Chapter 206
"Suhu, bokong dia dari belakang—hantam kepalanya...!" Mu Ba terkejut.
Sekarang dia sadar bahwa Kun Houw menyimpan pedangnya, hal yang amat ditakuti oleh iblis tinggi besar ini karena pedang di tangan Kun Houw terlalu ampuh.
Maka, melihat Hun Kiat membentak dan kembali terdorong karena harus mengeluarkan suara itu, tiba-tiba iblis ini mengambil tengkoraknya yang putus tanpa tali, melayang turun, dan langsung memekik sembari menyambitkan senjatanya. Senjata itu menghantam kepala Kun Houw yang saat itu tidak dapat mengelak karena sedang beradu tenaga dengan Hun Kiat.
Begitu tengkorak menyambar kepala, tiba-tiba Mu Ba terbelalak melihat Kun Houw melekat tidak dapat melepaskan diri. "Bocah, kini kematianmu tiba...!" Mu Ba merasa yakin.
Dia yakin bahwa tengkoraknya itu akan meledak begitu mengenai kepala lawan, menghamburkan otak dan darah, karena Kun Houw tidak dapat melindungi diri dan harus memusatkan perhatiannya pada adu *sinkang* dengan Hun Kiat.
Namun, Mu Ba yang tidak mengira sesuatu di luar dugaan akan terjadi, tiba-tiba menjerit.
Matanya terbelalak karena tengkoraknya itu membentur tenaga tak kelihatan yang melindungi Kun Houw, setombak dari pusat pertarungan, terpental, dan kembali ke tangannya hingga hampir mengenai hidungnya sendiri.
Mu Ba yang penasaran serta kaget tiba-tiba membentak dan mencoba lagi, menghantamkan tengkorak itu ke kepala Kun Houw.
Namun, ketika usahanya gagal hingga empat kali berturut-turut dan tengkorak itu selalu membalik, akhirnya iblis ini menggereng penuh murka. Apalagi saat melihat muridnya semakin terdesak, terdorong mundur dengan wajah pucat bukan main, serta mulai mengeluh dan marah kepadanya.
Mu Ba yang meraung geram tiba-tiba melontarkan tengkorak bayinya itu ke punggung Kun Houw, persis ketika Siang-mo Ji-bin dan Sam-hek Bi-kwi muncul, bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menolong muridnya itu.
Begitu senjata terlepas dan menyambar punggung Kun Houw, tiba-tiba Siang-mo Ji-bin berteriak kepadanya, "Mu Ba, jangan...!" Namun, semuanya sudah terlambat.
Tengkorak itu telah lepas dari tangannya, menyambar Kun Houw yang tubuhnya tidak dapat "ditembus" karena terlindung oleh hawa aneh yang sakti dan mujizat.
Begitu seruan itu terdengar dan senjata menyambar ke depan, tahu-tahu tengkorak bayi ini meledak, menghamburkan pelor-pelor beracunnya.
"Blaarr!" Mu Ba terpekik.
Dia melihat tengkoraknya ternyata terpental seperti tadi, tidak dapat menyentuh Kun Houw.
Pelor-pelor beracun yang berhamburan ke segala penjuru itu tiba-tiba menyerang mukanya sendiri, Siang-mo Ji-bin, serta orang lainnya, Sam-hek Bi-kwi yang baru muncul, yang terpaksa melompat menghindar dan memaki-maki Sin-thouw-liong Mu Ba yang dianggap ceroboh.
Mereka mundur sambil mengebaskan senjata untuk meruntuhkan semua pelor yang masih menyambar ke arah mereka.
Hun Kiat yang saat itu mengeluh, tiba-tiba kakinya melesat, mencelat terlempar menumbuk pohon karena tidak kuat menahan dorongan *sinkang*.
"Bress!" Hun Kiat menyemburkan darah segar.
Pemuda ini melompat bangun, mengusap bibirnya yang melelehkan darah merah. Dengan tubuh gemetar dan wajah pucat, dia memandang Kun Houw yang memiliki *sinkang* luar biasa itu—tenaga sakti yang ternyata lebih unggul dari tenaga saktinya sendiri.
Dia seakan tidak percaya dengan tenaga sakti yang dimiliki Kun Houw. Sungguh hal yang sukar dipercaya!
Sementara Hun Kiat terbelalak dan orang-orang lain mengepung pemuda itu, tiba-tiba Ok-ciangkun muncul dan membentak mereka, "Mu Ba, apa yang terjadi?" Mu Ba terkejut.
Dia sedang tertegun oleh kesudahan adu *sinkang* itu, melotot kaget melihat *sinkang* Ciok-thouw Tai-hiap masih kalah selapis oleh *sinkang* yang dimiliki Kun Houw ini.
Berarti mendiang Pendekar Kepala Batu itu kalah lihai dibanding Kun Houw. Hal yang luar biasa dan sulit dipercaya.
Maka, mendengar Ok-ciangkun membentak dan Kun Houw terhuyung menghadapi mereka, akhirnya iblis tinggi besar ini berseru dengan gemetar, "Kun Houw mencelakai Mayat Hidup, Ciangkun! Dia menyerang dan melukai sahabatku itu."
Ok-ciangkun sudah melihatnya. Dia mengerutkan kening melihat keadaan Mayat Hidup yang parah dengan luka-luka yang sangat berat, hampir tidak mungkin ditolong lagi.
Menghadapi Kun Houw yang dikepung di tengah lingkaran, panglima ini menggeram, "Kun Houw, apa yang kau lakukan ini? Kenapa kau hendak membunuh Mayat Hidup?"
Kun Houw tertawa mengejek. "Aku bukan hanya hendak membunuh Mayat Hidup saja, Ciangkun, melainkan semua musuhku yang ada di sini!"
"Hm... kau tidak ingat janjimu kepadaku? Kau hendak menjilat ludah sendiri?"
Kun Houw menunjuk ke arah bulan. "Ciangkun, tolong kau lihat berapa lama batas perjanjian kita itu. Bukankah tepat setahun aku terikat padamu? Nah, sekarang aku bebas, Ciangkun! Aku hendak berbuat sesukaku untuk membalas dendam atas kematian guru dan ibuku!"
"Kun Houw!" Panglima Ok membentak, kaget dan marah. "Bukankah kau berada di istana? Bukankah saat ini kalian semua adalah orang-orang sendiri yang tidak seharusnya bermusuhan satu sama lain?"
"Hm..." Kun Houw mendengus dari hidungnya. "Itu memang benar, Ciangkun. Tapi ini adalah urusan pribadi. Aku ingin menyelesaikannya di luar urusan istana. Apalagi ikatan janjiku kepadamu telah habis!"
Ok-ciangkun terbelalak. Dia sekarang ingat bahwa Kun Houw telah menyelesaikan batas waktu sumpahnya. Genap setahun. Jadi, memang benar pemuda itu tidak perlu tunduk lagi padanya.
Namun, melihat Kun Houw melakukan hal itu di kompleks istana, tiba-tiba panglima ini mendelik dan marah bukan main. Dia menyadari bahwa Kun Houw merupakan ancaman baru yang akan merongrongnya.
Diam-diam, dia sempat melupakan batas perjanjian itu karena kesibukannya sehari-hari.
Kini, melihat Kun Houw "membelot", sang panglima harus mengambil keputusan di antara dua kemungkinan: membiarkan Kun Houw merajalela atau membunuh pemuda itu.
Namun, saat teringat bahwa Kun Houw sekarang mempunyai pelindung berupa selir kaisar yang paling ditakuti, mendadak panglima ini tertegun dan menjadi bingung.
Membunuh Kun Houw bakal membawa persoalan baru baginya. Dia harus berhadapan dengan Shi Shih yang tentu akan memengaruhi Sri Baginda, mengingat Kun Houw merupakan orang kepercayaan selir itu. Salah-salah, hal itu bisa membuatnya bermusuhan dengan kaisar sendiri!
Ok-ciangkun yang bingung di tempatnya tiba-tiba tertegun dan menyadari bahwa Kun Houw sekarang bukanlah Kun Houw yang dulu. Pemuda ini mempunyai kedudukan kuat di bawah selir, bahkan memiliki pasukan berkekuatan seribu orang!
Ok-ciangkun melotot sembari mengepalkan tinjunya, kebingungan menentukan keputusan apa yang harus diambil.
Namun, Hun Kiat terhuyung maju. "Ciangkun, Kun Houw telah membuat onar di tempatmu. Kenapa diam saja dan tidak mengambil tindakan? Apakah kau hendak melindunginya?"
Ok-ciangkun terkejut. Dia sedang menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan: membiarkan Kun Houw atau menangkap pemuda itu.
Namun, sebelum dia sempat menjawab, tiba-tiba Mayat Hidup yang tergeletak di atas tanah merintih, sadar dari pingsannya.
Hun Kiat terpaksa melompat mendekati gurunya yang sedang menggelepar dalam sekarat itu.
"Kun Houw, kau bocah siluman! Kenapa kau tidak membunuhku sekali bacok saja? Ayo bunuh aku, Bocah... jangan biarkan aku sekarat begini... Augh!"
Mayat Hidup menggeliat, memaki-maki Kun Houw karena rasa sakit yang sangat menusuk dadanya, membuat dia menjerit dan merintih berkepanjangan.
Ketika Hun Kiat memegang tubuhnya, Mayat Hidup menyangka itu adalah Kun Houw. Tiba-tiba iblis ini menggerakkan jarinya, mencengkeram tangan pemuda itu.
"Kun Houw, kau harus mati bersamaku...!"
Hun Kiat terkejut. Dia melihat gurunya mencengkeram hingga menembus kulit lengannya, menyalurkan racun yang ada di kuku jari sang suhu. Dia sangat mengenal keganasan gurunya yang salah mengira dirinya sebagai Kun Houw.
Hun Kiat yang terkejut membelalakan mata, lalu tiba-tiba mendesis, "Suhu, ini aku! Kun Houw masih di sana!"
"Ah... kau, Kiat-ji? Kalau begitu, bunuh saja aku... aku tidak kuat...!"
Mayat Hidup terkejut bercampur kecewa, lalu mengorok bagai babi disembelih.
Ketika Mayat Hidup menggeliat dan meronta-ronta dalam sakratulmautnya, tiba-tiba Hun Kiat mengangkat lengannya sambil menggigit bibir.
Begitu dia berseru perlahan dan menurunkan lengannya, tahu-tahu pemuda ini menepuk kepala gurunya dengan sikap yang mengerikan.
"Suhu, sebaiknya kau mati saja... Plak!"
Semua orang terbelalak. Mereka melihat Hun Kiat melakukan apa yang diminta ji-suhunya itu—menepuk kepala gurunya yang seketika remuk dan pecah di dalam.
Begitu Mayat Hidup mengeluh dan terkapar roboh, tahu-tahu iblis ini pun tewas setelah "diberesi" oleh muridnya sendiri.
Mu Ba dan semua orang tertegun. Mereka melihat Hun Kiat memiliki perasaan yang sangat dingin, tega, dan mampu melakukan hal-hal yang mungkin tidak mampu dilakukan oleh orang lain.
Setelah menghabisi nyawa gurunya, dia bangkit dengan sikap tenang dan membiarkan Mayat Hidup terkapar di atas tanah tanpa memedulikannya lagi.
Hun Kiat yang kembali menghadapi Ok-ciangkun dengan pertanyaan yang sama memandang sang panglima. "Ciangkun... bagaimana tindakanmu sekarang dalam menghadapi Kun Houw? Apakah kau mau membiarkannya saja memusuhi kami?"
Mu Ba juga menggereng, yakin bahwa sang panglima akan membela mereka. "Tidak mungkin. Ok-ciangkun pasti membantu kita, Kiat-ji. Lagipula, bocah itu masih harus diselidiki sebagai mata-mata musuh!"
Ok-ciangkun tersentak. Dia kembali dibuat tertegun oleh kata-kata Mu Ba yang bersikap biasa saja melihat muridnya membunuh Mayat Hidup. Sama sekali tidak ada penyesalan, dan rupanya kemarahan mereka justru ditumpahkan sepenuhnya kepada Kun Houw.
Ok-ciangkun yang berada di persimpangan jalan tiba-tiba mengambil keputusan nekat bahwa dia harus membunuh Kun Houw. Pemuda itu pasti akan melaksanakan janjinya untuk membalas dendam, yang berarti dia juga akan mencari So Beng, adik seperguruannya itu.
Karena merasa Kun Houw lebih banyak merugikan daripada menguntungkan, akhirnya panglima ini menggeram marah lalu melompat mundur.
"Kun Houw, kau memang bersalah! Sekarang pilih satu dari dua pilihanku: menyerah atau melawan kami!"
Kun Houw terkejut. Dia tidak menyangka panglima itu berani mengambil keputusan secepat itu, yang berarti tidak lagi menghiraukan pelindung yang ada di belakangnya.