Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 221

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 221

Namun, So Beng yang tertawa melompat mundur tiba-tiba berkata dengan suara serak kepada teman-temannya di belakang, "Mu Ba, Kun Houw sudah datang mengancam kita. Apa yang hendak kita lakukan padanya?"

Mu Ba melirik dengan gentar. "Sebaiknya kita bunuh pemuda itu, So Beng. Tapi Pendekar Gurun Neraka tidak boleh membantu!"

"Tentu saja Pendekar Gurun Neraka tidak akan membantu siapa pun, Mu Ba. Percayalah, dia tidak akan menjilat janjinya!"

Mu Ba menoleh ke kiri dan ke kanan. "Kalau begitu, kau majulah, biar aku di belakang!"

So Beng terkejut. "Apa maksudmu?"

Mu Ba tertawa menyeringai. "Kami telah berkali-kali menghadapi pemuda ini, Iblis Penagih Jiwa. Sekarang kami ingin melihat kau menghadapi pemuda itu. Kau majulah, biar kami di belakang!"

"Pengecut!" So Beng tiba-tiba marah. "Kita semua harus membunuh pemuda ini, Mu Ba. Tidak ada yang di belakang atau..."

Namun, Mu Ba tetap menggeleng. Dia mengetahui benar kehebatan murid Bu Tiong Kiam itu setelah berkali-kali merasakan kelihaiannya yang luar biasa. Apalagi Kun Houw memegang Pedang Medali Naga, pedang yang ampuh dan amat luar biasa!

Mu Ba, yang mundur tanpa malu-malu menunjukkan kegentarannya, tiba-tiba tertawa mengejek sambil memandang yang lain. "Mo Li, kau kan berani menemani Iblis Penagih Jiwa itu? Majulah ke depan, temani dia! Biar aku di belakang!"

Sin-yan Mo Li terbelalak. Dia marah melihat sikap Mu Ba yang pengecut itu. Dia sendiri belum pernah merasakan kelihaian Kun Houw karena jarang keluar dari dunia persilatan. Namun, karena telah mendengar kehebatan pemuda ini dari mulut ke mulut, akhirnya dia pun ragu. Dia juga merasa mendongkol melihat So Beng membelalakkan matanya yang bulat seakan hendak menelan iblis tinggi besar itu bulat-bulat karena gusar bukan kepalang.

Sam Hek-bi Kwi yang juga mundur ke belakang Mu Ba tiba-tiba dipandang oleh Iblis Penagih Jiwa ini. "Kalian juga tidak mau maju, Bi Kwi?"

Bi Kwi merasa gentar. "Kun Houw mencari dirimu, So Beng. Kami hanya akan melihat keadaan jika Kun Houw menyerang."

"Keparat! Tapi kita semua yang diincar oleh pemuda ini, Bi Kwi. Kita semua harus bersatu padu menghadapinya. Ini kesempatan terakhir bagi kita untuk membunuh pemuda itu!"

Namun, Bi Kwi masih gugup. Ketiga wanita ini sama-sama menggeleng dengan wajah yang berubah pucat. Masing-masing telah merasakan kelihaian Kun Houw dengan Pedang Medali Naganya. Mereka bersikap seperti Mu Ba, membiarkan So Beng maju terlebih dahulu sementara mereka di belakang. Hal yang menggelikan dan memperlihatkan betapa pengecut serta liciknya orang-orang golongan hitam itu.

Akhirnya, So Beng memandang Hun Kiat karena pemuda itulah satu-satunya orang terakhir yang diharapkan mau tampil ke depan. Iblis Penagih Jiwa ini pun bertanya dengan suara serak yang menakutkan, setengah kecewa dan setengah marah, "Dan kau, bagaimana, Hun Kiat? Apakah kau juga seperti gurumu, atau mau maju bersamaku menghadapi pemuda itu?"

Hun Kiat tersenyum. Sebenarnya, dia juga gentar menghadapi Kun Houw sendirian, menyadari bahwa dirinya bukanlah tandingan pemuda itu. Jadi, jalan terbaik adalah mengeroyok dan secepat mungkin membunuhnya—sebuah hal yang sulit dan meragukan, karena dulu saat dikeroyok tujuh orang saja, Kun Houw masih sanggup melayani mereka dengan baik. Itu adalah peristiwa luar biasa yang tidak mudah dilupakan.

Hun Kiat yang masih mengingat jelas peristiwa itu kemudian menjawab dengan senyum lebar, "Aku ingin menonton kepandaianmu terlebih dahulu, So Beng. Dulu kami telah menghadapi Kun Houw tanpa dirimu. Sekarang, majulah ke depan dan aku akan membantumu jika kau terdesak!"

"Keparat!" Kemarahan So Beng memuncak. "Kau licik, Hun Kiat. Kau ternyata sama saja seperti gurumu yang pengecut itu. Kalian semua tikus-tikus tidak berguna!"

*Tar!*

Sin-yan Mo Li tiba-tiba meledakkan cambuknya. "Tidak semua seperti yang kau bilang, So Beng! Sin-yan Mo Li tidak takut menghadapi pemuda ini. Ayo kita maju!"

*Tar! Tar!*

Sin-yan Mo Li yang marah meledakkan cambuknya, lalu tiba-tiba melompat ke depan sambil melecutkan senjatanya berulang-ulang. Nenek ini rupanya malu dan gusar melihat teman-temannya yang pengecut. Dia mendelik kepada Kun Houw karena pamor pemuda itu yang sedang naik, serta melihat Pendekar Gurun Neraka bersama anak dan istrinya tersenyum mengejek, yang tentu saja menghina mereka karena dianggap tidak tahu malu.

So Beng yang girang melihat nenek ini maju tiba-tiba berseru sambil mencabut senjatanya, sebuah cakar baja yang mengerikan. Senjata itu seketika membuat Pek Hong melotot karena dengan senjata itulah gurunya terbunuh. Namun, So Beng yang tertawa tanpa menghiraukan istri Pendekar Gurun Neraka ini berkata dengan suara nyaring, "Bagus! Kiranya tidak semua wanita lemah seperti cacing, Mo Li. Setidaknya kau telah membuktikan hal itu, dan kau jauh lebih jantan dibanding raksasa Mongol itu, juga muridnya!"

Wajah Mu Ba dan Hun Kiat memerah seketika. Mereka tahu siapa yang dimaksud. Tidak lain adalah mereka berdua, guru dan murid. Mu Ba dianggap sebagai raksasa Mongol yang bodoh dan tidak lebih baik dari cacing tanah. Namun, Hun Kiat yang tersenyum menyenggol gurunya berbisik perlahan untuk menghibur diri, "Biarlah So Beng memang sombong, Suhu. Jika dia dapat mengatasi Kun Houw, barulah kesombongannya kita akui. Namun, jika dia terdesak, biarlah nanti gantian kita yang memaki dirinya."

Mu Ba tidak menjawab. Dia melihat Iblis Penagih Jiwa itu sudah bersiap-siap di hadapan Kun Houw, menggerakkan cakar bajanya yang tiba-tiba berbunyi gemertak secara aneh sambil tertawa mengejek. Sementara itu, Sin-yan Mo Li melompat ke belakang untuk mengurung Kun Houw. Keduanya sudah bersiap untuk mengeroyok pemuda ini tanpa rasa malu lagi.

Namun, Liong Han membentak sambil memutar tubuhnya, tiba-tiba berdiri beradu punggung dengan murid Bu Tiong Kiam ini. "Kun Houw, kau hadapi Iblis Penagih Jiwa itu. Biar aku yang menghadapi nenek iblis ini!"

Kun Houw mengerutkan kening. "Tidak, mereka hanya berdua, Saudara Liong Han. Sebaiknya biar kuhadapi mereka sendiri, sementara kau menjaga yang lain. Dua orang ini kebetulan adalah orang-orang yang telah membunuh guruku. Aku lebih berkepentingan dibanding dirimu!"

"Tapi..."

"Sudahlah." Kun Houw mendorong temannya lembut. "Tolong bantu aku menjaga yang lainnya, Liong Han. Mereka menjadi bagianmu jika mereka mencoba mengendap-endap dan menyerang secara licik. Mereka pasti akan berbuat curang!"

Liong Han masih ragu. Namun, ketika Pendekar Gurun Neraka berseru menyetujui perkataan Kun Houw, akhirnya murid Pek-kut Hosiang ini mundur juga. Apalagi ketika Bi Lan ikut berbicara, menyambung perkataan ayahnya bahwa Kun Houw tidak perlu dikhawatirkan karena Pendekar Gurun Neraka telah mengetahui benar kelihaian pemuda itu.

Liong Han yang mundur melirik Bi Lan kembali, lalu mendengar gadis itu mengulangi seruannya, "Mundurlah, Ayah telah mengetahui kelihaian Kun Houw, Han-ko. Percayalah bahwa Kun Houw pasti menang!"

Liong Han tersenyum. Seruan merdu itu membuat Liong Han mengangguk manis kepada putri Pendekar Gurun Neraka ini. Jantungnya berdebar mendengar Bi Lan tidak malu-malu lagi memanggilnya Han-ko. Sebutan yang terdengar sangat mesra hingga ayah dan ibu gadis itu menoleh, membuat wajah Bi Lan tersipu merah. Diam-diam, mereka dipandang dengan kemarahan oleh Hun Kiat yang hatinya terbakar cemburu.

Namun, So Beng dan Sin-yan Mo Li yang mendengar perkataan Bi Lan justru mendongkol dan naik darah. "Hmm, bocah ini belum tentu menang menghadapi kami, Bi Lan. Tidak perlu kau memujinya untuk membesarkan hatinya!"

Bi Lan mencibir. Dia tidak menjawab perkataan Iblis Penagih Jiwa itu, melainkan mengerling. Tiba-tiba wajahnya memerah ketika secara tidak sengaja Liong Han juga memandangnya. Selama sedetik, mereka saling mengerling dan melempar pandangan mesra. Hal itu tidak luput dari perhatian Pendekar Gurun Neraka dan kedua istrinya.

Kun Houw, yang tidak ingin banyak bicara lagi menghadapi lawan, akhirnya berseru sambil menggetarkan pedangnya, "So Beng, majulah! Aku siap membunuh kalian berdua!"

So Beng mendengus. Sebenarnya dia sangat marah pada lawannya itu, dan semakin marah melihat teman-temannya yang lain hanya berdiri menonton. Namun, Sin-yan Mo Li yang meledakkan cambuknya berkelebat ke depan, tiba-tiba membentak menyerang Kun Houw, mendahului dengan satu lecutan panjang ke arah mata kiri pemuda itu. "Kun Houw, tidak perlu sombong! Lihat seranganku!" *Tar! Tar!*

Sin-yan Mo Li sudah mulai menyerang. Dia rupanya tidak tahan mendengar semua itu, melihat Kun Houw mendapat dukungan penuh sementara di pihaknya sendiri semua temannya tampak ragu-ragu. Hal itu tentu sangat menyakitkan bagi mereka.

Cambuk yang meledak menyambar Kun Houw itu tiba-tiba disusul oleh bayangan Iblis Penagih Jiwa yang meloncat menghantamkan tangan kirinya. "Kun Houw, kau tidak akan dapat membunuh kami!"

Kun Houw berkelit. Dia menghindari serangan cambuk yang mengarah ke mata kirinya, mendengar ledakan keras di samping kepala yang memekakkan telinga bagai petir membelah angkasa. Namun, melihat So Beng menyusul dengan sebuah pukulan berbahaya ke arah lambung kanannya, tiba-tiba Kun Houw membentak dan menangkis dengan pedang. *Sing!*

So Beng ganti berkelit. Iblis Penagih Jiwa itu rupanya tahu betul keampuhan pedang di tangan Kun Houw. Dia mengelak lalu dengan cepat memutar kaki mengayunkan tendangan yang begitu cepat saat Kun Houw terdorong maju oleh gerakan pedangnya.

Ketika Kun Houw terjengkang dan jatuh bergulingan, saat itulah Sin-yan Mo Li melengking menyambar dengan cambuknya yang kembali melecut keras, disusul Iblis Penagih Jiwa yang berkelebat ke depan. So Beng mengejar dengan pukulan lengan kiri yang mengeluarkan uap kemerahan, menyambar dahsyat diiringi gerakan cakar baja yang bersiut menyeramkan menuju ke dada Kun Houw.

Kun Houw yang melejit kembali menggeram marah. Tiba-tiba dia memutar pedangnya dan mendorongkan tangan kirinya. *Plak! Des!*

Ketiga orang itu tersentak. Masing-masing berseru kaget dan berjungkir balik menjauhi lawan, tergetar dan tertolak oleh benturan tenaga yang membuat mereka mencelat, terlempar oleh daya tolak yang sangat tinggi.

Namun, So Beng dan temannya yang sudah memekik dan maju kembali, tahu-tahu menerjang dan berkelebat lenyap dengan mengerahkan *ginkang* mereka.

"Mo Li, serang dia dari belakang!" seru So Beng sambil menggerakkan cakar bajanya. Tangan kirinya bertubi-tubi melancarkan pukulan uap merah, *Ang-in-tok-ciang* (Pukulan Beracun Awan Merah), menghantam dan menyerang Kun Houw dari arah depan. Sementara itu, temannya mengganggu dan menyerang Kun Houw dari arah belakang punggung, melecutkan dan meledakkan cambuk dengan gegap gempita bagai petir di tengah badai.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment