Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 230

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 230

Begitu Panglima Fan menerima dan membaca surat itu, tiba-tiba ia menangis.

"Kun Houw, apa saja yang dikatakannya kepadamu?"

"Hmm, dia menolak semua keinginanmu, Panglima. Aku tidak berhasil membujuknya sesuai keinginanmu."

"Dan dia meninggalkan pesan untukmu?"

"Besok dia menyuruhku datang menghadap, Panglima. Dia memintaku mengantarnya ke Tebing Bidadari."

"Untuk apa?"

"Entahlah, aku tidak tahu, Panglima. Namun, tempat itu memang biasa ia gunakan untuk menghibur diri di kala duka."

Panglima itu kembali menangis. Ia melempar surat itu lalu mengempaskan tubuhnya ke kursi. Kun Houw yang tertegun memandang sang panglima akhirnya diminta untuk membaca surat tersebut.

"Ambillah, lihatlah betapa agung dan mulia hati kekasihku itu, Kun Houw. Dia menolak karena ingin bersikap setia sebagai seorang istri yang baik!"

Kun Houw memungut surat itu. Ia membacanya baris demi baris, merasa terharu dan bergetar membaca apa yang ditulis oleh selir itu. Begitu selesai membaca isinya, tiba-tiba Kun Houw memejamkan mata.

Ternyata, dengan panjang lebar selir itu menceritakan segalanya kepada Panglima Fan. Bahwa sebagai warga Yueh, ia telah selesai melaksanakan tugas menghancurkan Wu dan mempersembahkan bakti kepada negaranya, sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh seorang anak bangsa bagi tanah air tercinta.

Namun, karena selir itu telah terikat pada kaisar lama yang menjadi suaminya, dan ia adalah seorang istri yang memegang teguh norma-norma susila—harus patuh dan tunduk pada mendiang suaminya—maka saat inilah ia menunjukkan sisi yang lain. Artinya, sekarang ia bukan lagi warga negara Yueh, melainkan warga negara Wu, demi kesetiaannya pada mendiang suaminya itu.

Shi Shih, yang membicarakan hal ini dengan panjang lebar, menuliskan kalimat berikut di akhir suratnya:

"Jika hamba adalah istri dari seorang suami yang demikian baik, yang melimpahkan segalanya termasuk jiwa dan harta kepada hamba, apakah yang harus hamba lakukan untuk membalas budi ini, Panglima? Bukankah hamba sama saja dengan binatang jika membalasnya dengan 'pengkhianatan' kedua? Tidak, Panglima, cukuplah sekali saja hamba mengkhianatinya karena keterikatan hamba pada tanah air tercinta, Yueh.

Namun kini, ketika Yueh telah berhasil memperjuangkan cita-citanya, hamba merasa gembira. Hamba telah menunjukkan bakti hamba pada tanah air tercinta. Urusan itu telah selesai bagi Paduka, bagi segenap rakyat Yueh, dan bagi kaisar baru.

Kini hamba dituntut untuk memenuhi bakti yang kedua, Panglima, yaitu bakti seorang istri kepada suaminya. Karena itulah hamba menolak cinta Paduka, meskipun Paduka tahu bagaimana isi hati hamba yang sebenarnya.

Apakah Paduka paham sampai di sini? Ampunkan hamba, Panglima. Shi Shih tidak akan pernah melupakan semua budi baik Paduka yang telah mengangkat hamba dari seorang gadis dusun biasa hingga menjadi selir yang begitu berkuasa. Kebaikan Paduka itu tidak akan hamba lupakan meski hingga seribu turunan. Hamba bersumpah demi nenek moyang hamba!

Namun, hamba terpaksa menolak keinginan Paduka, Panglima, karena alasan-alasan yang telah hamba sebutkan di atas. Paduka mengerti, bukan? Sekali lagi, mohon ampunkan hamba, Panglima. Carilah wanita lain yang lebih pantas dibanding hamba. Hamba akan selalu mengenang Paduka dari tempat yang semestinya. Maafkan hamba...!"

Kun Houw berhenti membaca. Sampai di situlah isi surat tersebut. Ia terbelalak kagum sekaligus tercengang akan isi surat yang luar biasa itu. Ia merasakan betapa gagah dan agungnya kepribadian selir yang satu ini. Sungguh agung dan patriotik.

Kun Houw memandang Panglima Fan yang sedang mencucurkan air mata penuh keharuan dan kekecewaan, hingga akhirnya ia mendengar sang panglima bertanya kepadanya, "Bagaimana, adakah wanita yang lebih hebat daripada dia, Kun Houw? Adakah pilihan lain bagiku selain dirinya?"

Kun Houw tertegun. "Kekasihmu adalah orang yang luar biasa, Panglima. Aku belum pernah menemukan wanita sehebat Paduka Selir."

"Ya, tetapi aku harus gigit jari, Kun Houw. Aku harus merana setelah sekian tahun menunggu!"

Panglima Fan kembali menangis. Ia menutupi wajahnya dan terisak, tidak kuasa menahan kedukaan yang mendalam.

Kun Houw yang merasa haru sekaligus bingung melihat kepedihan sang panglima, tiba-tiba teringat akan nasib dirinya sendiri yang tidak kalah malang. Ia teringat dan merasa terpukul oleh bayangan Kui Hoa, mengingat betapa kekasihnya itu kini sangat beringas dan begitu membencinya.

Sambil memejamkan mata untuk menahan gejolak batinnya, tiba-tiba air mata Kun Houw luruh tanpa disadarinya. Ia menangis seperti halnya sang panglima. Ia merasakan betapa perih dan pedihnya kegagalan dalam bercinta; rasanya seperti merobek dada dan membuat jantung berdarah. Ia merasa ingin lari dan terbang ke dunia lain. Atau mungkin mati saja!

Sambil menggigit bibir menahan isak, tiba-tiba tangis Kun Houw pecah dan ia sudah saling merangkul dengan panglima itu.

"Kun Houw, apa yang harus kulakukan?"

"Panglima, apa pula yang harus kulakukan?"

Kedua lelaki itu berpelukan. Mereka tiba-tiba merasa begitu dekat satu sama lain, saling mendapatkan penghibur, dan sejenak terbebas dari beban batin yang terasa menindih dengan sangat berat.

Namun, ketika malam telah berlalu dan keduanya sama-sama terpekur hingga keesokan harinya, tiba-tiba Kun Houw teringat akan permintaan sang selir agar ia datang mengantarnya ke Tebing Bidadari. Kun Houw segera bergegas. Dengan perasaan tidak tenang, ia terburu-buru menuju ke kamar Shi Shih. Ia terkejut saat melihat pintu kamar selir itu telah terbuka lebar dan tidak mendapati Shi Shih di dalamnya.

Kun Houw tersentak ketika melihat sesosok bayangan tiba-tiba berkelebat keluar.

"Paduka Selir...!"

Kun Houw segera melompat dan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya (*ginkang*). Ia tersentak, didera oleh berbagai bayangan menakutkan tentang apa yang mungkin terjadi pada selir itu. Ia langsung melesat menuju Tebing Bidadari yang terletak di atas bukit, di dekat sebuah sungai yang berarus tenang namun dalam, dengan batu-batu hitam yang tersebar di tengah dan di kedua sisinya.

Sesaat kemudian ia tiba di sana dengan napas terengah-engah. Namun, begitu melihat sosok wanita sedang duduk di tepi tebing sambil termenung memandang ke bawah, hati Kun Houw seketika lega. Ia langsung melesat mendekat sambil berseru gembira, "Paduka Selir...!"

Wanita itu membalikkan tubuhnya. Memang benar dia adalah Shi Shih, sang selir jelita yang cantik dan anggun. Ia tersenyum lalu bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan Kun Houw. Saat Kun Houw masih terengah-engah dengan dada naik-turun akibat rasa khawatir yang berlebihan, selir itu tertawa kecil dan menatapnya dengan pandangan mata yang aneh.

"Kau terlambat. Dari mana saja kau, Kun Houw? Mengapa wajahmu begitu pucat dan tampak ketakutan seperti orang yang dikejar hantu?"

"Ah..." Kun Houw tergagap, "...hamba... hamba menemani Panglima Fan semalam, Paduka Selir. Hamba berusaha menghibur Panglima Fan, tetapi tidak berhasil."

"Hmm, dan kalian berdua sama sekali tidak tidur, Kun Houw? Apakah kau... habis menangis?"

Kun Houw tidak dapat membendung perasaannya lagi. "Hamba tidak tega melihat kedukaan Panglima Fan, Paduka Selir. Namun, hamba juga tidak kuasa menyaksikan keagungan hati Paduka!"

Shi Shih memejamkan mata. Selir ini tampak berusaha mengendalikan gejolak emosinya. Ia terisak pelan; dua titik air mata jatuh membasahi pipinya yang mulus. Tubuhnya menggigil dan gemetar sejenak. Namun, setelah menyeka air matanya dengan saputangan, tiba-tiba selir itu berkata lirih.

"Kun Houw, jangan sebut-sebut lagi nama itu di depanku. Aku mengajakmu ke mari bukan untuk membicarakan hal itu."

Kun Houw tersadar. "Lalu, apa maksud Paduka mengajak hamba ke mari?"

"Hanya untuk berbincang-bincang, Kun Houw. Mencari arti tentang kehidupan."

Kun Houw terkejut. "Maksud Paduka?"

Shi Shih tiba-tiba tersenyum. "Kun Houw, berapa usiamu sekarang?"

Kun Houw tertegun. "Mengapa Paduka menanyakan hal itu?"

"Hmm, jawab saja dulu, Kun Houw. Nanti kau juga akan tahu."

Kun Houw menelan ludah, wajahnya merona merah karena tersipu. "Hamba baru menginjak usia dua puluh dua tahun."

"Bagus. Sedangkan aku dua puluh tujuh tahun, Kun Houw. Berarti kau lebih muda dariku. Bagaimana jika mulai sekarang kau memanggilku Enci?"

Kun Houw terkejut. "Paduka Selir...!"

"Ssst...!" Shi Shih merapatkan jari telunjuknya ke bibir. "Aku bukan lagi seorang selir, Kun Houw. Kau tahu sendiri bahwa sekarang aku hanyalah rakyat biasa. Mengapa masih memanggilku Paduka Selir?"

"Tetapi... tetapi..." Kun Houw masih tampak gagap.

"Tidak ada tetapi, Kun Houw. Kau mau kuanggap sebagai adikku, kan?"

Kun Houw kembali tertegun.

"Bagaimana? Kau menolak?"

Kun Houw menjadi gugup.

"Hmm, jika begitu, tidak ada gunanya kita bercakap-cakap lagi, Kun Houw. Pergilah dan biarkan aku sendiri!"

Kun Houw terkejut. Ia melihat selir itu mulai menangis sambil menutupi wajahnya. Dalam keadaan bingung dan gugup setengah mati, Kun Houw melangkah maju dan berkata dengan suara gemetar, "Paduka Selir... ah, maksudku Enci. Apa yang sebenarnya Enci inginkan? Mengapa membuatku begitu gugup dan bingung? Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku bersedia menjadi adikmu...!"

Shi Shih tiba-tiba tersenyum. Kun Houw tertegun melihat betapa luar biasa manisnya senyuman itu; senyuman dari bibir yang merah basah, senyuman yang lembut dan tulus. Senyuman yang memancarkan kebahagiaan dan kegembiraan karena mendengar Kun Houw akhirnya bersedia memanggilnya Enci.

Sambil membuka matanya dan menatap Kun Houw, Shi Shih tiba-tiba terisak lalu berseru gembira, "Kun Houw, kau memang pantas menjadi adikku. Kau gagah dan berilmu tinggi. Kau adalah putra seorang pendekar besar, mirip dengan ayahmu yang sakti itu. Aku sangat mengaguminya!"

Kun Houw menelan ludah. "Enci, apa maksudmu yang sebenarnya? Mengapa kau memintaku mengubah panggilan ini?"

"Hmm, apakah kau tidak menyukainya?"

"Bukan begitu!" Kun Houw terkejut dengan pertanyaannya sendiri. "Tentu saja aku tidak menolak! Aku sangat senang dan merasa mendapat kehormatan besar jika Enci bersedia menganggapku sebagai adik. Namun, apa maksud dari semua ini, Enci? Mengapa sikapmu terasa ganjil dan aneh?"

Shi Shih tertawa. "Aku menginginkan hal ini agar kita lebih santai saat berbicara, Kun Houw. Lagi pula, kita sudah cukup akrab. Bukankah berbagai bahaya serta suka dan duka telah kita lalui bersama?"

"Benar," kata Kun Houw sambil tertegun. "Namun, aku masih belum mengerti apa yang tersimpan di dalam hatimu, Enci. Aku bingung dan terus terang merasa bodoh jika harus menebak apa yang ingin kau bicarakan ini."

Shi Shih tersenyum. "Aku sudah mengatakannya tadi, Kun Houw. Aku ingin mengajakmu berbincang-bincang tentang arti kehidupan. Untuk apa kita hidup, dan mengapa kita harus hidup."

Kun Houw terbelalak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment