Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 207

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 207

Berarti dia menghadapi bahaya dan siap bertarung mati-matian.

Dan Kun Houw yang maklum akan apa yang menjadi sebab panglima itu lebih memberatkan Mu Ba dan teman-temannya dibanding dirinya, tiba-tiba tertawa mengejek dan mencabut panah apinya. Hal itu sudah disiapkan untuk keperluan sewaktu-waktu.

Begitu dia melepas panah apinya yang meledak di malam yang gelap, tiba-tiba Kun Houw juga sudah mencabut pedangnya, menggetarkan semua urat sarafnya.

"Ciangkun, aku tak mau menyerah seperti kerbau. Aku siap memilih keputusan kedua." Ok Ciangkun terbelalak.

Dia bukan terkejut oleh sikap Kun Houw yang sudah diduganya ini, melihat pemuda itu memilih melawan daripada menyerah. Hal yang sudah dia ketahui karena Kun Houw memang pemberani.

Namun, melihat Kun Houw melepaskan panah api yang cepat ditangkap sebagai isyarat yang entah ke mana, tiba-tiba panglima ini membentak dan terkejut sekali.

"Kun Houw, kau benar menyimpan mata-mata?" Kun Houw tak menjawab. Dia tertawa dingin melihat panglima itu melotot, bersikap acuh, dan membiarkan orang mereka-reka sendiri.

Ok Ciangkun yang gusar tiba-tiba memberi tanda sambil menggeram menyuruh pembantunya maju.

"Ji-bin, tangkap dan robohkan pemuda itu. Kun Houw rupanya betul-betul berkhianat!" Siang-mo Ji-bin mengangguk.

Mereka juga terkejut melihat Kun Houw melepaskan panah api. Hal yang ditangkap sebagai isyarat rahasia yang tidak mereka ketahui.

Maka, mendengar Ok Ciangkun memerintah dan Kun Houw juga sudah bersiap, mendadak dua orang iblis kembar ini memekik dan melancarkan pukulan pasir beracunnya.

"Kun Houw, kau rupanya pemuda busuk!" Ang-kwi dan Pek-kwi sudah menyerang.

Mereka langsung berkelebat menampar dengan Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah) dan Pek-see-ciang (Tangan Pasir Putih) itu, marah dan menerjang Kun Houw dengan pukulan beracun.

Namun, Kun Houw mengelak, menyabetkan pedangnya untuk menyambut kedua orang lawannya ini, lalu melompat berputar, mengegos, dan tiba-tiba membalik dengan ayunan kaki yang bergerak setengah lingkaran, membacok sekaligus menendang.

Siang-mo Ji-bin yang terkejut dan marah tiba-tiba meliuk serta memberi tanda akan bahaya pedang di tangan Kun Houw, maklum akan kehebatan Pedang Medali Naga yang luar biasa tajam.

Namun, Kun Houw yang bergerak cepat mendahului mereka tahu-tahu memapas buntung ujung lengan baju lawan yang dipakai untuk memukul.

"Bret... bret...!" Siang-mo Ji-bin terpekik.

Mereka berjungkir balik melihat pedang yang mengejar, mendengung, dan berkelebat menyilaukan mata.

Ketika Kun Houw membentak sambil melepaskan serangan beruntun, tahu-tahu pemuda ini lenyap terbungkus gulungan pedangnya yang menyambar kian kemari, membentuk kabut yang kian melebar. Sebentar kemudian, kabut itu membungkus pula bayangan Siang-mo Ji-bin yang kaget setengah mati.

Panglima Ok Ciangkun yang melihat kedua pembantunya itu kewalahan menerima serangan tiba-tiba menyuruh yang lain maju, tidak sabar melihat Kun Houw mendesak mereka.

"Bi-kwi, Mu Ba, maju kalian! Tangkap dan robohkan Kun Houw!" Sam-hek Bi-kwi dan Mu Ba mengangguk.

Mereka langsung menerjang menerobos gulungan pedang, menolong Siang-mo Ji-bin agar keluar dari cahaya pedang yang membungkus mereka.

Hun Kiat yang girang melihat Kun Houw dikeroyok tiba-tiba juga menerjang dengan pukulan sinkangnya.

"Bagus, aku juga ingin secepatnya membereskan lawanku ini, Ciangkun. Sekarang tidak mungkin dia dapat lolos!" Hun Kiat menyerang, mulai membokong dan mengeluarkan Soan-hoan Ciang-nya yang paling hebat. Diam-diam dia penasaran dan tidak habis pikir dari mana Kun Houw mendapatkan sinkang yang luar biasa itu, hingga mampu mengatasi sinkang Ciok-thouw Taihiap yang sudah dilatih puluhan tahun.

Kun Houw yang dalam sekejap sudah sibuk melayani keroyokan lawan tiba-tiba melengking dan memutar pedangnya dalam gulungan yang lebih cepat.

"Ok Ciangkun, kau tidak tahu malu! Sebaiknya kau ikut pula maju membantu teman-temanmu." Ok Ciangkun tidak menjawab.

Dia menonton permainan pedang yang hebat itu, diam-diam merasa kagum dan bergetar melihat kehebatan Kun Houw. Dia teringat pertempurannya sendiri yang nyaris kalah setelah Kun Houw menggunakan Pedang Medali Naga. Pedang yang ampuh dan membuat orang merinding melihat wibawa pedang pusaka itu.

Ketika Kun Houw berkelebat dan mulai melengking-lengking membentak marah, akhirnya pertandingan berjalan seru dengan jumlah yang tidak seimbang. Satu lawan tujuh!

Namun, Kun Houw memang hebat. Dia memutar pedangnya rapat sekali, membungkus dan terpaksa menggulung dirinya sendiri dengan permainan pedang yang luar biasa.

Percuma menyerang, karena jika dia menyerang yang satu, maka yang lain akan membokong. Jadi, dia terpaksa bersilat mempertahankan diri sendiri, karena ketujuh orang lawannya itu bukanlah manusia-manusia bodoh yang tidak tahu cara mempergunakan kesempatan. Mereka tentu akan berbuat curang begitu dia lengah.

Dan Kun Houw yang membentak sambil memutar pedangnya akhirnya lenyap dalam bayangan pedang yang luar biasa rapat; tidak dapat menyerang, tetapi tidak dapat pula diserang. Padahal satu lawan tujuh!

Mu Ba serta teman-temannya yang marah bukan main tentu saja bingung dan kaget, di samping kagum, melihat betapa Kun Houw mahir sekali memainkan Bu-Tiong Kiam-sut itu, Silat Pedang dalam Kabut. Pedang yang benar-benar tidak terlihat, digantikan kabut yang melebar dan membungkus tuannya sendiri.

Mereka tidak berani membentur bayangan kabut itu karena senjata maupun tubuh tentu akan terpapas buntung, tidak kuat menghadapi Pedang Medali Naga yang ada di tangan pemuda itu.

Mu Ba serta teman-temannya yang tentu saja bingung menghadapi pertempuran ini akhirnya hanya berseliweran di luar saja mencari lowongan.

Ok Ciangkun marah. Dia melihat ketujuh pembantunya itu tidak dapat menyerang, masing-masing hanya berseliweran mengelilingi Kun Houw seolah-olah Kun Houw adalah kuda lumping yang menarik untuk ditonton. Mereka hanya mencari kesempatan dalam kesempitan, tidak berani membentur kabut pedang yang tentu saja akan mencelakakan mereka sendiri.

Ok Ciangkun yang juga bingung melihat jalannya pertandingan akhirnya mengepalkan tinju dan menghentakkan kakinya.

"Mu Ba, korbankan seorang di antara kalian, terjang pemuda itu!"

Namun, Mu Ba dan teman-temannya mengerutkan alis. Memang cara itu adalah cara terbaik. Artinya, jika seorang di antara mereka berani mengorbankan diri menerjang gulungan pedang, tentu sebuah lowongan akan terbuka. Kun Houw tentu akan memecah kabut pedangnya ini untuk melakukan serangan, sehingga mereka dapat pula menyerang pemuda itu di saat Kun Houw "membuka" diri.

Tapi, siapa yang mau berkorban seperti yang diteriakkan Ok Ciangkun itu? Siapa yang berani menyerahkan jiwa kalau hanya untuk sebuah serangan, lalu diri sendiri dijadikan tumbal? Tentu tidak ada yang mau. Mu Ba serta teman-temannya yang kembali berseliweran mengelilingi Kun Houw akhirnya tidak ada yang mau memenuhi permintaan itu.

Ok Ciangkun menggeretakkan gigi. Dia marah melihat pembantu-pembantunya tidak ada yang menggubris kata-katanya. Dia maklum bahwa setiap orang tidak mungkin mau mengambil tindakan yang terlalu berbahaya itu.

Mu Ba yang teringat sesuatu tiba-tiba malah berteriak kepadanya, "Ciangkun, mana So-beng? Suruh dia datang ke mari. Mungkin dia mau mengerjakan perintahmu itu."

Ok Ciangkun menggeram. Dia mendengar yang lain tiba-tiba juga mendukung permintaan Mu Ba itu, masing-masing menyuruh agar Iblis Penagih Jiwa itu dipanggil.

Belum sempat dia menjawab atau memaki pembantu-pembantunya ini, mendadak kebakaran besar terjadi di samping gedungnya, disertai suara gaduh dan ribut-ribut di sebelah sana.

Dan Ok Ciangkun yang terbelalak dengan muka kaget tiba-tiba melihat dua bayangan berkelebat menyerang Siang-mo Ji-bin.

"Kun Houw, iblis-iblis ini memang tidak tahu malu. Jangan takut, kami datang membantu...!"

Dan dua bayangan yang menerjang sepasang iblis kembar itu dengan pukulan sinkang yang dahsyat tiba-tiba membuat Pek-kwi dan Ang-kwi terkejut. Mereka berteriak kaget dan langsung menangkis seraya meninggalkan Kun Houw, hingga terpental dan terguling-guling karena bertemu dengan tenaga luar biasa kuat yang melemparkan tubuh mereka.

Ketika Siang-mo Ji-bin melompat bangun sambil melotot marah, dua bayangan lain yang baru tiba-tiba juga muncul dan menyerang Sam-hek Bi-kwi bertiga.

"Kun Houw, benar kata temanku itu. Jangan takut, kami akan membasmi iblis-iblis yang curang ini... wut plak!"

Dan Sam-hek Bi-kwi yang menjerit terpental akhirnya terguling-guling seperti yang dialami Siang-mo Ji-bin.

Karena empat lawan sudah terlempar dan melepaskan diri darinya, tiba-tiba Kun Houw melengking sambil menggerakkan pedang, menusuk dan membacok.

Begitu dia membentak dan menyerang tiga lawan yang lain, tahu-tahu Bi Gwat, Mu Ba, serta Hun Kiat mendapat serangan cepat yang menukik bagai petir membelah angkasa.

"Plak cring... bret!" Bi Gwat dan Mu Ba menjerit.

Mereka terlempar dan terluka oleh sambaran Pedang Medali Naga. Mereka membanting tubuh dan bergulingan karena tengkorak dan gelang di tangan Mu Ba dan Bi Gwat hancur serta putus dibabat pedang. Mereka kaget bukan main melihat sinar kebiruan tahu-tahu menyambar pundak, menggores panjang sampai ke dada. Hampir saja menikam jantung!

Mu Ba serta Bi Gwat yang terguling-guling menjauhkan diri akhirnya melompat bangun dengan wajah pucat, melihat Hun Kiat menangkis dan juga terpental kaget oleh sambaran pedang di tangan Kun Houw.

Ketika mereka tertegun oleh gebrakan yang mengejutkan ini, tahu-tahu bayangan lain muncul di tempat itu bagaikan setan-setan dari balik kubur. Semuanya memakai kedok sehingga Ok Ciangkun dan teman-temannya tidak dapat mengenali mereka. Bayangan-bayangan itu menyerbu dan membantu Kun Houw menerjang pembantu-pembantu panglima tersebut, hingga Ok Ciangkun mendelik gusar.

Sementara mereka semua terbelalak kaget, tahu-tahu kebakaran terjadi di mana-mana di tempat tinggal panglima itu.

"Keparat, kau mengumpulkan pengkhianat-pengkhianat, Kun Houw! Kau kiranya benar-benar musuh dalam selimut!" Ok Ciangkun marah, membentak Kun Houw yang saat itu tersenyum melihat teman-temannya datang, yaitu orang-orang berkedok yang menyerang Siang-bin dan teman-temannya.

Kun Houw yang tertawa mengejek melihat kemarahan Ok Ciangkun tiba-tiba mendengar teriakan Kui Lin yang mendatangi tempat itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment