Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 21

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 21

"Aku setuju! Tapi maukah pendekar itu membantu kita? Dan apa nama perkumpulan ini agar tidak dicurigai lawan?"

"Hm, itu mudah, Pangeran. Pendekar Gurun Neraka pasti mau membantu kita. Ini tidak menyangkut urusan kerajaan, jadi terpisah dari istana karena mereka adalah kelompok yang berdiri sendiri dan seolah-olah di luar garis strategi kita. Mereka akan datang sewaktu-waktu apabila kita perlukan dalam saat-saat genting. Namun, jika keadaan tidak berbahaya dan tetap tenang, tentu saja mereka mengurus keperluannya sendiri dan tidak ada hubungannya dengan kita! Paduka paham, bukan?"

"Ya, dan apa nama perkumpulan itu, Ciangkun?"

"Sesuai sifat anggotanya, Pangeran, yakni Ho-han-hwe (Perkumpulan Orang-orang Gagah)."

"Bagus, itu bagus sekali, Ciangkun. Aku setuju dan sependapat! Tapi kapan kau akan memulai gagasan ini? Artinya, kapan kau akan menemui pendekar itu untuk menyatakan kepastiannya?"

"Besok, Pangeran. Hamba akan pergi pagi-pagi sekali meninggalkan Paduka menuju ke Ta-pie-san. Tapi ini masih siasat pertama, Pangeran. Karena kalau Pendekar Gurun Neraka telah menyanggupi untuk memimpin perkumpulan Ho-han-hwe ini, hamba masih akan meneruskannya dengan siasat kedua dan ketiga."

"Hm, siasat apa itu, Ciangkun?"

"Begini, Pangeran. Setelah Ho-han-hwe muncul, kita harus mencari wanita-wanita cantik. Bahkan kalau perlu, selir Paduka yang lain boleh dipersembahkan kepada raja muda itu!"

Pangeran Kou Cien mendelik. "Ciangkun, apa yang kau katakan ini? Kau berani bicara seperti itu?" Pangeran itu membentak, marah sekali dan hampir menendang panglimanya ini.

Namun, Fan Li cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut menahan. "Pangeran, maaf. Hamba belum menjelaskan strategi hamba untuk merobohkan musuh! Bukankah Paduka siap berkorban asal musuh jatuh ke tangan Paduka?" Lalu melihat Pangeran itu mengepalkan tinju, buru-buru panglima ini meredakan kemarahannya dengan bicara halus, "Pangeran, hamba tidak bermaksud menghina Paduka. Juga tidak bermaksud menyakitkan hati Paduka. Kita berdua telah menjalani hidup bersama dalam kedukaan bersama. Gilakah hamba menghina dan menyakiti Paduka yang hamba junjung dan cintai?"

Melihat Pangeran mulai reda kemarahannya, panglima ini pun melanjutkan, "Dan itu harus kita mulai dengan wanita, Pangeran. Paduka lihat sendiri bahwa raja muda itu telah menjadi hamba nafsu berahi yang tidak kenal puas. Hamba menyarankan agar wanita mana pun yang diminta lagi, tak perlu kita tolak. Bahkan seandainya selir Paduka sendiri!"

"Hm, tapi ini menyakitkan sekali, Ciangkun. Masa aku harus berkorban setelah kematian Kiok Hwa?" Pangeran itu mulai beringas.

Tapi panglima ini mengatupkan lengannya. "Pangeran, tidak ada perjuangan yang tidak membutuhkan pengorbanan. Paduka tahu tentang kenyataan ini, bukan?"

"Ya, tapi itu terlalu berat, Ciangkun. Salah-salah aku tidak punya harga diri lagi di depan orang lain!"

"Ah, tapi Paduka telah memiliki kekuatan batin yang tinggi, Pangeran. Masa harus berkorban sekali dua kali merasa keberatan? Bukankah Paduka dapat mencari selir pengganti kalau si hidung belang itu merampas selir Paduka, Pangeran?"

"Tapi kalau benar-benar selir yang kucintai, hal ini keterlaluan, Ciangkun. Aku bisa tidak kuat menahan dan bunuh diri karena hinaan itu!"

Panglima ini mengangguk. "Benar, itu memang tidak salah, Pangeran. Tapi percayalah, pengorbanan Paduka kali ini adalah yang terakhir. Hamba tidak akan membiarkan Paduka dihina lagi. Dan kalau tiga rencana hamba meleset, maka pada saat itu juga hamba akan memenggal kepala hamba di hadapan Paduka!"

Pangeran Kou Cien terkejut. "Kau bersungguh-sungguh, Ciangkun?"

Panglima ini bangkit berdiri, mencabut pedang, dan tiba-tiba menggores ibu jarinya hingga luka mengucurkan darah. Lalu menempelkan darah itu di atas keningnya, panglima ini bicara gagah, "Pangeran, hamba bersumpah bahwa rencana ini akan berhasil baik bila berjalan sesuai dengan keinginan hamba. Bila tidak, demi darah yang hamba kucurkan ini, biarlah hamba binasa memenggal kepala di hadapan Paduka!"

"Ah...!" Pangeran Kou Cien terbelalak. "Bukan sumpahmu itu yang kumaksud, Ciangkun, tapi keberhasilan rencanamu ini. Betulkah kau akan berhasil membalas dendam pada musuh kita itu?"

"Hamba jamin dengan jiwa hamba, Pangeran. Hamba bersumpah bahwa penderitaan Paduka kali ini adalah yang terakhir!"

Pangeran itu tertegun. Dia melihat kesungguhan semangat dalam kata-kata panglimanya ini, dan melihat panglimanya itu berdiri tegak dengan sikap gagah. Tiba-tiba Pangeran ini mengeluh dan mencengkeram pundak panglimanya itu, berkata penuh keharuan, "Ciangkun, kau benar-benar pembantuku yang sangat setia. Semoga Tuhan membantu kita...." Dan Pangeran Kou Cien yang basah matanya ini mendadak mencabut pedang di pinggang kanannya.

Lalu, menyerahkan pedang itu kepada pembantunya, Pangeran ini bicara serak, "Ciangkun, demi rasa terima kasihku yang besar, kau terimalah senjata ini untuk simbol calon perkumpulan Ho-han-hwe-mu itu. Kau boleh bawa pedang ini ke mana kau suka. Terimalah sebagai hadiah pribadi dariku...!"

Fan Li terkejut. "Pedang Medali Naga, Pangeran?"

"Ya, pedang warisan leluhurku, Ciangkun. Kau bawalah pedang ini dan simpan sebagaimana kau menyimpan dan menjaga keselamatanku."

Namun panglima ini tiba-tiba menggigil. "Pangeran, pedang itu... kenapa ia mencorong kemerahan? Apakah..."

Belum habis ucapan itu ditanyakan, mendadak Pedang Medali Naga yang ada di tangan Pangeran ini mendengung. Suara dengungan itu perlahan, tapi kian lama kian keras. Dan ketika dua orang ini terbelalak, tiba-tiba pedang itu meledak dan mengeluarkan letupan nyaring bagai guntur menggelegar!

"Ah...! Apa yang terjadi, Pangeran?" Fan Li kaget bukan main. Dia melihat pedang itu sudah berubah seperti besi membara, merah bagai dibakar di tungku panas. Dan sebelum sang Pangeran menjawab pertanyaannya, tiba-tiba sesosok makhluk halus bagai seekor naga muncul di situ, menari di atas pedang dan menggeram.

"Pangeran, apa yang hendak kaulakukan ini? Berani kau menyerahkan warisan leluhur kepada orang luar biarpun dia itu pembantumu sendiri yang setia? Kau lupa sumpah kerajaan selama beratus-ratus tahun?"

Pangeran Kou Cien tiba-tiba mengeluh panjang. Dia kaget melihat sesosok tubuh bagai naga di atas pedangnya itu muncul, menggeram dan menggetarkan dinding ruangan, menakutkan sekali. Dan sadar bahwa dia melakukan kesalahan tidak menghormati warisan leluhur, tiba-tiba Pangeran ini menjatuhkan diri berlutut dengan pedang menempel dahi, pucat sekali.

"Sucouw, maafkan aku yang khilaf. Aku lupa bahwa pedang ini adalah peninggalan keluarga kita yang paling keramat. Aku hanyut dalam keharuan oleh kesetiaan pembantuku ini. Maafkanlah kami berdua....!"

Tapi bayangan bagai naga itu masih menari. "Kau terlanjur mencabut pedangnya, Pangeran. Tidak mungkin memberi maaf tanpa hukuman lagi. Kau menghina warisan leluhur, harus dihukum sesuai kesalahan...!"

Pangeran ini pucat sekali. "Tapi aku tidak sengaja, Sucouw. Aku tidak bermaksud menghina warisan itu!"

"Ya, tapi semuanya terlanjur, Pangeran. Aku akan menyerahkan pedang ini kelak pada seorang bocah laki-laki. Dialah yang menentukan hidup kalian, senang atau susah!"

Pangeran Kou Cien semakin pucat. "Tapi aku tidak sengaja, Sucouw. Sungguh mati....!"

"Hm, sengaja tidak sengaja, yang jelas kau telah melupakan sumpah leluhur, Pangeran. Bahwa pedang itu tidak boleh pisah dari pewarisnya. Kau telah melanggar ini, karena itu tidak boleh menolak bila hukuman tiba!"

"Tapi... tapi..."

"Tidak ada tetapi, Pangeran. Satu-satunya jalan kalau kau ingin pedang ini kelak kembali padamu, maka kau harus membunuh anak laki-laki itu!"

"Aah..!" Baru Pangeran ini mengeluh, tiba-tiba pedang itu meledak nyaring dan terlepas dari pegangannya.

Dua orang itu tidak tahu apa yang terjadi. Namun ketika mereka memandang, ternyata bayangan bagai naga itu lenyap disusul pulihnya kembali warna pedang yang putih berkilauan. Lenyap sudah warna merah yang mencorong menakutkan itu!

"Pangeran, apa yang terjadi? Paduka tidak apa-apa?"

Pangeran ini gemetar. Dia sudah bangkit berdiri, menggigil memandang pembantunya itu. Dan Fan Li yang sudah memungut pedang di atas lantai, buru-buru memberikan pedang ini kepada junjungannya. "Pangeran, simpan kembali pedang ini. Taruh dalam sarungnya dan biarlah disimpan di kamar Paduka saja!"

Pangeran itu mengangguk. Dia belum dapat menjawab, dan ketika beberapa saat giginya berkerutukan memandang pedang keramat ini, akhirnya Pangeran itu dapat bicara pula. "Ciangkun, arwah leluhurku telah memberi peringatan. Apa yang harus kulakukan?"

Panglima ini menarik napas. "Kita tidak boleh sembrono lagi, Pangeran. Kita harus berhati-hati setelah kejadian ini. Bagaimana kalau Paduka simpan dulu pedang itu di kamar Paduka?"

Pangeran Kou Cien mengangguk. Dia segera menyimpan pedangnya itu di tempat tersembunyi di dalam kamarnya. Dan setelah selesai melakukan itu semuanya, Pangeran ini kembali lagi menemui panglimanya.

"Sudah, Pangeran?"

"Sudah, Ciangkun. Tapi aku masih gemetar oleh kedatangan roh leluhurku tadi!"

"Ah, sekarang yang lewat biarlah lewat, Pangeran. Paduka siap mendengar rencana hamba berikutnya, bukan?"

Pangeran itu mengangguk. Dia serasa mengawang memandang pembantunya ini, dan Fan Li yang siap menghibur junjungannya segera membeberkan siasatnya. Ternyata panglima itu benar-benar lihai. Dia merencanakan strategi yang matang sekali, dengan persiapan yang sebaik-baiknya.

Pangeran Kou Cien yang tertarik perhatiannya segera melupakan peristiwa dengan Pedang Medali Naga itu. Dan ketika Fan Li selesai membeberkan semua rencananya, maka Pangeran ini pun mulai kembali sinar harapannya. Ternyata panglima itu mempunyai tiga siasat. Yakni, pertama mendirikan Ho-han-hwe sebagai "benteng" di luar istana, lalu yang kedua dan ketiga adalah mengumpulkan wanita cantik sebanyak-banyaknya dan diam-diam melatih angkatan perang di luar kerajaan secara sembunyi-sembunyi!

Panglima muda yang optimistis akan rencananya yang disusun matang itu sudah mengerahkan beberapa orang pembantunya yang dapat dipercaya untuk melaksanakan urusan kedua dan ketiga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment