetapi ia segera membentak lalu merangsek maju kembali. Ia menusukkan tongkatnya, sementara tangan kirinya tiba-tiba menyusul dengan pukulan Coan-kut-ci (Jari Penusuk Tulang).
Namun, Kun Houw yang meningkatkan pengerahan tenaga dalamnya segera menyongsong serangan tongkat tersebut. Ia tiba-tiba berkelebat, membalas lawan dengan sabetan pedangnya. Mayat Hidup terpekik dan buru-buru menarik kembali tongkatnya, lalu secepat kilat menjatuhkan diri dan bergulingan menghindari sambaran Pedang Medali Naga.
Begitu melompat bangun sambil melontarkan makian kotor, tiba-tiba iblis ini melengking tinggi dan mengayunkan tongkatnya. Ia berkelebat mengelilingi Kun Houw untuk mengadu kecepatan, melancarkan serangan yang ganas bertubi-tubi.
Sambil mendengus, Kun Houw melindungi dirinya lalu memainkan Bu-tong Kiam-sut untuk menghadapi musuh besarnya itu.
Pertempuran sengit pun berkobar di malam yang sunyi. Mayat Hidup berusaha mendesak dan mengambil inisiatif, berkali-kali mengayunkan tongkatnya dan menusuk dengan Jari Penusuk Tulang.
Namun, ketika Kun Houw memutar pedangnya dan dengan berani menyongsong serangan Coan-kut-ci tersebut dengan tubuh terbuka, Mayat Hidup terperanjat dan terpekik menyaksikan kehebatan tenaga dalam lawannya.
Kun Houw ternyata memiliki kekebalan luar biasa berkat Jing-liong Sin-kang miliknya. Hal ini membuat jari Mayat Hidup terpental dan tertekuk, hingga ia sendiri yang ganti merintih kesakitan, merasa jari-jarinya bagaikan patah-patah.
Saat pedang Kun Houw mulai berputar-putar menyambar tongkatnya, tiba-tiba untuk pertama kalinya senjata di tangan Mayat Hidup itu terbabat putus.
Cratt! Mayat Hidup mengeluh tertahan.
Sebenarnya ia sudah berusaha menghindari benturan langsung, menyadari bahwa tongkatnya tidak akan sanggup menandingi keampuhan Pedang Medali Naga. Namun, karena Kun Houw terus mendesaknya ke posisi yang sulit lewat permainan pedang yang luar biasa, mau tidak mau tongkat itu akhirnya harus berbenturan dengan pedang pusaka yang teramat tajam tersebut. Akibatnya, tongkat itu pun buntung, putus dibabat.
Ketika Kun Houw kembali membentak dan merangsek maju untuk menyerangnya secara bertubi-tubi dari segala penjuru, wajah Mayat Hidup langsung pucat pasi. Ia berteriak panik, sekujur tubuhnya mandi keringat dingin, dan hanya dalam sekejap ia sudah terkena dua kali sabetan pedang. Satu sabetan mengenai pangkal lengannya, sedangkan yang lain bersarang di tulang belikat.
Pertempuran pun berjalan tidak seimbang karena bagaimanapun juga kepandaian Kun Houw jauh lebih tinggi daripada iblis tinggi kurus itu. Akhirnya, diiringi bentakan nyaring, pedang Kun Houw melesat menyambar ke arah tenggorokan Mayat Hidup.
"Mayat Hidup, terimalah kematianmu...!"
Mayat Hidup terbelalak. Ia tidak melihat ada celah untuk mengelak karena semuanya sudah terlambat. Maka, sisa tongkat yang terpaksa digerakkan kembali untuk menangkis Pedang Medali Naga pun patah, dan tebasan pedang itu akhirnya mengenai serta memutuskan tangannya tepat di atas pergelangan.