Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 220

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 220

"Jangan hiraukan diriku!"

"Benar!" Bi Lan juga berteriak, tak berdaya di bawah totokan.

"Bunuh saja orang-orang itu, Ayah! Kami siap mati asal mereka juga dibasmi...!" Pendekar Gurun Neraka tertegun.

Ceng Bi menangis terisak-isak, dan Pek Hong, yang juga mencucurkan air mata melihat keadaan anak-anak mereka itu, tiba-tiba dipandang oleh suaminya.

"Bagaimana, Hong-moi? Kalian mempunyai jalan keluar?"

"Tidak...." Pek Hong gemetar. "Aku tak tahu bagaimana sebaiknya, Yap Koko. Tapi kumohon padamu agar anak-anak kita tidak sampai terbunuh!"

"Hm, itu berarti menyerah pada kehendak mereka, Hong-moi. Kau siap memenuhi permintaan ini?" Pek Hong bingung. Dia juga tak tahu harus bersikap bagaimana saat itu. Maklum, So-beng dan teman-temannya berutang jiwa dan keributan yang besar kepada mereka karena telah membunuh gurunya dan Ciok-thouw Taihiap, juga Ceng Han dan orang-orang lain—terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu.

Namun, karena anak-anak mereka tertangkap di tangan iblis-iblis keji itu dan mereka juga harus menyelamatkan anak-anak ini, akhirnya Pek Hong dihadapkan pada satu di antara dua pilihan: membunuh orang-orang itu tetapi Sin Hong dan Bi Lan juga akan terbunuh, ataukah membebaskannya begitu saja dan semua sakit hatinya dianggap tidak ada!

"Bagaimana, Hong-moi? Kita menyerah?" Pendekar Gurun Neraka kembali bertanya, bingung melihat istrinya juga bingung.

Namun, ketika Pek Hong tetap tidak menjawab dan malah menangis semakin deras, tiba-tiba pendekar ini menghadapi istrinya yang kedua.

"Bi-moi, bagaimana pendapatmu? Kita menyerah dan menghapus semua dendam?"

Ceng Bi tidak dapat menjawab. Dia jelas tidak setuju membebaskan orang-orang jahat itu setelah mereka membunuh ayah dan kakaknya. Namun, karena sekarang Bi Lan dan Sin Hong berada di tangan orang-orang itu, akhirnya wanita ini mengguguk dan memandang anak-anaknya dalam tawanan orang-orang tersebut.

"Aku tak tahu, suamiku. Tapi aku minta anak-anakku selamat. Mereka harus dibebaskan!"

"Hm, itu artinya menyerah. Jadi, kita tunduk pada mereka?"

Namun, Sin Hong dan Bi Lan berteriak, berseru kepada ayah dan ibunya itu, "Tidak, jangan menyerah pada iblis-iblis busuk ini, Ayah! Kematian Kong-kong dan saudara-saudara lain harus dibalaskan! Jangan hiraukan kami. Kami rela mati asal mereka semua dibasmi...!"

Ceng Bi menggigit bibir. "Tidak... kalian tidak boleh mati, Nak... kalian harus hidup dan tidak boleh menjadi korban orang-orang biadab ini...!" Dan Ceng Bi, yang memutar tubuh menghadapi lawannya, tiba-tiba berkata, "So-beng, bagaimana jika kedua anak itu kutukar dengan jiwaku? Bebaskan mereka, biar kuganti dengan kematianku!"

So-beng terkejut. Namun, sebelum dia sempat menjawab, tiba-tiba Pek Hong, yang dapat mengerti perasaan madunya, mendadak melompat maju dan berseru nyaring, "Benar! Dan bukan hanya satu jiwa yang akan diserahkan kepadamu, So-beng, melainkan dua jiwa karena aku juga ikut. Bebaskan mereka! Kuganti mereka berdua dengan jiwa kami!"

So-beng membelalakkan matanya. Dia terkejut dan tertegun oleh pernyataan dua wanita cantik ini—dua istri Pendekar Gurun Neraka yang sama-sama siap menyerahkan diri sebagai ganti keselamatan Sin Hong dan Bi Lan. Pengorbanan seorang ibu yang memuncak dalam kekhawatiran hebat. Klimaks dari kasih sayang!

Dan Pendekar Gurun Neraka serta Han Bu dan Han Ki, yang juga terkejut oleh pernyataan kedua wanita ini, tiba-tiba tercengang dan kaget bukan main. Namun, Pendekar Gurun Neraka melompat maju, menarik kedua istrinya dengan muka yang berubah, pucat dan merah berganti-ganti. Pendekar yang terkejut dengan seruan kedua istrinya itu membentak dengan suara kaget, "Bi-moi, kalian gila? Pek Hong, kau tidak waras?"

Namun, kedua istri Pendekar Gurun Neraka yang meronta melepaskan diri itu mendadak sama-sama marah kepada suami mereka.

"Biar! Kami menghendaki keselamatan Bi Lan dan Sin Hong, Yap Koko. Dan untuk itu kami rela berkorban. Dulu pun kami telah mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan mereka!"

Pendekar Gurun Neraka tertegun. Dia jelas pucat memandang kedua istrinya tercinta ini. Diam-diam, dia menyambar So-beng dan kawan-kawannya dengan pandangan penuh ancaman—pandangan yang membuat bulu roma bergidik karena tampak begitu ganas dan berkilat-kilat, bagai seekor naga yang mulai disakiti. Bangkitlah segala getaran kemarahannya, mengejutkan semua orang karena mata Pendekar Gurun Neraka tiba-tiba mencorong bagai mengeluarkan api!

Dan So-beng, yang tentu saja terkejut oleh hawa menakutkan yang keluar dari tubuh Pendekar Gurun Neraka, tiba-tiba tertawa dan mundur selangkah, terdorong oleh wibawa menakutkan yang memancar dari pendekar sakti itu. Dia maklum bahwa tidak mungkin baginya meluluskan permintaan kedua wanita ini, karena Pendekar Gurun Neraka tentu tidak akan memberi ampun kepada mereka, melainkan bakal melumat dan menghancurkan mereka. Lebih baik melalui jalan damai!

Dan So-beng, yang tertawa sambil melangkah mundur, tiba-tiba berkata dengan suara serak, "Tidak, kami tidak dapat meluluskan permintaan kalian, Hujin. Kami tetap pada permintaan kami: melakukan tukar-menukar dengan cara itu saja. Kami minta semua perhitungan lunas, dan anak-anakmu akan kami bebaskan."

Ceng Bi melotot. Dia tidak tahu bahwa So-beng dan teman-temannya kembali lega setelah melihat sorot yang luar biasa dari tubuh Pendekar Gurun Neraka lenyap—sorot yang hilang setelah Iblis Penagih Jiwa itu menolak keinginan Ceng Bi. Dan Ceng Bi, yang tentu saja marah dan bingung, akhirnya mendengar suaminya berkata dengan perlahan tetapi tegas dan mantap, "Baiklah, kami akan memenuhi permintaanmu, So-beng. Sekarang lepaskan anak-anakku dan perhitungan di antara kita impas!"

"Ha-ha, cukup begitu sajakah, Pendekar Gurun Neraka? Siapa yang kau maksud dengan 'kami'? Jawabanmu kurang tegas. Ikutsertakan pula kedua anakmu yang kami tangkap ini, juga kedua bocah she Souw itu!"

Pendekar Gurun Neraka tertegun. Sebenarnya dia bersikap cerdik dengan kata-katanya tadi; hanya memaksudkan dirinya dan istrinya sebagai "kami", tanpa mengikutsertakan Han Ki dan adiknya serta Sin Hong dan Bi Lan agar mereka tetap dapat membasmi iblis-iblis jahat itu. Namun, karena So-beng rupanya juga cerdik dan dapat menangkap apa yang dia maksudkan, akhirnya pendekar ini terpaksa mengangguk dan berkata lagi, "Baiklah, keempat orang muda ini tidak akan membalas apa-apa pada dirimu, So-beng. Sekarang, bebaskan mereka dan cepat penuhi janjimu!"

So-beng tertawa terbahak-bahak. Dia membebaskan totokan Sin Hong dan melempar pemuda itu ke arah ayahnya, lalu memberi isyarat agar Hun Kiat yang menawan Bi Lan juga melepaskan gadis itu kepada orang tuanya.

Namun, Hun Kiat yang mengerutkan kening sambil tertawa mengejek tiba-tiba berseru, "So-beng, aku melihat sesuatu yang tidak beres di sini. Pendekar Gurun Neraka hanya berjanji kepadamu seorang, bukan kepada kami semua di sini!"

So-beng terkejut. "Apa maksudmu?"

"Hm," Hun Kiat mencemooh, masih belum melepaskan Bi Lan. "Pendekar Gurun Neraka hanya berjanji kepadamu seorang, Iblis Penagih Jiwa. Dengar saja kata-katanya tadi bahwa mereka tidak akan membalas apa pun pada dirimu. Bukankah ini berarti kami yang lain akan menerima risiko dan membiarkanmu selamat sendirian? Tidak, kau tidak boleh enak sendiri, So-beng! Pendekar Gurun Neraka harus menunjukkan janjinya kepada kami semua, bukan kepada dirimu seorang."

Mu Ba dan yang lain-lain menjadi ribut. Mereka tersadar setelah Hun Kiat menyebutkan soal itu; sadar bahwa Pendekar Gurun Neraka memang hanya menyebutkan janjinya kepada Iblis Penagih Jiwa, yang berarti khusus untuk Iblis Penagih Jiwa itu saja dan bukan untuk mereka semua.

Dan Mu Ba yang tentu saja terkejut, menggeram marah lalu melompat maju memengaruhi teman-temannya, berkata kepada Sin-yan Mo-li, "Bagaimana pendapatmu, Moli? Bukankah apa yang dikatakan muridku benar? Pendekar Gurun Neraka hanya menyebutkan janjinya untuk So-beng, bukan untuk kita semua!"

Sin-yan Mo-li menjeletarkan cambuknya. "Benar, kita hampir terkecoh oleh janji Pendekar Gurun Neraka, Mu Ba. So-beng tidak boleh enak sendirian. Kita semua juga harus mendapatkan janji pendekar itu! Tar! Tar!"

Pendekar Gurun Neraka terbelalak. Dia terkejut melihat Hun Kiat tampil dengan kata-kata yang sangat jitu itu, karena dia memang hanya menyatakan janjinya kepada So-beng. Diam-diam, dia tertegun melihat murid Sin-Thouw-liong Mu Ba itu memiliki kecerdikan yang tidak kalah tinggi dibanding Iblis Penagih Jiwa, bahkan dapat "mengendus" apa yang tidak beres.

Dan Pendekar Gurun Neraka, yang tentu saja terkejut dan membelalakkan mata, akhirnya mendengar orang-orang itu berteriak kepadanya untuk mengulang janji. Dari sini dapatlah dilihat betapa besar kekuatan Pendekar Gurun Neraka, betapa dia amat ditakuti dan disegani lawan. Semua orang ingin selamat dan tidak ada yang mau berhadapan dengan pendekar besar itu.

Karena lawan telah mengetahui siasatnya dan Pendekar Gurun Neraka tidak dapat berkutik lagi, terpaksa pendekar ini mengulang janjinya bahwa dia beserta seluruh anak dan istrinya yang ada di tempat itu tidak akan mengganggu iblis-iblis ini.

Begitu janji selesai diucapkan, tiba-tiba Bi Lan dibebaskan dan dilemparkan ke arah pendekar sakti itu.

"Ha-ha, terima kasih, Pendekar Gurun Neraka. Sekarang kami bebas!"

Namun, dua lengkingan tinggi tiba-tiba mengejutkan semua orang. Dua bayangan berkelebat di mulut lembah, muncul dan membentak rombongan Iblis Penagih Jiwa. Dan ketika semua mata terbelalak, tahu-tahu Kun Houw dan Liong Han telah muncul di situ dengan senjata di tangan!

"So-beng, utang dosamu terlalu banyak! Kami yang akan mewakili Pendekar Gurun Neraka untuk membasmi kalian!"

So-beng dan teman-temannya terkejut. Mereka terbelalak melihat Kun Houw dengan Pedang Medali Naganya yang bergetar berapi-api, memandang mereka dengan wajah penuh kemarahan.

Dan Pendekar Gurun Neraka, yang tiba-tiba tersenyum melihat kedatangan putranya ini, langsung berseru dengan wajah berseri, "So-beng, Kun Houw tidak masuk dalam janjiku tadi. Dia datang di luar perhitungan kita!"

So-beng tertegun. Dia memang harus mengakui hal itu dan tidak dapat berbuat banyak. Apalagi Sin Hong dan adiknya juga sudah dibebaskan. Berarti mereka harus menghadapi murid Bu-tiong-kiam yang amat lihai ini; sosok gagah yang diam-diam membuat nyalinya merasa kecut!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment