Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 223

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 223

Tersentak karena tidak ada jalan lain kecuali menangkis dengan cakar bajanya itu.

Ia maklum bahwa dia akan kehilangan senjatanya, dan itu benar-benar terjadi.

Ketika pedang menyambar dan dia bergulingan melemparkan tubuhnya, tahu-tahu Kun Houw menggerakkan tangan kiri menyambar kedok di wajah Iblis Penagih Jiwa ini.

"Breet!" Dan...

Semua orang berseru tertahan.

Mereka melihat wajah Iblis Penagih Jiwa itu sekarang—wajah yang beringas dan pucat berganti-ganti.

Wajah yang tampan meskipun sudah setengah baya.

Kun Houw, yang melihat wajah di balik kedok dengan nama menyeramkan ini, tiba-tiba tertegun dan berseru dengan suara menggigil, "Ok *Ciangkun*...!" Semua orang tersentak kaget.

Mereka sungguh tidak menyangka bahwa Iblis Penagih Jiwa itu ternyata adalah Ok *Ciangkun*, panglima yang dulu tewas di dasar jurang.

Orang kepercayaan dan tulang punggung Kerajaan Wu, ayah dari Kui Hoa dan Kui Lin.

Pendekar Gurun Neraka serta anak istrinya, yang terbelalak kaget melihat siapa sebenarnya Iblis Penagih Jiwa ini, tiba-tiba tertegun dan tercengang seperti Kun Houw!

Ok *Ciangkun* melompat bangun.

Wajahnya merah padam mendeliki Kun Houw. Ia marah serta gusar bukan kepalang karena rahasianya telah terbongkar.

Ia tidak dapat menyembunyikan diri lagi dari semua orang, baik lawan maupun kawan.

Panglima yang tampak beringas dan menggigil berapi-api itu tiba-tiba mencabut pedang yang disembunyikan di balik punggung. Ia membentak Mu Ba dan teman-temannya yang seketika merasakan wibawa sang panglima yang bangkit menakutkan, lalu memandang pula Bi Kwi dan Hun Kiat yang bergetar melihat siapa sebenarnya Iblis Penagih Jiwa itu.

Ok *Ciangkun* yang melotot dan menggeram marah tiba-tiba melompat maju, menatap kawan-kawannya dengan pandangan yang semerah saga. "Bi Kwi, kalian masih juga tidak mau membantu membunuh pemuda ini? Apakah kalian begitu tolol hingga tidak cepat-cepat maju bersama-sama? Hm, kalau begitu, aku yang akan membunuh kalian satu per satu, manusia-manusia pengecut! Aku akan..."

Anehnya, Bi Kwi dan kedua encinya gemetar, mengangguk, dan tiba-tiba meloloskan gelang yang menjadi senjata andalan mereka. Mereka terkejut dan kalah pengaruh oleh wibawa yang terpancar dari tubuh panglima ini, yang merupakan atasan sekaligus *suheng* mereka!

Ok *Ciangkun* berbalik memandang Mu Ba, lalu akhirnya menggeram pada raksasa tinggi besar itu. "Dan kau juga tetap tidak mau membantu, Mu Ba?"

Mu Ba gentar. Dia terkejut dan bingung menjadi satu, sama sekali tidak menyangka bahwa Iblis Penagih Jiwa itu ternyata adalah Ok *Ciangkun*, panglima yang dulu menjadi atasannya sewaktu masih di istana.

Mu Ba yang kalah perbawa oleh panglima yang beringas ini tiba-tiba mengangguk saat melihat Bi Kwi dan kedua kakaknya mengepung, tampak siap menyerang sewaktu-waktu bersama panglima itu—berbalik dari kawan menjadi lawan.

Karena tidak ada pilihan lain yang lebih menguntungkan daripada membantu sang panglima, akhirnya Mu Ba menggerung dan melompat maju, lalu mencabut tengkorak bayinya. "Ok *Ciangkun*, aku siap membantumu membunuh Kun Houw!"

Hun Kiat terkejut. Sekarang giliran dia yang ditatap oleh panglima ini, merasakan sorot mata Ok *Ciangkun* yang dingin dan menakutkan.

Ketika panglima itu bertanya apakah dia hanya akan menonton saja dan tidak mau membantu, tiba-tiba Hun Kiat tertawa aneh dan melompat maju, berdiri berdampingan dengan gurunya untuk membantu panglima itu.

Begitu semua kawannya maju ke depan, akhirnya panglima ini memutar tubuh menghadap Kun Houw. "Bocah, kini kami bersatu untuk membunuhmu. Bersiaplah!"

Kun Houw tertegun. Sebenarnya sejak tadi dia sudah terkejut dan kaget bukan main karena So-beng ternyata adalah Ok *Ciangkun*—panglima yang dulu menjadi atasannya, sekaligus ayah dari kekasihnya, Kui Hoa. Hal itu membuatnya tercengang dan terguncang hebat, tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Maka, melihat panglima itu menghadapinya dan semua temannya maju mengepung, tiba-tiba Kun Houw menggigil dan tidak habis mengerti tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada panglima *she* Ok ini. Bagaimana dia bisa muncul kembali setelah orang-orang melihatnya tewas di dalam jurang?

Liong Han yang terbelalak melihat Kun Houw tercengang tanpa berkedip, mendadak meloncat maju dan menepuk pundak kawannya. "Kun Houw, musuh telah menantangmu! Bersiaplah, kubantu kau...!"

Kun Houw tersadar. Wajahnya kini pucat memandang panglima ini, tubuhnya menggigil dan gemetar memandang lawan.

Namun, teringat akan kematian gurunya, tiba-tiba Kun Houw menegakkan kepala dan berseru tegas, "Tidak, tidak perlu kau bantu selama aku masih dapat menghadapi musuh-musuhku, Liong Han. Mundurlah kembali, dan majulah hanya jika aku terdesak!"

Liong Han terkejut. "Tapi..."

Kun Houw mendorong kawannya. "Sudahlah, aku telah bersumpah untuk membunuh musuh yang telah membunuh guruku, Liong Han. Dan aku tahu kepandaian lawan-lawanku ini. Aku telah mengenal mereka. Biarkan aku sendiri, dan kau boleh maju jika aku terdesak!"

Terpaksa Liong Han mundur lagi. Ok *Ciangkun* yang tertawa mengejek memutar pedangnya, lalu tiba-tiba maju menghadapi Ceng Bi, hal yang membuat nyonya ini terkejut dan mundur selangkah.

Namun, ketika Pendekar Gurun Neraka menghadang dengan dahi berkerut, akhirnya panglima ini berhenti tertawa aneh.

"Pendekar Gurun Neraka, aku ingin bicara sebentar dengan istrimu. Mundurlah!"

"Hm, apa yang kau inginkan?"

"Meminjam barang yang pernah kuberikan kepadanya, Pendekar Gurun Neraka. Mundurlah dan biarkan aku bicara dengannya!"

Ceng Bi gemetar, bingung, dan marah. "Apa yang kau inginkan, Ok *Ciangkun*?" Nyonya ini akhirnya maju pula, mengepalkan tinju dan menggigit bibir sambil memandang panglima itu—orang yang telah membunuh kakaknya!

Namun, Ok *Ciangkun* yang tertawa dingin tiba-tiba berkata dengan suara serak, "Aku ingin meminjam baju yang pernah kuberikan kepadamu, *Hujin*. *Thian-bian-ih* (Baju Sutra Langit) itu!"

"Ah...!" Ceng Bi terkejut. "Kau... kau..."

"Ya, aku ingin menghadapi Kun Houw dengan baju pusakaku itu, *Hujin*. Kuharap kau bersedia meminjamkannya sebentar, mengingat jasa-jasaku yang lalu!"

Ceng Bi tiba-tiba menangis. "Ok *Ciangkun*, kau jahanam keparat! Kau..."

Ceng Bi tiba-tiba melepas baju yang dimaksudkannya itu. "Kau tidak layak disebut manusia, orang *she* Ok! Kau pernah menanam budi, tetapi sekaligus juga berutang jiwa! Sekarang ambillah, aku mengembalikan baju pusakamu itu... *Plek!*"

Baju yang menimpa kepala panglima ini dan menangkup wajahnya tiba-tiba disambut desis tak jelas dari bibir panglima itu. Sejenak ia memejamkan mata, tetapi membukanya kembali untuk memandang lembut nyonya yang masih tampak gagah ini—tetap cantik meskipun sudah setengah baya.

Ok *Ciangkun* menunduk dan menghela napas, lalu tiba-tiba berkata, "*Hujin*, ini semua kulakukan karena pernyataanku dulu. Kau masih ingat, bukan?"

"Aku tidak mau mengingatnya, orang *she* Ok! Kau jahanam!"

"Itulah yang membuatku merana, mengapa kau membenciku, *Hujin*. Namun, aku tidak menyesal menghadapi semua ini. Kau memang lebih patut mencintai suamimu itu daripada aku, si jahanam keparat ini!"

Ceng Bi menangis. Dia menggigit bibir dan tersedu-sedu menubruk suaminya, teringat kisah dua puluh tahun lalu ketika dia menolak cinta panglima itu. Betapa panglima itu dahulu memberinya baju *Thian-bian-ih*, yang secara tidak sengaja menyelamatkannya dari kekejaman tangan ayahnya. Dia nyaris tewas dibunuh ayahnya jika tidak ada Baju Sutra Langit itu (baca: *Pendekar Kepala Batu*).

Pendekar Gurun Neraka yang tentu saja tertegun melihat semua ini, tiba-tiba menarik napas penuh sesal. Sekarang dia tahu apa sebabnya panglima itu menjadi So-beng, dan kenapa panglima itu membunuhi orang-orang yang menjadi keluarga serta sahabatnya. Kisah yang tidak lain didorong oleh dendam dan cemburu; perbuatan yang dilakukan sang panglima untuk melepaskan sakit hatinya akibat banyak hal.

Pendekar Gurun Neraka yang menghibur dengan menepuk pundak istrinya, akhirnya berkata dengan suara berat yang ditujukan kepada panglima itu, "Ok *Ciangkun*, sungguh tidak kukira bahwa tindak-tandukmu telah melewati batas. Kau bukan hanya mendendam karena urusan kerajaan saja, melainkan mencampuradukkan pula urusan pribadimu yang tidak pada tempatnya. Hmmm... kau semakin tersesat, Ok *Ciangkun*. Jika adikmu masih hidup, tentu dia akan memaki dan mengutuk perbuatanmu ini!"

Ok *Ciangkun* menggeram. "Tidak perlu mengungkit-ungkit mendiang adikku, Pendekar Gurun Neraka! Semua ini kulakukan karena kaulah yang menjadi gara-garanya!"

"Hm..." Pendekar Gurun Neraka menarik napas. "Kau telah diliputi kegelapan, Ok *Ciangkun*. Kau tidak dapat lagi membedakan siapa yang salah dan siapa yang benar."

"Cerewet!" Ok *Ciangkun* membentak. "Aku tidak butuh khotbahmu lagi, Pendekar Gurun Neraka! Yang kuperlukan di sini adalah membunuh dan membalas sakit hatiku. Aku akan membunuh anak istrimu!"

Pendekar Gurun Neraka tersenyum pahit. Dia tidak menjawab. Sementara itu, Kun Houw yang terbelalak melompat maju dan tiba-tiba mendesis, setelah berhasil menguasai guncangan hatinya kembali, "Ok *Ciangkun*, aku masih menunggu keputusan di antara kita. Kau berutang jiwa kepadaku!"

Ok *Ciangkun* berbalik sambil mendengus. "Kau ingin membalas kematian gurumu, Kun Houw?"

"Begitulah, aku telah bersumpah di depan guruku, *Ciangkun*. Dan sekarang, aku sangat menyesal bahwa kita harus membuat perhitungan untuk menyelesaikan semua ini!"

"Bagus, aku juga ingin membunuhmu, Kun Houw! Kau membuat anakku menentang dan berani melawan orang tua!"

Kun Houw menggigit bibir. Disebutnya nama itu membuat hati Kun Houw teriris. Diam-diam ia merintih di dalam hati karena berada di persimpangan yang sangat rumit. Di satu pihak, dia harus membunuh panglima ini karena Ok *Ciangkun* telah membunuh gurunya, tetapi di lain pihak, dia teringat bayangan Kui Hoa yang tentu akan marah dan membencinya jika ayahnya terbunuh.

Namun, Kun Houw yang terlanjur bersumpah di depan makam akhirnya menyingkirkan semua bayangan kekasihnya karena harus mengutamakan janjinya. Apalagi Ok *Ciangkun* adalah manusia jahat yang dengan menyamar sebagai So-beng telah membunuhi orang-orang baik, seperti Ta Bhok *Hwesio* dari Tibet, sahabat-sahabat Pendekar Gurun Neraka, serta yang lainnya yang rata-rata merupakan kaum pendekar tidak bersalah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment