Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 216

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 216

Diterima batu-batu runcing atau apa saja karena tak mungkin menyelamatkan diri!

Dan Kui Hoa serta adiknya yang tertegun saling berpandangan, tiba-tiba menangis dan menerjang Kun Houw dan Sin Hong.

"Kun Houw, kau jahanam keparat...!"

"Sin Hong, kau manusia busuk...!"

Kun Houw dan Sin Hong tertegun. Mereka tentu saja terbelalak melihat kemarahan kedua gadis ini, tidak mengerti mengapa setelah ditolong malah memaki mereka. Bahkan, kedua gadis itu menyerang dan kini memukul mereka dengan pukulan Gin-kong-jiu yang berkilauan menyilaukan, menghantam dada dengan dahsyat sekuat tenaga.

Namun, Sin Hong dan Kun Houw yang sama-sama tidak mengelak, tiba-tiba menerima pukulan itu dengan kening dikerutkan.

"Des-des!" Kedua pemuda ini terlempar.

Mereka telah melindungi diri dengan kekebalan sinkang sehingga tidak terluka, tetapi bagaimanapun juga mereka terpental oleh pukulan kakak beradik itu. Mereka merasakan betapa Kui Lin dan kakaknya benar-benar menyerang dengan sungguh-sungguh.

Ketika mereka melompat bangun dan berseru menegur, tahu-tahu kedua gadis ini berkelebat menyusul serangan dengan pukulan atau tendangan bertubi-tubi, sambil memaki mereka karena menghalangi mereka menolong ayah sendiri yang terjerumus ke dalam jurang.

Kun Houw dan Sin Hong yang menjadi bulan-bulanan pukulan akhirnya mengeluh dan terlempar bergulingan, sama sekali tidak membalas karena tidak tega.

Ketika baju mereka robek-robek serta hidung dan mulut Sin Hong mengeluarkan darah, tiba-tiba Kui Lin menjerit dan berlari turun gunung, disusul kemudian oleh kakaknya yang melengking sambil menampar Kun Houw. Begitu keduanya meluncur turun, tiba-tiba Kun Houw dan Sin Hong segera berlari mengejar.

"Kui Hoa, tunggu...!"

"Kui Lin, tunggu...!"

Namun, kedua gadis ini tidak mau berhenti. Mereka menuruni bukit memutari jurang. Kun Houw yang mengejar Kui Hoa, sementara Sin Hong mengejar Kui Lin, tiba-tiba mendengar keduanya mengaduh ketika terjerumus ke dalam sebuah lubang, jatuh terpelanting dan terguling-guling di atas tanah yang becek.

Ketika Kun Houw dan Sin Hong tiba di tempat itu, tanpa dikomando lagi, masing-masing langsung menyambar orang yang mereka cintai.

"Kui Lin, sabar...!"

"Hoa-moi, tenang...!"

Kui Lin dan Kui Hoa menangis tergugu. Mereka menubruk dan memukul-mukul dada kedua pemuda itu. Namun, Kui Lin yang tersadar dan terkejut karena dipeluk oleh Sin Hong, tiba-tiba memberontak dan memutar tubuhnya.

"Sin Hong, kau jahanam keparat!"

Sin Hong mengeluh. Ia tahu putri kedua Ok-ciangkun ini memang suka sekali memakinya sejak mereka bertemu di puncak Ta-pie-san. Makian itu selalu membuatnya mengeluh kecut, tetapi di sisi lain ia gembira mendengar suaranya yang merdu bagaikan kicauan burung nuri.

Sin Hong yang berlari mengejar dan meninggalkan Kun Houw akhirnya berhasil menangkap gadis itu jauh di bawah bukit sana.

"Kui Lin, tunggu, maafkan aku...!"

Kui Lin terbelalak. Ia sudah tertangkap oleh putra Pendekar Gurun Neraka ini. Tubuhnya menggigil marah ketika merasakan pundaknya didekap. Maka, ia berbalik dan langsung mengayunkan lengannya. Kui Lin tahu-tahu menampar pemuda itu bolak-balik.

"Sin Hong, kau mau kurang ajar kepadaku?! Kau berani memegang-megang gadis?! Keparat kau! Jahanam kau... plak-plak!"

Sin Hong yang roboh terhuyung-huyung menerima tamparan ini akhirnya bangkit berdiri dan berseru dengan suara gemetar, "Kui Lin, bunuhlah aku jika kau memang menginginkannya. Aku tidak akan marah. Tetapi mengapa aku harus dipukul dan dimaki berkali-kali?"

"Siapa bilang kau tidak bersalah?! Siapa bilang kau tidak patut dimaki?! Kau yang tidak tahu diri, Sin Hong! Kau yang menggagalkan usahaku menolong Ayah!"

Kui Lin yang marah dengan kata-kata yang mencerocos berhamburan itu tiba-tiba kembali menerjang dan memukul Sin Hong dengan kaki dan tangannya, membuat pemuda ini jatuh bangun tanpa memberikan perlawanan sedikit pun. Ia tampaknya pasrah jika Kui Lin benar-benar ingin membunuhnya!

Ketika tubuh Sin Hong mulai lecet-lecet dan bajunya terkoyak lebar hingga memperlihatkan dadanya yang terbuka, tiba-tiba Kui Lin yang mulai kelelahan menghentikan serangannya. Ia terbelalak memandang Sin Hong dengan perasaan heran sekaligus ngeri.

"Mengapa kau tidak melawan?"

Sin Hong tersenyum pahit. "Karena aku tidak berdaya melawanmu, Kui Lin. Aku merasa lumpuh jika kau marah-marah seperti itu."

"Kenapa?"

Sin Hong tiba-tiba berdiri dan memandang dengan mesra, membuat Kui Lin tergetar. Gadis itu cepat-cepat membuang muka, menghindari pandangan yang membuat hatinya berdegup tidak karuan tersebut. Ia merasakan Sin Hong tahu-tahu mencekal lengannya dengan jari-jemari yang menggigil.

Ketika kedua pasang mata mereka kembali beradu dan Kui Lin gemetar terbelalak, tiba-tiba Sin Hong menjawab dengan suara lembut, "Karena aku tidak dapat melupakanmu sejak pertemuan kita di Ta-pie-san dulu, Kui Lin. Aku selalu teringat saat menggendongmu dulu, dan aku telah jatuh cinta kepadamu!"

"Ah!" Kui Lin melepaskan diri. Wajahnya memerah karena kaget, tiba-tiba merasa jengah sekaligus malu mendengar Sin Hong menyatakan cintanya.

Ketika Sin Hong sedang berdebar-debar menunggu jawabannya, tahu-tahu Kui Lin menamparnya dan memutar tubuh untuk melarikan diri.

"Sin Hong, kau ceriwis...!" Plak!

Sin Hong kembali mengusap pipinya. Untuk kesekian kalinya ia mendapat makian dan melihat Kui Lin berlari turun bukit tanpa memberikan jawaban. Sin Hong yang berwajah pucat dan mengerutkan keningnya, tiba-tiba kembali mengejar karena penasaran.

"Kui Lin, tunggu dulu! Aku ingin bertanya!"

Namun, Kui Lin tidak menghiraukan. Ia berlari sekencang-kencangnya dan berputar-putar. Namun, karena Sin Hong memiliki kepandaian yang lebih tinggi dan Kui Lin sendiri mulai kebingungan, akhirnya gadis itu berhasil terkejar. Sin Hong segera memegang pundaknya.

"Kui Lin, tunggu. Aku ingin mendengar jawabanmu!"

Kui Lin menggigil dan terbelalak marah, "Apa yang kau mau?! Jawaban apa?"

Sin Hong tertegun, "Jawaban tentang... eh, tentang cintaku itu, Kui Lin. Apakah kau menerimanya atau tidak?"

"Bagaimana kalau tidak?!" Kui Lin melotot, membuat Sin Hong merintih dan melepaskan cengkeramannya.

Ketika pemuda itu gemetar menahan perasaannya, Kui Lin mendelik dengan mata berapi-api. "Ayahmu membunuh ayahku, Sin Hong! Kau adalah musuhku!"

"Ah!" Sin Hong seketika pucat. "Tetapi ayahmu terlempar sendiri ke dasar jurang, Kui Lin. Bagaimana mungkin kau menyebutnya dibunuh oleh ayahku? Bukankah dia tewas karena kesalahannya sendiri?"

"Hmm, tetapi ayahmu yang membuat gara-gara, Sin Hong! Aku tidak mau tahu tentang semua itu atau alasan lainnya!"

"Jadi, kau membenciku?"

"Ya, karena kau adalah musuhku!"

"Ah, jika begitu, bunuhlah aku, Kui Lin! Biarlah nyawaku melayang untuk menebus jiwa ayahmu!"

Sin Hong mencabut pedangnya, menyerahkannya kepada Kui Lin, lalu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dan menundukkan kepalanya, siap dipancung!

Kui Lin yang tentu saja membelalakkan matanya, tiba-tiba melangkah mundur dan berseru tertahan, "Sin Hong, apa... apa yang kau lakukan?"

Sin Hong mengerutkan alis. "Ini pedang untuk membunuhku, Kui Lin. Bukankah kau membenciku?"

"Tidak... tidak... aku... ah!" Kui Lin membalikkan tubuhnya, melarikan diri, lalu tiba-tiba menangis tersedu-sedu sambil berlari menuruni bukit.

Sin Hong yang membelalakkan mata karena terkejut dan bingung, segera memanggil dan mengejar gadis itu. Dalam sekejap saja, ia berhasil menangkap dan mendekap putri Ok-ciangkun ini.

Ketika Kui Lin hanya tergugu menangis dan tidak menamparnya lagi, tiba-tiba Sin Hong berbisik di telinganya, "Kui Lin, kau menerima cintaku, bukan?"

Kui Lin tidak menjawab. Gadis ini terus tersedu-sedu di dada Sin Hong. Sin Hong yang mengulang pertanyaannya dengan cemas, akhirnya mengangkat dagu gadis itu.

"Lin-moi, kau... kau menerima cintaku, bukan?"

Kui Lin memejamkan mata. "Aku tidak tahu, Sin Hong... aku... aku... ah, entahlah!"

Sin Hong menjadi gemas karena tidak mendapat jawaban yang pasti. Sambil berbisik kembali dengan kaki yang menggigil, ia bertanya untuk ketiga kalinya, "Namun, kau tidak membenciku, bukan?"

Ketika Kui Lin mengangguk sambil menangis tersedu-sedu, seketika hati Sin Hong menjadi sangat girang.

"Baiklah, kalau begitu aku ingin meyakinkan hatiku, Lin-moi. Maafkan aku jika aku menciummu...!"

Sin Hong kemudian mendaratkan ciuman mesra di bibir gadis itu. Kui Lin terbelalak terkejut dan perlahan membuka matanya. Ia terperangah mendapati bibir Sin Hong telah menyatukan diri dengan bibirnya, mengecup lembut dan menghapus air matanya yang bercucuran pula.

Ketika Sin Hong melepaskan ciumannya dan tersenyum memandang Kui Lin, tiba-tiba gadis ini kembali menangis tergugu sambil memukul-mukul dada pemuda itu.

"Sin Hong, kau... kau kurang ajar!"

Sin Hong tersenyum. "Aku sudah meminta maaf, Lin-moi. Aku hanya ingin meyakinkan hatiku apakah kau menerima cintaku."

"Tetapi... tetapi..."

"Tidak ada tetapi, Lin-moi. Jika kau tidak suka, kau boleh menampar atau membunuhku!" Sin Hong memotong ucapannya, lalu kembali merengkuh gadis itu dan menciumnya dengan lembut.

Ketika Kui Lin meronta dan menggerakkan tangannya untuk menampar, tiba-tiba Sin Hong melepaskan dekapannya lalu menyodorkan pipinya, "Tamparlah aku, Lin-moi. Aku rela!"

Kui Lin tertegun. Ia melihat Sin Hong benar-benar bersungguh-sungguh menyerahkan pipinya untuk ditampar. Ia juga menatap mata pemuda itu yang memandangnya dengan begitu lembut, penuh kemesraan dan cinta kasih.

Kui Lin yang kembali menangis tergugu akhirnya menurunkan tangannya, lalu tiba-tiba berlari pergi sambil memaki, "Sin Hong, kau ceriwis!"

Sin Hong tersenyum. Kali ini ia mendengar nada suara yang berbeda dari gadis itu; bukan lagi kemarahan, melainkan rasa malu yang wajar dari seorang gadis yang baru saja dicium oleh kekasihnya. Sin Hong yang merasa sangat bahagia dengan perubahan ini, tiba-tiba mengejar dan tertawa gembira saat berhasil menangkap gadis itu kembali.

"Lin-moi, jangan lari lagi. Aku tidak ingin kau tinggalkan!"

Kui Lin mengelak. Ia menepis tangan Sin Hong dan pura-pura marah. Namun, tiba-tiba Sin Hong yang tidak melihat adanya lubang di depannya mendadak mengaduh, lalu terjungkal dan terjeblos ke dalam lubang tersebut, membuat Kui Lin terkejut setengah mati.

Ketika Sin Hong tidak kunjung muncul kembali karena lubang itu cukup dalam, Kui Lin mendadak menghentikan larinya dan terbelalak memandang lubang tersebut. Ia khawatir jika Sin Hong pingsan atau terluka parah.

Kui Lin yang merasa cemas akhirnya kembali mendekati lubang itu dan berbisik cemas, "Sin Hong, apakah kau terluka?"

Tidak ada jawaban.

"Sin Hong, kau di mana?"

Tetap tidak ada jawaban.

Merasa semakin gelisah, Kui Lin akhirnya melompat turun ke dalam lubang itu sambil menangis dan memanggil-manggil nama Sin Hong.

Namun, begitu ia mendarat di bawah, tiba-tiba Sin Hong tertawa bergelak dan melompat bangun dari tempat persembunyiannya. Rupanya, pemuda itu sengaja berpura-pura jatuh hanya untuk menggoda gadis pujaannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment