Chapter 208
"Ayah, tolong... Enci Hoa diculik orang!" Ok Ciangkun terkejut.
Dia sedang bingung saat itu, apakah harus melihat kebakaran atau menangkap Kun Houw.
Namun, begitu mendengar anaknya diculik, tiba-tiba panglima ini berkelebat ke dalam meninggalkan Kun Houw. Ia menyuruh pembantu-pembantunya untuk menangkap Kun Houw dan teman-teman yang datang bersamanya.
Ketika kebakaran membesar dan terjadi di mana-mana hingga menimbulkan kegaduhan, pagi buta itu akhirnya berubah menjadi keributan menggemparkan yang mengguncang istana. Kerabat kaisar yang masih terlelap tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, lalu melompat bangun mendengar teriakan menyayat hati di sana-sini.
Saat teriakan kebakaran berubah menjadi pemberontakan, keadaan istana pun akhirnya menjadi kalut dan kacau di sana-sini. Mereka melihat pasukan besar menyerbu dan membabat pengawal, lalu maju memasuki istana dengan derap langkah bagai ribuan gajah yang menimbulkan kepanikan.
Begitu genta bertalu-talu dipukul sebagai tanda bahaya, kota raja pun menjadi geger dan kalang kabut. Keempat pintu gerbang didobrak hancur untuk memasukkan ribuan bala tentara yang menyerang sambil bersorak-sorak, maju menyerbu hingga ke tengah kota.
Dalam sekejap, penduduk gempar dan berteriak-teriak, menambah kacau keadaan yang memang sudah tidak keruan.
Ketika suasana mencapai puncaknya dan pasukan penyerbu dalam jumlah besar ini merangsek ke dalam, tiba-tiba dari dalam istana muncul pasukan serupa yang bersorak-sorai menyerbu para pengawal.
Keadaan pun menjadi sangat kacau. Suasana menjadi semrawut dan tumpang-tindih tak keruan di pagi buta, menggugah serta mengejutkan orang-orang yang sedang enak-enak tidur.
Ok Ciangkun yang menjadi bingung oleh perubahan besar-besaran ini akhirnya mencak-mencak mengatur pasukannya untuk menyambut pasukan musuh yang kian dekat memasuki istana. Ia tidak jadi mencari Kui Hoa yang diculik orang!
Hun Kiat yang juga dipanggil untuk memimpin pasukannya akhirnya ditarik untuk meninggalkan Kun Houw. Mereka geger sendiri-sendiri dan melupakan urusan pribadi.
Namun, Kun Houw yang memimpin pasukan cadangannya—yang sebenarnya telah diganti oleh orang-orang Ho-han-hwe—menyambut pasukan Hun Kiat. Hun Kiat tentu saja kaget dan marah. Matanya mendelik melihat Kun Houw benar-benar berkhianat dan menyerbu pasukannya yang berjumlah seribu orang itu. Ia baru tahu bahwa panah api yang dilepaskan Kun Houw sebenarnya merupakan isyarat untuk melakukan penyerbuan besar-besaran ke istana.
Kun Houw dan Hun Kiat yang akhirnya bertemu dalam pertempuran di luar istana itu pun berhadapan satu lawan satu!
"Kun Houw, kau anjing hina-dina! Kau pengkhianat dan mata-mata!"
Kun Houw tertawa mengejek. "Tidak perlu menyebut siapa pengkhianat, Hun Kiat. Kaulah yang sebenarnya pengkhianat! Kau membalas budi ibuku dengan racun pembunuhan!"
"Keparat!" bentak Hun Kiat yang langsung menerjang melancarkan pukulan untuk menghantam dada Kun Houw. Ia langsung mengeluarkan jurus *Soan-hoan-ciang*-nya, ilmu terbaik yang dimilikinya.
Namun, Kun Houw mengelak sambil menangkis. Tiba-tiba ia memutar lengan dan mendorong dengan *Jing-liong Sin-kang*-nya.
"Duk!"
Hun Kiat terdorong mundur. Ia masih kalah seusap oleh *Jing-liong Sin-kang* milik lawannya yang sedikit lebih kuat, membuat Hun Kiat mendelik dan marah bukan main.
Ketika Kun Houw menjejakkan kaki dan pasukan kedua belah pihak bersorak memberi semangat, Hun Kiat mencabut pedangnya. Ia memainkan *Cui-mo Kiam-sut* (Silat Pedang Pengejar Iblis), ilmu pedang yang diwarisinya dari Pendekar Kepala Batu—yang dahulu tidak menyangka bahwa pemuda ini bakal mengkhianatinya. Hun Kiat memutar pedang menerjang Kun Houw, lalu dalam sekejap lenyap di balik gulungan sinar pedang demi mencari kelemahan Kun Houw.
Kun Houw mendengus, mengeluarkan Pedang Medali Naganya, lalu membentak dan melayani serangan lawannya itu. Maka, terjadilah pertarungan dahsyat di antara kedua pemuda ini.
Hun Kiat berganti-ganti memainkan ilmu silatnya, menyelinginya dengan semua ilmu yang ia miliki, baik dari Mu Ba maupun Mayat Hidup, yang digabungkannya pula dengan ilmu silat warisan mendiang Ciok-thouw-ciang.
Karena Hun Kiat memang pandai mencampuradukkan ilmu-ilmu silat ini, Kun Houw sempat tertegun juga melihat tingkah lawannya. Gerakan Hun Kiat tampak gila-gilaan namun mengandung tipu muslihat luar biasa, berubah menjadi sangat licik dan ganas di tangan pemuda yang memang gemar berbuat curang itu.
Saat Hun Kiat mulai menggerakkan tangan kirinya untuk melancarkan pukulan-pukulan jarak jauh, Kun Houw pun menjadi lebih berhati-hati. Ia melihat lawannya kerap mengubah-ubah arah serangan tanpa diduga, baik melalui sabetan pedang maupun pukulan jarak jauhnya.
Namun, karena Kun Houw memegang Pedang Medali Naga yang tidak berani ditangkis langsung oleh lawan, dan Hun Kiat selalu mengelak agar senjatanya tidak beradu, pertarungan menjadi sangat ramai dan memakan waktu cukup lama.
Sebenarnya, jika ditinjau dari kemurnian ilmu silat masing-masing, jelas Kun Houw jauh lebih unggul. Begitu pula dengan tenaga saktinya. Maklum, pemuda ini meminta warisan ilmunya dari Bu-beng Siansu, kakek dewa yang tiada tandingannya itu, sehingga ia menang seusap dibanding tenaga sakti milik lawan.
Namun, karena Hun Kiat lebih cerdik dalam mencampuradukkan ilmu silat dari tiga guru yang berbeda, ditambah lagi watak dasarnya yang memang licik, pertarungan mereka menjadi berimbang. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Untuk beberapa saat, tidak ada yang mendesak maupun didesak.
Akan tetapi, setelah pertempuran mendekati seratus jurus dan Kun Houw mulai mengenali gaya permainan lawan, Hun Kiat akhirnya harus mengakui kelihaian musuhnya itu dan mulai mengumpat caci. Terlebih lagi saat Kun Houw mulai mengeluarkan ilmu silat pedangnya, *Bu-tiong Kiam-sut* yang terdiri atas tujuh jurus—meski Kun Houw baru menguasai enam jurus di antaranya dengan mahir.
Ketika Kun Houw memekik nyaring dan melancarkan ilmu silat intinya ini, sang lawan mendadak dibuat terkejut sewaktu Kun Houw memperagakan jurus *Heng-hun-po-oh*-nya, yaitu "Awan Berarak Hujan Mencurah".
"Hun Kiat, kau tidak akan dapat mengalahkan aku!"
Hun Kiat terkejut. Ia melihat Kun Houw mengubah gerakan dengan memutar pedang menusuk ke langit, yang sesaat kemudian pecah menjadi awan berarak dalam bentuk gelembung-gelembung kecil yang hebat dan luar biasa, membungkus tubuh Kun Houw.
Begitu Kun Houw melengking tinggi dan mengibaskan pedangnya dari atas ke bawah, lalu melanjutkannya dengan gerakan menyilang yang luar biasa cepat dari kiri ke kanan, tiba-tiba bayangan awan itu pecah berhamburan menjadi bayangan pedang yang meluncur bagai hujan dicurahkan.
"Aih...!" Hun Kiat kaget bukan main. Ia melihat dirinya telah terkurung oleh hujan pedang itu dan tidak dapat meloloskan diri.
Karena satu-satunya jalan keluar adalah menangkis dan memutar pedangnya pula, Hun Kiat terpaksa melakukan hal itu. Untuk pertama kalinya, senjata mereka saling beradu.
*Trang! Trang! Trang!*
Hun Kiat melotot seketika. Ia melihat pedangnya telah patah menjadi tiga bagian. Bagian terbawah yang kini digenggamnya hanya tersisa beberapa sentimeter saja.
Saat Kun Houw membentak keras dan kembali menusukkan pedangnya bagai bintang bertaburan yang menyambar ke arah tenggorokan—dalam jurus ketiga yang dinamakan *Bu-tiong Boan-seng* (Bintang Bertaburan di Dalam Kabut)—Hun Kiat akhirnya berteriak sambil melemparkan sisa pedang buntungnya itu.
*Crak!* Pedang itu pun hancur berkeping-keping.
Hun Kiat melemparkan tubuhnya untuk bergulingan menghindari serangan, lalu melompat bangun dengan wajah pucat pasi setelah menyaksikan kehebatan lawannya. Namun, Kun Houw terus mengejarnya dengan jurus keempat dan kelima, membuat Hun Kiat putus asa karena hampir tidak dapat meloloskan diri lagi.
"Hun Kiat, inilah kematianmu yang paling buruk. Terimalah!"
Hun Kiat mencoba berkelit. Ia mulai lelah oleh kejaran bertubi-tubi dari Kun Houw, yang kini melancarkan jurus *Jing-kiam-sia-ciok* (Seribu Pedang Memanah Batu) dan *Hui-kiam-cui-long* (Pedang Terbang Mengejar Naga). Kedua jurus serangan itu mustahil dielakkan oleh Hun Kiat yang sudah tidak bersenjata lagi. Percuma saja ia mencoba melindungi diri dengan *sin-kang*, karena Pedang Medali Naga pasti mampu menembus kekebalannya.
Ketika segala upayanya tampak sia-sia dan pedang lawan menyambar dalam gerakan menyilang, Hun Kiat mengeluh kesakitan saat pundak dan pangkal lehernya terluka.
*Bret! Bret!*
Hun Kiat terlempar dan bergulingan. Baju beserta kulit dan dagingnya robek hingga mengucurkan darah segar. Dalam kondisi itu, ia kembali melihat Kun Houw mengejarnya dengan jurus keenam, *Si-neng* (Naga Sakti Mengukir Bayangan), jurus yang tidak mungkin lagi ia elakkan karena ia sudah terlampau lelah dan putus asa.
Namun, tepat saat serangan mematikan itu dilancarkan dan Hun Kiat sudah bersiap pasrah menerima maut, tiba-tiba tiga bayangan berkelebat menahan gerakan Kun Houw diiringi teriakan nyaring, "Kun Houw, tahan! Iblis muda itu, kamilah yang berhak membunuhnya!"
Ketika Kun Houw tertegun menahan serangannya, tahu-tahu Han Ki, Han Bu, dan Hok Lian muncul bersamaan dengan mata berapi-api. Mereka menangkis pedang Kun Houw dengan senjata masing-masing, yang seketika itu juga patah dan terpental jauh. Bagaimanapun, senjata mereka kalah ampuh dibanding pedang keramat di tangan pemuda itu.
Saat Han Ki, Han Bu, dan Hok Lian terhuyung mundur, Hun Kiat yang merasa mendapatkan kembali nyawanya yang hampir hilang segera melompat bangun untuk melarikan diri. Ia berkelebat menyusup ke balik barisan pasukannya yang sejak tadi tertegun menyaksikan pertempuran. Pasukan itu tidak menyangka kedua cucu Ciok-thouw Taihiap akan datang bersamaan, yang kemudian disusul pula oleh Hok Lian yang tentu saja ingin membalas dendam karena telah dinodai oleh pemuda itu.
Kun Houw bersama ketiga temannya yang marah pun segera mengejar sambil memaki, "Hun Kiat, jahanam kau!"
Hun Kiat memerintahkan pasukannya untuk menghadang mereka. Sementara itu, ia sendiri dengan cepat melempar granat tangan untuk melindungi diri, lalu menyelinap dan melompat di sela-sela pertempuran yang kacau-balau sembari meledakkan granat yang mengeluarkan asap tebal tersebut.
Kun Houw yang langkahnya terhalang oleh kelicikan lawan akhirnya memekik nyaring dan melompat mundur karena pandangannya terhalang oleh asap hitam yang bergulung-gulung. Ketika pasukan Hun Kiat menyerbunya, Kun Houw langsung menyambut mereka dengan kemarahan meluap-luap. Hanya dengan sekali gerak, lima orang prajurit langsung terpental dan menjerit kesakitan.