Chapter 210
Ketika mereka tiba di tempat itu dan melihat apa yang terjadi, ternyata Kui Lin sedang meronta-ronta dalam cengkeraman Hun Kiat, yang tertawa-tawa saat menangkap gadis itu.
So Beng tiba-tiba melejit.
Iblis Penagih Jiwa ini membentak dan memukul Hun Kiat agar melepaskan gadis itu.
Hun Kiat, yang tentu saja kaget melihat bayangan berkelebat menampar lengannya, seketika menangkis dan melepaskan Kui Lin.
"Duk!" Hun Kiat terkejut.
Ia terdorong mundur dan terbelalak melihat siapa yang datang. Ia melihat Siang Mo Ji Bin dan yang lainnya ada di situ. Ia juga melihat Iblis Penagih Jiwa mendelik penuh kemarahan memandangnya.
Sementara itu, Kui Lin yang tersedu-sedu langsung menubruk pamannya dan menceritakan kekurangajaran Hun Kiat.
"Paman, Hun Kiat menggangguku. Dia hendak... hendak..."
Iblis Penagih Jiwa mendorong mundur keponakannya ini. Ia menggereng marah bukan main kepada murid Sin-thouw-liong Mu Ba itu. Dengan mata berapi-api, ia memandang pemuda ini lalu membentak, "Hun Kiat, apa yang hendak kau lakukan pada keponakanku? Berani sekali kau mengganggu dan menghinanya?"
Hun Kiat menyeringai sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak mengganggu keponakanmu, So Beng. Kui Lin mau melarikan diri dari istana, karena itulah ia kutangkap!"
So Beng terbelalak, lalu berganti memandang gadis itu. "Kau mau keluar dari istana, Lin-ji? Bukankah ayahmu sudah melarangmu pergi ke mana-mana?"
Kui Lin menangis. "Aku ingin mencari Enci Hoa, Paman. Aku keluar, tetapi diganggu oleh pemuda ini. Dia tidak sekadar mengajakku masuk, tetapi juga kurang ajar menggangguku!"
"Hmm!" So Beng marah kepada keduanya. "Kau tidak seharusnya mengganggu keponakanku, Hun Kiat. Namun, Kui Lin juga tidak seharusnya keluar dari istana! Kalian sama-sama melanggar peraturan. Hayo, masuk!"
Setelah membentak dan menyuruh Kui Lin masuk, So Beng memandang Hun Kiat dengan mata berkilat. "Hun Kiat, kau tidak perlu mengganggu Kui Lin atau siapa pun putri suhengku. Sekarang, kau ikut aku!"
"Ke mana?" Mu Ba melompat maju.
"Ke kota raja, Kiat-ji. Jangan membuat onar di sini!" kata Mu Ba dengan wajah pucat. Ia memandang muridnya itu lalu berbisik perlahan, "Kiat-ji, jangan bermain api. Ok-ciangkun bisa marah kalau mengetahui perbuatanmu ini!"
Hun Kiat tersenyum mengejek. Ia merasa sayang harus meninggalkan Kui Lin, tetapi setelah melihat gadis itu masuk ke dalam, akhirnya pemuda ini tertawa dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku ikut kalian, Suhu. Tapi apa yang harus kita lakukan di sana? Siapa yang kita cari?"
"Kun Houw!" gurunya menjawab. "Kita mendapat perintah dari Ok-ciangkun untuk menangkap pemuda ini, Kiat-ji. Karena itu, bantu kami dan jangan membantah lagi!"
Hun Kiat tertegun. "Kun Houw?"
Namun, ketika gurunya mengangguk dan So Beng memandangnya dengan tajam, akhirnya Hun Kiat menyeringai untuk menekan debaran jantungnya mendengar nama itu disebut. Ada rasa gentar dan kecut membayangkan pemuda yang luar biasa itu. Ia melihat semua orang diam-diam juga merasakan hal yang sama.
Masih teringat jelas betapa lihainya murid Bu-tiongkiam itu, baik ilmu pedang maupun sinkangnya. Hal itu diam-diam membuat Hun Kiat tidak habis pikir dari mana lawannya bisa memiliki tenaga sakti sedemikian hebat, sama seperti yang dimiliki oleh Sin Hong.
Namun, karena kali ini ada So Beng di situ dan semua orang berharap Iblis Penagih Jiwa dapat mengatasi lawan, akhirnya Hun Kiat mengiyakan dan tidak banyak bicara lagi.
Ia melihat Iblis Penagih Jiwa memberi tanda dan mulai menuruni bukit, meneruskan perjalanan setelah sempat terganggu sejenak oleh ulah murid Sin-thouw-liong Mu Ba ini. Begitu semua orang bergerak mengikuti Iblis Penagih Jiwa, rombongan kecil itu pun segera menuju ke kota raja untuk mencari Kun Houw.
Namun, rupanya pekerjaan ini bukanlah hal yang mudah. Kota raja sekarang dijaga ketat oleh ribuan pasukan yang mengelilingi semua sudut untuk berjaga-jaga. Masih belum diketahui siapa sebenarnya mereka—dalam arti, pasukan dari mana dan siapa pemimpinnya. Maklum, saat terjadi penyerbuan pada malam yang gelap itu, orang-orang ini tampak seperti pasukan liar. Atribut mereka belum jelas benar.
Namun, setelah So Beng dan rombongannya berhasil menyelinap ke dalam istana, dan...