Chapter 226
"Yang pantas menghukum adalah Buddha. Pin-ni datang hanya untuk membawamu ke jalan yang benar."
"Kau telah melanggar janjimu!" Ok Ciangkun tiba-tiba menggeram. "Dan kau, apa maksudmu ke sini, Pek Kut Hosiang? Kau juga akan membantu sumoi-mu?"
"Omitohud!" Pek Kut Hosiang juga mengebutkan jubahnya. "Pinceng tidak membantu siapa-siapa, Ciangkun. Pinceng telah tua dan tidak mungkin mengganggu dirimu. Pinceng datang karena melihat murid pinceng di sini dan atas permintaan Pek Lian Sumoi!"
"Hmm...!" Ok Ciangkun menggigil. Ia menggerakkan pedang, memandang Pendekar Gurun Neraka dan yang lainnya. "Kau juga merasa kebetulan melihat kehadiran hwesio ini, Pendekar Gurun Neraka? Kalian semua ingin bersatu menghancurkan aku?"
Ketika Pendekar Gurun Neraka tidak menjawab, tiba-tiba panglima ini tertawa menghadapi Pek Lian Nikouw.
"Nikouw tua, aku tidak punya waktu untuk melayanimu kali ini. Pergilah dulu, biar besok aku bertobat!"
Pek Lian Nikouw menghela napas. "Kau masih juga mau meneruskan pelanggaran dan menambah dosa, Ciangkun?"
"Tidak perlu banyak cakap. Pergilah, Pek Lian Nikouw! Aku hanya menambah dosa kali ini saja. Besok aku sudah bertobat!"
"Hmm..." Pek Lian Nikouw mengerutkan keningnya. "Kalau begitu, kembalikan Pedang Medali Naga, Ciangkun. Pin-ni sesungguhnya lebih berhak atas pedang itu dibanding kau."
"Tidak!" Ok Ciangkun beringas. "Aku ingin membunuh pemuda itu, Pek Lian Nikouw. Dia telah menghancurkan segala yang kumiliki!"
"Kalau begitu, ingatlah kutukan mendiang istrimu, Ciangkun. Pin-ni khawatir kau terkena tuahnya!"
"Keparat!" Panglima itu marah. "Jangan sebut-sebut lagi namanya, nikouw tua! Aku yang berbuat, aku sendiri yang akan bertanggung jawab. Minggirlah!"
Pek Lian Nikouw minggir. Pendeta wanita ini memejamkan mata, wajahnya tampak teriris. Ia menggigit bibir, rupanya merasa nyeri oleh sikap dan kata-kata Ok Ciangkun yang kasar. Namun, ketika nikouw ini membuka matanya dan memandang Kun Houw dengan mulut berkemak-kemik, tiba-tiba Kun Houw terkejut mendengar nikouw tua itu bertanya kepadanya menggunakan ilmu mengirim suara dari jauh.
"Sicu, kaukah yang dulu menemukan medali naga?"
Kun Houw mengangguk, lalu mengerahkan pula ilmunya mengirim suara dari jauh. "Ya, ada apakah, Su-kouw?"
"Dan benda itu masih kau simpan?"
"Ada padaku, Su-kouw. Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Pedang Medali Naga akan tumpul bila kau menggunakan medalimu itu, Sicu. Keluarkan dan pergunakanlah bila perlu!"
Kun Houw tertegun. Ia melihat nikouw itu berhenti bicara, mundur, dan berdiri di samping Pek Kut Hosiang dengan mata terpejam kembali, tampak tenang dan tersenyum sekilas kepadanya.
Kun Houw yang tentu saja bingung mendengar ini, tiba-tiba melihat Ok Ciangkun menggerung dan maju dengan muka merah padam.
"Kun Houw, majulah jika kau tidak ingin berlindung di belakang orang-orang tua seperti anak kecil. Aku siap membunuhmu!"
Kun Houw tersadar. Sekarang ia tampak gembira memandang lawannya, lalu melintangkan pedang di depan dadanya dengan sangat gagah.
"Ok Ciangkun, aku tidak akan bersembunyi di belakang orang-orang tua. Aku siap menghadapimu jika kau mampu!"
"Tentu saja mampu!" Ok Ciangkun mendengus. "Aku memiliki pedang pusaka yang ampuh ini, Kun Houw, dan aku mengenakan jubah pusaka yang kebal senjata."
Ok Ciangkun berdiri tegak memandang penuh kebencian pada pemuda itu. Tiba-tiba ia membentak dan menubruk dengan serangan yang sangat dahsyat, disertai tusukan cepat, kemudian membacok dan menikam ke arah dada. Kun Houw mengelak, melompat ke sana kemari karena serangan lawan memang ganas dan tidak mengenal ampun.
Ketika Ok Ciangkun melompat dan memutar tubuhnya dengan kelebatan yang cepat, tiba-tiba panglima ini mengeluarkan ilmu pedangnya, *Jeng-ging Toat-beng Kiam-sut*.
"Kun Houw, kau akan mati oleh pedang pusakamu sendiri!"
Kun Houw terbelalak. Ia mendengar desing mengerikan dari pedang di tangan panglima itu. Pedang Medali Naga yang tajam dan ampuh—pedang yang kini tidak mengenalnya lagi sebagai tuannya.
Kun Houw membentak menyambut terjangan lawan. Tiba-tiba ia juga mengerahkan *ginkang* dan lenyap mengikuti gerakan panglima itu. Sebentar saja ia memainkan *Bu-tiong Kiam-sut* untuk melindungi diri. Bukan untuk mengadu senjata, melainkan beradu kecepatan dan ketangkasan. Mereka saling tusuk dan tikam dengan sangat gencar. Namun, karena Kun Houw sangat berhati-hati dan setiap serangan lawan selalu dikelit atau dielak dengan mundur—sementara serangannya sendiri selalu membal saat membentur baju kebal panglima itu—akhirnya beberapa jurus kemudian Kun Houw terdesak!
"Ha-ha! Kau akan mampus, Kun Houw! Kau akan mampus di tanganku!"
Kun Houw menggigit bibir. Ia melihat pedang di tangan panglima itu memang mendesaknya, bukan karena tekniknya lebih hebat, melainkan semata-mata karena senjata lawan lebih ampuh, sementara ia tidak berani mengadu senjatanya. Ia maklum bahwa pedang di tangannya tentu akan putus jika berbenturan dengan Pedang Medali Naga.
Saat Kun Houw mundur-mundur dengan mata membelalak, tiba-tiba terdengar seruan ibu tiri nomor duanya, Ceng Bi.
"Kun Houw, serang bagian bawah atau atas panglima itu! Jangan perut atau dadanya!"
Kun Houw mengangguk. Sebenarnya ia juga tahu hal itu. Ia paham bahwa bagian tengah tubuh panglima ini tidak mungkin dibacok atau ditikam karena terlindung oleh Baju Sutera Langit yang dikenakannya. Jadi, bagian lemahnya adalah leher ke atas atau pinggang ke bawah. Namun, karena panglima itu selalu memutar pedang dan pasti akan menangkis jika ia menyerang bagian-bagian ini, Kun Houw menjadi ragu-ragu.
Ok Ciangkun tertawa bergelak. "Ha-ha! Boleh kau coba nasihat bagus itu, Kun Houw. Mungkin kau beruntung!"
Kun Houw menggigit bibir. Ia tahu panglima ini sedang mengejeknya. Hatinya terasa panas dan marah.
Ketika panglima itu terus mendesak dan Kun Houw semakin terpojok, tiba-tiba Pedang Medali Naga menyambar lehernya dari kiri ke kanan.
"Sing..."
Kun Houw mengeluarkan keringat dingin. Ia merasakan mata pedang hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari kulit lehernya saat ia mengelak. Tiba-tiba lawan membalikkan serangan dan kini menusuk dengan arah melingkar dari bawah ke atas. Serangan dari panglima itu sangat ganas dan hampir melukainya.
Kun Houw melompat tinggi. Saat hendak menangkis, tiba-tiba ia dikejutkan oleh teriakan panglima itu yang juga melompat tinggi untuk menghantam dirinya di udara!
"Kun Houw, kini kau akan mampus!"
Kun Houw terkejut bukan main. Hatinya mencelos melihat panglima yang ganas ini. Melihat Pedang Medali Naga menyambar, ia mengelak sambil menangkis. Kun Houw yang melayang turun terus membentak, lalu terpaksa membabat untuk melawan pedang di tangan lawannya itu.
"Crang!"
Pedang Kun Houw langsung buntung.
Kun Houw terkejut, berseru keras, dan langsung melemparkan tubuhnya bergulingan ketika panglima itu ikut melayang turun mengejarnya sambil tertawa bergelak, menggerakkan pedang dan menyilangkannya di depan dada.
Ketika Kun Houw kalah cepat, Pedang Medali Naga menggores pahanya. Pemuda itu merasakan kakinya terluka.
"Crat!"
Semua orang terkejut. Mereka melihat Kun Houw melompat bangun dengan kaki terluka, mendesis menahan sakit karena pahanya berdarah, merobek pipa celana yang mengganggu gerakannya.
Ketika Ok Ciangkun tertawa beringas dan kembali menyererang dengan tusukan ke dada, untuk kedua kalinya Kun Houw terpaksa menangkis dengan pedang buntungnya karena tidak sempat mengelak.
"Cass!"
Pedang itu kini tinggal gagangnya saja.
Kun Houw menggigit bibir, melemparkan gagang pedangnya, lalu melompat dan bergulingan kembali ketika pundaknya terluka. Ok Ciangkun terbahak-bahak melihat pemuda itu terdesak.
Tiba-tiba Kun Houw disadarkan oleh seruan Pek Lian Nikouw yang lirih, yang dikirimkan menggunakan ilmu mengirim suara dari jauh.
"Sicu, lekas cabut medali nagamu! Itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirimu!"
Kun Houw tersadar. Ia tiba-tiba teringat akan hal ini. Ia tidak tahu bahwa Liong Han diam-diam sudah bersiap-siap maju membantu dengan wajah pucat melihat dirinya terdesak oleh panglima itu.
Ketika Pedang Medali Naga menyambar dan menusuk ke arah tenggorokannya, secara untung-untungan Kun Houw mencabut medali naganya dan menangkis pedang di tangan lawan dengan benda yang hanya sekepal itu.
"Tak!"
Kun Houw dan Ok Ciangkun sama-sama terkejut. Kun Houw kaget karena ia merasa ujung pedang yang hampir menusuk tenggorokannya tertahan, lalu tiba-tiba lekat pada medali di tangannya. Kedua benda itu seolah saling menyedot, membuat Kun Houw membelalakkan mata. Entah mengapa, medali di tangannya tiba-tiba terasa seperti magnet.
Ok Ciangkun yang tentu saja kaget karena pedangnya membentur benda aneh di tangan Kun Houw hingga tersedot, tiba-tiba membentak dan menarik lepas pedangnya. Ia kembali membacok dan kali ini menusuk perut Kun Houw.
Namun, ketika lagi-lagi Kun Houw menggerakkan medalinya dan menaruh benda itu di depan perut sehingga Pedang Medali Naga tertahan seolah tertolak, Ok Ciangkun marah-marah sambil menghentakkan kakinya.
"Kun Houw, kau siluman keparat! Kau menggunakan benda setan!"
Kun Houw girang. Sekarang ia dapat tertawa dan memercayai ucapan nikouw tua itu setelah melihat Pedang Medali Naga tidak dapat membelah atau merusak medali naga di tangannya. Kedua benda itu tampak saling menolak atau menyedot, seolah-olah dua kawan lama yang tidak mau diadu.
Kun Houw yang tentu saja gembira melihat kejadian ini menjadi besar hati dan berani menangkis pedang di tangan lawannya dengan medali naga!
"Ok Ciangkun, ini bukan benda setan. Ini adalah medali naga yang merupakan pasangan dari Pedang Medali Naga!"
Ok Ciangkun terbelalak. Ia melihat benda itu ternyata memang benar medali naga—benda kecil yang tampaknya sepele, tetapi tiba-tiba mengeluarkan sinar keemasan yang menyilaukan mata.
Ketika Kun Houw kembali menangkis dan pedang di tangan lawan menyambar leher pemuda itu, tiba-tiba secara mengejutkan medali dan pedang tersebut berbenturan keras hingga meledak bagai petir di angkasa. Benturan dahsyat itu membuat masing-masing dari mereka menjerit.