Chapter 213
"Karena itu, bersiaplah kalian menebus dosa!" bentak Liong Han sambil menggerakkan lengannya. Tahu-tahu, ia menampar Siang-mo Ji-bin dengan pukulan yang bercuit nyaring.
"Plak!" Siang-mo Ji-bin menangkis, mengerahkan Ang-see-kang dan Pek-see-kang mereka karena melihat pemuda ini benar-benar lihai. Hal itu terbukti dari amukannya tadi ketika menghajar para pengawal.
Namun, keduanya berteriak kaget dan terdorong mundur. Tiba-tiba mereka melemparkan diri dan bergulingan ketika sinkang lawan "menembus" Ang-see-kang (Tenaga Pasir Merah) dan Pek-see-kang (Tenaga Pasir Putih) mereka, seolah-olah ular yang menyelusup di antara liang, menghantam dan lolos menyambar dada mereka.
Pukulan yang aneh. Pukulan yang luar biasa.
Pek-kwi serta Ang-kwi yang tentu saja kaget bukan main, segera mendengar ledakan perlahan ketika pukulan pemuda itu mengenai tanah.
"Des!" Pek-kwi dan Ang-kwi melompat bangun.
Sekarang mereka melihat kepulan asap dari bekas pukulan itu, melihat tanah berlubang sedalam injakan kaki dan basah seolah-olah baru saja disembur seekor naga. Atau, mungkin lebih mirip disebut percikan air yang berubah menjadi butiran es keras seperti peluru, melesak dan membuat tanah berlubang saking hebatnya pukulan aneh yang tadi bercuit nyaring itu.
Siang-mo Ji-bin yang pucat terbelalak ke bawah, tiba-tiba mundur dan berseru tertahan, "Sin-sui-kang (Pukulan Air Sakti)...!"
Liong Han mendengus. "Ya, kau mengenal pukulanku, Siang-mo Ji-bin?"
Kedua kakek kembar yang gentar itu memandang Liong Han. Akhirnya mereka menggigil menghadapi pemuda itu. Mereka takut dan heran bagaimana Liong Han dapat memiliki pukulan itu, teringat pada seseorang yang dulu mengalahkan mereka dengan pukulan sakti ini.
Siang-mo Ji-bin menoleh ke kiri dan ke kanan dengan tampang ketakutan. Tiba-tiba salah seorang berseru kepada pemuda itu dengan suara serak, "Liong Han, apa hubunganmu dengan Pek-kut Hosiang?"
"Dia guruku!"
"Ah, pantas...!" Siang-mo Ji-bin membentak marah lalu tiba-tiba meraung, memberi tanda, dan bersama-sama menyerang pemuda itu untuk menumpahkan kemarahan mereka. Kemarahan itu bercampur pula dengan perasaan cemas yang membuat mereka gelisah. Mereka penasaran karena pemuda ini memiliki ilmu "pamungkas" untuk menundukkan pukulan pasir beracun mereka, baik Pek-see-kang maupun Ang-see-kang.
Siang-mo Ji-bin menerjang, masih berharap Liong Han belum begitu mahir menguasai Sin-sui-kang. Mereka menyerang bertubi-tubi, melancarkan pukulan sambil mengerahkan ginkang. Dalam sekejap saja mereka sudah mengeroyok pemuda itu dengan gerakan berkelebatan yang cepat, saling mendahului seolah-olah pemuda itu harus cepat-cepat dibunuh dan tidak boleh diberi kesempatan. Namun, Liong Han tertawa mengejek menghadapi lawannya. Tiba-tiba ia membentak dan kembali menangkis dengan pukulan anehnya itu, mampu mengimbangi lawan dan membuat Siang-mo Ji-bin selalu terdorong mundur. Ini berarti sang pemuda lebih unggul dan mahir menguasai sinkang-nya. Kenyataan yang membuat Siang-mo Ji-bin kecewa!
Ketika Liong Han membentak dan mengerahkan ginkang-nya pula, tiba-tiba pemuda ini lenyap mengikuti gerakan lawannya. "Siang-mo Ji-bin, kalian tidak dapat mengalahkan aku...!"
Wajah Siang-mo Ji-bin memucat. Mereka melihat bahwa lawannya itu memang sangat lihai, hebat, dan selalu mementalkan pukulan pasir beracun mereka. Bahkan tubuh pemuda itu tidak mempan oleh cipratan keringat mereka yang membentuk pasir-pasir aneh. Liong Han mengejek dan tertawa menghina mereka ketika senjata keringat yang berubah keras dan tajam itu runtuh tersapu oleh Pukulan Air Sakti yang benar-benar hebat.
Ketika Liong Han melengking tinggi menambah kecepatannya dan kedua lengannya mulai mengibas ke kiri dan ke kanan, tiba-tiba keringat pasir di tubuh Pek-kwi dan saudaranya menjadi lengket. Keringat itu tidak dapat dicipratkan lagi karena Sin-sui-kang membuat tubuh mereka basah kuyup—bukan oleh keringat yang membanjir dari tubuh mereka sendiri, melainkan oleh pengaruh Pukulan Air Sakti. Hal ini membuat mereka kedinginan, hingga tiba-tiba Ang-see-kang maupun Pek-see-kang mereka macet. Mereka mengalami kesukaran karena jalan darah mereka seolah-olah beku, kaku, dan tidak leluasa lagi bergerak untuk melepaskan pukulan.
Saat Liong Han mulai membalas, kedua iblis kembar ini terbelalak dengan muka kaget. Tahu-tahu keduanya mencelat dan terlempar ketika Liong Han menampar dada mereka.
"Ji-bin, ini pukulan pertama untuk kematian ayahku... des!!"
Siang-mo Ji-bin terguling-guling. Mereka mengeluh kaget dan melompat bangun dengan tubuh gemetar karena otot-otot terasa kejang. Namun, ketika Liong Han berkelebat menampar dengan pukulan kedua, mereka pun terbanting roboh sambil memuntahkan darah.
"Dan ini untuk kematian ibuku... des!!"
Mereka kembali terguling-guling dengan wajah pucat, mendekap dada serta leher yang sakit akibat menerima pukulan itu. Ketika Liong Han kembali membentak dan melancarkan pukulan bertubi-tubi seraya berseru bahwa itu untuk saudaranya atau keluarganya yang lain, akhirnya kedua iblis kembar ini lari tunggang-langgang, dikejar hingga jatuh bangun. Siang-mo Ji-bin benar-benar tidak berdaya, semakin lumpuh, dan mulai menjerit kesakitan karena terluka parah.
Saat Liong Han yang beringas menurunkan tangan mautnya dua kali ke ubun-ubun kepala lawan, akhirnya Siang-mo Ji-bin memekik dan terlempar roboh.
"Prak!" Kedua iblis itu kini tidak bergerak lagi. Mereka tewas oleh pukulan terakhir pemuda ini, menggelepar sejenak sebelum akhirnya tidak bergerak lagi untuk selama-lamanya.
Kejadian itu membuat Pendekar Gurun Neraka dan yang lainnya tertegun. Mereka baru sadar setelah tercengang menyaksikan pertarungan di depan mata, menyadari bahwa pertandingan telah berakhir dengan kemenangan pemuda itu.
Bi Lan mendesis kagum. Namun, tiba-tiba ia terkejut melihat sebuah tombak meluncur ke arah punggung pemuda itu tanpa disadari oleh yang bersangkutan. Ia melihat Panglima Ok muncul dan menyerang secara gelap.
"Hei...!"
Namun, teriakan Bi Lan terlambat. Saat itu, Liong Han sedang menengadah ke langit, tubuhnya bergetar menyebut arwah orang tuanya, menangis sekaligus gembira karena musuh berhasil dibinasakan. Maka, ketika Ok-ciangkun muncul dan tombak menyambar punggungnya tanpa suara, pemuda itu menjerit saat senjata mengenai tubuhnya. Terkejut oleh teriakan Bi Lin, ia secepat kilat mengerahkan sinkang untuk melindungi diri—sebuah gerak refleks dari seorang ahli silat yang menyadari bahaya.
Namun, karena semua terjadi secara tiba-tiba dan tombak itu diluncurkan oleh tangan sakti Panglima Ok yang hebat luar biasa, pemuda ini tetap saja roboh terjungkal dan mengaduh kesakitan. Ia memang mampu menahan tombak itu sehingga tidak sampai menembus dadanya—hanya menancap sekitar lima sentimeter—tetapi bagaimanapun juga ia terluka dan roboh terguling. Ia kehilangan kewaspadaannya karena kegembiraan setelah membunuh Siang-mo Ji-bin tadi. Melihat hal itu, Ok-ciangkun berkelebat maju dan mengayunkan tangannya, tahu-tahu menampar kepala pemuda itu dengan pukulan Tok-hwe-ji (Hawa Api Beracun).
"Keji...!" Bi Lin tidak tahan lagi. Ia melompat maju. Entah mengapa, ia merasa sangat marah melihat Liong Han terluka. Gadis itu langsung mencelat dan melancarkan pukulan jarak jauh untuk menangkis pukulan panglima itu dari samping, membentak hingga mengejutkan sang panglima.
Ok-ciangkun tentu saja terbelalak melihat tangkisan Bi Lin. Ia tiba-tiba menggeram dan menendang gadis itu.
"Des...!" Bi Lan terlempar. Gadis ini terpelanting dan bergulingan setelah membentur hawa pukulan Tok-hwe-ji itu. Ia tidak sampai terluka parah karena melakukan serangan dari samping, tetapi ia terpental kembali ke tempat ibunya di belakang.
Meskipun Liong Han tertolong sejenak, ia tetap menjadi korban. Pukulan itu mengenai pundak kanannya, bukan belakang kepalanya. Ia terbanting roboh dan langsung pingsan dengan pundak yang membiru.
Pendekar Gurun Neraka yang saat itu muncul untuk menolong putrinya segera berhadapan dengan panglima bermarga Ok tersebut—musuh yang amat membencinya sejak dahulu!
"Ok-ciangkun, hentikan kecuranganmu di sini! Jangan membokong seseorang yang tidak menyadari kehadiranmu!"
Ok-ciangkun mendelik. Ia terkejut sekaligus marah bukan main melihat pendekar besar itu. Ia teringat akan permusuhan mereka sejak masa muda, ketika pendekar itu saling mencintai dengan adik perempuannya yang kemudian tewas gara-gara sang pendekar.
Ok-ciangkun yang mendelik dengan muka merah padam tiba-tiba menerjang lawannya dengan penuh kebencian, "Pendekar Gurun Neraka, kau di mana-mana selalu menjadi penghalangku! Mampuslah!"
Pendekar Gurun Neraka mengelak. Sebenarnya ia enggan bermusuhan dengan panglima ini, orang yang ia tahu telah cukup banyak menanggung penderitaan sejak mereka sama-sama muda, belasan tahun yang lalu. Namun, lawannya yang sedang naik pitam itu berkelebat mengerahkan ginkang, tiba-tiba membentak dan mengejarnya dengan serangan baru, memburu sang pendekar dengan teriakan dahsyat.
Ketika Pendekar Gurun Neraka melihat serangan ini cukup berbahaya jika dielakkan karena bisa mengenai anak istrinya di belakang, ia terpaksa menangkis sambil mengerahkan sinkang-nya.
"Ok-ciangkun, maaf... duk!!"
Ok-ciangkun tergetar. Ia terdorong selangkah oleh tangkisan itu, merasa dadanya sesak. Namun, ia melengking lagi dan menyerang dengan pukulan berikutnya. Tiba-tiba saja ia memutar kedua lengannya untuk melancarkan pukulan kapas, Im-bian-kun, pukulan tangan dingin yang tampaknya lembut namun luar biasa kuat karena memiliki daya lentur tinggi yang mampu membalikkan tangkisan lawan, sebesar apa pun tenaga yang dikerahkan lawan.
Pendekar Gurun Neraka tentu saja tahu dan terkejut oleh pukulan berbahaya ini. Ia segera meliukkan pinggang dan berjongkok merendahkan kaki, langsung memasang kuda-kuda yang disebut Siang-kak Jip-te (Sepasang Kaki Menghunjam Bumi)—sebuah posisi kuda-kuda yang luar biasa kokoh hingga tak mungkin tergeser bahkan jika tertimpa gunung sekalipun. Ia menahan dan menerima pukulan lawannya itu tanpa melawan keras dengan keras, melainkan menyambut dan menerimanya, justru membuat lawan terdorong menindih lengannya.
Saat Pendekar Gurun Neraka terdorong melentur ke belakang sementara kakinya masih menancap kuat di atas tanah, tiba-tiba ia mengayunkan tubuhnya ke depan untuk membalas dorongan pukulan itu. Ia mengerahkan Tee-sin-cang (Pukulan Mendorong Gunung) setelah terlebih dahulu menyerap pukulan lawan, sehingga gaya pental yang dimiliki Im-bian-kun menjadi lenyap. Begitu lawan terbelalak memandang, tahu-tahu Ok-ciangkun sudah terjengkang akibat dorongan dahsyat yang menghantam dadanya.