Chapter 231
"Maksudmu?"
"Aku ingin mencari jawaban atas pertanyaan tadi, Kun Houw. Aku penasaran dan ingin menemukan jawaban yang tepat!"
Kun Houw tiba-tiba tersentak. Dia teringat akan tujuh kalimat dari Bu-beng Sian-su yang diberikan kepadanya. Pertanyaan yang persis seperti yang diajukan oleh selir—yang juga kakaknya—ini.
Kun Houw yang tertegun bengong tiba-tiba mendesah. "Enci, bagimu apa arti hidup ini? Adakah artinya bagi kita dan adakah nilai yang berharga di sana?"
"Hm, aku justru hendak bertanya kepadamu, Kun Houw. Mengapa kau mendahului bertanya kepadaku?"
"Karena aku menganggapmu lebih pintar, Enci. Kau cerdik dan terkenal pandai!"
"Ih, pujian kosong, ya? Kau mengejekku?"
"Ah, tidak. Aku bersungguh-sungguh, Enci. Aku juga ingin tahu karena tiba-tiba aku teringat akan pertanyaan Bu-beng Sian-su!"
Shi Shih terkejut. "Bu-beng Sian-su? Kau bertemu manusia dewa itu?"
Kun Houw mengangguk. "Ya, sepuluh tahun yang lalu, Enci. Dan aku mendapat syairnya yang katanya berisi jawaban tentang pertanyaan yang mirip dengan yang kau ajukan itu. Untuk apa kita hidup!"
Shi Shih tiba-tiba bangkit berdiri. Ia tampak gemetar tetapi girang. "Kun Houw, di mana kau bertemu manusia dewa itu? Betulkah dia sakti dan hebat dalam segala-galanya?"
"Benar," Kun Houw mengangguk kagum. "Manusia dewa itu memang hebat, Enci. Dan aku telah mendapatkan warisannya berupa cara menghimpun sinkang ini. Dia memang luar biasa dan patut dijuluki manusia dewa. Rupanya dia benar-benar dewa yang turun ke bumi untuk memberikan berkah bagi manusia yang memerlukannya!"
Shi Shih tertegun. Selir ini tiba-tiba memandang Kun Houw dengan mata bercahaya, redup namun berseri setelah menaruh harapan akan sesuatu. Namun, ketika Kun Houw menggeleng memberi isyarat bahwa manusia dewa itu tidak dapat dijumpai jika bukan atas kehendaknya sendiri—seolah Kun Houw tahu apa yang dipikirkan oleh selir ini—tiba-tiba Shi Shih menarik napas dan murung dengan wajah kecewa.
"Kun Houw, bagaimana jawaban manusia dewa itu? Sudahkah kau temukan inti syairnya?"
"Belum." Kun Houw juga merasa kecewa. "Namun, mungkin kau dapat menemukannya, Enci. Boleh kutulis jika kau suka."
"Kau ingat bunyinya?"
"Sudah kuhafal di luar kepala!"
"Hm, cobalah. Aku ingin tahu."
Kun Houw mengangguk. Dia menggurat tujuh kalimat yang diberikan Bu-beng Sian-su kepadanya, menulisnya dengan jelas dan terang di depan selir yang menjadi kakaknya ini.
Ketika Shi Shih memandang dan membaca tujuh kalimat berupa syair itu, tiba-tiba selir cantik ini tertegun:
"Berikan canang pukullah bende
lekatkan benang di atas mega
jadilah orang hidup berguna
rautlah itu sepanjang masa!"
"Hm, kalimatnya bagus, Kun Houw. Namun, benarkah ini merupakan inti jawaban dari pertanyaan untuk apa manusia hidup?" Shi Shih heran. Ia belum dapat menangkap arti dari sebait syair yang dinilainya indah itu. Indah namun aneh, karena katanya menerangkan tentang arti hidup—hal yang agaknya berlebihan.
Namun, karena syair itu katanya berasal dari Bu-beng Sian-su dan tidak mungkin manusia dewa itu mempermainkan mereka, Shi Shih memandang Kun Houw. "Bagaimana, benarkah demikian, Kun Houw?"
Kun Houw mengangguk. "Memang demikian, Enci. Aku tidak menambah atau menguranginya. Itu asli dari Bu-beng Sian-su sendiri!"
"Hm, dan katanya syair ini merupakan jawaban dari pertanyaan untuk apa manusia hidup?"
"Begitu menurut Sian-su, Enci. Dan aku disuruh mencari jawabannya. Katanya jawaban itu sudah ada di dalam syair tersebut!"
Shi Shih memeras otak. "Aku tidak melihat jawabannya, Kun Houw. Tidak mungkin kita tahu jika tidak diberi kuncinya. Apakah manusia dewa itu tidak memberikan petunjuk agar kita dapat melacaknya?"
Kun Houw tiba-tiba teringat. "Benar, kakek itu memang memberikan petunjuk! Aku teringat, Enci. Ada jalan untuk memecahkan syair itu!"
Shi Shih girang. "Bagaimana?"
Kun Houw lalu berseru, "Kita disuruh lari berbelok-belok (zig-zag), Enci. Katanya itulah jalan untuk menemukan rahasia jawaban syair ini!"
Shi Shih tertegun. "Berlari? Kau tidak waras, Kun Houw?"
Kun Houw tersenyum menyeringai, tersipu juga. "Tidak, aku bicara apa adanya, Enci. Bu-beng Sian-su memang menyuruh kita berlari zig-zag jika ingin melacak jawabannya. Maksudnya, kita disuruh berlari di atas tujuh kalimat itu!"
"Hm...!" Mata Shi Shih bersinar. Ia tertarik dan ingin mencobanya. Bangkit keinginan tahunya mendengar "resep" yang aneh itu. Ganjil dan agaknya belum pernah ada di dunia. Ia mulai mengotak-atik, mengamati dengan penuh perhatian, dan satu demi satu menelusuri tujuh kalimat di depan kakinya itu. Ia membungkuk, tampak sangat antusias untuk mengetahui jawabannya.
Namun, karena bingung dan tidak menemukan jawabannya, tiba-tiba selir ini mengeluh. "Aduh, berat, Kun Houw. Aku tidak tahu apa maksudnya dengan kata-kata 'lari' itu. Jika bukan Bu-beng Sian-su yang memberitahukannya, tentu kuanggap gila orang yang memberikan syair ini."
Kun Houw tersenyum. "Aku juga merasa berat, Enci! Jika kau saja tidak bisa, apalagi aku!"
"Ih...!" Shi Shih tertawa kecil. "Kau terlalu memujiku, Kun Houw. Bukankah kau juga cerdas dan memiliki otak yang cemerlang?"
Kun Houw menggeleng. "Namun, kau lebih cemerlang, Enci. Kau sesungguhnya lebih cerdas dan lebih pintar dibanding aku. Aku tidak berolok-olok!"
Shi Shih tersenyum. Ia tidak memberikan komentar, kembali mengamati tujuh kalimat itu dan membacanya berulang-ulang.
Ketika ia tiba-tiba berjingkrak yang mengejutkan Kun Houw, selir ini berseru, "Dapat! Sekarang kudapat sebagian arti dari syair ini, Kun Houw. Aku berhasil menangkap intinya pada baris pertama dan kedua!"
Kun Houw terkejut, hatinya tegang. "Bagaimana, Enci?"
"Hi-hik!" Shi Shih tertawa. "Aku belum menangkap semuanya, Kun Houw. Namun, baris pertama dan kedua itu sudah kumengerti!"
"Ya, bagaimana?"
Shi Shih berseri-seri. "Manusia dewa itu hendak mengisyaratkan kepada kita bahwa ada suatu 'pengumuman' yang harus diketahui, Kun Houw. Bahwa canang dan bende harus dipukul karena adanya 'pengumuman' ini!"
"Pengumuman?" Kun Houw bingung. "Pengumuman apa, Enci? Apa yang akan diumumkan?"
"Itulah... itu yang belum kuketahui, Kun Houw. Namun, aku yakin bahwa baris pertama dan kedua dari syair ini maksudnya adalah pengumuman. Tapi apa yang hendak diumumkan, sampai saat ini aku belum tahu!"
"Hm." Kun Houw menjadi kecewa. "Kalau begitu percuma, Enci. Hal itu menunjukkan kita belum tahu inti sarinya. Lagi pula, apa alasanmu bahwa baris pertama dan kedua berarti pengumuman?"
"Ah," Shi Shih tertawa gembira. "Kau lihat saja bunyi kalimat pertama dan kedua, Kun Houw. Bukankah canang dan bende baru dipukul jika seseorang ingin memberitahukan sesuatu kepada orang lain? Dan itu berarti pengumuman, Kun Houw. Bahwa ada sesuatu yang penting yang hendak diberitahukan melalui bende atau canang ini sebagai pembuka kata. Aku yakin itu tidak mungkin salah!"
Kun Houw kagum. Dia mulai menangkap apa yang dikatakan kakaknya ini—selir yang cantik dan berotak cemerlang, hingga baru beberapa detik saja sudah mulai dapat "mengupas" jawaban dari syair itu, meskipun baru sekelumit.
Kun Houw yang merasa tegang serta gembira tiba-tiba bertanya sambil memandang syair di atas tanah itu, "Dan yang lain, dapatkah kau menarik kesimpulan dari lima baris berikutnya, Enci? Apa kira-kira artinya?"
"Hm..." Shi Shih memeras otaknya. "Aku buntu menghadapi kalimat-kalimat berikutnya, Kun Houw. Namun, aku yakin bahwa Bu-beng Sian-su hendak mencanangkan sesuatu yang penting bagi umat manusia. Dan itu hendak diumumkan lewat 'canang' dan 'bende' di balik syairnya yang gaib ini. Dia sungguh manusia yang luar biasa. Syairnya mengandung pesan yang sangat berbobot!"
Kun Houw tertegun. Dia sekarang tegang tetapi juga kecewa melihat kakaknya menyerah dan rupanya tidak mampu "menembus" lebih jauh, terhenti di situ saja.
Kun Houw yang melihat kakaknya juga kecewa, tiba-tiba terkejut ketika perempuan itu menangis!
"Kun Houw, aku rupanya masih bodoh. Aku tidak berhasil menemukan jawaban dari inti sajak ini!"
Kun Houw memegang lengannya. "Namun, kau telah berhasil mengupas baris pertama dan kedua itu, Enci. Padahal baru beberapa detik saja kau melihatnya. Ini sudah menunjukkan kecemerlanganmu yang luar biasa!"
"Tidak," Shi Shih menggeleng. "Tak perlu kau menghiburku, Kun Houw. Betapa pun, aku tidak dapat memecahkan syair itu. Aku merasa bodoh, aku bingung..."
Shi Shih yang menangis dilanda kekecewaan tiba-tiba teringat dan semakin kecewa akan keadaan dirinya yang tidak menyenangkan. Ia tertegun sejenak melihat bayangan Fan Ciangkun yang berkelebat sepintas di seberang tebing, bersembunyi di balik batu karang.
Shi Shih yang terkejut melihat bayangan panglima ini tiba-tiba mengguguk dan menangis tersedu-sedu sambil menubruk Kun Houw. Ia teringat semua kisahnya dengan panglima itu; betapa dia mencintainya tetapi terpaksa menjauh karena tidak dapat melupakan budi kaisar lama. Hatinya pedih dan serasa diremas-remas karena dia tahu betapa hancurnya pula hati panglima itu—kekasih yang sesungguhnya amat dicintainya.
Shi Shih yang mengguguk di pundak Kun Houw akhirnya menjerit dan merintih teringat nasibnya yang merobek-robek jantung. "Kun Houw, tidak tahukah kau untuk apa kita hidup? Tidak tahukah kau untuk apa aku dan kau harus hidup? Jawablah, Kun Houw. Jawablah pertanyaan yang membuatku penasaran ini. Aku ingin tahu jawabannya...!"
Shi Shih yang memukul-mukul pundak Kun Houw dengan tangisan tersedu-sedu itu akhirnya membuat Kun Houw menggigit bibir dan terenyuh melihat keadaan kakaknya ini. Ia mencucurkan air mata pula, merasa iba serta terharu melihat kedukaan kakaknya.
Kun Houw yang gemetar berusaha menghibur, akhirnya berkata, "Sebaiknya kita jawab menurut pendapat kita masing-masing saja, Enci. Bukankah kita dapat juga menjawab sesuai pendapat dan jalan pikiran kita masing-masing? Barangkali menurut pendapatku, kita hidup adalah untuk..."
"Untuk apa, Kun Houw?" Shi Shih menggigil, melepaskan dirinya dari pelukan Kun Houw karena melihat pemuda itu menghentikan kata-katanya.
Kun Houw yang menyeringai sambil menggigit bibir tiba-tiba menjawab, teringat kedukaannya yang juga tidak kalah besar dari kakaknya ini!