Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 218

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 218

"Baiklah, baiklah, anak bawel. Kau memang keras kepala dan keras hati kalau tidak dituruti. Hayo cepat, kita bisa kehilangan jejak nanti," Sin Hong membetot adiknya, menyentak, dan sebentar kemudian mengerahkan *ginkang* berkelebat memasuki hutan di depan.

Namun, ketika mereka berada di sana dan celingukan ke sana kemari, mendadak terdengar suara berkerosak sebatang pohon yang jatuh menimpa mereka.

"Lan-moi, awas...!" Bi Lan dan kakaknya meloncat.

Mereka terkejut mengapa pohon itu tiba-tiba tumbang menimpa mereka, jatuh berdebum dengan suara dahsyat. Ketika mereka terkejut membelalakkan mata, tiba-tiba pohon lain yang ada di kiri dan kanan juga tumbang berjatuhan menimpa mereka.

"Bum! Bum!" Sin Hong dan Bi Lan berlompatan.

Mereka tentu saja kaget melihat pohon-pohon besar jatuh hampir bersamaan, mengurung mereka hingga tidak dapat keluar. Saat mereka terbelalak tidak mengerti, sekonyong-konyong suara tawa seseorang terdengar, disusul berkelebatnya tiga bayangan yang melempar jala.

"Haha, kalian seperti tikus terjepit, Sin Hong. Mampuslah!"

Sin Hong kaget. Dia dan adiknya sudah dikurung oleh pohon-pohon besar yang bertumbangan itu. Ia melihat bayangan Hun Kiat dan Mu Ba serta seorang nenek yang menjeletarkan cambuk; semuanya melempar jala ke arah dia dan adiknya yang berada di tengah. Karena mereka terkurung daun dan ranting pohon yang merepotkan di sekitar, terpaksa Sin Hong berteriak keras sementara adiknya mencabut pedang.

"Plak! Plak!" Bi Lan dan kakaknya kaget.

Mereka membabat jala yang meluncur turun itu, lalu terkejut karena jala ini melentur seperti karet. Jala itu tidak dapat dibabat putus karena kelenturannya. Sementara mereka berseru keras berusaha melepaskan diri, mendadak cambuk di tangan si nenek—yang tidak lain adalah Sin-yan Mo-li—meledak menotok mereka.

"Bocah, robohlah kau! Tar!"

Sin Hong mengerahkan *sinkang*. Dia dapat menolak balik cambuk yang mengenai tubuhnya itu, tetapi terkejut karena jala sudah menguncup dan kini membungkus mereka berdua. Sebentar kemudian, jala itu menjerat hingga mereka tercekik!

Ketika cambuk kembali meledak dan kali ini menotok Bi Lan, tiba-tiba Bi Lan melengking sambil menggerakkan pedangnya.

"Tar!" Ujung cambuk masih sempat dibabat putus.

Namun, Hun Kiat dan gurunya tertawa bergelak sambil menyerang dari kiri dan kanan. Sin Hong mengeluh ketika pedang adiknya terpukul lepas oleh Hun Kiat. Hal itu membuat Bi Lan berteriak kaget dan marah karena tidak dapat melepaskan diri dari jeratan jala yang semakin mencekik.

Ketika mereka meronta-ronta, jala justru semakin menyempit. Tahu-tahu Mu Ba dan kawan-kawannya telah menotok mereka hingga roboh tidak berkutik di dalam jala!

"Bruk!" Sin Hong dan Bi Lan marah bukan main.

Mereka memaki kalang kabut terhadap musuh yang berbuat curang ini. Mereka tidak berdaya karena ruang gerak dipersempit dan dikepung pohon-pohon yang roboh bergelimpangan, membuat mereka mudah terjerat jala. Kini mereka tertotok dan diseret oleh ketiga orang yang tertawa-tawa memandang mereka itu.

Hun Kiat langsung menghampiri Bi Lan dengan wajah berseri, lalu menoel pipi gadis ini.

"Hahaha, kau cantik, Bi Lan. Kau pantas menjadi kekasihku!" Hun Kiat bahkan menciumnya. Nafsunya bangkit dan ia sangat bergairah memandang putri Pendekar Gurun Neraka itu.

Namun, Bi Lan memaki dan melengos ke kiri, lalu tiba-tiba meludahi muka pemuda ini dengan kata-kata marah, "Hun Kiat, kau pemuda tidak tahu malu! Kau iblis keji yang hina dina... Cuh!"

Hun Kiat terkejut. Dia terbelalak dan marah memandang gadis ini, mencengkeram lalu tiba-tiba menyentak Bi Lan dari dalam jalanya, berniat memaksa gadis itu untuk menciumnya kembali. Namun, sebuah bayangan merah berkelebat dan membentak tiba-tiba, membuat pemuda itu tertegun kecewa.

"Hun Kiat, jangan bermain-main! Cepat ke Hwee-seng-kok (Lembah Gema Suara) sesuai rencana!"

Sin Hong dan Bi Lan terkejut. Mereka melihat So-beng muncul di situ, memanggul Kui Hoa dan adiknya yang rupanya pingsan. Ia membentak Hun Kiat sambil melotot pada mereka.

Hun Kiat mengangguk dan tertawa aneh, lalu menyambar putri Pendekar Gurun Neraka ini serta menyuruh gurunya membawa Sin Hong, "Suhu, bawa yang jantan itu, biar yang betina ini untukku!"

Mu Ba mengangguk. Dia menyentak jalanya, membuat Sin Hong mendesis karena tubuhnya terangkat dengan kasar. Ketika So-beng memberi tanda lalu berkelebat lenyap, Mu Ba dan teman-temannya segera mengikuti.

Sin Hong memandang dengan jantung berdebar tidak enak karena melihat Kun Houw juga tertawan. Bi Lan yang tidak melihat Liong Han akhirnya menggigit bibir dan memaki-maki sepanjang jalan, melampiaskan semua kemarahannya kepada iblis-iblis yang garang itu. Namun, So-beng dan teman-temannya tidak menghiraukan semua makian itu. Mereka tetap berkelebat menerobos hutan menuju Hwee-seng-kok.

Tempat itu tidak diketahui letaknya oleh Bi Lan dan kakaknya. Begitu semuanya lenyap meninggalkan hutan, akhirnya tempat itu pun kembali sepi seperti semula.

***

"Yap Koko, ke mana anak-anak itu tadi? Kenapa lama benar?" Pendekar Gurun Neraka mengerutkan alisnya.

"Mengejar Kun Houw, Hong-moi. Bukankah kita sudah tahu?"

"Tapi kenapa lama sekali? Aku khawatir, Yap-koko. Jangan-jangan mereka mendapat halangan!" Pek Hong gelisah melihat suaminya masih bersikap tenang, meskipun air mukanya menunjukkan kekhawatiran.

Ceng Bi yang juga berhenti menghapus keringatnya akhirnya merajuk tidak mau meneruskan perjalanan, "Suamiku, aku mendapat firasat tidak enak. Sebaiknya kita kembali mengikuti jejak anak-anak itu!"

"Ah, mereka bukan anak-anak kecil lagi, Bi-moi. Bukankah mereka dapat menjaga diri dan selama ini tidak perlu kita lindungi?"

"Benar, tetapi So-beng dan beberapa temannya yang lain masih hidup, suamiku. Dan kita merencanakan untuk mencari Iblis Penagih Jiwa ini. Enci Hong masih menyimpan ganjalan di hatinya atas tewasnya mendiang suhunya!"

Pendekar Gurun Neraka menarik napas. "Jadi, bagaimana maksud kalian?"

"Kita kembali. Kita cari anak-anak itu!"

Pendekar Gurun Neraka mengangguk. Sebenarnya mereka telah cukup jauh meninggalkan kota raja. Diam-diam ia merasa heran dan cemas juga mengapa Sin Hong dan Bi Lan belum datang menyusul. Namun, begitu ia mengangguk dan memutar tubuhnya, tiba-tiba sebuah bayangan berteriak di belakang mereka.

"Paman, tolong! Sin Hong dan Bi Lan diculik So-beng...!"

Pendekar Gurun Neraka terkejut. Kedua istrinya juga terbelalak melihat Han Bu datang berlarian dengan keringat bercucuran. Ia tidak terluka, tetapi wajahnya tampak pucat saat memanggil mereka.

Pendekar Gurun Neraka melompat menyongsong pemuda ini, lalu tiba-tiba melihat cucu nomor dua dari mendiang Pendekar Kepala Batu itu roboh terguling!

"Paman, tolong... Sin Hong diculik..."

Pendekar Gurun Neraka tersentak. Dia menolong keponakannya ini terlebih dahulu, melihat Han Bu terengah-engah dan menuding-nuding ke belakang dengan gagap serta tampak bingung dengan wajah menunjukkan kekhawatiran hebat. Ceng Bi dan Pek Hong yang juga sudah melompat menghampiri pemuda ini segera membantunya berdiri.

"Tenang, apa yang terjadi, Han Bu? Mana kakakmu?"

"Ah, mereka... Ayah dan Ki-ko (Kakak Ki) menghadang iblis-iblis itu di belakang, Paman. Mereka melihat Sin Hong dan Bi Lan digotong oleh iblis-iblis jahat itu...!"

"Siapa saja?"

"So-beng dan teman-temannya, termasuk Hun Kiat, pemuda keparat itu! Mereka menuju ke Hwee-seng-kok!"

Pendekar Gurun Neraka tertegun. Dia tampak terkejut mendengar disebutnya nama Lembah Gema Suara ini. Tubuhnya bergetar dan sekilas wajahnya berubah hebat menjadi pucat. Namun, Pendekar Gurun Neraka yang sudah memanggul Han Bu di atas pundaknya tiba-tiba menyentak kedua istrinya di kiri dan kanan.

"Hong-moi, Bi-moi, cepat! Anak-anak berada dalam bahaya jika sampai memasuki lembah beracun itu!"

Ceng Bi dan Pek Hong mengangguk. Mereka memegang lengan suami mereka erat-erat. Terdengar Pendekar Gurun Neraka mengeluarkan suara aneh dari tenggorokannya, menjejakkan kaki, dan tiba-tiba terbang ke arah yang ditunjukkan Han Bu.

Ketika mereka tiba di tempat Sin Hong dan Bi Lan tertangkap jala dengan dikelilingi pohon-pohon yang tumbang, pendekar ini menggeram lalu bertanya pendek, "Ke mana mereka, Han Bu?"

"Ke timur, keluar dari hutan ini, Paman. Kami menjumpai mereka di luar hutan sebelah sana!"

Pendekar Gurun Neraka berkelebat. Dia kembali menarik kedua istrinya agar selalu menempel di tubuhnya supaya tidak ketinggalan, mengajak mereka bersama-sama menerobos hutan sebelah timur. Gerakannya cepat luar biasa, seolah tidak menginjak bumi lagi, bagai setan yang terbang!

Namun, begitu tiba di hutan sebelah sana, tiba-tiba pendekar ini tertegun saat melihat tiga sosok tubuh bergelimpangan di tempat itu.

"Ceng Han-ko...!" Ceng Bi meloncat melihat kakaknya mandi darah di tempat itu dengan luka menembus leher yang menganga lebar akibat sabetan senjata tajam.

Sambil menangis tersedu-sedu, Ceng Bi membalikkan tubuh kakaknya. Tiba-tiba ia menjerit dan hampir pingsan begitu menyadari bahwa kakaknya telah tewas.

"Ah...!" Ceng Bi terguling, roboh ke dalam pelukan suaminya yang dengan cepat menangkap wanita itu. Pendekar Gurun Neraka melihat Ceng Bi tergugu dan menjerit histeris karena kaget dan marah atas kematian kakaknya yang mengerikan.

Han Bu yang juga terbelalak melihat kematian ayahnya tiba-tiba menggigil dan menangis sambil menubruk mayat ayahnya itu, "Ayah...!"

Keadaan menjadi sangat menyedihkan. Kedua orang itu sama-sama menangis meratapi kematian orang yang mereka cintai. Namun, Han Bu tiba-tiba melompat bangun sambil mengepalkan tinju. Ia memekik lalu berlari keluar hutan, "So-beng, kau pembunuh! Kau jahanam keparat!"

Pendekar Gurun Neraka terkejut. Dia melihat keponakannya menjadi histeris dan kehilangan kendali. Han Bu berlari secepat angin mencari Iblis Penagih Jiwa itu sambil berteriak-teriak, mengamuk, dan menghantam pohon di kiri dan kanan hingga jatuh bangun, tanpa menyadari adanya jurang menganga di depannya.

Pendekar Gurun Neraka yang tentu saja kaget langsung membelalakkan mata. Ia tiba-tiba berkelebat ke depan setelah menyerahkan Ceng Bi kepada istri pertamanya, "Bu-ji, awas...!" Han Bu tampak seperti orang gila.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment