Chapter 219
Dia berlari terus sambil berteriak-teriak, tak mendengar atau agaknya tak menghiraukan seruan itu, mendongak sambil menghantami apa saja yang ada di dekatnya.
Dan persis ketika dia tiba di mulut jurang ini dan terjeblos ke bawah, barulah pemuda itu terkejut dan sadar akan bahaya bagi dirinya sendiri.
Namun, Pendekar Gurun Neraka telah terbang menyusulnya, menggerakkan lengan melakukan pukulan jarak jauh untuk menahan pemuda itu dengan angin pukulannya yang dahsyat.
Dan ketika Han Bu tertegun dengan mata membelalak, tahu-tahu pendekar ini mengebutkan lengan bajunya untuk menarik pemuda itu.
"Bress!" Han Bu tersedot selamat, terbanting jatuh, dan terguling-guling di tanah yang keras. Ia mengeluh dan sadar bahwa Pendekar Gurun Neraka telah menyelamatkan nyawanya dari mulut jurang yang dalam.
Dan Han Bu yang menangis menubruk pamannya, akhirnya tersedu-sedu teringat kematian ayahnya. "Paman, So-beng membunuh ayahku. Iblis keparat itu membunuh ayahku!"
"Diamlah," Pendekar Gurun Neraka menotok keponakannya ini. "Bukan hanya ayahmu saja yang dibunuh Iblis Penagih Jiwa itu, Han Bu. Tetapi juga orang-orang lain yang kita cintai. Ayo kita kembali, kakakmu masih ada di sana beserta seseorang yang belum kita ketahui."
Han Bu teringat. Dia mengangguk setelah dibebaskan kembali dari totokannya, merasa lebih tenang setelah pendekar ini mengusap kepalanya.
Dan Han Bu yang kembali bersama pendekar sakti itu akhirnya melihat Ceng Bi dan Pek Hong bercucuran air mata menolong dua tubuh yang tergeletak di samping mayat Ceng Han, yakni Han Ki dan seorang kakek tua yang kini dikenali sebagai Phoa Lojin, tukang ramal yang menjadi guru mendiang Gin-ciam-siucai Hok Sun, kakek dari Hok Lian yang diperkosa Hun Kiat itu.
Dan ketika Pendekar Gurun Neraka membalik tubuh kakek ini, ternyata Phoa Lojin juga telah tewas seperti Ceng Han, dadanya hancur menerima pukulan berat.
Namun, ketika Pendekar Gurun Neraka memeriksa Han Ki, ternyata pemuda ini selamat meskipun leher dan pundaknya terluka akibat senjata.
"Hm, kakakmu masih hidup, Bu-ji. Sebaiknya tolong kakakmu ini." Pendekar Gurun Neraka mengeluarkan sebutir obat, memasukkannya ke dalam mulut Han Ki yang pingsan, lalu menyerahkannya kepada Han Bu yang merasa girang dan bersyukur bahwa kakaknya masih selamat, tidak sampai tewas seperti ayah mereka.
Pendekar Gurun Neraka mengajak kedua istrinya merawat dua jenazah yang lain, lalu mengubur Phoa Lojin dan Ceng Han di tempat itu. Sambil menggali lubang, ia melihat Ceng Bi masih menangis tiada hentinya, menggigit bibir, dan mengepalkan tinju dengan penuh sakit hati.
Dan ketika semuanya selesai dan Han Ki telah disadarkan, akhirnya pendekar ini berkata kepada yang lain, "Bi-moi, di sini kita lanjutkan perjalanan. Han Ki dan Han Bu biar ikut kita. Hwee-seng-kok masih jauh. Kita harus cepat-cepat menyelamatkan anak-anak kita."
Ceng Bi menubruk suaminya. Sekarang dia kehilangan saudara kandung, padahal baru beberapa waktu yang lalu dia juga kehilangan ayahnya.
Namun, Pendekar Gurun Neraka menghibur dan menenangkan istrinya, lalu akhirnya membawa mereka semua meninggalkan hutan itu untuk mengejar ke Hwee-seng-kok karena mereka harus berlomba dengan waktu.
Di tengah perjalanan, ketika mereka kembali menemukan sesosok tubuh yang tak lain adalah si Belut Emas Cui Lok, akhirnya Ceng Bi mendengus dan berkata dengan penuh dendam, "Kita harus membunuh musuh-musuh kita itu, suamiku. So-beng dan semua teman-temannya harus kita basmi!"
Pendekar Gurun Neraka tersenyum pahit. Dia menghela napas mendengar suara yang penuh kebencian dari istrinya ini. Namun, karena musuh memang terlalu jahat dan harus dibasmi, dia pun mengangguk dan meneruskan perjalanan. Diam-diam ia merasa cemas karena di sepanjang jalan mereka tidak menemukan apa-apa lagi. Entah musuh tidak melalui tempat itu atau bagaimana.
Beberapa hari kemudian, setelah mereka melakukan perjalanan tanpa henti, akhirnya Hwee-seng-kok pun tampak di depan mata!
"Hm, kita sudah sampai, Bi-moi. Tetapi kenapa sunyi-sunyi saja?"
Ceng Bi menggigil. Lembah Gema Suara itu tampak angker, sunyi, dan menyeramkan seperti yang dikatakan suaminya. Lembah itu masih berkabut seperti dulu dan tampak gelap. Pohon-pohonnya rapat dan tinggi besar, seolah angkuh menantang langit. Tampak dingin dan sombong.
Dan Ceng Bi yang kelelahan memandang lembah ini tiba-tiba menangis karena teringat Sin Hong. "Apakah mereka belum datang, suamiku, ataukah kita yang terlalu cepat?"
Pendekar Gurun Neraka memberi isyarat. Dia tidak menjawab pertanyaan istrinya itu karena mendengar suara yang amat halus di belakang mereka. Tepat ketika dia mengerutkan kening, tahu-tahu lima buah gelang meluncur menyambar mereka dari belakang.
"Awas...!" Pendekar Gurun Neraka membalikkan badan, mengebutkan lengannya, dan langsung menghantam lima senjata gelap yang meluncur di belakang mereka itu hingga terpental dan jatuh runtuh. Ia melihat beberapa bayangan berkelebat muncul dan tertawa terbahak-bahak mengepung mereka berlima.
Ketika Pendekar Gurun Neraka tertegun melihat siapa yang datang, ternyata mereka adalah So-beng dan rombongannya yang membawa Sin Hong dan Bi Lan!
"Haha, selamat datang, Pendekar Gurun Neraka! Kiranya kalian telah dipandu oleh bocah yang sengaja kutinggalkan hidup itu!" So-beng berkelebat maju, menuding Han Ki yang sedang memandang marah kepada Iblis Penagih Jiwa ini, membentak, dan siap menerjang maju.
Namun, Ceng Bi yang sudah melengking tinggi melompat mendahului, tiba-tiba menyerang dan menghantam iblis berpakaian merah ini.
"So-beng, kau jahanam keparat!"
So-beng tersenyum. Dia menyodorkan tubuh Sin Hong untuk menangkis pukulan wanita ini sambil tertawa aneh. Ceng Bi yang tentu saja terkejut segera menarik pukulannya, memaki lawannya, lalu melompat mundur ketika melihat Mu Ba, Hun Kiat, serta yang lainnya mengepung mereka.
Pendekar Gurun Neraka yang maju menangkap istrinya segera memutar tubuh menghadapi orang-orang ini. "So-beng, apa yang kau inginkan? Mengapa kau menangkap anak-anak kami yang tidak berdosa?"
"Haha, tidak berdosa menurut katamu, Pendekar Gurun Neraka. Namun, bersalah besar menurut kami. Kami datang untuk meminta keadilan padamu!"
"Hm," Pendekar Gurun Neraka mengerutkan alis, masih bersikap tenang. "Keadilan tentang apa maksudmu? Keadilan macam bagaimana?"
"Kami ingin tukar-menukar jasa, Pendekar Gurun Neraka. Kami ingin menyelesaikan semua persoalan di antara kita!"
"Bagus, itu juga maksudku. Tetapi mengapa kau menangkap anak-anak? Bebaskan mereka bila kau ingin menyelesaikan semua urusan denganku, So-beng. Aku siap menghadapi siapa pun dari kalian!"
"Hm," So-beng tertawa aneh mengejek pendekar itu. "Aku bukan mengajak bertempur, Pendekar Gurun Neraka. Justru sebaliknya, untuk mengajak damai. Aku ingin kau tidak mengganggu kami lagi dengan menyerahkan putra-putrimu ini!"
"Maksudmu?"
"Permusuhan kita impas setelah kau berjanji untuk tidak mengejar-ngejar kami. Sebagai imbalannya, kami akan menyerahkan kembali kedua anakmu ini dengan selamat."
"Keparat!" Ceng Bi melengking. "Kau licik, So-beng. Kau bicara seenaknya saja setelah membunuh kakakku?"
"Ya, dan kau telah membunuh guruku, Iblis Penagih Jiwa! Tidak mungkin seenak itu kau meminta bebas setelah seenak hatimu membunuh orang-orang yang kami cintai!" Pek Hong juga mengepalkan tinju, membentak Iblis Penagih Jiwa itu, dan memandang lawan dengan marah.
So-beng yang tertawa mengejek tiba-tiba menimang-nimang tubuh Sin Hong. "Hm, justru itulah kami sekarang tidak mau membunuh kedua anakmu ini, Hujin. Kami membunuh karena juga menagih jiwa. Mereka telah membunuh pula orang-orang yang kucintai, termasuk perbuatan kalian menghancurkan kerajaan dan membunuh suheng-ku!"
Ceng Bi dan Pek Hong mengerutkan alis. Mereka teringat bahwa Iblis Penagih Jiwa ini adalah sute dari Panglima Ok yang jatuh ke jurang itu, tewas ketika menerima pukulan suami mereka. Mereka yang tentu saja tertegun tidak menjawab, akhirnya menoleh kepada suami mereka yang sejak tadi juga mengerutkan alis dengan bingung.
"Bagaimana, Pendekar Gurun Neraka? Kau dapat memberikan jawabanmu?"
"Tidak!" Han Bu tiba-tiba membentak. "Kau dan bocah she Hun itu berutang lebih banyak jiwa kepada kami, So-beng! Hun Kiat telah membunuh kakekku dan kau membunuh ayahku. Kami ingin membalas dendam!"
Han Ki juga melompat maju. "Benar, kalian berutang lebih banyak jiwa kepada kami, Iblis Penagih Jiwa. Aku ingin membalas kematian ayah dan kakekku!"
Sin-yan Mo-li tiba-tiba menjeletarkan cambuk, terkekeh melompat dari rombongan Iblis Penagih Jiwa itu. "Hih, kucing-kucing muda ini sebaiknya dibungkam dulu, So-beng. Atau biarkan saja mereka maju melawan kita?"
"Hm," Iblis Penagih Jiwa mengejek. "Aku tidak takut menghadapi kalian, anak-anak. Namun, sebaiknya tanya dulu pendapat Pendekar Gurun Neraka, apakah kalian berdiri sendiri atau bergabung dengan paman kalian itu!"
"Keparat!" Han Bu menerjang, tak tahan menerima sikap lawan yang mengejek dan merendahkannya. Pemuda yang melengking dengan pukulan Pek-hong-ciang-nya itu pun sudah berkelebat ke depan menampar lawan, merasa marah bukan main teringat kematian ayahnya.
Namun, So-beng yang mendengus mengibaskan lengan, tiba-tiba menangkis dan membentak, "Duk!" Han Bu terbanting.
Pemuda ini kalah kuat, tetapi ketika dia melompat bangun untuk menyerang lagi dengan nekat, tiba-tiba Pendekar Gurun Neraka telah menekan pundaknya dengan bisikan perlahan, "Bu-ji, jangan mengumbar kemarahan dulu. Lihat keadaan Sin Hong dan Bi Lan!"
Han Bu terbelalak. Dia terpaksa menahan kemarahannya itu ketika melihat ubun-ubun Sin Hong dan Bi Lan ditekan, siap dibunuh dengan pukulan maut. Sebuah ancaman jika pihak musuh terancam!
Dan Han Bu yang tentu saja menggeram melihat hal ini, mendengar Iblis Penagih Jiwa itu tertawa mengejek.
"Pendekar Gurun Neraka, kami tidak mau main-main dengan bocah cilik. Sebaiknya kau putuskan dulu penawaran kami tadi. Kalau kau menolak, kami siap mampus di tanganmu, tetapi semua anakmu akan kami bunuh terlebih dahulu. Nah, tentukanlah sikapmu!"
So-beng rupanya gentar, amat menakuti kepandaian pendekar sakti ini hingga meminta jalan "damai" dengan cara menangkap anak-anak Pendekar Gurun Neraka itu, menjebaknya dengan cara curang.
Dan Sin Hong yang terbelalak dengan muka memerah, tiba-tiba berseru, "Ayah, bunuh saja orang-orang ini!"