Chapter 229
"Siauhiap, Fan Ciangkun menunggu-nunggumu hari ini juga. Kau diminta datang...!" Kun Houw terkejut.
Dia melihat Thio Ciangkun (Kapten Thio), tangan kanan atau orang kepercayaan Fan Ciangkun yang dulu membantunya di istana, datang berderap dengan kuda mencongklang pesat. Berteriak dari jauh, ia tampak girang bukan main bertemu Kun Houw di tempat itu.
Ia langsung mendekat dan meloncat turun dari atas kudanya terguling-guling menghampiri Kun Houw. Begitu menjatuhkan diri berlutut dengan pakaian kotor dan muka penuh debu, kapten itu segera berseru kembali.
"Siauhiap, Fan Ciangkun minta kehadiranmu hari ini juga. Ada persoalan serius yang ingin diminta bantuanmu!" Kun Houw terkejut.
"Persoalan apa, Ciangkun?"
"Entahlah, yang jelas persoalan pribadi, Siauhiap. Ciangkun meminta agar secepatnya kau ke kota raja menolong dirinya."
"Hmm!" Kun Houw tertegun, bingung memandang Hwee-seng-kok karena dia enggan meninggalkan tempat itu mengingat Hun Kiat ada di sana.
Tapi Liong Han yang maju menghampiri dan rupanya tahu apa yang dipikirkan sahabatnya ini, tiba-tiba berkata, "Kun Houw, urusan musuhmu serahkan saja padaku. Aku akan menangkapnya kalau dia keluar."
"Benar!" Han Ki dan Han Bu tiba-tiba merasa mendapat kesempatan.
"Kami juga dapat menolongmu, Kun Houw. Kami akan menemani Saudara Liong Han menjaga mulut lembah ini. Fan Ciangkun rupanya memerlukan bantuanmu. Amat mendesak. Kau pergilah!" Kun Houw terbelalak.
Dia melihat tiga pemuda itu telah bersatu menyatakan bantuannya. Dan Sin Hong serta Bi Lan yang tiba-tiba juga maju ke depan menawarkan diri, akhirnya menyatakan sanggup menangkap dan menyerahkan Hun Kiat padanya apabila pemuda itu keluar dari lembah, sama-sama bersemangat dan tampak bersatu.
Dan Pendekar Gurun Neraka yang tersenyum dan tertawa pahit, akhirnya berkata kepadanya, "Kau pergilah, Hun Kiat tak mungkin lolos dijaga saudara-saudaramu, Kun Houw. Aku percaya pemuda itu tak dapat melarikan diri biarpun kau telah kembali lagi kemari!" Kun Houw akhirnya mengangguk.
Dia memberi hormat dan siap pergi bersama Thio Ciangkun. Tetapi Pek Liang Nikouw yang maju mengibaskan jubah tiba-tiba berkata kepadanya, "Kau masih ingin membawa Pedang Medali Naga, Sicu? Kau tak menitipkan saja pedang itu kepada Pin-ni?" Kun Houw heran.
"Aku mungkin memerlukannya, Su-kouw. Ada apakah dan kenapa harus kutitipkan?"
"Hm, baiklah. Kalau begitu hati-hati, Sicu. Pin-ni tak berani banyak bicara kalau kau masih ingin membawa pedang itu. Tapi pesan Pin-ni, segera lepaskan pedang itu jika kau ingin selamat!" Kun Houw tak mengerti.
Dia mengangguk dan merasa aneh oleh jawaban Pek Liang Nikouw yang dirasa ganjil ini. Tapi begitu Thio Ciangkun mengajaknya pergi dan pembantu Fan Ciangkun itu tampaknya tergesa-gesa, maka Kun Houw tak mengingat lagi kata-kata Nikouw ini. Dia memberi hormat dan tiba-tiba berkelebat mendahului kapten itu menuju ke kota raja.
Dan begitu Thio Ciangkun terkejut dan mengejar dengan kudanya, Kun Houw telah 'terbang' meninggalkan Hwee-seng-kok menuju ke utara, meninggalkan ayah dan ibunya serta semua orang yang ada di situ.
Dan Pendekar Gurun Neraka sendiri yang melihat semuanya selesai tak ada yang dikerjakan, lalu meninggalkan pula tempat itu setelah Pek Liang Nikouw dan Pek Kut Hosiang berpamitan kepada mereka, pergi entah ke mana. Dia membisikkan sesuatu kepada Liong Han yang disambut anggukan serius pemuda yang lihai ini.
Dan begitu semua orang pergi kecuali Bi Lan dan kawan-kawannya yang menjaga mulut Hwee-seng-kok, maka lembah itu pun sunyi seperti sedia kala.
"Ah, kau datang, Kun Houw?" Kun Houw tertegun.
Dia telah datang hari itu juga di tempat tinggal panglima ini, melihat Fan Ciangkun menyambutnya dengan langkah terseok-seok, tampak gembira, tetapi pucat. Kurus dan tidak merawat kumis dan jenggotnya yang tumbuh tidak teratur. Membuat panglima itu tampak tua seperti kakek-kakek!
Dan Kun Houw tertegun, menjatuhkan diri berlutut lalu mendesah melihat keadaan panglima ini.
"Ya, dan kau benar mengutus Thio Ciangkun untuk memanggilku kemari, Ciangkun?"
"Benar, aku..." panglima ini tiba-tiba menangis. "Aku membutuhkan bantuanmu secepat mungkin, Kun Houw. Aku mengharapkan bantuanmu membujuk Shi Shih!"
"Ah, ada apa dengan Sri Paduka Selir itu, Ciangkun? Apa yang terjadi?" Kun Houw terkejut.
Dan Fan Ciangkun yang menyuruhnya duduk di kursi berhadapan dengan panglima ini lalu melihat panglima itu deras bercucuran air mata. Sejenak tak dapat bicara apa-apa kecuali memejamkan mata, menggigit bibir, tampak dilanda duka yang amat hebat.
Tapi ketika beberapa saat kemudian Fan Ciangkun berhasil menguasai gejolak perasaannya dan panglima ini menggigil membeberkan cerita, maka Kun Houw terhenyak tak mampu mengeluarkan suara. Ternyata Shi Shih menolak cinta panglima itu. Artinya, selir itu tak mau diajak membangun rumah tangga bersama meskipun di dalam hati ia mencintai panglima itu.
Bahkan sebenarnya merupakan kekasih yang cukup banyak berkorban bagi panglima ini. Dan ketika Shi Shih tetap juga menolak sementara Fan Ciangkun menjadi jengkel dan marah, tiba-tiba selir itu mengancam untuk bunuh diri kalau panglima itu tetap mengejar-ngejarnya!
"Demikianlah, aku tak tahu apa yang harus kulakukan, Kun Houw. Tapi teringat dirimu yang dekat dengan kekasihku itu maka kumohon, sudilah kau membantuku. Bujuklah dia dan tanyakan apa sebabnya dia menolak keinginanku. Kenapa cintaku kandas di tengah jalan padahal dulu kau tahu sendiri betapa kami saling mencintai? Bukankah kau dapat menolongku, Kun Houw?" Kun Houw tertegun, tak menjawab.
Tak mengira bahwa persoalan serius yang dimaksudkan panglima itu adalah persoalan cinta. Persoalan yang bersifat pribadi dan tak seharusnya orang lain ikut bicara! Tetapi karena Kun Houw saat itu juga sedang dilanda duka karena hubungannya dengan Kui Hoa berbalik menjadi musuh, maka Kun Houw dapat memahami betapa pedihnya perasaan panglima itu. Betapa hancurnya. Betapa ingin menjerit dan melakukan apa saja demi terwujudnya harapan yang hampa.
Dan Kun Houw yang tertegun melihat panglima itu memintanya untuk membantu persoalan tersebut tiba-tiba menjadi terharu atas kepercayaan yang diberikan. Betapa panglima itu menaruh harapan kepadanya karena dialah orang yang pernah dekat dengan selir itu. Hampir setiap hari bertemu dan bekerja sama ketika mereka masih berjuang di Istana Wu. Hubungan yang membuat mereka akrab seperti kakak-beradik. Atau mungkin lebih dari itu!
Dan Kun Houw yang mengangguk sambil menggigit bibirnya, akhirnya menyanggupkan diri menemui selir itu, mendengarkan keluhan Fan Ciangkun secara lengkap untuk dijadikan bekal membujuk selir itu.
Tapi ketika Kun Houw tiba di sana dan melihat selir itu menangis tersedu-sedu mendengar apa maksud kedatangannya, tiba-tiba Kun Houw dibuat tertegun dan bengong oleh jawaban selir cantik yang tak disangka-sangka itu.
"Kun Houw, kau tahu siapa aku bukan? Kenapa membujukku untuk menikah dengan Fan Ciangkun? Aku baru berkabung untuk kematian suamiku, Kun Houw. Pergi dan katakan kepada panglimamu itu bahwa aku tidak dapat menerima cintanya!" Kun Houw terkejut, "Tapi dulu..."
"Tak perlu membicarakan dulu!" Shi Shih memotong, menangis tersedu-sedu, "Aku telah mengubah jalan pikiranku, Kun Houw. Aku tak akan menikah dengan siapa pun dan tidak akan menerima cinta siapa pun!" Dan Shi Shih yang membanting tubuhnya, menangis di pembaringan lalu tak menghiraukan Kun Houw yang terbelalak memandangnya, tak segera pergi karena selir itu tak mengusirnya.
Tapi ketika Kun Houw mendesak dan pemuda itu bertanya penasaran kenapa Shi Shih balik haluan, tiba-tiba selir itu bangkit berdiri dan memandang Kun Houw dengan kaki gemetar, menggigil seluruh tubuhnya.
"Kun Houw, tak tahukah kau hati seorang wanita? Tak tahukah kau budi Kaisar yang demikian berlimpah kepadaku?" Kun Houw mengangguk.
"Hamba tahu, tapi hamba juga tahu bahwa Paduka mencintai Fan Ciangkun, Paduka Selir. Bahwa kalian sama-sama saling mencintai dan apa yang Paduka lakukan terhadap Kaisar lama adalah sandiwara belaka untuk keberhasilan perjuangan!"
"Benar, tapi tahukah kau apa hasilnya bagiku sendiri, Kun Houw? Tahukah kau betapa berdosanya rasa hatiku itu atas kematian Kaisar? Aku adalah seorang istri, Kun Houw. Aku adalah seorang wanita yang memiliki rasa dan jiwa. Aku berdosa atas kematian suamiku itu!"
"Ah, tetapi Kaisar adalah musuh kita, Paduka Selir. Kematiannya memang kita kehendaki karena dia adalah musuh?"
"Benar, tetapi Kaisar tidak memusuhi aku, Kun Houw. Kaisar mencintai aku dan tetap mencintai aku meskipun tahu aku mengkhianatinya. Dia tidak memusuhi aku dan memaafkan segala perbuatanku karena cintanya!"
"Tapi dia musuh, Paduka Selir. Dia..."
"Dia musuh bagimu dan bagi orang-orang lain, Kun Houw. Tapi bukan bagiku!" Shi Shih memotong sengit. "Kaisar adalah suami dan yang memberikan segala-galanya bagiku. Aku tak dapat melupakan budi baiknya ini dan ingin setia sebagai istri yang baik!" Kun Houw tak mengerti.
Tetapi belum sempat ia mendebat atau bicara apa-apa, Shi Shih sudah melanjutkan dengan suara gemetar, "Kun Houw, sampaikan kepada Fan Ciangkun bahwa aku terpaksa menolak segala keinginannya. Aku adalah manusia biasa. Aku tak dapat melupakan budi baik Kaisar lama yang demikian mencintai aku. Aku menyesal, Kun Houw. Tapi sebagai istri dari suami yang demikian mencintai aku, biarlah aku menunjukkan kesetiaanku meskipun terlambat. Aku... aku memang benar mencintai Fan Ciangkun. Tetapi budi Kaisar yang demikian berlimpah membuatku berat hati terhadap mendiang suamiku, Kun Houw. Katakanlah, Shi Shih sebagai istri tak ingin mengkhianati suaminya!" Kun Houw tertegun.
"Apa yang hendak kau lakukan, Paduka Selir?" Shi Shih merogoh sesuatu, mengeluarkan sepucuk surat.
"Sampaikan ini kepada panglimamu, Kun Houw. Sampaikan maaf dan penyesalanku yang sebesar-besarnya!" Kun Houw menerima, membelalakkan mata.
"Paduka mau ke mana?"
"Aku tak ke mana-mana, Kun Houw. Tapi besok datanglah kemari. Antarkan aku ke Tebing Bidadari!" Kun Houw terkejut.
Dia mendapat firasat tidak enak yang membuat dia mengerutkan alis, tapi Shi Shih yang melambaikan tangan menyuruhnya pergi akhirnya membuat Kun Houw menarik napas meninggalkan kamar selir itu, menemui Fan Ciangkun dan menyerahkan surat yang diterimanya itu.