Chapter 215
"Ok-ciangkun, kau tak dapat meloloskan diri!" Panglima itu tidak mau mendengar.
Dia menyelinap dan terus melarikan diri ke dalam, memasuki istana, dan mengibas roboh para penyerbu yang menghadang di depan.
Ketika Pendekar Gurun Neraka mengejar dan tiba di ruangan dalam, ternyata panglima itu telah membawa kaisar memasuki lorong istana.
"Sri Baginda, lari! Musuh terlalu kuat!"
Pendekar Gurun Neraka terbelalak. Dia tidak melihat Shi Shih bersama raja tua itu. Ia hanya melihat kaisar yang terseok-seok diajak lari oleh panglimanya. Karena Pendekar Gurun Neraka sudah dekat, sementara Panglima Ok yang pucat dan bingung melarikan diri, tiba-tiba panglima ini menyambar kaisar lalu memanggul laki-laki tua itu.
"Sri Baginda, maaf. Musuh mengejar di belakang!"
Kaisar tertegun. Dia juga melihat Pendekar Gurun Neraka yang berkelebat di belakangnya, bahkan disusul pula oleh kedua istrinya yang gagah perkasa.
Melihat api mulai berkobar dan Istana Kwan-wa-kung diserbu banyak orang, para pengawal banyak yang tewas roboh bergelimpangan, persis seperti keadaan di kota raja. Kaisar yang tertegun dengan muka pucat lalu mendesis teringat anak istrinya yang lain, terutama Shi Shih yang entah ke mana mendadak hilang tanpa diketahui. Maka, dalam keadaan bingung dan gugup teringat selir tercintanya itu, kaisar berseru, "Ok-ciangkun, tunggu dulu! Cari dulu selirku itu!"
"Ah, siapa lagi, Baginda?"
"Shi Shih, selirku tercinta itu!"
"Keparat!" Ok-ciangkun tiba-tiba membentak, lupa bersikap sopan kepada junjungannya. "Selir Paduka itu pengkhianat, Sri Baginda! Justru dialah yang membawa kekacauan ini. Biar dia mampus di dasar neraka!"
Kaisar terkejut dan terbelalak memandang panglimanya. "Kau... kau menghinaku, Ciangkun? Kau berani bersikap sekasar itu kepadaku?"
Ok-ciangkun tersadar. "Maaf, Hamba... Hamba tidak dapat menahan diri, Sri Baginda. Tetapi percayalah bahwa selir Paduka itu telah mengkhianati Paduka. Tidak perlu Paduka mencarinya lagi. Paduka telah menjadi korban kecerdikan selir itu yang melebihi ular berbisa!"
Kaisar menangis. Untuk pertama kalinya raja tua ini terpukul hebat. Ia masih belum percaya, tetapi tidak berdaya melihat musuh mengejar di belakang. Ia hanya bisa pucat dan menggigil di atas pundakan panglimanya.
Ketika Ok-ciangkun memasuki sebuah kamar rahasia dan menekan tombol di balik pintu, tiba-tiba sebuah lubang terbuka untuk mereka. Panglima ini langsung masuk, melompat ke bawah, dan membawa junjungannya keluar di kamar yang lain.
Namun, ketika Sin Hong muncul dan membentak, panglima ini terkejut setengah mati. Ok-ciangkun terbelalak heran bagaimana putra Pendekar Gurun Neraka itu bisa mengetahui jalan rahasia yang tidak diketahui orang luar.
Ketika ia menuju ke pintu lain dan kembali menyelinap di tempat rahasia di bawah tanah, mendadak Naga Bongkok muncul di sana sambil tertawa tergelak. Hal ini lagi-lagi mengejutkan sang panglima.
"Ok-ciangkun, kalian sudah terkepung. Lebih baik menyerah saja!"
Ok-ciangkun terbelalak. Jika ia tidak sedang membawa kaisar, tentu ia akan menerjang musuh-musuhnya itu. Namun, teringat junjungannya yang harus diselamatkan, terpaksa panglima ini memutar tubuh mencari jalan lain melalui kamar-kamar rahasia yang banyak terdapat di tempat itu. Ia lari kebingungan menuju ke sebuah jurang di belakang istana, tempat terakhir di mana ia akan menyeberangi sebuah jembatan gantung yang dipasang secara rahasia, yang tidak mungkin diketahui orang luar.
Namun, ketika tiba di tempat ini dan Ok-ciangkun memasang jembatan gantung yang tersembunyi di dalam tanah, mendadak tali yang baru direntangkan itu putus dibabat sebilah pisau.
"Tas!"
Ok-ciangkun kaget bukan main. Ia melihat Pendekar Gurun Neraka dan yang lainnya muncul di sana, berdiri di belakangnya bersama Panglima Fan. Mereka berdampingan pula dengan Shi Shih. Hal ini membuat kaisar membelalakkan matanya, hampir tidak percaya bahwa selirnya itu ada di sana, berdiri bersama musuh!
Kaisar berseru tertahan dengan wajah yang berubah. Tiba-tiba ia menggigil dan turun dari pundakan panglimanya.
"Shi Shih, kau... kau ada bersama mereka?"
Shi Shih tidak menjawab. Wanita ini memandang kaisar dengan air mata bercucuran, tidak dapat mengelak lagi. Kedua kakinya gemetar dan wajahnya sepucat kertas. Tidak ada gunanya lagi ia berpura-pura. Permainan telah berakhir dan semua kartu harus dibuka.
Kaisar yang tertegun memandang selirnya tiba-tiba menjerit dan roboh terjungkal.
"Shi Shih, kau... kau pengkhianat!"
Shi Shih kembali tidak menjawab. Wanita ini berkerut menahan diri, melihat kaisar mendekap dadanya dalam kemarahan yang luar biasa. Matanya membeliak seakan mau melompat keluar, melotot demikian lebar dengan urat-urat dahi yang menonjol. Pemandangan yang mengharukan itu membuat Shi Shih terisak, lalu tangisnya mendadak meledak. Ia menubruk kaisar, teringat bahwa laki-laki tua ini telah memberikan segala-galanya kepadanya: cinta, harta, kedudukan, dan apa saja yang ia minta, termasuk memenggal Wu-taijin, menteri setia yang tidak berdosa itu!
Namun, kaisar yang marah dan telah menyadari semuanya tiba-tiba menampar dan menendang selirnya itu.
"Shi Shih, kau jahanam! Kau wanita siluman! Kau selir tidak tahu budi! Kau... kau..."
Kaisar tidak kuat lagi. Ia menendang dan menampar selirnya hingga Shi Shih jatuh bergulingan, menjerit dan berteriak-teriak meminta ampun. Rintihannya menciptakan pemandangan yang sangat menyayat dan memilukan hati.
Kaisar yang tiba-tiba terbatuk-batuk dan terengah-engah mendadak mendelik lalu tertawa dengan suara yang membuat bulu tengkuk merinding.
"Shi Shih, kau benar-benar menipuku lahir batin. Kau membuatku terbius oleh kecantikanmu. Aih, apa lagi yang ingin kau dapatkan dariku, selir keparat? Bukankah harta dan kedudukan telah kau peroleh? Bukankah cinta dan semua yang kau minta telah kuberikan begitu saja? Apakah kau meminta jiwaku juga, Shi Shih? Kurangkah harta dan kedudukanmu? Kau..." kaisar tiba-tiba menangis, "kau tidak menghargai cinta kasihku, Shi Shih... Kau benar-benar merendahkan dan mencampakkan kasih sayangku... Kau... kau... ah, aku tidak dapat melenyapkan cinta kasihku, Shi Shih. Betapa pun kau menghina dan mengkhianatiku, aku tetap cinta kepadamu. Aku mengampuni dosamu. Biarlah aku mati menyesali kebodohanku!"
Kaisar pun terguling pingsan, tidak kuat menahan kehancuran hatinya. Kejadian itu disambut pekik menyayat dari Shi Shih yang perasaannya tercabik-cabik. Ia melihat betapa kaisar masih mengampuninya dan menyatakan cinta di balik kebenciannya. Ia melihat kaisar mencintainya lahir batin dengan sungguh-sungguh—sebuah cinta yang aneh karena harus mengorbankan banyak jiwa!
Shi Shih yang menangis mengguguk sambil menubruk kaisar akhirnya pingsan dan roboh memeluk laki-laki tua itu.
Pendekar Gurun Neraka dan yang lainnya tertegun. Mereka seakan terkesima oleh adegan tersebut, merasa tergetar dan tertusuk-tusuk mendengar jeritan Shi Shih yang sendu menyayat kalbu, serta melihat wanita itu roboh memeluk kaisar. Bagaimanapun juga, Shi Shih adalah seorang wanita yang memiliki perasaan peka. Tidak mungkin ia melupakan utang budi kaisar yang telah dilimpahkan kepadanya. Bahkan, jiwa dan raga pun tampaknya rela diberikan oleh kaisar tua itu kepada selir tercintanya.
Namun, Ok-ciangkun menggeram. Tiba-tiba ia melompat maju dan menghantam kepala Shi Shih, mengejutkan semua orang.
"Selir keparat, kau tidak layak hidup lagi!"
Pendekar Gurun Neraka dan yang lainnya kaget. Mereka berseru keras memaki panglima ini. Namun, Pendekar Gurun Neraka yang sudah membentak langsung berkelebat ke depan dan menangkis dengan pukulan jarak jauhnya.
"Ok-ciangkun, tahan kecuranganmu!"
Ok-ciangkun mendelik. Ia melakukan pukulan itu dengan sepenuh tenaga karena sangat membenci selir junjungannya ini. Maka, ketika Pendekar Gurun Neraka menangkis, pukulannya mendapat sambutan angin dahsyat dan dorongan dari pendekar sakti itu. Mendadak panglima ini mencelat dan menjerit keras, terlempar ke belakang, lalu berjungkir balik menjauhkan diri. Namun, karena di belakangnya menganga sebuah jurang yang tidak disadarinya, tiba-tiba panglima ini terjeblos dan langsung meluncur ke bawah.
"Ayah!"
Semua orang terkejut. Mereka melihat dua bayangan berkelebat menuju tepi jurang. Kui Lin dan Kui Hoa, dua gadis kembar putri Ok-ciangkun, tiba-tiba datang tepat di saat ayah mereka terjeblos ke dalam jurang. Mereka menjerit dan berteriak nyaring melihat ayah mereka meluncur ke tempat kosong di jurang yang amat dalam itu.
Pendekar Gurun Neraka serta anak istrinya terkejut melihat Kui Lin dan Kui Hoa meluncur ke tengah jurang demi menyambar ayah mereka.
"Hei!"
Dua seruan ini diteriakkan berbarengan, mengejutkan semua orang karena dua bayangan tiba-tiba melesat dengan sangat cepat, berjungkir balik menyusul Kui Lin dan Kui Hoa yang terjerumus ke dalam jurang. Sin Hong dan Kun Houw menyambar sekaligus menyentak punggung masing-masing gadis yang sudah meluncur setombak lebih itu. Mereka tidak berhasil menolong ayah mereka karena Ok-ciangkun telah terjerumus jauh ke dalam. Kun Houw menyambar Kui Hoa, sedangkan Kui Lin disambar oleh Sin Hong.
Begitu kedua pemuda ini menarik dan menjejakkan kaki di tebing jurang, Kun Houw dan Sin Hong segera menangkap kedua gadis itu lalu melemparkannya ke atas untuk menyelamatkan Kui Lin dan kakaknya. Gerakan itu sangat cepat, hanya berlangsung beberapa detik seolah halilintar yang menyambar. Ketika mereka berteriak keras memantulkan tubuh, Kun Houw dan Sin Hong sama-sama berjungkir balik keluar dari mulut jurang yang berbahaya itu.
"Bres!"
Kui Lin dan kakaknya selamat. Mereka tadi bermaksud menolong ayah mereka, tetapi tidak berhasil karena kalah cepat. Kun Houw dan Sin Hong yang kini sudah berdiri di depan dengan wajah berubah tiba-tiba menyeka peluh dan mengeluarkan keringat dingin, karena tindakan yang mereka lakukan tadi benar-benar sangat berbahaya. Sekali saja luput, kedua gadis itu pasti tidak tertolong. Bahkan, mungkin mereka sendiri akan terjeblos ke dalam jurang dan tewas di bawah sana.