Chapter 205
"Crak-aih!" Mayat Hidup membanting tubuhnya dan bergulingan.
Dia sempat menahan luncuran pedang itu sejenak—sedetik saja—karena pedang yang kembali menyambar menuju tenggorokannya tidak memberinya ampun, dan tiba-tiba saja sudah menyentuh kulit lehernya.
Mayat Hidup yang menjadi nekat dan bangkit semangatnya tiba-tiba meraup belasan senjata rahasianya, yaitu logam bergerigi yang dahulu mengenai *Bu-tong-kiam* Kun Seng, senjata-senjata gelap yang mengandung racun jahat.
Begitu dia membentak dan mengayunkan belasan senjata gelapnya itu, tahu-tahu Kun Houw diserang dengan tekad untuk mati bersama.
"Kun Houw, kau pun mampuslah!" Kun Houw terbelalak.
Dia sedikit terkejut. Bagaimanapun, dia tahu bahwa lawannya ini adalah iblis yang tidak dapat dipercaya dan suka melakukan kecurangan pada saat yang tak terduga.
Maka, melihat belasan logam menyambar wajahnya dan mendengar Mayat Hidup membentak untuk mati bersama, tiba-tiba Kun Houw mengejek dan menurunkan pedangnya. Ia menangkis sekaligus merundukkan kepala untuk mengelak dari serangan logam yang terpental, lalu melanjutkan tusukannya dengan memainkan jurus *Bu-tiong Boan-seng* (Bintang Bertaburan di Dalam Kabut), jurus ketiga dari ilmu silat pedangnya, *Bu-tiong Kiam-sut*.
Begitu logam-logam itu terpental sementara pedangnya mencuat bagai bintang bertaburan yang menyilaukan mata, tahu-tahu leher Mayat Hidup telah terbabat setengah lingkaran.
"Cret!" Mayat Hidup menjerit.
Luka di lehernya cukup lebar, menganga sedalam satu inci.
Mayat Hidup yang roboh sambil melempar tongkatnya tiba-tiba terbelalak melihat pedang masih mengejarnya dengan tikaman ke arah dada. Serangan itu sangat cepat, disusul tawa Kun Houw yang siap "mengantar" iblis ini ke dasar neraka.
Darah Mayat Hidup tentu saja tersirap. Tiba-tiba ia berteriak memanggil muridnya, "Kiat-ji, tolong...!"
Namun, pedang Kun Houw masih terus menyambarnya. Mayat Hidup tidak dapat berkelit lagi, wajahnya pucat dan ia kaget bukan main.
Ketika pedang tidak dapat dihindarinya lagi, Mayat Hidup mengeluh kesakitan saat pedang tersebut menembus dada kanannya tanpa ampun.
"Crep!" Mayat Hidup menggelepar.
Dia roboh dengan darah segar menyembur dari lukanya, terbanting dan terguling-guling.
Saat dia mendesis menahan sakit pada paru-parunya yang sobek, tahu-tahu Kun Houw telah menginjak dadanya sembari membentak dingin, "Mayat Hidup, serahkan medali yang kau rampas dulu. Cepat!"
Mayat Hidup mengeluh. Dia baru tahu bahwa Kun Houw tidak segera membunuhnya karena urusan medali tersebut. Benda itu dahulu dirampasnya ketika Kun Houw masih bersama *Bu-tong-kiam* Kun Seng, yakni saat mereka bertempur di Bukit Pedang bersama teman-teman lainnya, mengeroyok jago pedang itu hingga bukit tersebut hancur diledakkan oleh *Bu-tong-kiam*.
Mayat Hidup tiba-tiba terkekeh menahan nyeri, lalu mengejek Kun Houw dengan suaranya yang parau, "Kun Houw, kau tidak akan dapat menemukan benda itu. Medali itu telah kubuang!"
"Bohong!" Kun Houw terkejut. "Kau menipuku, iblis tua! Kalau begitu, rasakan ini sampai kau mengaku dengan jujur!"
Sret! Kun Houw kembali menguak bekas luka di dada Mayat Hidup, membuat lawannya itu menjerit dan meronta kesakitan. Ia merasa sangat pedih dan perih menerima siksaan itu.
Ketika dia berkaok-kaok namun tetap tidak mengaku, Kun Houw menusuk-nusukkan ujung pedangnya ke tubuh iblis itu hingga akhirnya Mayat Hidup tidak tahan lagi dan mengaku, "Kun Houw, kau bocah jahanam! Keparat kau... medali itu ada di kantung bajuku... Aduh...!"
Kun Houw kembali menginjak dadanya. Tindakan itu membuat lawannya menjerit saat luka yang masih menganga kembali terkuak, membuat Mayat Hidup meronta dan berkelojotan.
Kun Houw merogoh kantung baju iblis itu dan mengambil medali yang memang benar-benar ada di sana. Tiba-tiba, Kun Houw melepaskan injakannya dan tertawa aneh, memandang lawannya yang tidak berdaya di atas tanah dengan tatapan beringas.
"Mayat Hidup, kini ajalmu tiba. Kau berutang dua nyawa kepadaku. Sekarang, terimalah kematianmu!"
*Sing!* Pedang Kun Houw menyambar, berkelebat ke arah leher lawannya dengan kecepatan yang menggiriskan, tanpa ragu sedikit pun untuk menghabisi nyawa musuhnya itu.
Namun, teriakan Mayat Hidup yang menggema di keheningan malam ternyata berhasil memanggil teman-temannya. Tepat saat pedang Kun Houw hendak menyambar leher iblis tua itu, tiba-tiba dua bayangan berkelebat sambil membentak Kun Houw, "Kun Houw, lepaskan guruku!"
Kun Houw terkejut. Ia mendengar deru angin dahsyat menghantam punggungnya, disusul bunyi mendengung dari sambaran tengkorak yang diiringi geraman Mu Ba ke arah belakang kepalanya. Serangan itu sangat hebat dan ganas.
Kun Houw yang sempat terkejut oleh serangan bokongan ini tiba-tiba membungkuk dan menendang Mayat Hidup. Ia membatalkan tebasan ke leher lawannya. Secepat kilat ia menangkis serangan berbahaya itu menggunakan tubuh Mayat Hidup, lalu melemparkan diri dan bergulingan. Sementara itu, Mayat Hidup yang dijadikan tameng untuk menyambut serangan tersebut mencelat ke udara, menjerit ketakutan dan kaget bukan main karena diumpankan untuk menghadapi tengkorak Mu Ba serta pukulan *sinkang* Hun Kiat.
Karena segalanya berlangsung sangat cepat dan baik Hun Kiat maupun Mu Ba tidak menduga hal tersebut, tanpa ampun lagi Mayat Hidup langsung menerima hantaman kedua serangan itu.
*Plak! Des!* Mayat Hidup menjerit.
Iblis tinggi kurus ini terlempar bagai layang-layang putus, lalu ambruk dan mengerang perlahan sebelum akhirnya tidak bergerak lagi, terluka parah akibat dua pukulan yang menghantam tubuhnya.
Hun Kiat dan Mu Ba yang terpaku oleh kejadian itu tiba-tiba berteriak dan menjadi sangat marah kepada Kun Houw.
"Kun Houw, kau jahanam keparat!" Hun Kiat tersadar lebih dulu. Ia memutar tubuhnya dan menerjang Kun Houw dengan pukulan *Pek-hong-ciang*-nya, berkelebat menyerang dengan mata melotot.
Mu Ba, yang juga sudah pulih dari keterkejutannya, menggerakkan tengkorak dengan geraman pendek dan ikut menerjang dengan penuh kemarahan.
Namun, Kun Houw hanya tertawa mengejek. Ia mengelak dan melompat jauh untuk menghindari serangan kedua lawannya, sembari menyimpan medali naga yang baru saja direbutnya dari tangan Mayat Hidup. Ia yakin iblis tinggi kurus itu tidak akan bertahan hidup sampai esok hari karena lukanya terlalu parah; baik luka luar maupun luka dalam, serta paru-parunya yang sobek, membuatnya tidak mungkin disembuhkan lagi.
Melihat kedua lawannya menyerang membabi buta, Kun Houw berkelebat memutar pedangnya untuk melindungi diri, lalu memainkan jurus *Bu-tiong Kiam-sut* guna menghadapi gempuran mereka. Ia juga menggerakkan tangan kirinya untuk menangkis pukulan Hun Kiat dengan jurus *Jing-liong-ciang*-nya.
Begitu ketiga orang itu bergerak saling menyambar, pertempuran seru pun tidak dapat dihindarkan lagi.
Namun, Kun Houw memang benar-benar lihai. Dahulu, saat dikeroyok bertiga bersama Mayat Hidup pun dia mampu bertahan. Pertarungan nyaris seimbang jika Hun Kiat hanya mengandalkan *Pek-hong-ciang*-nya, bergerak mengelilingi lawan dan sama-sama mengandalkan keahlian masing-masing.
Namun, setelah beberapa jurus kemudian, Mu Ba berteriak karena tali tengkoraknya putus dibabat. Akhirnya, Hun Kiat memekik nyaring dan mengeluarkan jurus *Soat-hong-ciang* (Pukulan Angin Puyuh), ilmu baru yang luar biasa dahsyat warisan mendiang Ciok-thouw Taihiap yang dahulu pernah bentrok dengan cucu-cucunya sendiri!
"Suhu, minggir! Serang saja bagian belakangnya!"
Mu Ba terkejut. Ia mendengar muridnya berteriak dengan pekikan yang menggetarkan udara, dan melihat Hun Kiat mulai mengibaskan serta mendorong kedua tangannya untuk menghantam ke depan. Serangan itu begitu dahsyat hingga ia sendiri terhuyung dan hampir roboh. Ia terbelalak melihat muridnya mengeluarkan *sinkang* yang diperoleh dari mendiang Pendekar Kepala Batu, *sinkang* yang disedot oleh Hun Kiat di Puncak Beng-san!
Mu Ba yang cepat-cepat menyingkir dengan membanting tubuhnya ke kiri akhirnya melihat pukulan muridnya itu menghantam Kun Houw.
*Des!* Kun Houw mencelat.
Ia pun terkejut melihat Hun Kiat mengubah gerakannya, tidak lagi memainkan *Pek-hong-ciang* (Silat Angin Putih), melainkan mengeluarkan *Soan-hong-ciang* (Kibasan Angin Puyuh) tersebut.
Kun Houw yang mencelat dan terlempar oleh *sinkang* lawan yang luar biasa itu akhirnya roboh dan terguling-guling hingga menumbuk dinding. Pada saat itulah Hun Kiat mengejar, kembali melontarkan pukulan dahsyatnya ke arah kepala Kun Houw dengan tampang yang sangat beringas.
Namun, Kun Houw langsung melompat bangun. Sambil menggerakkan pedangnya, tiba-tiba ia memapak dan menyambut pukulan luar biasa itu dengan bentakan keras.
*Plak!* Kun Houw merasa heran.
Ia melihat angin pukulan lawan mampu menahan laju pedangnya. Ia terbelalak saat melihat Hun Kiat menambah kekuatan *sinkang*-nya dengan dorongan kedua, melancarkan pukulan menggunakan tangan kanan. Ia merasakan betapa hebat dan luar biasanya pukulan lawannya tersebut, seakan-akan ia sedang berhadapan langsung dengan Ciok-thouw Taihiap yang hidup kembali dalam wujud Hun Kiat!
Kun Houw yang tertegun melihat serangan kedua itu tiba-tiba menjadi marah. Secepat kilat ia menyimpan pedangnya karena ingin mengadu *sinkang*.
Begitu membentak keras dan mundur selangkah untuk merendahkan tubuhnya, tahu-tahu Kun Houw telah menyambut dorongan lawan dengan dorongan pula, mengerahkan *Jiu-liong Sin-kang* dalam posisi lutut setengah jongkok.
*Des!* Hebat sekali benturan kedua tenaga sakti ini.
Mu Ba yang berada lima tombak di belakang mereka tiba-tiba terjengkang. Kakinya terpeleset karena tanah yang diinjaknya bergetar hebat seakan dilanda gempa. Hal itu membuat si iblis terkejut dan langsung berjungkir balik melayang ke atas pohon, tidak berani menginjak tanah karena takut roboh!
Dari atas pohon, Mu Ba melihat kedua pemuda itu sama-sama tertahan dengan mata melotot lebar. Tiba-tiba ia melihat tubuh keduanya menggigil, sementara kedua telapak tangan mereka melekat menjadi satu.
Baik Kun Houw maupun Hun Kiat ternyata sama-sama mengerahkan seluruh *sinkang* mereka, saling mendorong dan berusaha menundukkan lawan. Namun, *Jing-liong Sin-kang* yang rupanya lebih kuat tiba-tiba menekuk telapak tangan Hun Kiat. Hal itu membuat pemuda itu mendelik dengan wajah bercucuran keringat. Sesaat kemudian, kakinya tiba-tiba bergeser dan ia harus bertahan sekuat tenaga.
Ketika Kun Houw mendengus, menghimpun semangatnya, lalu berseru keras, tiba-tiba Hun Kiat mengeluh karena terdorong selangkah ke belakang.
*Bles!* Mu Ba terbelalak.
Ia melihat kaki muridnya amblas ke dalam tanah, hampir bersamaan dengan Kun Houw yang juga melesak sedikit. Kun Houw terus menekan dan menghimpit Hun Kiat dengan *Jing-liong Sin-kang*-nya.
Saat Hun Kiat merasa terhimpit dan wajahnya pucat pasi mempertahankan diri, tiba-tiba telapak tangannya tertekuk lebih dalam ke arah dirinya sendiri. Dengan terkejut ia membelalakkan mata, melotot ke arah gurunya yang hanya bisa bengong di atas pohon.