Chapter 224
Dan Kun Houw, yang menggigit bibir menutup bayangan Kui Hoa, akhirnya menetapkan bahwa urusan gadis itu adalah urusan nanti.
Yang penting adalah sekarang.
Menyelesaikan dulu urusan yang ada di depan mata dan membalas kematian gurunya!
Dan Kun Houw, dengan pandangan berkilat memandang yang lain, akhirnya melihat panglima itu maju bersama lima temannya, mengepung di segala penjuru.
"Kun Houw, betul katamu. Kita harus menyelesaikan urusan ini, membereskan perhitungan. Tapi jangan sombong, bocah. Aku kini tak takut lagi akan keampuhan pedang pusakamu!"
Kun Houw menggigil.
"Tak perlu banyak cakap, Ok-ciangkun. Aku tak peduli kau takut atau tidak. Aku tahu kecuranganmu dan sepak terjang kawan-kawanmu ini!"
"Hm..." Ok-ciangkun mendengus dengan muka merah. "Kalau begitu, boleh kau minta bantuan kawanmu, Kun Houw. Suruh bocah *she* Liong itu maju!"
Namun, Kun Houw yang menolak dan menggetarkan pedang sudah menghadapi lawan-lawannya, merasa sanggup dan percaya pada diri sendiri akan kemampuannya menghadapi keenam orang musuhnya itu.
Tetapi Ceng Bi yang khawatir melihat Baju Sutera Langit yang telah dipergunakan panglima itu justru berseru cemas, "Kun Houw, biarkan Liong Han membantumu. Setidak-tidaknya dia dapat menghadapi yang lain untuk meringankan bebanmu!"
"Tidak," Kun Houw menggeleng, bersikeras pada pendiriannya. "Biarkan aku menghadapi mereka, Ibu. Kalau aku terdesak dan tak dapat mengatasi mereka, biarlah Liong Han membantuku. Tapi untuk sementara ini jangan. Aku ingin membunuh musuhku dengan tanganku sendiri!"
Ok-ciangkun tertawa mengejek. Sekarang sikapnya tampak beringas dan menakutkan. Pedang yang ada di tangannya diputar dan digerak-gerakkan, siap menyerang dan memberi isyarat kepada yang lain agar mulai memasang sikap.
Namun, ketika teman-temannya menunggu dan masing-masing menanti agar dia lebih dulu maju, akhirnya panglima ini tertawa aneh dan membentak keras. Tiba-tiba ia melejit berkelebat ke depan, melengking dan menggerakkan pedangnya menusuk Kun Houw, memulai gebrakan cepat demi membangkitkan keberanian teman-temannya.
Begitu panglima ini menyerang dengan pedangnya, yang lain tiba-tiba menyerbu dengan senjata masing-masing.
*"Sing! Plak! Duk!"*
Kun Houw menangkis, membentak, dan melompat tinggi memutar pedangnya. Secepat kilat ia mengerahkan *sinkang* dan *ginkang* menghadapi enam serangan yang datang susul-menyusul itu, menangkis dan mementalkan semua senjata lawan hingga mereka berteriak kaget.
Namun, Ok-ciangkun yang menyerang lagi meliukkan tubuhnya. Tiba-tiba ia menggerakkan tangan kiri melepaskan pukulan *Tok-hwe-ji*. Setelah pukulan itu ditangkis, kini ia menggerakkan pedang menikam dada Kun Houw.
Ketika Kun Houw terhuyung dan terbelalak menghadapi serangan gencar yang dilancarkan panglima ini, tiba-tiba Mu Ba dan empat temannya yang lain sudah menghujani tubuhnya dengan serangan bertubi-tubi. Gelang dan tengkorak bayi berseliweran mengurung dari delapan penjuru, mendesak dan mengaung dengan suara mengerikan.
Ketika beberapa senjata mendarat di tubuh pemuda ini, akhirnya silih berganti senjata-senjata lain menghantam dan menghujani Kun Houw yang dengan cepat mengerahkan *sinkang*-nya.
*"Bak! Bik! Buk!"*
Kun Houw tidak apa-apa. Dia telah membuat tubuhnya kebal, paling-paling hanya menyeringai sedikit menahan pukulan, merasa pedih tetapi tidak terluka.
Namun, ketika pedang Ok-ciangkun menyambar, ia merasakan angin yang tajam dan dingin meluncur bagai paruh rajawali. Kun Houw terpaksa melompat mengelak sambil memutar pinggangnya. Tiba-tiba ia membentak dan berjungkir balik melayang tinggi ketika melihat senjata yang lain berhamburan menuju tubuhnya.
Begitu melayang turun sambil memekik nyaring, tiba-tiba Kun Houw menggerakkan Pedang Medali Naganya, menyerampang dari kiri ke kanan.
"Awas...!" Ok-ciangkun berteriak.
Panglima ini memperingatkan teman-temannya agar tidak membentur pedang itu, menarik cepat senjatanya dan berganti menyerang dengan cara lain, yaitu menendang dan memukul.
Ketika Kun Houw berkelebat memainkan *Bu-tiong Kiam-sut*-nya hingga pemuda itu lenyap ditelan gulungan pedangnya, akhirnya panglima ini memberi aba-aba agar mereka mengepung secara berputaran dan berganti-ganti tempat untuk membingungkan Kun Houw.
Begitu semuanya mengangguk dan maju dengan cara yang diperintahkan panglima ini, tiba-tiba Kun Houw mendapat lawan yang berbeda-beda dalam setiap gebrakan.
"Ha-ha, kami akan membingungkanmu, Kun Houw. Kau tak mungkin membunuh kami secara bersamaan!"
Kun Houw terkejut. Dia melihat keenam orang itu berputar dengan cara berpindah-pindah, semua mengikuti aba-aba panglima yang memimpin mereka.
Namun, Kun Houw yang memutar pedang sambil menggigit bibir tiba-tiba mengerahkan *Jing-liong-sinkang*-nya di samping *Bu-tiong Kiam-sut*. Ia mendorong dan mulai menerima pukulan lawan dengan tangan telanjang, bermaksud menangkap dan membetot senjata lawan sementara pedangnya masih terus bergerak membungkus dirinya, menjadi benteng yang kokoh.
Ketika pada suatu saat gelang di tangan Bi Hwa menyambar, Kun Houw membentak nyaring dan langsung menyambut sambaran gelang ini.
*"Brak!"*
Bi Hwa terpekik. Dia melihat senjatanya tertangkap dengan sangat cepat dan hancur dalam cengkeraman Kun Houw yang mengerahkan *Jing-liong-sinkang*.
Kun Houw yang menggeram menggerakkan pedangnya, tiba-tiba menotok dan menarik lawannya itu agar terjerumus ke depan.
"Hei...!" Bi Hwa terkejut. Ia tertarik oleh betotan Kun Houw itu dan tidak dapat menguasai diri.
Namun, Ok-ciangkun yang membentak menyerang dari samping tiba-tiba menusuk lubang telinga Kun Houw, sementara kakinya bergerak menendang Bi Hwa. Hal ini membuat Kun Houw terpaksa mengelak dan melepaskan lawannya yang roboh terlempar, mencelat oleh tendangan Ok-ciangkun yang berusaha menyelamatkan pembantunya itu.
Bi Hwa yang terguling-guling segera melompat bangun. Akhirnya ia mendesis dan mengusap keringat dinginnya!
"Aih, berbahaya...!"
Namun, Ok-ciangkun telah memanggilnya kembali. Panglima ini telah menyerang dan menghujani Kun Houw dengan pukulan-pukulan berat, dibantu Mu Ba dan yang lain-lain yang kini menerjang dengan lebih mantap karena melihat Ok-ciangkun mampu melindungi mereka bila terdesak, seperti kejadian Bi Hwa tadi.
Namun, Kun Houw yang mendengus memutar pedang tiba-tiba membentak dan menangkis semua serangan lawan, membuat musuh-musuhnya mundur kembali karena tidak berani beradu senjata, gentar terhadap Pedang Medali Naganya itu.
Ketika pertempuran berjalan kembali dan Ok-ciangkun mengajak berputar seperti tadi, akhirnya Kun Houw bertahan dan sekali-sekali membalas menyerang. Hal ini menyebabkan pertarungan menjadi lama. Kun Houw rupanya sengaja dikocok, dibiarkan menguras tenaganya hingga kehabisan napas.
Pendekar Gurun Neraka yang mengerutkan alis melihat ini tentu saja maklum akan apa yang dikehendaki oleh panglima yang cerdik itu.
"Kun Houw, keluarkan saja tujuh jurus intimu itu. Jangan biarkan diri dikocok lawan!"
Kun Houw mengangguk. Dia sebenarnya juga tahu akal panglima itu. Ia sengaja mengikuti karena ingin mencari celah-celah kelemahan.
Ketika saat itu tiba dan tubuhnya mulai banyak berkeringat, tiba-tiba Kun Houw melengking mengeluarkan tujuh jurus andalannya. Ia berkelebat dan lenyap memutar pedang yang kian bergulung-gulung rapat, lalu mulai mengincar Sam-kwi karena ketiga orang inilah yang paling lemah.
Begitu dia membentak dan mulai mengeluarkan jurus kedua yang tadi dipakai untuk menyerang So Beng, yakni *Heng-hun-po-uh* (Awan Berarak Hujan Mencurah), tiba-tiba pedangnya bergerak naik-turun membentuk gumpalan mega hebat, mengejutkan Ok-ciangkun karena dia telah merasakan kelihaian jurus ini—jurus yang membuat kedoknya terbuka!
Ketika Kun Houw melengking memecah gulungan meganya, tiba-tiba hujan pedang yang luar biasa banyak menghambur ke delapan penjuru menyerang keenam orang lawannya itu.
"Awas...!" Ok-ciangkun berteriak.
Panglima ini sendiri sudah melemparkan tubuhnya dan bergulingan, tidak berani mengambil risiko karena jurus itu memang berbahaya, dapat berkembang dan menyusul dengan jurus berikutnya.
Mu Ba serta yang lain dengan cepat mengikuti jejak Panglima Ok, bergulingan melemparkan tubuh mereka demi menjauhi Kun Houw.
Namun, Kun Houw tidak melepaskan kesempatan bagus ini. Dengan putaran pedangnya, tiba-tiba ia mengejar Bi Hwa yang saat itu tidak mengira Kun Houw akan mengincar dirinya.
"Cici, awas...!"
Bi Hwa terkesiap. Jantungnya mencelos melihat Kun Houw menusuk dadanya dengan kecepatan kilat, tahu-tahu telah berada dekat dengannya sementara ia sendiri masih bergulingan.
Namun, Bi Hwa yang bergerak secara otomatis menangkis dengan gelangnya yang tinggal sebuah, tiba-tiba terkejut dan sadar bahwa perbuatannya itu keliru. Tidak mungkin gelangnya mampu menghadapi Pedang Medali Naga yang luar biasa tajam.
Ketika gelangnya benar-benar putus dibabat pedang, Bi Hwa berteriak kaget. Tiba-tiba pedang di tangan Kun Houw bergerak terus menusuk lehernya.
*"Crep!"*
Bi Hwa mendelik. Saat itu Ok-ciangkun ataupun yang lainnya tidak mungkin menolongnya. Masing-masing telah melemparkan tubuh berpencar untuk menyelamatkan diri.
Bi Hwa yang merasa lehernya dingin ditembus pedang tiba-tiba sadar bahwa dia terluka. Setelah Kun Houw mencabut pedangnya, ia merasa lehernya sakit lalu roboh terjerembab, tidak dapat mengeluarkan suara dan saat itu juga kehilangan kesadarannya karena nyawa telah melayang bagai di alam mimpi!
Bi Kwi dan Bi Gwat yang kaget melihat saudara mereka tewas tiba-tiba menjerit dan hampir bersamaan melemparkan gelang mereka.
"Kun Houw, kau jahanam keparat...!"
Namun, inilah yang ditunggu. Kun Houw justru merasa kebetulan kedua wanita itu menubruknya karena gelap mata melihat kematian saudara mereka.
Kun Houw yang membalikkan tubuh sambil mengayunkan pedang tiba-tiba membabat gelang yang disambitkan kepadanya itu.
*"Crass! Cres!"*
Kedua gelang itu putus. Pedang Medali Naga seolah-olah hanya membacok agar-agar saja, berkelebat dan terus menyambut ketika Bi Kwi dan kakaknya menghantam dengan gelang satunya lagi sambil mendelik penuh kemarahan kepada Kun Houw.
Namun, Kun Houw yang mendengus menyilangkan pedang tiba-tiba menangkis dari kiri ke kanan.
"Bi Kwi, awas...!"
Namun semuanya terlambat. Kedua wanita ini telah kehilangan kontrol diri melihat kematian saudara mereka.