Chapter 23
Tidakkah kau tahu bahwa Paduka Pangeran menderita sekali dalam cengkeraman lawan? Tidakkah kau lihat kekejaman lawan terhadap kami? Rakyat Yueh menderita sekali, twako.
Mereka diinjak-injak dan dihina harga dirinya!
Cukup, itu urusan orang-orang besar dalam kerajaan, ciangkun. Aku memang tahu bahwa selamanya rakyat kecil jadi korban!
Dan karena itu kau sengaja menutup mata dan telinga?
Apa maksudmu?
Kau tahu rakyat Yueh dijajah negara Wu, twako. Tapi kenapa kau tidak tergugah sedikit pun niatmu untuk membantu kami? Kau boleh benci pada orang-orang besar dalam istana. Kau boleh benci pada Kou Siauw-ong dan raja muda Fu Chai. Tapi kalau kejahatan mulai merajalela, tak seharusnya kau diam saja, twako. Kau harus bergerak dan membantu rakyat kecil!
Hm, aku tak melihat seperti apa yang kau katakan, ciangkun. Aku melihat rakyat Yueh tenang-tenang saja!
Fan Li membanting kaki, mulai marah. Tapi belum dia bicara lagi, tiba-tiba Pek Hong dan Ceng Bi muncul, tersenyum membawa minuman ringan dan makanan kecil. Dan Fan Li yang melihat dua orang istri Pendekar Gurun Neraka itu muncul tiba-tiba melompat bangun, berseru gelisah, "Soso (kakak ipar), tolonglah aku. Suamimu ini benar-benar susah sekali diurus...!"
Pek Hong tertawa kecil. "Ada apa ciangkun? Bukankah kalian sudah sama-sama tahu watak masing-masing?"
Ceng Bi juga tersenyum lebar. "Ya, dan tak perlu mengeluh kalau suami kami keras hati, ciangkun. Tapi ada persoalan, apakah hingga kalian berdua nampak demikian serius?"
Fan Li menjura dalam-dalam, merangkapkan tangan dan bicara sungguh-sungguh, "Yap-hujin, aku minta suamimu untuk memimpin sebuah perkumpulan. Tapi dia menolak. Tolong kau bujuk dia dan berilah penjelasan!"
Ceng Bi mengerutkan alis. "Eh, perkumpulan apa, ciangkun? Siapa yang minta?"
"Paduka Pangeran yang minta, hujin. Kami ingin suamimu itu melindungi kami dengan perkumpulannya ini!"
Hm, tapi kenapa Yap-koko menolak?
Karena ada hubungannya dengan kerajaan, Bi-moi. Kalian tahu bahwa aku tak suka lagi melibatkan diri dengan istana," Pendekar Gurun Neraka menjawab.
Dan Ceng Bi serta Pek Hong yang terbeliak mendengar ini, tiba-tiba sama mengangguk.
"Hm, kalau begitu benar, ciangkun. Kami sependapat dengan suami kami bahwa kami tak ingin melibatkan diri dengan istana. Mereka hanya menjadi pangkal dari perang, dan perang di muka bumi ini!"
Ah, kalian malah menghancurkan harapanku, hujin?
Bukan begitu, ciangkun. Tapi kami sependapat bahwa kami tak mau melibatkan diri dalam keributan lagi. Dan istana adalah pangkal dari keributan manusia yang haus akan kesenangan dan kepuasan!"
Fan Li pucat. "Oh, kalau begini gagal usahaku....!" dia mengeluh.
Kalian tak tahu bahwa keributan bukan milik istana saja, hujin. Tapi bahwa keributan itu milik semua orang! Kalau kalian mengatakan keributan berpangkal dalam istana, maka sama halnya kalian berkata bahwa hanya orang-orang dari istana sajalah yang bisa membuat ribut, menciptakan permusuhan! Inikah yang kalian maksud, hujin?
Fan-ciangkun, kami mempunyai bukti bahwa hal itu memang demikian. Bukankah yang mencelakakan rakyat kecil adalah orang-orang besar yang berdiam di dalam istana itu? Bukankah gara-gara mereka ini lalu mereka saling serang dan melibatkan orang lain? Tidak, ciangkun. Kami setuju dengan suami kami bahwa kami tak mau melibatkan diri dengan kerajaan. Jangan ganggu kami yang telah hidup tenang di gunung ini!
Fan Li menggigil. "Soso..." dia memandang Pek Hong. "Kalau benar istana adalah pangkal dan segala keributan, maka bagaimanakah sikap yang harus kita ambil? Kalau kita tahu bahwa istana adalah biang keladi permusuhan, apakah yang harus kita lakukan? Kita biarkan sajakah mereka itu? Kita biarkan sajakah rakyat kecil yang akhirnya terlibat dan menderita?"
Ciangkun, ke mana maksud katakatamu ini? Apakah kau hendak menjebak kami dalam sebuah perdebatan tiada akhir?
Bukan... bukan begitu, Yap-hujin. Aku pribadi tak dapat mengelak bahwa permusuhan yang besar-besar memang berasal dari istana. Karena di situlah tempat nikmat dan kekuasaan. Tapi kalau ada seseorang yang merajalela dengan kejahatannya dan mencelakakan orang lain, termasuk rakyat banyak, haruskah kita biarkan dia itu dan berpeluk tangan saja? Tidakkah kita harus membasmi orang macam begini?
Pek Hong menangkis duluan, tak mau dijebak panglima ini. Dan Fan Li yang kecewa tapi bersinar matanya itu mendadak memandang Pendekar Gurun Neraka.
Yap twako, kalau kau tahu bahwa di istana sedang ada seorang iblis yang dapat mencelakakan orang banyak, apakah kau juga tetap tak mau melibatkan diri? Artinya, kau berpeluk tangan saja dan diam membiarkan iblis ini melanjutkan perbuatannya yang keji?
Ciangkun, untuk urusan kerajaan biarlah hal itu diselesaikan secara kerajaan pula. Aku tetap tak mau terlibat, karena itu adalah urusan istana yang harus diselesaikan oleh orang-orang istana!
Jadi kalau kau melihat seorang pemimpin bersimaharajalela dengan segala kejahatannya, kau tetap tak mau bergerak, twako? Mengandalkan orang istana seperti kata-katamu ini?
Ya.
Dan kalau tidak ada orang yang kaumaksud itu, twako, lalu apakah kita biarkan iblis macam begini mengembangkan kejahatannya?
Ciangkun, apa sebenarnya yang hendak kau katakan? Kalau kau membujukku untuk membantu kerajaan, bagaimanapun juga aku menolak. Kerajaan selalu berkaitan dengan permusuhan, peperangan, dan entah apalagi yang menyusahkan orang banyak! Jadi kalau kau bicara berputar terus terang, aku tak setuju!
Baik," Fan Li tiba-tiba beringas. "Kalau saat sekarang ini aku hendak meminta seorang istrimu kepadaku, apa yang hendak kaulakukan, Pendekar Gurun Neraka? Kalau aku dapat mengalahkanmu dan merampas istrimu dan memperkosanya, apa yang hendak kaulakukan, Pendekar Gurun Neraka? Masihkah kau tetap diam tak bergerak?"
Bu Kong terbelalak. Dia kaget sekali melihat panglima itu tiba-tiba "kurang ajar", bicara seperti itu di depan istri-istrinya! Dan menggeram dengan muka merah, tiba-tiba pendekar ini bangkit berdiri, membentak marah, "Fanciangkun, omongan apa yang kaulontarkan ini? Tidakkah kau sadar bahwa pertanyaan ini di luar batas kesopanan?"
Fan Li tertawa mengejek, masih beringas. "Aku tahu, Yap twako. Tapi coba jawab dulu pertanyaanku itu. Kalau aku merampas istrimu dan memperkosanya serta menghinanya, apakah kau tetap diam saja? Apakah kau dapat menerima semua perbuatan ini?"
Naisun, belum Bu Kong menjawab, mendadak Ceng Bi sudah berteriak nyaring, berkelebat maju menampar panglima ini. "Fanciangkun, pertanyaanmu di luar batas kesopanan. Tak perlu dijawab.... plak!" dan Fan Li yang terputar kepalanya segera roboh terpelanting begitu menerima kemarahan nyonya rumah.
Panglima ini pecah mulutnya, tapi Ceng Bi yang kembali siap melakukan serangan sudah dicegah suaminya. "Bi-moi, tahan. Jangan serang dia...!"
Ceng Bi berapi-api. "Tapi panglima ini tak tahu aturan, koko. Aku tidak terima mendengar kata-katanya yang kurang ajar!"
Fan Li bangun berdiri. Dia tidak mengeluh, mengusap darah di sudut bibirnya, lalu memandang Pendekar Gurun Neraka dan dua istrinya yang tampak marah. Kemudian dengan senyum mengejek dan mata bersinar, panglima ini menjawab, serak suaranya, "Yap twako, belum melakukan perbuatan itu saja kalian ternyata sudah marah-marah kepadaku. Bagaimana kalau seandainya kejadian itu benar-benar terjadi?"
Ceng Bi melengking, "Tak mungkin terjadi, Fan dangkun. Dan kejadian itu tak mungkin akan dapat kaulakukan!"
Ya, karena kalian jauh lebih kuat daripada aku, hujin. Tapi bagaimana kalau seandainya aku yang lebih kuat? Bagaimana kalau seandainya peristiwa itu menimpa kalian seperti apa yang terjadi pada Kou Siauw-ong?
Bu Kong terkejut. "Apa yang terjadi, ciangkun?"
Fan Li tersenyum mengejek, agak nanar pandangannya karena tamparan Ceng Bi tadi membuat dia pusing, terhuyung maju. Dan berkata dengan suara gemetar, panglima ini mulai bicara berapi-api, dengan tinju terkepal!
Pendekar Gurun Neraka, kusayangkan sekali bahwa kau ketinggalan dalam mengikuti perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini terhadap kami dua kerajaan. Raja muda Wu telah keluar dari garis kebenarannya. Dia menjajah dan berbuat sewenang-wenang terhadap kami, merampas dan mengambil wanita-wanita cantik biarpun ia itu istri orang. Apakah kalau suatu ketika istrimu sendiri diambil raja muda itu, kau biarkan saja dia merajalela? Laki-laki jahanam itu telah meminta upeti wanita-wanita cantik dari wilayah kami, Pendekar Gurun Neraka. Dan sebagai puncak dari semuanya ini, raja muda itu telah meminta seorang selir tercantik dan tersayang dari pangeran kami untuk dipermainkan dan dihina!
Bu Kong semakin terkejut. "Siapa yang diminta, ciangkun?"
Kiok Hwa, selir yang akhirnya membunuh diri karena tidak kuat dipakai secara berganti-ganti oleh jahanam itu!
Bu Kong dan istrinya mengeluarkan seruan kaget. Mereka terkejut sekali, dan Fan Li yang terlanjur "panas" oleh ketidakacuhan Pendekar Gurun Neraka semula sudah melanjutkan kembali dengan mata melotot, "Dan kini ada kemungkinan selir-selir yang lain juga akan diminta oleh raja muda itu, Pendekar Gurun Neraka. Unsur perampasan yang didorong oleh niat menghina dan menginjak-injak harga diri kami! Paduka Pangeran hampir membunuh diri, dan kalau aku tidak selalu menghiburnya, tentu beliau benar-benar menyusul selirnya terkasih itu! Apakah ini dapat dibenarkan, Pendekar Gurun Neraka?"
Pendekar Gurun Neraka tertegun. Dia tidak menyangka bahwa kejadian sudah berkembang pada pelanggaran moral, merampas, dan menghina istri orang lain. Dan Fan Li yang masih geram pada pendekar ini bicara lagi, berapi-api dengan kata-kata tajam, "Dan harap kau ingat bahwa semua ini terjadi karena kami tak berdaya, Pendekar Gurun Neraka. Karena kalau kami berdaya, tentu tak akan terjadi semuanya itu, seperti halnya istrimu bilang bahwa aku tak mungkin dapat merampasnya darimu karena kalian lebih kuat!"