Chapter 212
"Aku siap memenuhi permintaan mereka!"
"Hm," Pendekar Gurun Neraka mengerutkan alis. "Kau boleh saja memenuhi permintaan mereka, Ciangkun. Tapi bagaimana dengan Kun Houw? Maukah anak itu memenuhi permintaan musuh untuk menghadap Kaisar?"
Fan Li menggigil, tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan Kun Houw. "Kun Houw, kumohon dengan sangat kau mau menemaniku ke Istana Kwan-wa-kung. Aku bersumpah untuk menyelamatkan dirimu di sana!"
Kun Houw terkejut. Dia tentu saja buru-buru membimbing panglima itu untuk berdiri, terperanjat melihat betapa Fan Ciangkun merendahkan diri sedemikian rupa di hadapan banyak orang. Demi Shi Shih!
Dan Kun Houw yang gemetar membantu panglima itu berdiri, lalu memandang ayahnya dengan mata terbelalak. "Bagaimana, Ayah? Apa yang harus kulakukan?"
Pendekar Gurun Neraka juga terkejut. Dia tidak tahu apakah ancaman Iblis Penagih Jiwa ini benar ataukah tidak. Tapi mengambil risiko dengan meremehkan Iblis Penagih Jiwa itu dan mengorbankan Shi Shih di sana tentu dia juga tidak mau. Apalagi Fan Ciangkun begitu mati-matian ingin menyelamatkan kekasihnya itu, siap berkorban jiwa dengan memenuhi permintaan orang-orang ini. Melihat Kun Houw diminta untuk menemani panglima ini menghadap Kaisar, tiba-tiba pendekar ini termangu tak tahu harus bersikap bagaimana. Maklum, keselamatan orang-orang ini tentu tidak dapat dijamin lagi bila mereka sudah berada di Istana Kwan-wa-kung. Apalagi Kun Houw adalah putra pertamanya, ia belum puas mencurahkan kasih sayangnya pada pemuda itu.
Namun Kun Houw, yang rupanya tahu akan kesulitan ayahnya ini, tiba-tiba mundur selangkah berdampingan dengan panglima itu, memutuskan sikapnya sendiri. "Baiklah, aku akan mengikuti orang-orang ini, Ayah. Aku akan menemani Fan Ciangkun ke Istana Kwan-wa-kung!"
So-beng tiba-tiba tertawa bergelak. "Bagus, dan kuharap kau mengakui semua perbuatanmu bersama selir itu, Kun Houw. Kalau tidak, terpaksa selir itu akan kami bunuh!"
Wajah Fan Ciangkun pucat. "Kalian tidak boleh membunuh selir itu, So-beng! Lebih baik sekarang kalian berjanji untuk tidak mencelakai selir itu. Kalau tidak, aku akan mencabut kesediaanku!"
"Eh!" So-beng terbelalak. "Kau mau menjilat ludah sendiri, Ciangkun?"
"Tidak!" Panglima ini berdiri dengan gagah. "Aku mau ikut kalian karena ingin menyelamatkan selir itu, So-beng. Kalau ternyata selir itu celaka di tangan kalian, aku terpaksa mencabut janjiku!"
"Hmm," So-beng mengerutkan alisnya, terkejut juga. Tapi seraya tertawa aneh dan mengibaskan tangannya, dia mengangguk. "Baiklah, aku akan menyelamatkan selir itu, Ciangkun. Tapi kalian berdua harus mengakui perbuatan kalian. Terutama Kun Houw! Kalian berjanji?"
Fan Li tidak dapat menolak. Dia mengira musuh benar-benar telah mengetahui semua perbuatannya, tidak tahu bahwa sebenarnya So-beng memasang jebakan untuk memerangkap mereka. Ia termakan oleh tipu muslihat Iblis Penagih Jiwa ini. Pikirannya guncang begitu mendengar Shi Shih ditangkap. Dan Kun Houw, yang juga tidak berkutik oleh ancaman lawan yang cerdik luar biasa, tiba-tiba juga mengangguk dan tidak menyadari bahwa semua yang dikatakan So-beng tadi adalah hasil rekaan Iblis Penagih Jiwa. Akal muslihat yang berhasil mengelabui mereka!
Dan So-beng tentu saja sangat girang. Ia hendak bergerak, tetapi Kun Houw mengelak, membentak, dan dengan wajah merah memandang lawannya.
So-beng terkejut dan membelalakkan mata mendengar Kun Houw memaki, "So-beng, aku telah menyerahkan diri. Ada jaminan selir itu di sana. Kenapa kau hendak melumpuhkan kami berdua? Bukankah kalau kami melarikan diri, selir itu bakal kalian pergunakan untuk memaksa kami?"
So-beng terkejut. "Tapi kami tidak ingin kau memberontak di depan Kaisar, Kun Houw. Kami tidak mau mengambil risiko membiarkan kalian bebas!"
"Hm!" Kun Houw marah. "Tak perlu kau mengada-ada, So-beng. Jumlah kalian cukup banyak untuk mengeroyokku bila aku menyerang Kaisar. Tak perlu berpura-pura! Bilang saja kalau kau ingin berbuat licik dengan membuatku lumpuh terlebih dahulu!"
Merah padam muka So-beng. Dan Pendekar Gurun Neraka yang melihat ucapan Kun Houw memang masuk akal, lalu melangkah maju membela putranya. "Benar, kalian sudah mendapatkan apa yang kalian cari, So-beng. Putraku bukanlah orang-orang macam kalian yang suka mengingkari janji. Kun Houw tentu akan memenuhi janjinya dan kalian tak perlu khawatir, aku yang menjamin kata-katanya!"
Terpaksa So-beng mendengus. Ia merasa tidak enak berlama-lama di tempat itu menghadapi musuh yang amat kuat. Tiba-tiba iblis ini tertawa mengejek untuk menutupi kekecewaannya. "Baiklah, mari kita berangkat, Kun Houw. Suheng-ku sudah tidak sabar ingin mendengar pengakuanmu di depan Sri Baginda. Ayo...!"
So-beng meminta Kun Houw berjalan di depan, lalu akhirnya mengiringi pemuda itu. Ketika Kun Houw mengajak Fan Ciangkun, ia memandang Pendekar Gurun Neraka dan yang lainnya, yang merasa tidak berdaya menghadapi akal cerdik Iblis Penagih Jiwa itu. Untuk kedua kalinya, mereka terpaksa melepas musuh yang membuat mereka terikat.
Namun, begitu semuanya lenyap meninggalkan istana, tiba-tiba Pendekar Gurun Neraka bergerak. Ia menggantikan kedudukan Panglima Fan untuk menyerbu Istana Kwan-wa-kung saat itu juga, lalu menyerahkan kendali komando kepada beberapa wakil Fan Ciangkun yang ada di situ. Secepat kilat ia mengatur barisan besar untuk menuju ke Bukit Lin-yen-san. Begitu semuanya diatur dan pasukan dipecah menjadi empat bagian, akhirnya pendekar ini bersama anak istrinya segera menuju ke Kwan-wa-kung untuk mengejar rombongan Iblis Penagih Jiwa!
Tindakan pendekar sakti ini sangat tepat. Shi Shih berada dalam bahaya besar jika Kun Houw sampai membuka rahasia di depan Kaisar, karena sebenarnya mereka terjebak oleh tipu muslihat yang penuh kecerdikan dari Iblis Penagih Jiwa. Dan karena Pendekar Gurun Neraka dulunya adalah seorang mantan jenderal yang disegani kawan dan ditakuti lawan, apa yang diaturnya sangat jitu.
Pasukan besar malam itu juga bergerak menuju ke Bukit Lin-yen-san tanpa suara, karena mereka adalah orang-orang terlatih yang telah mendapat gemblengan bertahun-tahun. Mereka dipersiapkan hingga menjadi pasukan nomor satu yang dapat bergerak cepat tanpa menimbulkan kecurigaan, seolah-olah barisan naga yang diam-diam menghampiri mangsa tanpa diketahui.
Namun, Pendekar Gurun Neraka yang mendahului di depan bersama anak istrinya tiba-tiba tertegun melihat pasukan lain menyerbu Kwan-wa-kung mendahului mereka. Pasukan itu bersorak-sorai di malam yang gelap menyergap istana, persis di saat So-beng dan teman-temannya muncul.
Pendekar Gurun Neraka yang tentu saja tertegun memandang semua ini, tiba-tiba melihat seorang pemuda gagah perkasa sedang mengamuk memimpin pasukan penyerbu itu!
"Ah, siapa dia?" Pendekar Gurun Neraka dan anak istrinya terperangah. Mereka melihat pemuda yang mengamuk di depan itu hebat sekali. Sepak terjangnya luar biasa karena dia hanya mengandalkan tangan dan kaki kosong, melempar dan menendang para pengawal hingga tunggang-langgang dan menjerit tak keruan. Pemuda itu terus merangsek maju menyibak musuh; ujung lengan bajunya berkali-kali mengebut dan membuat pengawal terpekik lalu mencelat bergulingan.
Ketika So-beng dan rombongannya tiba dan melihat pemuda ini, tiba-tiba Iblis Penagih Jiwa itu melengking marah dan membentak, "Siluman jahanam, siapa kau?!"
So-beng langsung melayangkan pukulan dahsyat. Ia menghantam bagian belakang kepala lawan di tengah hiruk-pikuknya pertempuran, tanpa tahu siapa pemuda itu dan dari mana datangnya pasukan penyerbu yang menyerang Kwan-wa-kung.
Namun, pemuda di depan yang mendengar desau angin pukulan lawan tiba-tiba membalikkan badan dan menangkis serangan Iblis Penagih Jiwa itu.
"Duk!"
Iblis Penagih Jiwa terbelalak. Dia merasakan getaran hebat dan terhuyung selangkah, sementara lawannya yang berseru nyaring tampak berjungkir balik di udara sebelum mendarat kembali untuk menghadapi musuhnya.
So-beng semakin tertegun. Pemuda ini ternyata sangat gagah dan tampan, dengan sepasang alis hitam tebal berbentuk seperti golok yang memancarkan kegagahannya, serta sorot mata yang berkilat tajam.
Ketika Mu Ba dan yang lainnya mengepung pemuda ini dengan pandangan marah, ternyata pemuda itu tidak gentar sedikit pun. Ia justru tertawa mengejek sambil menepuk-nepuk bajunya yang penuh debu!
"Hm, kiranya kau datang juga, So-beng? Dan ini teman-temanmu yang busuk itu? Mana dia Siang-mo Ji-bin? Larikah?"
Siang-bin terkejut karena ditunjuk langsung oleh pemuda tidak dikenal yang memandangnya dengan mata berapi-api dan wajah merah padam. Siang-mo Ji-bin melompat ke depan, mengerutkan alisnya, lalu membentak gusar, "Bocah, ada apa kau mencari kami? Siapa orang-orang liar yang kau bawa ini?"
"Hm, aku Liong Han, Siang-mo Ji-bin! Masih ingatkah kalian pada kematian Liong Wangwe (Hartawan Liong) di Kota Libun? Aku putranya, datang mencari kalian untuk membalas dendam!"
Siang-bin terbelalak. Mereka mencoba mengingat-ingat. Begitu tersadar, tiba-tiba keduanya tertegun dan kaget memandang pemuda ini.
"Eh, bukankah kau sudah mampus di sudut kamar? Bukankah..."
Liong Han, pemuda yang gagah ini, memotong dengan marah, "Aku masih hidup, Siang-mo Ji-bin! Seseorang datang waktu itu menolongku. Dialah yang kini menjadi guruku!"
"Hmm...!" Kedua kakek kembar ini saling pandang, mendengar teriakan di sana-sini karena pertempuran masih berlangsung dengan sengit. Para penyerbu merangsek maju dan semakin mendesak para pengawal.
So-beng yang tidak sabar dan cemas memandang ke dalam, tiba-tiba menyuruh Siang-mo Ji-bin menangkap pemuda itu, sementara yang lain diajaknya menghalau musuh. Ia juga membawa serta Kun Houw dan Fan Li yang terheran-heran serta terkejut melihat pemuda tidak dikenal yang sangat menarik perhatian mereka itu.
Siang-mo Ji-bin yang kini berhadapan dengan Liong Han akhirnya membentak sambil memutar-mutar kedua lengan mereka. "Bocah, sekarang tidak perlu banyak cakap lagi! Ayo laksanakan niatmu itu dan balas kematian orang tuamu. Kami siap!"
Liong Han memandang dengan mata berapi-api. "Tentu, aku datang memang untuk membalas dendam, Siang-mo Ji-bin!"