Chapter 225
Seolah kemasukan setan, mereka tidak peduli lagi pada bahaya demi melampiaskan kemarahan.
Begitu pedang menangkis dan gelang kembali putus dibabat, tiba-tiba Pedang Medali Naga menukik turun menyambar perut mereka.
"Bles! Bles!" Bi Kwi dan kakaknya terjengkang.
Mereka baru menyadarinya setelah semuanya terlambat. Tusukan pedang itu mengenai perut hingga tembus ke punggung. Dan ketika Kun Houw melayangkan tendangan, kedua wanita itu mencelat terlempar. Hampir secara bersamaan, Bi Kwi dan kakaknya tewas tumpang-tindih.
"Bluk!" Ok-ciangkun dan yang lainnya terbelalak. Mereka kaget bukan main melihat kematian Bi Kwi bersaudara.
Sangat mengejutkan melihat betapa hanya dalam satu gebrakan yang luar biasa cepat, Kun Houw telah membunuh ketiga lawannya itu.
Ok-ciangkun yang menggereng langsung melompat maju. Tiba-tiba ia melengking membentak gusar, "Kun Houw, kau jahanam keparat!"
Kun Houw mengejek. Dia menyambut pedang panglima ini dengan Pedang Medali Naga. Terdengar dentangan nyaring saat pedang panglima itu patah. Ketika Ok-ciangkun mendelik dan mengayunkan tangan kirinya, Kun Houw segera meneruskan serangan dengan membacok pundak sang panglima.
"Tak!"
Kun Houw terkejut. Dia melihat pedangnya melekat di pundak lawannya tanpa luka sedikit pun. Baru kali ini senjatanya tidak dapat melukai lawan. Ia segera teringat bahwa panglima itu mengenakan Baju Sutera Langit.
Saat Kun Houw tertegun, Ok-ciangkun menghantamkan pukulan dahsyat dengan tangan kirinya, langsung menggempur dada pemuda itu.
"Des!" Kun Houw mencelat jauh.
Pemuda itu terlempar dan bergulingan dengan wajah kaget. Ia melihat lawan mengejarnya sambil melepaskan pukulan Gin-kong-jiu yang dahsyat, disusul timpukan pedang buntung yang ada di tangannya. Namun, Kun Houw yang membentak dan melompat bangun langsung menyambut serangan itu dengan Pedang Medali Naga.
"Crang! Plak! Des!"
Kun Houw masih terhuyung. Dadanya terasa sesak, nyeri, dan sakit akibat pukulan dahsyat panglima itu. Namun, Ok-ciangkun sendiri yang juga terpental oleh tangkisan tadi segera berseru kepada Mu Ba dan Hun Kiat, "Mu Ba, serang dia! Keroyok lagi!"
Namun, Mu Ba terlanjur gentar. Raksasa ini terbelalak menyaksikan kematian Bi Kwi bersaudara, lalu berkedip-kedip memandang muridnya. Hun Kiat yang juga melihat semua itu dengan gelisah tiba-tiba membalikkan badan, menyambar lengan gurunya, dan melarikan diri memasuki Lembah Hwee-seng-kok!
"Ok-ciangkun, maaf. Kami masih sayang pada nyawa kami!"
Ok-ciangkun terbelalak. Dia melihat guru dan murid itu memasuki lembah. Mu Ba berlari di belakang muridnya dengan wajah gemetaran.
Kun Houw tidak tinggal diam. Sambil melemparkan pedangnya, dia berkelebat mengejar dengan seruan keras, "Mu Ba, jangan lari!"
Mu Ba terkejut. Mendengar desiran angin di belakang punggungnya dan melihat bayangan Kun Houw berkelebat mengejar, raksasa yang gugup itu langsung membalikkan tubuh dan menangkis menggunakan putaran tengkorak bayinya. Dia tidak tahu bahwa yang menyambar itu adalah Pedang Medali Naga, dan tidak menyangka Kun Houw akan melepaskan senjatanya. Begitu tali gantungan tengkorak itu putus dan pedang terus meluncur deras, tiba-tiba raksasa itu menjerit lalu terjungkal roboh.
"Crat!" Mu Ba meraung.
Raksasa itu mendelik sambil mendekap dadanya. Ia terjerembab, terguling dengan mata melotot lebar, lalu berteriak kepada Hun Kiat agar muridnya itu berbalik menyambarnya pergi. Namun, Hun Kiat yang ketakutan melihat suhunya roboh justru mempercepat larinya sekencang mungkin.
Tak ayal, raksasa itu menggereng parau dan mulai memaki. Tiba-tiba Ok-ciangkun berkelebat di depannya dan menghantam kepala iblis tinggi besar itu.
"Mu Ba, kau pengecut hina! Prak!"
Mu Ba menjerit. Raksasa itu menggelepar lalu tewas seketika dengan kepala pecah hingga otaknya berhamburan. Pedang Medali Naga itu pun langsung dicabut dan dirampas oleh sang panglima!
Kun Houw dan orang-orang lainnya terbelalak kaget. Mereka sama sekali tidak menyangka kejadian itu. Tiba-tiba terdengar panglima itu tertawa terbahak-bahak dengan suara yang menyeramkan.
"Ha-ha-ha! Kini Pedang Medali Naga ada di tanganku, Kun Houw. Kau tidak bisa berbuat apa-apa lagi tanpa pedang ini!"
Kun Houw membelalakkan mata. Dia tadi sempat termangu melihat panglima itu membunuh kawannya sendiri, meskipun akhirnya Mu Ba memang akan tewas oleh lemparan pedangnya. Melihat panglima itu tertawa lebar sambil memutar-mutar pedang pusakanya, Kun Houw tertegun dengan wajah pucat.
Pada saat itu, Liong Han berkelebat ke depan Kun Houw, disusul oleh Pek Hong, Ceng Bi, Sin Hong, dan Bi Lan. Mereka terkejut melihat panglima itu menghampiri Kun Houw dengan langkah perlahan satu demi satu sambil tertawa buas dan menyeramkan.
Pendekar Gurun Neraka sendiri, yang ikut terkejut melihat perubahan situasi ini, tidak dapat menahan diri untuk berkelebat maju melindungi Kun Houw!
"Ok-ciangkun, kau tidak boleh berbuat curang!"
Panglima itu terbahak. "Berbuat curang bagaimana, Pendekar Gurun Neraka? Bukankah sekarang kami berhadapan satu lawan satu?"
"Tapi kau mengambil pedang yang bukan milikmu. Itu pedang Kun Houw!"
"He-he-he, itu kesalahan Kun Houw sendiri, Pendekar Gurun Neraka. Kenapa dia bertindak bodoh dengan melemparkan senjatanya? Aku tidak mau tahu. Ayo kalian minggir, biarkan aku membunuh bocah itu!"
Pendekar Gurun Neraka dan anak istrinya pucat. Mereka melihat panglima itu memandang dengan beringas, maju selangkah demi selangkah sambil menggerak-gerakkan pedang hingga mendengung nyaring.
Ketika Pendekar Gurun Neraka dan yang lainnya tetap bersikeras melindungi Kun Houw, panglima itu menggeram dengan mata berkilat-kilat, "Kalian mau mengeroyokku, Pendekar Gurun Neraka? Apakah kau dan anak istrimu ingin menjilat serta menelan ludah sendiri?"
Pendekar Gurun Neraka mengernyitkan kening. Dia sangat cemas melihat panglima itu memegang Pedang Medali Naga, terlebih lagi karena ia mengenakan Baju Sutera Langit yang membuatnya kebal—bagaikan harimau yang tumbuh sayap. Hal ini tentu akan membuat keadaan menjadi sangat runyam!
Namun, Kun Houw melompat ke depan menyibak mereka semua. Ia berseru dengan gagah dan kepala tegak, "Ayah, biarlah kalian minggir. Biar kuhadapi lawan ini sendiri. Dia benar, kalian tidak boleh menjilat ludah dan menarik kembali janji!"
"Tapi dia memegang pedangmu, Kun Houw!" Pendekar Gurun Neraka terbelalak. "Panglima itu sangat licik dan curang!"
"Tidak apa-apa. Aku akan berusaha merampasnya kembali, Ayah. Kalian minggirlah!"
Pendekar Gurun Neraka bingung. Hatinya terasa berat dan sangat marah kepada panglima yang curang ini, melihat Kun Houw harus menghadapi bahaya besar sementara senjatanya berada di tangan musuh. Namun, desakan Kun Houw akhirnya disambut dengan helaan napas berat dari sang pendekar beserta anak istrinya.
"Baiklah, tapi hati-hati, Houw-ji. Gunakan pedang ibumu untuk menghadapi lawanmu!" Pendekar Gurun Neraka memberi isyarat kepada Ceng Bi untuk menyerahkan pedangnya kepada Kun Houw.
Ceng Bi mencabut pedangnya dengan tangan gemetar seraya terisak menahan rasa khawatir, "Kun Houw, balaskan sakit hati kami semua. Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena panglima itu telah mengikat kami dengan janji!"
Kun Houw terharu. Dia menerima pedang itu lalu mencium senjata ibu tirinya—ibu yang dahulu paling membenci dan selalu memusuhinya karena khawatir ia akan tumbuh menjadi jahat seperti mendiang ibu kandungnya, Tok-sim Sian-li.
Dengan mata berkaca-kaca melihat kebaikan ibu tirinya, Kun Houw mengangguk dan berkata dengan suara serak, "Baiklah, akan kuusahakan, Ibu. Tolong doakan agar aku bisa mengalahkan musuh ini."
Kun Houw membalikkan badan, kini sepenuhnya berhadapan dengan panglima itu.
Tiba-tiba Liong Han berseru nyaring sambil memasang kuda-kuda di samping Kun Houw, "Jangan khawatir, aku akan membantumu, Kun Houw! Panglima ini juga musuhku, dan aku tidak terikat janji apa pun. Kita hadapi dia bersama-sama!"
Kun Houw terkejut. "Jangan, kau mundurlah, Liong Han. Aku belum kalah. Kau berjaga-jaga saja di belakang!"
Liong Han tidak puas. "Tapi musuhmu menggunakan pedang pusaka, Kun Houw! Lagipula dia masih mengenakan Baju Sutera Langit!"
"Tidak apa-apa, aku akan merebutnya kembali. Mundurlah, biar kuselesaikan urusan ini satu lawan satu!"
Liong Han tertegun kagum melihat kegagahan, keberanian, dan ketetapan hati Kun Houw yang luar biasa. Namun, saat dia masih ragu untuk mundur, tiba-tiba terdengar desiran angin disusul kibasan ujung jubah. Dua bayangan muncul dengan sangat cepat bagaikan hantu.
"Omitohud, apa yang dikatakan Kun Houw itu benar, Liong Han. Mundurlah, biarkan urusan ini diselesaikan satu lawan satu!"
Semua orang terkejut. Pendekar Gurun Neraka dan anak istrinya membalikkan badan, terbelalak melihat kedua bayangan yang baru muncul di belakang mereka. Namun, begitu mengenali siapa yang datang, Liong Han dan Pendekar Gurun Neraka langsung berseru hampir bersamaan.
Liong Han segera menjatuhkan diri dan berlutut, "Suhu!"
"Pek-Kut Hwesio!" seru yang lainnya terkejut.
Ok-ciangkun sendiri tersentak kaget melihat kemunculan pendeta sakti dari Gobi ini. Namun, begitu melihat orang kedua yang berdiri di sebelah kiri pendeta sakti itu, Ok-ciangkun seketika menggigil dan berseru dengan suara gemetar, "Pek Lian Nikouw!"
Semua orang heran. Mereka melihat panglima yang tadinya begitu beringas sekonyong-konyong pucat pasi dan tampak sangat gelisah menghadapi orang kedua ini.
Pek Lian Nikouw adalah seorang biksu wanita yang dahulu tinggal di lereng Pegunungan Beng-san. Pendekar Gurun Neraka dan kedua istrinya mengenal beliau sebagai sosok yang lemah lembut dan baik hati, bahkan yang dahulu mengesahkan pernikahan mereka.
Pendekar Gurun Neraka dan yang lainnya tentu saja heran dengan kehadiran biksu wanita ini. Tiba-tiba mereka mendengar Ok-ciangkun berseru sambil melotot memandang wanita tua itu, "Pek Lian Nikouw, apa maumu datang ke mari?"
Pek Lian Nikouw mengibaskan jubahnya lalu tersenyum lembut, "Omitohud, Pin-ni datang untuk menyadarkan dirimu, Ciangkun. Pin-ni mendengar bahwa kau telah melanggar batas perjanjian."
"Keparat! Kau ingin mencampuri urusanku, Pek Lian Nikouw? Kau ingin menghukumku karena kau anggap berdosa?"
"Tidak, Pin-ni tidak pantas menghukum siapa pun, Ciangkun."