Chapter 214
"Bress!" Ok Ciangkun terlempar dan bergulingan. Ia kaget bukan main dan berseru keras karena kecerdikan lawannya. Ia terpaksa menjauhkan diri dan berjungkir balik untuk mematahkan daya dorong tersebut.
Ketika ia melompat bangun dengan mata berapi-api memandang lawannya, Pendekar Gurun Neraka tampak sedang mengebutkan lengan untuk membersihkan bajunya.
"Keparat, kau memang lihai, Pendekar Gurun Neraka! Tapi jangan sombong dan mengira aku telah kalah!"
*Sing!* Ok Ciangkun mencabut pedangnya, lalu melompat maju kembali dengan mata berkilat-kilat memandang lawannya, separuh kagum tetapi juga benci, setengah gemar setengah marah.
Ceng Bi serta Pek Hong yang melompat maju disusul anak-anak mereka tiba-tiba mendengar Pendekar Gurun Neraka menghela napas dan berseru, "Bi-moi, kalian pergi saja mencari Kun Houw dan Panglima Fan. Biar panglima ini kuhadapi sendirian!"
"Tidak!" Ceng Bi menggeleng. "Mati atau hidup, kami tetap bersamamu, suamiku. Aku dan Enci Hong tidak akan meninggalkanmu sendirian di tempat ini!"
"Hm, kalau begitu biar Sin Hong dan Bi Lan saja yang mencarinya," Pendekar Gurun Neraka mengerutkan alis, maklum akan kekerasan watak istrinya jika Ceng Bi sudah menentukan sikap.
Sin Hong mengangguk lalu menyambar adiknya. Namun, tindakan itu tiba-tiba disambut seruan Bi Lan yang sedang memandang Liong Han.
"Tidak, kau cari saja Kak Kun Houw sendirian, Hong-ko. Aku akan menolong pemuda ini!"
Sin Hong terkejut. Dia melihat adiknya berbicara seolah-olah terlupa diri, lalu tiba-tiba tersadar dengan muka memerah setelah ayah dan ibunya memandang. Ia maklum bahwa dirinya telah menunjukkan sesuatu yang ganjil di luar kebiasaan.
Bi Lan yang terkejut menyadari omongannya tiba-tiba tertegun dan buru-buru meralat, "Eh, tidak. Maksudku, biar kau saja yang menolong pemuda ini, Hong-ko. Aku yang sendirian mencari Kun Houw!"
Namun, sebelum Bi Lan melompat, Sin Hong sudah menahan adiknya sambil tertawa aneh.
"Sudahlah. Ayah yang memerintahkan aku mencari Kun Houw, Lan-moi. Kau juga pergilah dan tolonglah pemuda itu baik-baik."
Sin Hong berkelebat mendahului adiknya dan langsung lenyap meninggalkan tempat itu, membuat wajah Bi Lan memerah dan tampak gugup.
Tetapi kedua ibunya yang saling pandang tampak maklum akan sesuatu. Mereka tiba-tiba tersenyum kecil, lalu menyuruh Bi Lan membawa pemuda itu ke tempat yang aman.
Karena pertempuran masih berlangsung dan Ok Ciangkun rupanya sudah bersiap-siap menghadapi ayahnya, terpaksa Bi Lan mengangguk dan membawa Liong Han sesuai permintaan ibunya—atau lebih tepatnya sesuai keinginan hatinya sendiri yang entah kenapa berdebar dan tertarik bukan main pada murid Pek-kut Hosiang itu, seorang tokoh Gobi yang hebat namun jarang muncul.
Begitu Bi Lan mengangguk dan membawa pemuda itu pergi, Pendekar Gurun Neraka pun berhadapan dengan lawannya untuk menyelesaikan semua ganjalan, karena Ok Ciangkun tentu akan memusuhinya seumur hidup. Di pinggir arena, kedua istrinya berjaga-jaga dengan tegang jika ada orang lain yang datang menyerang.
Persis ketika keduanya saling beradu pandang, tiba-tiba dari bawah bukit muncul pasukan besar yang digerakkan oleh sang pendekar. Pasukan itu naik ke bukit dari segala penjuru menuju Istana Kwan-wa-kung, beberapa saat setelah Pendekar Gurun Neraka beserta anak dan istrinya tiba di situ.
Panglima Ok, yang tentu saja membelalakkan matanya dengan gusar, tiba-tiba menjadi sangat marah sekaligus terkejut.
"Pendekar Gurun Neraka, kau membawa pasukan ke sini?!"
"Maaf," pendekar itu menghela napas. "Mereka datang untuk menumpas kelaliman, Ciangkun. Mereka bergerak untuk menangkap kaisarmu!"
"Keparat!" Ok Ciangkun menggerakkan pedangnya dan melompat maju. Senjatanya tiba-tiba membabat kepala lawan. Namun, serangan itu berhasil dikelit. Sambil memekik tinggi, ia menusuk dan membacok bertubi-tubi. Ok Ciangkun mengerahkan ginkangnya, dan dalam sekejap, ia lenyap di balik putaran pedangnya yang bergulung-gulung naik-turun bagai pelangi panjang. Panglima ini tengah mengeluarkan ilmu pedangnya yang dahsyat, *Jeng-ging-to It-beng Kiam-sut* (Ilmu Pedang Seribu Pelangi Pencabut Nyawa), menyerang lawannya dengan ganas bertubi-tubi.
Pendekar Gurun Neraka pun dalam sekejap tertutup oleh gulungan pedang yang dahsyat dari terjangan panglima yang marah dan mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk membunuh itu.
Namun, Pendekar Gurun Neraka tentu saja tidak tinggal diam. Ia melayani serangan lawan dengan membentak keras, lalu menggerakkan kedua lengannya untuk menangkis ke kiri dan kanan. Ia mengerahkan sinkangnya untuk mementalkan pedang yang menyambar-nyambar. Pendekar ini menghadapi senjata tajam hanya dengan tangan kosong, karena ia sudah terlalu lihai untuk menggunakan kaki dan tangannya saja. Gerakannya yang cepat membuat Ok Ciangkun berteriak heran melihat pedangnya terpental setiap kali dikebut, atau terkadang memantul saat membacok lengan Pendekar Gurun Neraka yang kerasnya melebihi senjata tajam.
Karena pada dasarnya tingkat kepandaian panglima ini masih kalah setingkat dibanding sang pendekar, akhirnya pedang di tangannya patah ketika Pendekar Gurun Neraka memberikan satu tangkisan kuat sambil membentak keras.
"Pletak!" Ok Ciangkun terbelalak. Ia menggeram dan melemparkan patahan pedangnya, maklum bahwa percuma saja menghadapi lawan ini dengan senjata apa pun.
Ok Ciangkun mulai menggeleng dan memutar lengannya, lalu tiba-tiba melejit maju menyerang kembali dengan gaya yang keras, memainkan *Gin-kong-jiu* (Pukulan Sinar Perak) yang diwarisinya dari mendiang nenek iblis Moli Thai-houw (baca: *Hancurnya Sebuah Kerajaan*).
Namun, Pendekar Gurun Neraka kembali menangkis dan menolak balik semua serangan itu, membuat sang panglima terpaksa mengubah ilmu silatnya dan memainkan *Tok-hwe-ji*.
"Bagus, kau memang lihai, Ciangkun! Tapi sayang, kelihaianmu ini tidak kau arahkan pada jalan yang benar," puji Pendekar Gurun Neraka ketika melihat pukulan lawannya kali ini mengandung racun yang dahsyat serta sangat berbahaya. Terdengar suara berkeretakan dan tampak kedua lengan panglima itu berubah warna menjadi kehitaman.
Saat pendekar ini ingin menjajal seberapa hebat pukulan lawannya dan mencoba menangkis, mendadak ia tergetar dan kedua lengannya langsung menghitam terkena serangan racun!
"Duk!" Pendekar Gurun Neraka mengerutkan alisnya. Ia dengan cepat mengerahkan *Kui-kong-yang-sinkang* (Tenaga Inti Petir) untuk "membakar" racun yang menempel di kedua lengannya. Seketika itu juga, warna kehitaman dari racun *Tok-hwe-ji* lenyap tak berbekas.
Ketika lawannya mulai memekik dan melancarkan pukulan-pukulan lain, terpaksa pendekar ini mengelak dan mulai membalas. Ia tidak mungkin hanya menerima serangan, karena sepak terjang panglima itu cukup ganas, berbahaya, dan tidak boleh diremehkan.
Saat Pendekar Gurun Neraka mulai membentak dan membalas, Ok Ciangkun dibuat terkejut karena sang pendekar kini memainkan *Khong-ji-ciang* (Silat Hawa Kosong) yang disusul dengan *Cap-jiu-kun* (Silat Sepuluh Kepalan). Gerakan tangannya menyambar-nyambar dan menimbulkan angin kencang yang membuat pukulan Ok Ciangkun tertahan serta terhenti di tengah jalan karena membentur tenaga lawan yang luar biasa kuat, seolah menabrak tembok baja tak kelihatan.
Ketika Pendekar Gurun Neraka mulai bergerak mengerahkan ginkangnya pula yang disebut *Jouw-sang-hui-teng* (Terbang di Atas Rumput), panglima ini semakin kewalahan. Ia terbelalak melihat *Tok-hwe-ji*-nya sama sekali tidak dapat menembus tubuh Pendekar Gurun Neraka, melainkan selalu terpental dan tertahan oleh dinding hawa pelindung yang luar biasa kuat.
Begitu Pendekar Gurun Neraka berkelebat dan menampar pundaknya, untuk pertama kalinya panglima itu mendesis kesakitan.
"Plak!" Panglima Ok terhuyung mundur. Namun, ia tidak sampai roboh terjungkal karena mampu bertahan setelah mengerahkan *Hoat-ciang-ko*-nya, ilmu kebal yang berbau *hoat-sut* (sihir). Ilmu ini diwarisinya dari mendiang gurunya yang kedua, yaitu iblis dari Hek-kwi-to, yang tewas di tangan Malaikat Gurun Neraka.
Melihat semua pukulannya tertahan oleh *Hoat-lek-kim-ciang-ko* milik panglima tersebut, Pendekar Gurun Neraka mengerutkan alis. Ia menyadari bahwa Ok Ciangkun menguasai *Hoat-lek-kim-ciang-ko* yang dahulu dimiliki oleh mendiang *su-siok*-nya, yaitu iblis dari Hek-kwi-to yang tewas dibunuh oleh gurunya (baca: *Pendekar Kepala Batu*).
Pendekar Gurun Neraka yang sempat tertegun melihat kekebalan lawannya tiba-tiba mengeluarkan sebuah logam kuning, benda yang dulu digunakannya pula untuk merobohkan ketua Gelang Berdarah.
Begitu melihat benda tersebut, Panglima Ok seketika melengking dengan wajah pucat ketakutan.
"Pendekar Gurun Neraka, tidak perlu kau mengeluarkan benda keparat itu! Bunuhlah aku dengan kesaktian ilmu silatmu!"
"Hm, benda ini khusus untuk menangkal ilmu-ilmu sesat, Ciangkun. Maaf, terpaksa kukeluarkan jika kau menggunakan *Hoat-lek-ko*-mu itu!"
"Keparat, kau curang, Pendekar Gurun Neraka! Kau licik, kau...!"
"Plak!" Panglima ini menjerit dan terlempar roboh setelah sang pendekar menyambitkan benda logam itu tepat ke pundak kirinya. Ia memekik karena titik kelemahannya telah diketahui—satu-satunya tempat yang menjadi celah ilmu kebalnya. Ia langsung terguling-guling dengan wajah pucat memandang Pendekar Gurun Neraka.
Ketika Pendekar Gurun Neraka berkelebat mengejarnya dan kembali melancarkan pukulan ke dadanya, Ok Ciangkun berteriak keras. Ia mencelat jatuh, dan seketika itu pula punahlah ilmu kebalnya yang berbau *hoat-sut* (ilmu hitam) tersebut.
Karena sang lawan memang jauh lebih lihai dan mengetahui semua kekurangannya, panglima ini hanya bisa mendesis-desis kesakitan menerima tamparan dan pukulan Pendekar Gurun Neraka yang membuatnya jatuh bangun. Ia kian terbelalak saat melihat pasukan yang merayap di atas Bukit Lia-yen-san mulai bergemuruh, bergerak maju menyerang dan mengepung Istana Kwan-wa-kung.
Ketika sekali lagi tubuhnya terlempar oleh pukulan Pendekar Gurun Neraka yang mengenai lehernya, panglima ini tiba-tiba melompat bangun, memutar tubuhnya, lalu melarikan diri. Ia menyelinap di antara hiruk-pikuk pasukan yang mulai berdatangan menyerbu bagai laron siluman mendekati istana.
Pendekar Gurun Neraka yang terkejut segera mengejar lawannya sambil membentak keras, diikuti oleh kedua istrinya yang menyusul di belakang.