Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 227

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 227

Tar...! Kun Houw dan Ok-ciangkun terkejut.

Masing-masing melepas benda di tangannya itu, merasa tangan seakan terbakar dan hangus bagai disambar petir.

Dan Ok-ciangkun yang menjerit melompat mundur diikuti Kun Houw yang juga mendesis menahan sakit tiba-tiba melihat dua benda yang meledak bagai halilintar itu mencelat dan terbang jauh di atas pohon.

"Krep!" Keduanya terbelalak.

Baik Kun Houw maupun lawannya tidak tahu apa yang menjadikan itu semua.

Mengapa medali dan Pedang Medali Naga meledak dan kini menancap di atas pohon dalam keadaan terjepit, mengeluarkan uap panas yang tiba-tiba membuat pohon itu kering dan mati.

Sebentar saja layu dan roboh di tanah, mengeluarkan suara hiruk-pikuk mengejutkan semua orang!

Tapi Ok-ciangkun yang melompat menyerbu ke depan tiba-tiba melengking menyambar pedang yang kini roboh terhalang daun-daun yang kuning memucat itu.

"Kun Houw, Pedang dan medali kini milikku...!" Kun Houw terkejut, dia terang kaget melihat panglima itu berkelebat menyambar Pedang Medali Naga, juga medali kecil yang tertindih di bawah Pedang Medali Naga.

Tapi Kun Houw yang tidak mau dicurangi lagi dan juga melompat ke depan tiba-tiba melepas pukulan menghantam panglima itu, membentak marah, "Ok-ciangkun, kau robohlah...!" Panglima she Ok mengumpat. Dia hampir menyentuh dua benda itu ketika pukulan Kun Houw datang.

Maka menggeram memutar tubuh, terpaksa dia menyambut pukulan ini dan memaki Kun Houw.

"Dess!" Ok-ciangkun mencelat.

Dia menghadapi tenaga Jing Liong Sin-kang yang amat dahsyat dari pemuda itu, terlempar dan terguling-guling melompat bangun.

Dan Kun Houw yang ganti menyambar Pedang Medali Naga dan kini menggigil menghadapinya dengan muka merah tiba-tiba membuat panglima itu gentar dan pucat mukanya, berteriak parau, "Kun Houw, kau tidak jantan...!" Kun Houw menggeram.

"Mengapa?" "Kau memegang senjata, sedangkan aku tidak!" Kun Houw terkejut.

Tapi Bi Lan dan Liong Han yang terlanjur benci pada panglima itu sudah berteriak, "Jangan hiraukan kata-katanya, Houw-ko.

Dia tadi juga mencurangi dirimu dengan perbuatan hina.

Serang dan bunuh saja panglima itu...!" "Benar, lawanmu tidak perlu diampuni lagi, Kun Houw.

Jangan hiraukan kata-katanya dan bunuh saja dia...."

Kun Houw tertegun.

Dia terpukul juga oleh seruan lawannya itu yang menyinggung kegagahan, melihat lawan memang tidak bersenjata lagi sedangkan dia memegang Pedang Medali Naga.

Tapi Ceng Bi yang menyambung seruan Bi Lan dengan suara marah berkata padanya, "Tidak perlu ragu.

Lawanmu juga memiliki baju pusaka, Kun Houw.

Kalian sama-sama memiliki senjata pusaka!" Ok-ciangkun terkejut.

"Tapi baju pusakaku bersifat melindungi diri, Kun Houw.

Sedangkan senjata di tanganmu bersifat menyerang.

Kau akan memperoleh kemenangan tidak jantan jika kau mengalahkan aku!" Kun Houw tertegun.

Kata-kata ini membuat dia tercambuk, dan marah memandang panglima itu. Kun Houw menggeram melangkah maju.

"Jadi apa maumu, Ok-ciangkun? Kau menyerah dan minta ampun?" "Tidak," Ok-ciangkun juga marah, nekat karena harga dirinya tersinggung.

"Aku tidak akan minta ampun, Kun Houw.

Tapi mengajakmu bertempur secara adil!" "Maksudmu?" Panglima ini memainkan matanya.

Dia tiba-tiba tersenyum dengan tawa yang aneh, tampak cerdik memandang lawan.

Sikap yang bagi Pendekar Gurun Neraka amat berbahaya dan cermat memandang Kun Houw.

Dan ketika panglima ini melompat maju mengibaskan baju Thian-bian-ih-nya tiba-tiba panglima ini berkata, "Kita bertempur dengan tangan kosong, Kun Houw.

Aku membuang baju pusakaku dan kau membuang pedang pusakamu itu!" Kun Houw terkejut.

Dia melihat panglima itu telah melempar baju pusakanya, memasang kuda-kuda menghadapi dirinya, tersenyum mengejek.

Senyum yang menyakitkan dan membuat dia merasa tertantang.

Dan Kun Houw yang menggeram menganggukkan kepalanya tiba-tiba juga melempar Pedang Medali Naganya itu yang menancap tembus di dalam tanah!

"Boleh, permintaanmu cukup adil, Ok-ciangkun.

Aku menerima tantanganmu!" Ok-ciangkun tertawa bergelak.

Dia merasa pancingannya berhasil, membuat lawan terbakar dan mau diajak bertangan kosong.

Hal yang baginya jauh lebih baik daripada Kun Houw memegang senjatanya.

Maklum, keahlian Kun Houw memang menggunakan pedangnya daripada bertangan kosong.

Dan Pendekar Gurun Neraka serta anak istrinya yang melihat Kun Houw menerima tantangan tiba-tiba cemas dan tegang bukan main.

"Kun Houw, lawanmu licik.

Kau ditipu...!" Kun Houw menggeleng.

"Tidak, aku tidak melihat lawanku menipu, Ibu.

Aku merasa ini memang adil." "Tapi kau biasa mempergunakan pedangmu, Kun Houw.

Ok-ciangkun mengajakmu bertempur tangan kosong karena dia tahu kelemahanmu!" Kun Houw menggigit bibir.

Untuk ini memang harus dia akui.

Maklum.

Keterampilannya memang bermain pedang karena gurunya adalah seorang jago pedang yang melatih dia dengan permainan silat pedang.

Namun, karena dia sudah berjanji, dan Ok-ciangkun tertawa bergelak mengejeknya seolah bertanya apakah dia takut, tiba-tiba Kun Houw mengepal tangannya dan berkata tegas.

"Biarlah, aku masih memiliki Kiam-Ciang (Tangan Pedang), Ibu.

Kalau aku kalah biarlah Ok-ciangkun membunuhku karena pertandingan ini memang adil!" Cena Li dan yang lain tidak dapat berkata apa-apa lagi.

Wanita ini terisak, menangis dipeluk suaminya.

Dan Kun Houw yang sudah berhadapan dengan panglima itu menggigit bibir berkata menantang, "Ok-ciangkun.

Majulah...!" Panglima itu terbahak.

Baginya tidak ada jalan keluar selain itu.

Mencoba memperoleh kemenangan dengan pertandingan tanpa senjata.

Dan karena dia mengandalkan ilmu silatnya yang bermacam-macam dan yakin kali ini dia akan menang, mendadak panglima itu berseru keras melakukan pukulan Gin-kong-jiu-nya (Pukulan Sinar Perak).

"Bocah, awas...!" Kun Houw mengelak.

Dia melihat lawan telah menyerangnya dengan pukulan cepat berkelebat dan menghantam dirinya dengan pukulan dingin yang berkilat menyilaukan mata, membentak dan merasa angin dahsyat menerpa mukanya.

Tapi Kun Houw yang mengelak dan kini diserang lagi mendadak melihat panglima itu membalik dan ganti melepas pukulan Im-bian-kun (Pukulan Kapas Dingin).

"Plak!" Kun Houw kali ini menangkis.

Dia mengerahkan sinkang-nya, terkejut melihat pukulan lawan tiba-tiba melentur dan kembali menghantam tubuhnya sedahsyat seperti tenaga tangkisannya tadi, tidak tahu bahwa Im-bian-kun akan mengembalikan tenaga lawan sesuai kekuatan tenaga itu sendiri.

Dan Kun Houw yang tentu saja berteriak kaget karena terpental tiba-tiba roboh dan terjengkang menerima kekuatan tenaganya sendiri yang membalik!

"Bres!" Kun Houw mendengar Ok-ciangkun tertawa bergelak.

Dia melihat bayangan panglima itu mengejar dengan pukulan berikut, bertubi-tubi menyerang dan kini berganti-ganti melepas pukulan.

Sebentar Gin-kong-jiu dan sebentar kemudian Im-bian-kun.

Dan karena Kun Houw masih bingung belum mengetahui permainan lawan, akhirnya Kun Houw jatuh bangun menerima pukulan bertubi-tubi.

Masih kaget mengapa tenaganya selalu membalik bertemu Im-bian-kun, sebentar saja terdesak dan membuat orang-orang yang ada di situ membelalakkan matanya penuh kekhawatiran, melihat pemuda ini tunggang-langgang tapi selalu melompat bangun karena Jing-Liong Sin-kang melindungi tubuhnya, tidak sampai terluka.

Dan Pendekar Gurun Neraka yang tidak tahan melihat putranya menjadi bulan-bulanan pukulan akhirnya mengerahkan Coan-im Jit-bit berseru dari jauh, hanya didengar Kun Houw seorang.

"Houw-ji, jangan tangkis Im-bian-kun itu keras lawan keras.

Terimalah dulu dan baru setelah itu menolaknya dengan keras...!" Kun Houw terkejut.

Dia merasa girang dengan seruan ayahnya ini, mendapat jalan keluar.

Maka ketika Im-bian-kun kembali menghantamnya dan dia menyambut pukulan kapas itu sesuai petunjuk ayahnya tiba-tiba Kun Houw "menyedot" pukulan ini, menerimanya sejenak dan baru setelah itu menolaknya balik ketika pukulan itu melentur, jadi seperti per atau pegas yang kini menghantam panglima itu sendiri.

Dan Ok-ciangkun yang tentu saja kaget melihat Kun Houw mengetahui rahasianya tiba-tiba membentak dan mengeluarkan pukulan lainnya, tidak berani mempergunakan Im-bian-kun!

"Kun Houw, kau siluman cerdik...!" Kun Houw merasa mantap.

Sekarang dia melihat lawannya itu melepas pukulan Tok-hwe-ji, digabung dengan Gin-kong-jiu yang masih dipergunakan panglima itu.

Tapi Kun Houw yang mengenal pukulan ini dan tidak takut pada Tok-hwe-ji lagi karena dia telah kebal menghadapi racunnya akhirnya membuat Ok-ciangkun bingung ketika Kun Houw mulai membalas dengan pukulan-pukulan Tangan Pedangnya, dapat memperbaiki diri dan kini berseru pada panglima itu.

"Ok-ciangkun.

Aku tidak gentar menghadapi semua kepandaianmu...!" Ketika Kun Houw bergerak memutar lengannya yang mengeras seakan pedang, tiba-tiba kedua lengan pemuda itu mendesing-desing dan bercuitan bagai pedang pusaka sendiri!

"Plak-cring!" Ok-ciangkun terkejut.

Dia menangkis dan menyeringai kesakitan ketika lengan Kun Houw bertemu dengan lengannya, seakan bertemu dengan mata pedang yang tajam lagi keras.

Dan ketika Kun Houw membentak dan melengking nyaring, tiba-tiba pemuda itu berkelebatan ganti mendesak panglima ini.

"Plak-dess!" Ok-ciangkun mulai mendapat pukulan.

Dia sekarang terdesak dan menerima Tangan Pedang yang dilancarkan Kun Houw, berkali-kali menyeringai tapi tidak terluka karena Hoat Lekko melindungi dirinya, membuat panglima itu kebal.

Dan Ok-ciangkun yang ganti terdesak namun selalu maju kembali akhirnya membuat pertandingan menjadi seru dan menegangkan juga, melihat Kun Houw berkali-kali mendaratkan Kiam-ciang-nya di tubuh panglima itu tapi tidak dapat melukainya karena Ok-ciangkun memiliki ilmu kebal.

Dan ketika pertandingan berjalan semakin ramai dan dua pihak sama-sama marah, akhirnya Kun Houw menjadi geram dan bingung bagaimana menghancurkan kekebalan lawan yang berbau ilmu hitam itu, melihat uap tipis melindungi tubuh panglima ini dan mendengar lawan terbahak seperti iblis.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment