Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 228

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 228

Dan ketika pertandingan berjalan tak menentu dan Kun Houw bingung menyelesaikan pertempuran, tiba-tiba Pek-kut Hosiang menghampiri Pendekar Gurun Neraka.

"Yap Sicu, kau membawa Sin-ui-tiat (Besi Kuning Sakti)?" "Ada," Pendekar Gurun Neraka mengangguk. "Tapi aku tak dapat mempergunakannya menyerang panglima itu, Lo Suhu. Aku terikat perjanjian dan...."

"Pinceng tahu," Pek-kut Hosiang memotong cepat, tersenyum pahit. "Pinceng akan meminjamnya sebentar, Sicu. Kau tak akan melanggar perjanjian bila pinceng mempergunakan benda itu untuk menolong Kun Houw."

"Ah...!" Pendekar Gurun Neraka tertegun. Dia terbelalak sejenak, mengerutkan keningnya. Tapi girang mengetahui maksud hwesio ini, tiba-tiba Pendekar Gurun Neraka telah mengambil benda itu, selempeng besi yang berkilau keemasan.

Dan begitu Ok Ciangkun melihat dan mendengar percakapan itu, tiba-tiba panglima ini berteriak parau, "Pek-kut Hosiang, kau tak boleh curang membantu Kun Houw. Kami sudah bertempur secara adil!"

"Omitohud, pinceng tak menyerang dirimu, Ciangkun. Pinceng hanya hendak memberikan benda ini kepada Kun Houw...!" Dan begitu Pek-kut Hosiang berseru melempar benda ini kepada Kun Houw, maka secepat itu Kun Houw telah menangkap benda ini, menendang ketika lawan hendak merampas benda itu, tampak ketakutan.

Dan ketika Ok Ciangkun gemetar dan marah-marah memaki lawan, maka Pek-kut Hosiang berbisik mengerahkan ilmunya mengirim suara dari jauh, perbuatan yang hanya dapat dilakukan orang-orang sakti. "Kun Houw, lempar benda itu ke jalan darah di pundak kirinya. Hoat-lek-kim cong-ko akan musnah begitu tersentuh benda ini....!"

Kun Houw mengangguk. Dia sudah menerjang dan menggerakkan Tangan Pedangnya, bertubi-tubi mendesak panglima ini yang sudah kalah pengaruh, pucat memandang benda yang ada di genggaman pemuda itu.

Dan ketika suatu saat Ok Ciangkun menangkis dan panglima ini terhuyung mundur, maka saat itulah Kun Houw menyambit benda di tangannya ke pundak kiri panglima itu.

"Plak!" Ok Ciangkun menjerit. Dia langsung roboh terguling dan mendesis menahan sakit, baju pundaknya terbakar, dan tubuhnya terlempar bergulingan ketika Kun Houw mengejar dengan pukulan susulan, kali ini membacok leher panglima itu dengan Tangan Pedangnya, mendesing dan meledak ketika luput mengenai sasarannya.

Tapi ketika Kun Houw memburu dan panglima itu baru melompat bangun dengan muka berubah, tahu-tahu Tangan Pedang yang menyambar ke dada terpaksa ditangkis panglima itu yang tak sempat menghindar lagi.

"Des...!" Ok Ciangkun terdorong setindak. Panglima ini batuk-batuk, sesak napasnya.

Tapi ketika Kun Houw menyerang dan kembali berkelebat membacok pundaknya, tiba-tiba panglima ini menggeram sambil menggoyang tubuh, lenyap Hoat-lek-kim ciong-konya karena tak dapat mempergunakan ilmu hitamnya itu lagi.

Dan ketika Kun Houw membacok dan dia menyambut beringas, tahu-tahu panglima ini membuka telapak tangannya mengerahkan Ang-in-tok Ciang (Tangan Racun Merah) menangkap tangan Kun Houw.

"Plak!" Kun Houw terbelalak. Dia melihat tangannya ditangkap panglima itu, dicengkeram, merasa kulitnya terbakar oleh uap kemerahan yang muncul dari jari lawan.

Tapi Kun Houw yang membentak mengerahkan Jing-liong Sin-kang-nya, tiba-tiba menggerakkan tangan satunya lagi untuk menampar.

"Plak...!" Panglima Ok kembali menyambut. Kun Houw tergetar dan hampir terdorong, tapi Kun Houw yang mengobarkan semangat menambah tenaganya, tiba-tiba melengking mendorong panglima itu, ditahan dan dilawan oleh Ok Ciangkun yang kini menggigil mengadu tenaga, berkutat mengerahkan sinkang masing-masing. Saling berhadapan dan tidak lagi bergerak, melotot dan dorong-mendorong dengan muka merah.

Tapi ketika Jing-liong Sin-kang mendesak dan naga sakti yang dipunyai Kun Houw ini bangkit menyerbu ke depan, tiba-tiba Ok Ciangkun mengeluh dan mundur setindak, menggigit bibir menahan kuat-kuat, berusaha agar tidak sampai kalah.

Tapi karena Kun Houw mewarisi tenaga sakti itu dari manusia dewa Bu-beng Sian-su yang hebat luar biasa, akhirnya jari kelingking panglima ini patah dalam usahanya mempertahankan diri. "Krek!" Panglima Ok pucat. Dia merasa kesakitan oleh patahnya jari kelingking itu, menggigit bibir hingga pecah berdarah.

Dan ketika Kun Houw mendorong dan mendorong lagi, tiba-tiba semua jari di kedua lengan panglima itu patah tak mampu menahan Jing-liong Sin-kang.

"Krek-krek...!" Kun Houw terbelalak. Dia melihat lawan meraung tinggi, masih nekat dan bertahan dengan jari yang sudah patah-patah. Mengerikan sekali. Mirip iblis yang beringas di ambang maut.

Tapi ketika Kun Houw membentak dan mendorong sekuat tenaga, tiba-tiba panglima itu mencelat dan roboh dengan tulang punggung patah!

"Bres...!" Panglima Ok terguling-guling. Kun Houw melihat lawan tak mampu bangkit lagi, tertekuk dan roboh di atas tanah, mengeluh dan mengeluarkan suara mirip rintihan setan.

Dan Kun Houw yang terhuyung terdorong maju, tiba-tiba mendengar jeritan tinggi, "Ayah...!"

Kun Houw dan semua orang terkejut. Mereka melihat dua bayangan berkelebat menghampiri panglima yang ganas itu, memekik dan menangis menjerit-jerit, menubruk dan memeluk Ok Ciangkun yang masih dapat mengeluarkan suara aneh, setengah mengorok setengah tertawa.

Dan Kun Houw yang tertegun dengan muka berubah, tiba-tiba sadar dan memejamkan mata melihat Kui Lin dan Kui Hoa mengguguk di tubuh yang terkulai itu, meratap dan memanggil-manggil nama ayah mereka.

Tapi ketika Ok Ciangkun terkulai dan Kui Hoa menggerung mengguncang-guncang tubuh ayahnya, tiba-tiba gadis ini berdiri dan melompat beringas menghadapi Kun Houw.

"Kun Houw, kau jahanam keparat! Kau membunuh ayahku...!" Kun Houw gemetar, lelah dalam pertarungan yang sengit itu, tak menjawab dan memejamkan mata kembali melihat kekasihnya menatapnya dengan tegas. Sadar bahwa sekarang ujian terakhir akan dia hadapi.

Dan Kui Lin yang juga menjerit melengking tinggi, tiba-tiba melompat dan marah-marah pula menghadapi Kun Houw. "Kun Houw, kau telah membunuh ayahku, kau berutang satu jiwa...!"

Kun Houw menggigil. Dia tak dapat bicara apa-apa di saat itu, bingung dan tak tahu harus berbuat bagaimana.

Dan Kui Hoa yang mencabut pedang menusuk Kun Houw, tiba-tiba membentak menyerang pemuda itu. "Kun Houw, kau bayar utang jiwamu...!"

Kun Houw terkejut. Dia sudah kehabisan tenaga menghadapi lawan yang hebat itu, terbelalak melihat Kui Hoa menyerangnya dengan sikap beringas. Penuh kebencian dan dendam!

Tapi Kun Houw yang tidak mengelak serangan ini justru mengejutkan ayah dan saudara-saudaranya. "Kun Houw, awas..." Namun Kun Houw diam. Dia mematung seolah orang bingung, tak mengelak dan membiarkan pedang menikam dadanya.

Dan Kui Lin yang juga mencabut pedang membacok lehernya, tiba-tiba melengking menyusul di belakang kakaknya.

"Cring-plak-des!" Gebrakan ini mengejutkan semua orang. Kun Houw tahu-tahu terbanting roboh ketika dua bayangan berkelebat, menangkis serangan kakak beradik Kui Hoa sementara menendang pemuda itu hingga Kun Houw mencelat terguling-guling.

Dan ketika Kui Lin dan kakaknya terpekik karena pedang mereka mencelat terlepas, maka Sin Hong dan ayahnya telah berdiri di situ dengan sikap yang angker. "Nona, kalian tak boleh membunuh Kun Houw. Apa yang terjadi memang harus semestinya terjadi!"

Kui Hoa dan adiknya terbelalak. Mereka melihat Pendekar Gurun Neraka menangkis serangan mereka tadi, karena Sin Hong menyelamatkan Kun Houw dengan tendangannya.

Dan Kui Hoa yang menangis menutupi mukanya, tiba-tiba membalik menyambar mayat ayahnya, menjerit dan lari terbang penuh kecewa. Maklum, tak mungkin membunuh Kun Houw kalau Pendekar Gurun Neraka ada di situ.

Dan Kui Lin yang tertegun melihat kakaknya, tiba-tiba juga mengeluh dan memutar tubuhnya, menangis keluar dari lembah Hwee-seng-kok.

Dan begitu dua kakak beradik itu lenyap di balik pepohonan, maka peristiwa menegangkan itu berakhir sunyi seperti di tengah kuburan. Kun Houw tak berkata apa-apa, melongok dengan pandangan kosong melihat kepergian kekasihnya itu.

Tapi setelah Pendekar Gurun Neraka batuk-batuk dan Pek-kut Hosiang serta Pek Liang Ni-kouw mengibaskan jubah melangkah maju, maka keheningan mencekam ini dipecahkan suara hwesio sakti itu.

"Omitohud, kau telah membebaskan dunia lengan kematian orang-orang sesat ini, Kun Houw. Pinceng tak dapat berkata apa-apa selain prihatin melihat kesedihanmu."

"Ya, dan pin-ni juga berduka melihat tewasnya panglima itu, Kun Houw. Karena betapapun pin-ni tak berhasil menyadarkan dia di saat akhir hidupnya. Semoga Buddha mengampuni dosanya dan memberi jalan terang. Omitohud...!"

Kun Houw menahan air matanya. Dia lagi-lagi membisu oleh semua kata-kata itu, masih teringat kebencian Kui Hoa yang membuat dia tertikam.

Tapi melihat Pedang Medali Naga di atas tanah, tiba-tiba Kun Houw mencabut pedang ini, dihampiri ayahnya yang mengerutkan alis menepuk pundaknya.

"Apa lagi yang hendak kaulakukan, Houw-ji?"

Kun Houw menggigil. "Menyelesaikan musuh terakhir ayah. Aku... aku hendak memasuki Hwee-seng-kok!"

"Kau gila?" Pendekar Gurun Neraka terkejut. "Kau tak boleh melaksanakan niatmu itu, Houw-ji. Hwee-seng-kok amat berbahaya dan beracun bagi orang-orang."

"Tapi Hun Kiat telah memasuki tempat itu, Ayah. Aku ingin membunuh pemuda itu untuk membalas kematian ibuku!"

"Hmm..." Pendekar Gurun Neraka sadar, teringat larinya pemuda itu memasuki Lembah Gema Suara. Tapi menggeleng, mencengkeram pundak puteranya, pendekar ini menjawab, "Tapi pemuda itu memiliki obat penawar racun, Houw-ji. Aku teringat bahwa dia memiliki Mutiara Naga Sakti (Sin Liong Cu). Kau tak boleh masuk ke sana!"

Kun Houw tertegun. Dan Ceng Bi serta Pek Hong yang maju menarik lengannya juga tiba-tiba mendesis.

"Benar, kau tak boleh masuk ke sana, Kun Houw. Apa yang dikatakan ayahmu benar sekali. Sebaiknya kau ikut kami kembali ke Taa-piesan!"

Tapi Kun Houw menggeleng. Dia merasa tugasnya masih sedikit lagi, dan sementara mereka saling berupaya untuk menarik atau menolak, tiba-tiba seorang penunggang kuda muncul mengejutkan mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment