Chapter 209
Dan ketika Kun Houw menyuruh pasukannya maju menghadapi pasukan Hun Kiat, akhirnya dia meninggalkan tempat itu untuk mencari lawannya yang melarikan diri, terpaksa mengamuk di tengah-tengah pertempuran besar untuk mengejar lawannya.
Namun, Hun Kiat yang cerdik dan licik ternyata telah menghilang di balik kekacauan itu, kabur meninggalkan pasukannya.
Ia melihat betapa istana porak-poranda dengan para pengawalnya yang roboh bergelimpangan di mana-mana. Banjir darah.
Dan ketika pertempuran berjalan dua jam lebih dengan keunggulan di pihak penyerang, akhirnya istana berhasil direbut. Sementara itu, Ok Ciangkun dan para pembantunya menyelamatkan diri. Mereka tidak mungkin bertahan lagi menghadapi lawan yang demikian kuat dengan pasukan yang amat besar, yang melakukan serangan pada saat yang benar-benar tak terduga, disulut oleh Kun Houw yang memulai semua itu.
Dan Ok Ciangkun yang tentu saja sangat marah akhirnya melarikan diri untuk menghadap Kaisar jauh di Bukit Lin Yen San. Di sana, sang Kaisar sedang bersenang-senang dengan selir tercintanya, Shi Shih.
"Demikianlah," Ok Ciangkun mengakhiri ceritanya. "Hamba terpaksa mundur, Sri Baginda. Dan karena semua kejadian ini diawali oleh Kun Houw yang mengkhianati Paduka, hamba dengan sangat menyesal memperingatkan bahwa selir ini rupanya perlu diperiksa pula demi keselamatan Paduka. Kun Houw adalah orang kepercayaannya. Hamba khawatir jangan-jangan selir Paduka ini terlibat bersama pemuda itu!"
Kaisar tertegun. Tadinya beliau mendengar semua cerita panglimanya itu dengan mata berapi-api, merah padam dibakar kemarahan yang tak terlukiskan besarnya. Beliau murka sekali. Namun, setelah Ok Ciangkun menghentikan ceritanya dan tiba-tiba menyebut nama Shi Shih, mendadak raja yang sudah tua ini menjadi pucat.
"Ok Ciangkun," suara Kaisar gemetar, "adakah bukti bahwa selirku ini berkhianat? Adakah bukti bahwa Shi Shih mengatur semuanya itu bersama Kun Houw?"
"Hamba belum mendapatkan buktinya, Baginda. Namun, karena Kun Houw adalah orang kepercayaan selir Paduka, sebaiknya Paduka menyelidiki selir Paduka itu. Hamba hanya meminta Paduka memeriksa selir Paduka. Kalau perlu, hamba sanggup memaksanya untuk mengaku!"
Kaisar menggigil. "Shi Shih, benarkah kau menerima kecurigaan Ok Ciangkun ini? Benarkah kau menerima tantangannya?"
Shi Shih tertegun. Dia juga mendengarkan semua cerita panglima itu dari awal sampai akhir. Ia sering mengeluarkan seruan tertahan di tengah cerita, berkali-kali mengepalkan tinju, dan tampak marah mendengar semua itu. Maka, mendengar Kaisar bertanya kepadanya dan Ok Ciangkun memandangnya dengan curiga, mendadak selir ini bangkit berdiri sambil menangis dengan air mata bercucuran.
"Sri Baginda, hamba bukan hanya berani diperiksa oleh menteri Paduka ini untuk menyelidiki keterlibatan hamba, tetapi hamba pun sanggup dibunuh bila kecurigaan itu benar! Namun, bagaimana jika panglima Paduka tidak dapat membuktikannya, Sri Baginda? Beranikah Ok Ciangkun memikul semua tanggung jawabnya? Karena ini menyangkut nama baik dan kemurnian diri hamba. Ingat, kecurigaan tanpa bukti bukanlah hal yang tidak mengandung risiko, Sri Baginda. Sebab, selama ini hamba selalu bersama Paduka dan tidak pernah meninggalkan Paduka untuk berhubungan dengan siapa pun!"
Kaisar tertegun. Panglima Ok juga terhenyak melihat sikap yang penuh keyakinan dari selir cantik itu. Namun, karena Ok Ciangkun sudah menanamkan kecurigaannya dan Kun Houw adalah orang kepercayaan selir itu, panglima yang sudah dibakar kemarahan dan rasa sakit ini mengangguk. Dia bukanlah Wu Taijin atau Pangeran Kim, misalnya, orang-orang yang memiliki kekuasaan tetapi tidak memiliki kepandaian, yang akan ragu-ragu dan harus berpikir seribu kali menghadapi selir yang cerdik ini.
Maka, begitu Shi Shih bertanya apakah dia sanggup memikul segala tanggung jawab bila kecurigaan itu tidak benar, akhirnya panglima ini dengan gagah melepaskan pedangnya.
"Sri Baginda, ini adalah soal kesetiaan dan harga diri. Karena selir Paduka menerima tantangan hamba, biarlah hamba bersumpah untuk membuktikan semua itu. Bila kecurigaan hamba tidak benar dan selir Paduka tidak bersalah, biarlah saat itu juga hamba membunuh diri di hadapan Paduka!" Ia kemudian melukai ibu jarinya sebagai sumpah.
Akhirnya panglima ini memasukkan kembali pedangnya dan berkelebat keluar, dipandang oleh Kaisar dan Shi Shih yang sama-sama terbelalak melihat janji panglima itu. Betapa Ok Ciangkun begitu yakin akan membuktikan dugaannya dan sanggup memikul dosa bila ternyata Shi Shih tidak berdiri di belakang Kun Houw.
Dan Shi Shih yang tentu saja terisak menangis, akhirnya memutar tubuhnya dan masuk ke dalam kamar sambil tersedu-sedu. Ia sadar dan mulai takut bahwa panglima itu bukanlah orang biasa; bahwa Ok Ciangkun adalah laki-laki yang memiliki kepandaian tinggi dan banyak dibantu oleh orang-orang lihai.
Shi Shih menutup pintu kamarnya, lalu menangis terguguk ketika dihampiri oleh Kaisar.
"Shi Shih, benarkah apa yang dikatakan Ok Ciangkun itu? Benarkah kau membantu Kun Houw di balik layar?"
"Tidak... tidak...!" Shi Shih tersedu-sedu. "Ok Ciangkun hanya memfitnah hamba belaka, Sri Baginda. Ok Ciangkun dibakar kemarahan dan kebencian kepada hamba karena Kun Houw menyerang pasukannya!"
"Hmm, dan kau benar-benar tidak terlibat?"
"Boleh Paduka bunuh hamba sekarang, Sri Baginda. Atau, biarlah hamba membunuh diri saja di depan Paduka!" Tiba-tiba, Shi Shih melompat turun, mengambil pedang, dan langsung menusukkan pedang itu ke dadanya sendiri. Tindakan nekat itu disambut seruan kaget Sri Baginda yang dengan cepat menampar tangan selirnya hingga pedang terlepas. Shi Shih jatuh terguling dan menangis tersedu-sedu di atas lantai.
Shi Shih yang menangis terguguk dipandang oleh Kaisar, lalu ia kembali mengucapkan sumpah. "Sri Baginda, hamba bersumpah demi langit dan bumi, biarlah hamba mati bersama Paduka jika Paduka ditangkap musuh. Hamba tidak akan mengkhianati Paduka. Paduka adalah suami hamba!"
Kaisar yang memeluknya kembali tergetar oleh sumpah selirnya yang menunjukkan kesetiaan luar biasa ini. Beliau akhirnya menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan; apakah harus mempercayai panglimanya ataukah selirnya yang berjanji sehidup semati ini. Sumpah itu diucapkan Shi Shih dengan penuh kesungguhan dan tampak tidak berpura-pura.
Sri Baginda yang tertegun memeluk selirnya, akhirnya meneteskan dua butir air mata disertai keluhan lirih, "Shi Shih, kenapa cobaan selalu menghantui kita? Benarkah kau akan setia kepadaku?"
"Demi langit dan bumi, Sri Baginda. Demi semua arwah leluhur hamba!"
"Aah...!" Kaisar terkejut, tidak ragu-ragu lagi. Ketika Shi Shih menggigit ibu jarinya sendiri hingga berdarah sebagai bukti sumpahnya, tiba-tiba Kaisar tertegun. Beliau melihat bahwa selirnya ini menandingi sumpah Ok Ciangkun; masing-masing telah menunjukkan kesungguhan sikap dengan cara yang sama keras. Kaisar yang termangu hanya bisa menarik napas dalam-dalam, akhirnya menyerahkan kepada waktu untuk membuktikan siapa yang benar: Ok Ciangkun ataukah selirnya!
***
Malam itu, setelah mengumpulkan semua pembantunya di Istana Kwan-wa Kang, Panglima Ok duduk dengan muka merah padam. Sepanjang hari itu dia tidak menunjukkan sikap gembira sama sekali; wajahnya tampak seram dan bersungguh-sungguh.
Ketika pembicaraan mulai beranjak dari pertempuran di Kota Raja yang berakhir dengan kekalahan mereka, akhirnya panglima ini mulai berbicara tentang selir junjungannya.
"Bi Kwi, bagaimana pendapatmu tentang Shi Shih itu? Dapatkah kalian membuktikan bahwa selir ini membantu Kun Houw?"
Bi Kwi menggeleng. "Aku tidak tahu, Ciangkun. Namun, kukira dugaanmu ini tidak meleset jauh. Kita berada di tempat yang berbeda, mana kutahu gerak-gerik Kun Houw di belakang selir itu?"
Mu Ba bangkit berdiri. "Aku percaya itu, Ciangkun. Namun, sebaiknya kita seret saja selir itu kemari. Kita paksa dia untuk mengaku daripada susah-susah mencari bukti!"
Ok Ciangkun menggeleng. "Tidak mungkin, Sri Baginda akan marah kepada kita, Mu Ba. Kita baru melemparkan kecurigaan, belum memegang buktinya. Kita tidak dapat bertindak sembarangan sebelum semuanya terungkap."
"Namun, Kun Houw jelas-jelas orang kepercayaan selir itu, Ciangkun. Bukankah ini cukup dijadikan alasan untuk menyeret selir itu?"
"Hm, selir itu sedang berada bersama Kaisar ketika Kun Houw berkhianat, Mu Ba. Mana mungkin menuduhnya begitu saja tanpa bukti, seolah-olah selir ini juga tidak tahu apa-apa? Terlebih lagi, Kaisar bersaksi bahwa selir itu tidak berhubungan dengan siapa pun. Jadi, sulit kalau kita menangkapnya begitu saja!"
"Jadi, bagaimana kehendakmu?"
"Kita akan menyusup ke Kota Raja, Mu Ba. Aku akan memanggil adik seperguruanku, So Beng, untuk membekuk Kun Houw."
"Hmm..." Semua mata tiba-tiba membelalak. "Ke mana saja adik seperguruanmu itu, Ciangkun? Kenapa dia tidak kelihatan ketika istana diserang?"
"Aku menyuruhnya pergi ke luar kota. Ada urusan penting yang harus diselesaikan oleh adik seperguruanku itu," jawab Ok Ciangkun. "Namun, sebentar lagi dia akan kembali, Mu Ba. Karena itu, bersiap-siaplah kalian untuk berangkat bersama adik seperguruanku itu."
Ketika malam semakin larut dan rencana yang sudah disiapkan panglima ini telah diatur masak-masak, akhirnya benar saja, malam itu So Beng muncul. Namun, Ok Ciangkun sedang tidak ada di tempat.
Mu Ba yang bangkit berdiri menyambut sang Iblis Penagih Jiwa ini langsung menegur dengan suara penuh kekecewaan, "So Beng, kau tidak ada saat kami memerlukan bantuanmu. Ke mana saja kau keluyuran? Tidakkah kau tahu bahwa rekanku tewas dibunuh oleh Kun Houw?"
Sang Iblis Penagih Jiwa mendengus, mengeluarkan suara aneh dari balik kedoknya. "Aku tahu, Mu Ba. Namun, aku juga memiliki urusan penting saat itu. Suhengku menyuruhku pergi ke Kui-yang karena ada sesuatu yang harus kuselidiki di sana!"
"Lalu, di mana sekarang suhengmu itu? Di mana Ok Ciangkun?"
"Suhengku sedang menghadap Kaisar, Mu Ba. Aku mendapat perintah untuk menggantikannya memimpin kalian. Ayo, kita berangkat!" Setelah berkata demikian, So Beng mengebaskan lengan bajunya dan berkelebat keluar, mengajak yang lain untuk segera mengikuti langkahnya.
Mu Ba tidak dapat bertanya lagi. Ia melihat semua orang sudah mengikuti Iblis Penagih Jiwa itu keluar dari Istana Kwan-wa Kang, menuruni bukit menuju ke Kota Raja.
Namun, baru saja mereka melangkah beberapa langkah, sekonyong-konyong dari luar tembok sana terdengar jeritan seorang gadis yang memecah keheningan malam, "Hun Kiat, lepaskan aku... lepaskan aku, jahanam!"
So Beng dan teman-temannya tertegun. Mereka mengenali bahwa suara itu adalah suara Kui Lin, putri kedua dari Panglima Ok. Mata So Beng mendadak berkilat, dan seketika itu juga ia memutar tubuhnya menuju ke arah asal suara tersebut sambil menggeram, diikuti oleh yang lain dengan mata terbelalak.