Chapter 222
Sebentar saja, mereka mengeroyok dan menghujani murid jago pedang ini dengan serangan bertubi-tubi.
Deras bagai hujan yang dicurahkan dari langit.
Kun Houw, yang terdesak sejenak oleh keributan lawan yang hebat luar biasa, akhirnya tidak dapat menghindari ledakan cambuk yang merobek baju di punggungnya.
"Tar! Tar!" Kun Houw menggigit bibir.
Dia tetap mengerahkan *sinkang*, melindungi seluruh bagian tubuhnya dengan hawa sakti yang membuatnya kebal, keras, dan liat bagai lempengan baja.
Namun, cambuk Sin Yan Mo Li yang menggigitnya dengan pedas di punggung tetap saja menyengat tubuhnya bagai jilatan api hingga membuatnya mendesis.
Ia merasa marah dan kaget melihat nenek ini ternyata memiliki *sinkang* yang kuat juga.
Ketika lawan terkekeh dan kembali menghajarkan cambuk ke punggungnya, di saat yang sama So-beng juga menggerakkan cakar bajanya untuk menusuk tenggorokan.
"Bret!" Kun Houw lagi-lagi terkejut.
Dia kalah cepat oleh gerakan lawan. Leher bajunya robek disambar cakar yang meliuk, yang kini menyambar ubun-ubun kepalanya dari atas ke bawah dengan sangat cepat, disusul pukulan tangan kiri lawan yang melancarkan *Ang-in Tok-ciang*-nya.
Namun, Kun Houw yang tidak mau lengah langsung meloncat ke kanan untuk mengelak dari gerakan cakar, lalu tiba-tiba menyambut pukulan lawan dengan tangan kirinya pula.
Ia mengerahkan *sinkang* yang secepat itu sudah disiapkan untuk menghadapi lawan.
Begitu dua pukulan beradu di udara, tiba-tiba bumi seakan berguncang dan So-beng terpental kaget.
"Des!" So-beng terpekik.
Untuk pertama kalinya dia terkejut, berjungkir balik di udara, dan melihat Kun Houw mengejarnya dengan beringas.
Namun, Sin Yan Mo Li yang menyerang dari belakang dengan ledakan cambuknya tiba-tiba terkekeh, lalu menotok jalan darah *Giam-lo-hiat* di ubun-ubun Kun Houw.
"Bocah, mampuslah...!" Kun Houw terkejut.
Dia terpaksa memutar tubuh dan menghentikan serangannya pada So-beng. Sambil membentak marah kepada nenek iblis yang menotok jalan darah kematiannya itu, dia terpaksa berbalik dan menggerakkan pedang untuk menangkis serangan tersebut.
Ketika cambuk si nenek terbabat putus dan Sin Yan Mo Li berseru kaget, nenek iblis ini segera melompat dan bergulingan membanting tubuhnya.
"Tas!" Cambuk si nenek buntung sebagian.
Kun Houw mengejar dengan ganas, memburu nenek ini dengan gerakan pedangnya yang melejit bagai ular menari, berkelebat ke depan menusuk lawan diiringi bentakan keras.
Namun, So-beng ganti membantu nenek itu dengan menyerang Kun Houw dari belakang. Hal ini membuat Kun Houw menggeram dan menghentikan serangannya, lalu berbalik untuk melayani Iblis Penagih Jiwa itu.
Ketika Iblis Penagih Jiwa mengelak dan tidak berani mengadu senjata, si nenek iblis sudah melompat bangun dan menyerang Kun Houw dari belakang, membuat jalannya pertarungan menjadi sangat seru dan hebat.
Begitu mereka saling menyerang dan menangkis, pertempuran tiga orang ini menjadi sangat mendebarkan dan luar biasa.
Namun, Kun Houw tampak terdesak.
So-beng mempergunakan taktik gerilya, bermain kucing-kucingan dengan cara maju-mundur.
Ia maju ketika Kun Houw berbalik, dan mundur ketika Kun Houw melayaninya secara berhadapan.
Ia tampak sangat kompak dengan rekannya yang bercambuk buntung itu.
Beberapa jurus kemudian membuat Kun Houw kewalahan dan naik darah.
Ketika So-beng memindahkan cakar bajanya ke tangan kiri dan tangan kanannya ganti melancarkan pukulan *Tok-hwee-ji*, pada akhirnya Kun Houw terkena pukulan ini. Ia terhuyung dan memandang lawannya dengan marah.
Diam-diam dia khawatir jika dirinya keracunan, teringat akan pengalaman pahit setahun lebih yang lalu.
Namun, setelah menyadari bahwa dia tidak merasakan apa-apa dan pukulan *Tok-hwee-ji* tidak memengaruhinya, Kun Houw menjadi gembira. Dia teringat akan pertolongan Kui Hoa dahulu.
Betapa kekasihnya itu telah melakukan pengobatan dengan cara mulut ke mulut.
Diam-diam, tubuhnya telah kemasukan hawa antiracun yang ditiupkan oleh kekasihnya itu, terutama yang kebal terhadap *Tok-hwee-ji*.
Ketika Sin Yan Mo Li kembali mendaratkan cambuknya di punggung Kun Houw untuk kesekian kalinya, tiba-tiba Kun Houw melengking tinggi. Dia terpaksa mengeluarkan tujuh jurus inti dari ilmu pedangnya, *Bu-tiong Kiam-sut*!
"So-beng, sekarang aku membalas! Hati-hati kalian!" So-beng dan temannya terkejut.
Mereka melihat Kun Houw tiba-tiba tidak mengejar mereka lagi. Ia diam di tempat, tidak mau memburu yang satu atau mengejar yang lain, melainkan memutar pedangnya dengan sangat cepat hingga membungkus dirinya sendiri. Pedang itu mendengung, mengeluarkan suara mirip seruling yang ditiup.
Suaranya kian lama kian halus namun tinggi. Tubuhnya tidak tampak lagi karena bayangan pedang telah menyelimuti seluruh tubuh pemuda ini.
So-beng dan Mo Li yang tentu saja bingung karena tidak dapat menyerang, akhirnya bertukar tempat mengitari lubang.
"Mo Li, kau di depan! Aku di belakang!" Sin Yan Mo Li mengangguk.
Dia telah bertukar tempat dengan Iblis Penagih Jiwa itu, menjeletarkan cambuknya untuk mencari kelemahan Kun Houw. Ketika celah itu tampak saat Kun Houw memperlambat gerakannya, sekonyong-konyong nenek ini berseru keras sambil menggerakkan cambuknya.
Cambuk yang tiba-tiba menegang dan lurus menyambar itu menotok ulu hati Kun Houw. Nenek itu tidak tahu bahwa Kun Houw sengaja memancingnya agar maju menyerang.
Ia terjebak oleh perangkap yang dipasang oleh pemuda ini.
Begitu Mo Li melompat ke depan dan menusukkan cambuknya, tiba-tiba Kun Houw menutup pertahanannya lagi, dan secepat kilat "menarik" nenek itu agar masuk ke dalam gulungan pedangnya!
"Hei...!" Namun terlambat.
Sin Yan Mo Li keburu terperangkap. Ia kaget bukan main dan berteriak keras, sadar bahwa dirinya dalam bahaya.
Namun, nenek yang terlanjur masuk ke dalam gulungan pedang yang menariknya ini tiba-tiba menjadi nekat. Ia meneruskan tusukan cambuknya, yang langsung dipapak oleh Pedang Medali Naga. Seketika itu juga, senjata di tangan si nenek buntung, nyaris mendekati pergelangan tangannya.
Ketika Sin Yan Mo Li mengeluh dan terbelalak melihat dirinya tidak bersenjata lagi, tahu-tahu Pedang Medali Naga menusuk dalam jurus *Hui-kiam Cui-long* (Pedang Terbang Mengejar Naga) menyambar dadanya.
"Crep!" Sin Yan Mo Li menjerit.
Orang-orang melihat nenek itu terlempar dari gulungan pedang, terpental keluar, dan roboh terguling-guling mandi darah. Dadanya tembus oleh tusukan Pedang Medali Naga yang melukainya langsung ke jantung.
Namun, Sin Yan Mo Li yang memekik sambil melepas jarum-jarum beracunnya tiba-tiba masih sempat menyerang Kun Houw, menyambitnya dengan sisa tenaga yang terakhir.
Kun Houw yang mendengus segera mementalkan semua senjata rahasia ini, lalu mengembalikan jarum-jarum beracun itu ke pemilik asalnya.
"Crep! Crep!" Sin Yan Mo Li pun menjerit untuk yang terakhir kalinya.
Nenek ini tertancap jarum-jarum beracunnya sendiri yang menembus kulit, membuatnya mengeluh dan mengerang pendek.
Ketika dia terguling dan roboh terjerembap, akhirnya nenek ini pun tewas dengan jantung pecah di dalam!
"Ah...!" So-beng dan semua temannya terkejut.
Mereka terbelalak melihat kematian nenek ini.
Berarti pihak mereka berkurang satu orang dengan tewasnya nenek itu.
Namun So-beng, yang melengking sambil menubruk ke depan, tiba-tiba berseru kepada teman-temannya yang lain, "Mu Ba, maju! Keroyok pemuda ini! Cepat!"
Namun, Mu Ba menggeleng.
Raksasa tinggi besar ini justru ketakutan melihat tewasnya nenek itu.
Seolah-olah dia melihat dirinyalah yang terbunuh.
Mati dengan mengenaskan.
So-beng, yang tentu saja marah melihat sikap raksasa ini, akhirnya berteriak kepada Bi Kwi, "Bi Kwi, bantu aku! Kita bunuh pemuda ini!"
Namun, Bi Kwi juga ketakutan.
Ketiga wanita ini saling berpandangan, diam-diam melirik ke sana kemari mencari jalan keluar.
Mereka tidak menjawab seruan Iblis Penagih Jiwa itu, dan diam-diam saling memberi isyarat untuk melarikan diri.
Namun, Liong Han yang mengejek memandang mereka membuat Bi Kwi dan kedua kakaknya cemas.
So-beng, yang kali ini berteriak kepada Hun Kiat, akhirnya kelabakan mencari bantuan kepada pemuda itu dan menyuruhnya maju.
Namun Hun Kiat, yang juga ragu-ragu seperti gurunya, tiba-tiba berbisik menolak ajakan Iblis Penagih Jiwa. Ia berkata kepada gurunya, "Suhu, kita harus menyelamatkan diri dengan memasuki Hwee-seng-kok. Bersiap-siaplah!"
Mu Ba mengangguk.
"Kau masih menyimpan mutiaramu itu, Kiat-ji?"
"Ya, *Sin-liong-cu* (Mutiara Naga Sakti) ada di tanganku. Kita dapat menghadapi kabut beracun di dalam lembah!"
Mu Ba menyeringai.
Dia mendengar Iblis Penagih Jiwa mulai memaki-maki mereka karena terdesak menghadapi Kun Houw sendirian.
Pedang Medali Naga yang masih berkelebatan menyerang Iblis Penagih Jiwa itu akhirnya disusul teriakan Bi Lan yang gembira melihat kemenangan Kun Houw.
"Houw-ko, jangan bunuh dulu musuhmu itu! Buka kedoknya agar kita tahu siapa dia!"
So-beng terkejut.
Dia mengeluarkan suara aneh dari tenggorokannya, menggigil, dan melotot memandang Bi Lan.
Ketika Kun Houw mengangguk dan memutar pedang mengurung Iblis Penagih Jiwa ini, akhirnya Kun Houw berseru dengan wajah beringas, "Ya, betul katamu, Bi Lan! Aku akan melihat wajahnya dulu sebelum dia kubunuh!"
"Tidak!" So-beng melengking. "Kau tidak akan dapat melihat siapa aku, Kun Houw! Akulah yang akan membunuhmu dan membuatmu binasa!"
Namun, kenyataan dan keinginan ternyata berbeda.
Kun Houw telah mengeluarkan jurus-jurus intinya dan berhasil membunuh Sin Yan Mo Li dengan jurus keempatnya, *Hui-kiam Cui-long*.
Ketika So-beng memekik dan pedang mulai menggulung Iblis Penagih Jiwa ini ke dalam bayangannya, akhirnya Kun Houw mengeluarkan jurus lain yang disebut *Heng-hun Po-uh* (Awan Berarak Hujan Mencurah). Hal ini membuat lawan kelabakan ketika Pedang Medali Naga mengaung bergulung-gulung, membentuk kabut tebal seperti mega.
Ketika Kun Houw membentak dan berseru nyaring, tahu-tahu gulungan kabut atau awan tebal yang naik-turun ini tiba-tiba pecah, berubah menjadi titik-titik kecil yang berhamburan ke segala penjuru dengan sangat deras, persis hujan yang mencurah.
Ketika lawan berseru keras menangkis dengan cakar bajanya, tiba-tiba senjata maut di tangan Iblis Penagih Jiwa itu terpapas buntung.
"Cras!" So-beng terkejut.
Dia kaget bukan main melihat kehebatan Pedang Medali Naga.