Chapter 232
"Untuk menderita!" Shi Shih tiba-tiba tertegun.
Selir ini tampaknya terenyak, kaget dan pucat mendengar jawaban Kun Houw.
Namun, karena saat itu jawaban tersebut tampaknya cocok dengan keadaan dirinya sendiri, tiba-tiba selir cantik ini tersenyum dan terkekeh lebar.
"Bagus. Cocok sekali, Kun Houw. Aku sependapat denganmu bahwa kita hidup memang agaknya hanya untuk menderita. Hi-hi...!"
Shi Shih tertawa dengan sikap yang aneh. Tiba-tiba tatapan matanya meliar ke sana kemari. Ia tersenyum memandang Kun Houw, lalu tiba-tiba mencium kening pemuda itu.
Sementara Kun Houw masih tertegun melihat perubahan sikap encinya yang ganjil, tiba-tiba Shi Shih terjun melemparkan dirinya ke bawah tebing, langsung menuju ke sungai yang sangat dalam dan berbatu di bawah sana, yang jaraknya tak kurang dari seratus meter.
Kun Houw yang tentu saja terkejut bukan main seperti disambar petir di siang bolong, langsung berteriak keras hingga suaranya menggema di puncak tebing, "Enci...!"
Namun, tubuh wanita itu sudah meluncur deras ke bawah. Kun Houw melihat kakak angkatnya itu tercebur ke permukaan sungai yang deras dengan sangat keras hingga membuat bulu kuduknya meremang. Tubuh Shi Shih menghantam batu dan seketika hancur di sana.
Ketika Kun Houw terbelalak mematung bagai arca tak bernyawa, tiba-tiba terdengar teriakan melengking dari seberang tebing, "Shi Shih...!"
Kun Houw terkejut. Ia melihat Fan-ciangkun muncul di sana, melongok ke bawah, lalu tiba-tiba melompat dari bibir tebing, terjun bebas menyusul selir jelita itu.
Namun, Kun Houw yang tersentak kaget segera meloloskan ikat pinggangnya. Sambil membentak, ia berjungkir balik menyambar sang panglima. "Ciangkun, jangan...!" Kun Houw bergerak luar biasa cepat.
Entah dari mana, kekuatan luar biasa yang menakjubkan tiba-tiba muncul dalam diri pemuda itu. Tubuh Kun Houw melesat, melontarkan dirinya ke seberang tebing, terbang seolah-olah disentak oleh tangan raksasa. Didorong rasa terkejut yang luar biasa, ia berjungkir balik sebanyak lima kali di antara dua tebing yang jaraknya tidak kurang dari dua puluh meter. Sungguh sebuah gerakan yang mengerikan.
Ikat pinggangnya yang melesat cepat secara tepat membelit dan membebat tubuh sang panglima, lalu seketika disentak dan dilontarkan kembali ke atas, ke tebing tempat panglima itu berdiri sebelumnya.
Sambil membentak, Kun Houw mengikuti arah jatuhnya panglima itu. Ia berseru keras seraya menjejakkan kakinya pada dinding tebing. Tubuhnya sempat merosot sedikit, tetapi ia segera berjungkir balik dua kali sebelum mendarat dengan selamat di dekat sang panglima. Ia lalu melepaskan jeratan ikat pinggangnya dan membiarkan Fan-ciangkun bergulingan di atas tanah berbatu.
Fan-ciangkun mengeluh dan menjerit tertahan, lalu tak sadarkan diri ketika kepalanya membentur batu keras.
*Duk!*
Kun Houw menggigil dengan wajah pucat pasi. Kini ia berdiri terbelalak, merasa ngeri dan sangat terkejut melihat segala hal yang terjadi begitu cepat. Ia membayangkan panglima itu terjun bebas menyusul kekasihnya yang telah tewas mengenaskan di bawah tebing berbatu di sana. Tubuh selir itu hancur, tulang-tulangnya remuk, dan tidak mungkin bisa tertolong lagi.
Sambil menangis dan menggigit bibir, Kun Houw tiba-tiba mendengar derap kaki kuda mendekat ke arah tebing. Ia menoleh dan melihat Thio-ciangbu muncul di sana.
Saat Kun Houw terbelalak memandang sang kapten, perwira muda itu berteriak lantang ke arahnya, "Siauw-hiap...!"
Kun Houw terkesima. Ia masih terguncang oleh semua kejadian mengerikan itu. Matanya masih terpaku melihat jenazah encinya yang hanyut terbawa arus, mengalir perlahan namun pasti menuju ke hilir, tenang tetapi berlumuran darah.
Thio-ciangbu yang baru saja tiba segera melompat turun dari kudanya. Ia langsung tertegun dan berseru tertahan melihat pemandangan di depannya. Fan-ciangkun tergeletak pingsan, sementara Shi Shih telah menjadi mayat di dasar tebing yang jauh di bawah sana.
Teriakan Thio-ciangbu yang kembali memanggil namanya akhirnya menyadarkan Kun Houw, menyentaknya bangun dari mimpi buruk yang nyata.
Sambil menggigil dengan air mata yang bercucuran, Kun Houw akhirnya berseru kepada kapten muda itu, "Thio-ciangbu, bawalah Fan-ciangkun kembali ke kota raja. Aku akan turun untuk mengambil jenazah Selir...!"
Thio-ciangbu mengangguk. Ia masih kebingungan tanpa tahu apa yang sebenarnya telah terjadi—mengapa Fan-ciangkun pingsan dan sang selir cantik tewas di bawah sana. Namun, melihat Kun Houw segera menuruni tebing dengan gerakan secepat kilat untuk memutari tempat itu, sang kapten akhirnya menaikkan tubuh Fan-ciangkun ke atas punggung kuda, lalu memacu kudanya sekencang mungkin menuju kota raja.
Setelah mereka semua meninggalkan tebing pembawa maut itu, keadaan di sana pun kembali sunyi senyap seperti sedia kala. Seolah-olah tidak pernah terjadi peristiwa apa pun di tempat itu.
***
Seminggu kemudian...
"Kun Houw, kau benar-benar akan meninggalkanku?"
Kun Houw terisak. "Terpaksa, Ciangkun. Aku harus kembali ke Lembah Hwee-seng-kok untuk melaksanakan tugasku yang terakhir."
"Membunuh bocah bermarga Pouw itu?"
"Ya."
"Kalau begitu, aku ikut. Aku ingin mendampingimu!"
Kun Houw terkejut. Saat itu mereka sudah berada di luar pintu gerbang kota raja. Ia dilepas oleh Fan-ciangkun yang langkahnya masih tampak terhuyung-huyung dengan wajah pucat akibat peristiwa seminggu yang lalu. Sang panglima masih terus terbayang-bayang akan kematian kekasihnya yang bunuh diri di Tebing Bidadari. Sepanjang minggu ini, ia tidak banyak bicara dan selalu menangis hingga matanya bengkak.
Kun Houw yang terkejut mendengar permintaan sang panglima hanya bisa tertegun dengan mata membelalak tanpa mampu menjawab, sementara bibirnya gemetar.
"Apakah kau keberatan, Kun Houw? Kau tidak suka aku ikut?"
"Tidak!" Kun Houw tersadar dari keterkejutannya. Ia memandang sang panglima dengan heran. "Tetapi, apa gunanya Anda ikut, Ciangkun? Bukankah tugas-tugas di istana masih menanti Anda, dan Kaisar tidak mungkin membiarkan Anda pergi begitu saja?"
"Ah," panglima itu menggigit bibirnya. "Urusan pekerjaan tidak akan pernah ada habisnya, Kun Houw. Siapa yang tidak tahu itu? Aku sudah mendapatkan izin cuti dari Sri Baginda. Aku ingin mengikutimu, jika kau tidak keberatan."
"Untuk apa?"
Tubuh sang panglima menggigil. "Untuk melupakan dukaku, Kun Houw. Kau tahu sendiri bahwa aku..."
Kun Houw cepat-cepat memeluknya. Ia melihat sang panglima sudah menangis terisak-isak dengan air mata yang bercucuran, hingga kalimatnya terputus dan ia tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. Kun Houw sangat paham apa yang ingin diucapkan oleh pria itu.
Merasa sangat terharu, Kun Houw ikut menggigit bibir demi menahan air mata yang hampir tumpah. Ia mendesah pelan sambil meremas pundak sang panglima. "Sudahlah, aku mengerti, Ciangkun. Aku pun sangat berduka atas kematian kekasihmu. Ingatlah, dia juga kakak angkatku!"
Sambil memejamkan mata untuk menahan rasa pilu yang menyayat hati, Kun Houw akhirnya tidak kuasa lagi menahan bendungan air matanya. Pertahanannya runtuh; ia terisak hebat hingga bahunya berguncang di pundak sang panglima.
Namun, menyadari bahwa menangis terus-menerus di tempat itu tidak ada gunanya karena Shi Shih tidak akan mungkin hidup kembali, Kun Houw akhirnya mengajak sang panglima untuk segera berangkat menuju Lembah Hwee-seng-kok. Sepanjang perjalanan, mereka berdua lebih banyak membisu. Hampir tidak ada kata yang terucap karena masing-masing tengah menanggung beban duka yang teramat berat. Mereka tidak akan bersuara kecuali jika benar-benar diperlukan.
Tiba-tiba, Kun Houw teringat akan sesuatu. Ia menghentikan langkahnya lalu memandang sang panglima. "Ciangkun, bolehkah aku menanyakan sesuatu kepadamu?"
Panglima itu mengangkat wajahnya. "Apa yang ingin kau tanyakan, Kun Houw?"
"Sesuatu... sesuatu yang tampaknya sedang Anda sembunyikan."
Panglima itu terkejut. "Tentang apa?"
Kun Houw akhirnya berterus terang. "Maaf, aku merasa ada hal lain yang sedang Anda sembunyikan, Ciangkun, terkait perjalanan kita ini. Anda ikut bersamaku bukan sekadar untuk melupakan duka, melainkan ada hal lain yang tampaknya ingin Anda selidiki."
Sang panglima tertegun, menarik napas panjang, lalu akhirnya mengangguk. "Hmm, kepekaanmu sangat tajam, Kun Houw. Memang sepertinya tidak ada gunanya lagi aku menyembunyikan hal ini darimu. Kau telah berhasil menebaknya."
Kun Houw terbelalak. "Tentang apa, Ciangkun?"
"Tentang syair yang kau tulis di Tebing Bidadari itu, Kun Houw. Aku ingin menemui dan mencari Bu-beng Sian-su untuk mendapatkan jawabannya."
"Ah!" Kun Houw tertegun. "Anda melihat tulisan itu, Ciangkun?"
"Ya, beberapa hari yang lalu, Kun Houw, ketika aku sedang termenung di sana dan melihat tulisanmu."
Kun Houw terkejut. Ia menatap sang panglima dengan kening berkerut. Namun, ia hanya bisa menarik napas panjang sambil tersenyum pahit, lalu mengajak sang panglima melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan, ia menceritakan sedikit tentang percakapannya dengan mendiang selir cantik itu sebelum peristiwa nahas tersebut terjadi. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa jawabannya justru mendorong Shi Shih untuk bunuh diri, mungkin karena wanita itu merasa tidak ada gunanya lagi hidup jika tujuan hidup ini memang hanya untuk menderita.
Setelah itu, Kun Houw tidak bicara lagi. Ia terus memimpin perjalanan hingga beberapa hari kemudian mereka tiba di Lembah Hwee-seng-kok yang tampak menjulang angker.
Namun, Kun Houw tiba-tiba terkejut. Ia melihat dua orang gadis cantik berdiri menghadang jalan mereka dengan sikap yang sangat gagah. Gagah, namun tampak beringas!
Sembari menghentikan langkahnya dengan heran, Kun Houw melihat kedua gadis itu—yang tidak lain adalah Kui Lin dan Kui Hoa—melesat maju sambil membentak dengan nyaring:
"Kun Houw, berhenti...!"
Kun Houw pun diam di tempat. Ia memang sudah menghentikan langkahnya begitu melihat kedua gadis itu berdiri menghadang. Ia menatap kekasihnya yang melompat maju dengan mata berapi-api, memancarkan kebencian yang mendalam.
Kun Houw mengeluh dalam hati melihat kebencian yang terpancar jelas dari mata kekasihnya itu. Tiba-tiba, ia tersentak ketika melihat ujung jari gadis itu sudah menempel tepat di depan hidungnya!
"Kun Houw, beranikah kau mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu?!"
Kun Houw terkejut, lalu melangkah mundur.
Fan-ciangkun yang terbelalak memandang ke depan segera melangkah maju dan menegur Kui Hoa, "Nona, Kun Houw tidak memiliki kesalahan pribadi kepada kalian. Pertanggungjawaban apa yang kalian tuntut dari pemuda ini?"
Dengan beringas, Kui Hoa membalikkan tubuhnya. "Tidak usah banyak bicara, Fan-ciangkun! Jika kau ingin membantu temanmu, cabut saja pedangmu. Aku tidak sedang bicara denganmu!"
Kui Lin yang berdiri bersisian di sebelah kanan kakaknya ikut membentak sang panglima, "Tidak perlu kau cerewet mencampuri urusan ini, Ciangkun! Jika kau berani maju, tentu akan kubunuh pula dirimu!"
"Hmm," Fan-ciangkun tertawa hambar. "Kun Houw dan aku tidak berniat memusuhi kalian, Nona. Apa yang menimpa ayah kalian bukanlah urusan pribadi, melainkan urusan kerajaan. Kalian tidak berhak menuntut atas kejadian itu karena semuanya sudah lunas terbayar!"
"Keparat!" Kui Hoa berteriak marah.