Chapter 217
Ia ingin tahu sampai di mana perhatian Kui Lin kepadanya. Apakah gadis itu akan meninggalkannya begitu saja atau turun menjenguknya.
Kui Lin, yang tentu saja terkejut, berteriak tertahan ketika tiba-tiba didekap oleh Sin Hong yang berseru kepadanya, "Lin-moi, kau pun ternyata mencintai aku. Kau memaksa dirimu turun untuk melihat keselamatanku. Ha-ha...!"
Sin Hong mencium pipi kiri dan kanan gadis itu secara tiba-tiba, yang langsung disambut makian oleh Kui Lin yang jengah dan tersipu malu. Kui Lin segera mendorong dada Sin Hong, lalu meloncat menjauh.
"Sin Hong, kau penipu! Kau ceriwis!"
Sin Hong terbahak. Dia sekarang yakin benar akan perasaan hati gadis itu. Ia merasa gembira bukan main karena mengetahui Kui Lin pun mencintainya. Sambil meloncat mengejar gadis itu, Sin Hong menangkap dan langsung menggodanya.
"Lin-moi, aku ceriwis karena kau. Aku penipu juga karena kau."
Sambil tertawa-tawa, Sin Hong menyambar kekasihnya itu, lalu memondong dan membawa Kui Lin kembali ke puncak karena ayah dan ibunya masih berada di sana. Hal itu membuat Kui Lin menjerit dan meronta-ronta. Namun, begitu Sin Hong menepuk bokongnya dan terbahak untuk mendiamkannya, akhirnya Kui Lin mengeluh pasrah dan memejamkan matanya dengan nikmat di balik punggung Sin Hong. Kejadian lama di Puncak Ta-pie-san kini terulang kembali. Begitu Kui Lin tidak bergerak lagi di atas pundaknya, Sin Hong segera meloncat dan "terbang" menuju Istana Kwan-wa-kung!
***
Pagi harinya, setelah semalam menyerbu Lin-yen-san dan menangkap kaisar, Pendekar Gurun Neraka beserta sahabat-sahabatnya menemui Raja Muda Kou Cien. Mereka melaporkan segala kejadian itu serta menceritakan keberhasilan perjuangan berat yang telah memakan waktu bertahun-tahun.
Kaisar yang tertangkap kemudian dihadapkan kepada raja muda. Keputusannya, ia tidak dijatuhi hukuman mati. Ada dua pilihan yang disodorkan kepada kaisar yang kalah tersebut: tinggal sebagai tawanan, atau tetap menjadi "raja" di sebuah wilayah kecil dengan seratus orang pengikut. Dengan kata lain, ia akan dibuang ke tempat terasing bersama pengikut-pengikutnya yang tidak seberapa, yang sebagian besar merupakan keluarga kaisar sendiri, untuk menjalani hukuman.
Dua pilihan itu sama-sama berat bagi sang kaisar karena kejatuhannya yang teramat dalam; dari sosok yang berkuasa menjadi pihak yang dikuasai. Namun, kaisar yang sedang terpukul hebat akibat pengkhianatan selir tercintanya itu hanya diam membisu saat raja muda bertanya kepadanya. Karena kaisar tetap bungkam, akhirnya Kou Cien menyuruh pengawal membawa kaisar kembali ke dalam tahanan, guna memberinya kesempatan berpikir sebelum ditanya kembali untuk kedua kalinya. Bagaimanapun, raja muda masih memberikan kesempatan kepada bekas penguasa itu untuk memilih salah satu dari dua keputusan tersebut.
Karena menunggu kesadaran kaisar dirasa akan memakan waktu terlalu lama, Pendekar Gurun Neraka beserta anak dan istrinya memutuskan untuk segera kembali ke Ta-pie-san. Sebelumnya, selama beberapa hari, ia membantu raja muda mengatur keamanan dalam negeri serta membantu Fan-ciangkun yang sibuk menertibkan kembali suasana di kota raja akibat kekacauan pascaperang.
Setelah semuanya beres dan dapat ditinggal, rombongan kecil ini akhirnya bersiap meninggalkan istana. Mereka menolak semua hadiah dan menyatakan bahwa perjuangan mereka murni tanpa pamrih, hanya mengharapkan negara yang tenteram dan rakyat yang aman. Hal tersebut membuat raja muda dan seluruh pembantunya merasa sangat terharu.
Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan, sebuah berita mengejutkan tiba-tiba terdengar. Kaisar lama yang menjadi tawanan dikabarkan telah tewas bunuh diri. Rupanya, ia tidak kuat menahan semua penderitaan yang menimpanya, terutama pengkhianatan dari selir tercintanya, Shi Shih.
Pendekar Gurun Neraka menarik napas dalam-dalam mendengar kabar tersebut. Ia tiba-tiba bergumam pendek sambil memandang Fan-ciangkun yang ikut mengantarnya, "Ciangkun, sebaiknya kau kembali saja. Biarlah kami pergi tanpa diantar."
Fan-ciangkun tertegun. Ia mendengar suara isak tangis tertahan di belakangnya. Rupanya itu adalah isak tangis Shi Shih yang ikut mengantarkan rombongan tersebut. Shi Shih tiba-tiba memutar tubuhnya dan melarikan diri sambil menangis mengguguk di hadapan sang panglima.
"Baiklah, maafkan aku, Pendekar Gurun Neraka. Namun, bagaimana pendapatmu tentang... hmm, hubunganku ini?"
"Itu urusan pribadimu, Ciangkun. Aku tidak dapat memberi jawaban, hanya kalian sendirilah yang bisa menentukannya."
"Baiklah, dan aku akan mengikuti jejak kalian beberapa waktu lagi, Pendekar Gurun Neraka. Aku ingin menikah dengan kekasihku itu dan hidup menjauhi keramaian."
"Maksudmu?"
"Aku akan melepaskan kedudukanku di istana, Pendekar Gurun Neraka. Aku ingin menyepi sebagai petani. Aku ingin menjauhi keruwetan dunia dan mengajaknya membangun rumah tangga."
Pendekar Gurun Neraka tersenyum pahit. Dia tahu siapa wanita yang dimaksud oleh panglima tersebut. Shi Shih, wanita yang telah membuat panglima ini jatuh hati sedemikian lama dalam sebuah kisah kasih yang penuh pengorbanan dan penderitaan. Ketika panglima itu mengucapkan selamat jalan dan memutar tubuh untuk melompat pergi, sang pendekar akhirnya memandang anak dan istrinya.
"Bi-moi, kau lihatkah bagaimana perasaan panglima itu?"
"Ya," Ceng Bi mengangguk sambil meneteskan air mata. "Aku terharu akan cinta kasihnya, suamiku. Namun, dapatkah mereka hidup bahagia setelah melalui demikian banyak penderitaan?"
"Maksudmu?"
"Aku melihat Shi Shih bukan wanita sembarangan, suamiku. Aku melihat kesetiaan yang besar pada binar matanya yang penuh kedukaan itu. Aku khawatir niat Fan-ciangkun akan gagal."
Pendekar Gurun Neraka terkejut. "Kau yakin?"
Ceng Bi menghela napas. "Tanyakan saja pada Enci Hong!"
Pek Hong mengangguk setuju. "Aku melihat hal yang sama seperti Bi-moi, Yap-koko. Aku melihat selir itu tidak dapat melupakan kaisar lama."
"Namun, dia telah menghancurkan kaisar itu. Dia bahkan telah membantu kita!"
"Hm, itu karena dorongan patriotismenya, Yap-koko. Namun, sebagai wanita—makhluk perasa yang telah menerima kebaikan kaisar yang sedemikian berlimpah—tidak mungkin dia bisa melupakannya begitu saja. Aku khawatir Fan-ciangkun masih harus mengalami penderitaan yang lebih besar setelah semua hal ini dikorbankan."
Pendekar Gurun Neraka tertegun. Dia memercayai ucapan kedua istrinya karena sebagai sesama wanita, kepekaan rasa mereka tentu lebih tajam dibanding dirinya.
Namun, Bi Lan yang menyadari ketidakhadiran Kun Houw tiba-tiba berseru heran, "Eh, di mana Houw-koko?"
Sin Hong menyambung, "Dan Saudara Liong Han juga tidak ada, Lan-moi. Ke mana mereka? Bukankah... eh, mau ke mana kau, Lan-moi?"
Sin Hong terkejut melihat adiknya tiba-tiba melesat meninggalkan mereka ke arah barat dengan tergesa-gesa, rupanya mengejar bayangan Kun Houw yang tampak sedang memburu seseorang.
Dari kejauhan, Bi Lan berseru kepada ayah dan ibunya untuk menjawab pertanyaan kakaknya, "Aku menyusul Houw-koko yang sedang mengejar seseorang, Ayah! Biar kalian pergi dulu ke Ta-pie-san!"
Pendekar Gurun Neraka terkejut melihat Kun Houw di kejauhan sana, yang ternyata telah pergi secara diam-diam untuk mengejar seseorang. Dengan kening berkerut karena mengkhawatirkan keselamatan putrinya, sang pendekar berkata kepada Sin Hong, "Kejar adikmu, Hong-ji! Jika terjadi sesuatu, segera beri tahu kami!"
Sin Hong mengangguk. Dia segera melesat mengejar adiknya yang sudah meloncat terlebih dahulu. Dengan mengerahkan ginkang-nya, dalam sekejap dia berhasil menyusul Bi Lan dari belakang. Di depan sana, tampak Kun Houw tengah mengejar bayangan seseorang berkedok merah. So-beng!
Sin Hong yang terkejut melihat hal itu segera berseru kepada adiknya, "Lan-moi, sebaiknya kau kembali saja ke tempat Ayah. Biar aku yang membantu Kun Houw!"
"Tidak!" Bi Lan menggeleng cepat. "Aku melihat dua bayangan lain melompati tembok pintu gerbang, Hong-ko. Mereka tampaknya Hun Kiat dan gurunya!"
"Lalu, ke mana Saudara Liong Han?"
"Entahlah, mungkin... menemui dia!" Bi Lan tiba-tiba menunjuk ke arah bayangan Liong Han yang juga tampak tengah berkelebat mengejar seseorang.
Di tengah kebingungan Bi Lan, Sin Hong berseru, "Lan-moi, kejar Saudara Liong Han! Biar aku yang mengikuti Kun Houw!"
Bi Lan mengangguk. Dia segera memutar arah berpisah dari kakaknya, lalu melesat mengejar bayangan Liong Han yang baru saja terlihat di pintu gerbang timur.
Sementara itu, Sin Hong yang mengejar Kun Houw ke arah pintu gerbang barat melepas adiknya sambil mengingatkan agar berhati-hati. Dalam hati dia merasa heran dan terkejut bagaimana So-beng dan Hun Kiat bisa berada di sana, rupanya menyelinap ke dalam kota raja.
Begitu tiba di sana dan melompati pintu gerbang, dia mendapati Kun Houw tengah celingukan mencari-cari. "Houw-ko, kau mengejar So-beng, bukan?"
Kun Houw menggigit bibirnya dengan wajah pucat. "Ya, dia menculik Kui Hoa, Sin Hong! Aku kehilangan jejak dan..."
Kun Houw menghentikan ucapannya ketika mendengar jeritan dari arah pintu gerbang timur. Sin Hong yang terkejut mendengar jeritan itu segera melesat dengan wajah berubah tegang. "Celaka, itu suara Bi Lan!"
Kedua pemuda itu melompat bersamaan dan meluncur cepat ke tempat tersebut, cemas melihat Bi Lan yang menjerit karena harus menghadapi musuh tangguh.
Setibanya di sana, keduanya tertegun menyaksikan Bi Lan terguling-guling di tanah berbatu setelah mendapat serangan dari So-beng. Sang musuh kini melarikan diri sambil mengempit dua orang gadis yang tidak lain adalah Kui Hoa dan Kui Lin.
Bi Lan melompat bangun dan menjerit panjang, berseru kepada kakaknya, "Hong-ko! Kui Lin dan Kui Hoa diculik oleh Iblis Penagih Jiwa itu...!"
Sin Hong dan Kun Houw sangat terkejut. Mereka segera menolong Bi Lan yang baru saja terlempar, sementara So-beng terlihat meloncat jauh melarikan diri dan dalam sekejap lenyap ke dalam hutan di luar pintu gerbang.
Sin Hong dan Kun Houw yang terbelalak dengan wajah pucat segera berseru sambil meloncat ke depan, "Bi Lan, beri tahu Ayah bahwa kami mengejar musuh! Tolong kau kembali saja!"
Bi Lan menatap gusar. "Tidak! Aku akan ikut kalian, Hong-ko! Atau..."
Bi Lan menghentikan ucapannya ketika melihat kakaknya yang gemas langsung menarik lengannya dan membawanya berlari menuju hutan. Sin Hong maklum bahwa Bi Lan mewarisi sifat ibunya yang keras hati dan keras kepala, tidak akan menyerah sebelum keinginannya dituruti.
Sembari mengejar Kun Houw yang sudah melesat terlebih dahulu di depan, Sin Hong menepuk lembut pundak adiknya.