Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 24

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 24

Itu memang betul.

Tapi kalau tak ada yang dapat melawan raja muda ini, lalu harus berbuat bagaimanakah kami?

Pendekar Gurun Neraka? Diam saja dihina lawan sampai ajal tiba? Hmm, terus terang aku tak dapat melakukannya.

Pendekar Gurun Neraka.

Aku tak dapat membiarkan iblis itu merajalela dengan kejahatannya yang semakin menjadi-jadi!

Aku akan membalas dan menyelamatkan rakyat dan junjunganku dari cengkeramannya.

Aku siap mempertaruhkan jiwa dan raga demi bangsaku, biarpun harus gagal dalam perjuangan ini....!" Fan Li terengah.

Dia bersemangat sekali melampiaskan segala isi hatinya, dan melihat Pendekar Gurun Neraka tertegun memandangnya, panglima itu pun bicara lagi, mengepalkan tinju dengan gigi berkerot, "Dan aku kecewa sekali pada sikapmu yang acuh tak acuh ini.

Pendekar Gurun Neraka.

Kau seolah hendak cuci tangan dari berkembangnya sebuah kejahatan, padahal kau bisa mengatasinya!

Kenapa kau hendak melanggar hukum alam dan hukum kebenaran? Lupakah kau bahwa kita manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri dan harus berhubungan satu dengan yang lainnya? Lupakah kau bahwa masalah ini kelak dapat merembet pada dirimu dan keluargamu? Kau boleh bilang dirimu tak akan diganggu.

Pendekar Gurun Neraka.

Tapi tak mungkin kalau anak dan cucumu kelak tak menerima getah dari kejahatan yang mulai berkembang yang dilakukan raja muda itu!

Kau tak dapat melepaskan diri secara total dari tata hukum masyarakat, karena kita sudah ditakdirkan sebagai manusia yang berhubungan satu sama lain, entah itu dengan penduduk gunung atau penduduk kota raja!" "Dan," Fan Li melanjutkan.

"Pandanganmu sekarang harus diubah.

Pendekar Gurun Neraka.

Bahwa bukan karena peperangan saja kau mengalami kekecewaan, tapi karena perang pula kau kini mengalami kebahagiaan!" "Eh, apa maksudmu, Ciangkun?" Pendekar Gurun Neraka terkejut.

Fan Li memandang berapi-api.

"Tak perlu disangkal, Pendekar Gurun Neraka.

Bahwa ketegasan sikapmu tak mencampuri urusan kerajaan adalah berawalnya kematian kekasihmu itu, Ok Siu Li, yang tewas pada sepuluh tahun yang lampau.

Tapi, lupakah kau bahwa kebahagiaanmu sekarang ini juga karena ulah perang itu? Lupakah kau bahwa dua orang istrimu ini kau peroleh juga gara-gara perang? Karena, kalau tak ada masalah perkumpulan Gelang Berdarah yang diperalat raja muda Wu itu, belum tentu kalian bisa menemui kebahagiaan seperti sekarang ini, Pendekar Gurun Neraka.

Bahwa sedikit ataupun banyak, peperangan mengubah nasibmu dan mengembalikan kebahagiaan yang dulu pernah hancur gara-gara perang!" Pendekar Gurun Neraka terbelalak.

"Dan camkan ini.

Pendekar Gurun Neraka," panglima itu kembali melanjutkan.

"Bahwa seseorang yang dapat membantu orang lain, namun tak mau melaksanakannya, maka dia pantas disebut sebagai manusia kerdil, manusia picik yang cupat pandangannya.

Dan khusus untuk dirimu, yang mendapat gelar sebagai pendekar penolong kaum lemah, maka hari ini juga kucabut julukan itu dari dalam hatiku!

Kau tak pantas disebut pendekar, tapi pengecut yang ingin hidup sendiri tanpa memedulikan kesusahan orang lain!" Lalu membanting kaki dengan marah-marah, panglima ini memutar tubuh, melompat pergi.

Dia terlampau kecewa dan sakit hati atas ketegaran pendekar ini, yang benar-benar tak dapat ditekuk dan dianggapnya mau hidup sendiri secara enak di atas gunung.

Tak mau tahu kesusahan orang lain, meskipun mereka adalah sahabat sejak belasan tahun yang lampau!

Dan Fan Li yang terlampau kecewa oleh sikap Pendekar Gurun Neraka yang dianggap kelewatan, seperti pergi dengan penuh kemarahan, turun ke bawah gunung tanpa harapan lagi.

Tapi, baru dia keluar pintu, tiba-tiba Pendekar Gurun Neraka berkelebat mengejarnya.

"Fun-Ciangkun!

Tunggu...!" Namun Fan Li terlanjur kecewa.

Panglima itu marah, tak mau berhenti.

Dan begitu Pendekar Gurun Neraka mengulang panggilannya, dia pun tiba-tiba mempercepat larinya meluncur turun.

"Pendekar Gurun Neraka, tak perlu kita bicara lagi.

Kau manusia pengecut yang mementingkan diri sendiri...!" Bu Kong terbelalak.

Dia melihat panglima ini benar-benar marah, marah sekali tampaknya.

Maka menjejakkan kakinya, dia pun tiba-tiba melayang di atas kepala orang dan menyambar pundak tamunya ini.

"Ciangkun, berhenti!"

Aku siap membantu kalian!" Fan Li terkejut.

Dia tersentak ke belakang, merasa pundaknya pedas dicengkam jari-jari Pendekar Gurun Neraka yang kuat.

Tapi mendengar seruan pendekar itu, tiba-tiba panglima ini tertegun.

"Kau mengubah jalan pikiranmu?" "Ya, aku dapat menerima caci-makimu, Ciangkun.

Aku melihat kebenaran dalam kata-katamu yang tajam!" "Ooh...!" Dan Fan Li yang sudah menjadi girang luar biasa mendadak balas mencengkeram dan memeluk pendekar ini.

Dia gemetar penuh kegembiraan, tak mampu mengeluarkan kata-kata barang sejenak.

Tapi begitu sadar dan memekik kegirangan, tiba-tiba panglima ini sudah menjatuhkan diri dan berlutut mencium kaki pendekar itu!

"Yap-Twako, terima kasih.

Aku benar-benar seperti kejatuhan bulan...!" Dan panglima yang sudah membenturkan kepalanya di atas sepatu pendekar besar itu bertubi-tubi mengeluhkan rasa kebahagiaannya.

Dia terlampau gembira sekali, tak dapat dikata lagi.

Dan ketika puncak kebahagiaannya meledak dalam alunan tertinggi, mendadak panglima ini mengeluh dan.....terguling pingsan!

Bu Kong menggeleng-geleng kepala.

Dia melihat panglima itu tersenyum dalam ketidaksadarannya, maka terharu dan terpukul oleh semangat panglima ini yang demikian patriotis, tiba-tiba dia pun membungkukkan tubuh dan membawa panglima itu ke dalam.

Dia tahu panglima ini pingsan karena pukulan kebahagiaannya, maka menotok dua tempat di jalan darah pundak dan leher, dia pun menyadarkan panglima itu dalam waktu yang tidak lama.

Fan Li bangun, melompat, dan menubruk pendekar itu.

Lalu, bicara dengan mata basah, dia buru-buru meminta maaf pada pendekar ini dan dua orang istrinya, sadar bagaimanapun juga dia telah melontarkan kata-kata "kurang ajar" untuk membangkitkan atau lebih tepat menembus bobol kekerasan jiwa Pendekar Gurun Neraka yang hampir-hampir tak dapat dipatahkan lagi.

Dan Pendekar Gurun Neraka yang dapat menerima kata-kata panglima ini akhirnya menyadari kekeliruannya dalam memandang sebuah persoalan selama ini.

Memang betul.

Manusia hidup tak mungkin menyendiri, biarpun itu hanya dengan keluarganya sendiri.

Dan bahwa manusia dikodratkan sebagai makhluk "sosial" yang harus berhubungan satu dengan yang lainnya memang tak dapat dibantah lagi oleh pendekar ini.

Betapapun manusia tak dapat acuh dengan keadaan sekitar, meskipun itu jauh darinya.

Karena suatu perbuatan buruk yang dilakukan seseorang dan tidak mendapat perhatian serius untuk menanganinya, tentu kelak cepat ataupun lambat pasti mengenai dirinya juga.

Itu kalau dia masih hidup.

Kalau dia sudah tiada, di mana generasinya sudah diganti oleh yang muda, tentu kelak anak atau cucunya ini yang menerima "getah".

Alhasil, keluarganya juga yang memperoleh pil pahit dari sebuah kejahatan yang tidak segera diatasi.

Padahal dia bisa mengatasi hal itu!

Hmm, kenapa dia terkungkung dalam pandangannya yang picik selama ini? Kenapa dia acuh tak acuh menghadapi persoalan dua kerajaan itu? Bukankah dia dapat menyingsingkan lengan untuk membantu Yueh? Setidak-tidaknya, kalau dia segan berurusan dengan kerajaan, maka dia dapat dan harus berurusan dengan kejahatan!

Itu tak dapat dielak.

Dia adalah seorang pendekar.

Dan bagi seorang pendekar, seharusnya tak ada pikiran siapa yang dibela.

Kerajaan ataukah bukan kerajaan, kelompok ataukah bukan kelompok.

Dan perorangan ataupun bukan perorangan, karena tugas seorang pendekar sesungguhnya adalah membela kebenaran!

Itu saja.

Titik.

Dan siapa yang melakukan ketidakbenaran berarti dia itu musuhnya.

Musuh seorang pendekar!

Maka Pendekar Gurun Neraka yang akhirnya menarik napas ini menunduk dalam-dalam.

Dia tersenyum pahit, teringat betapa dia "disemprot" habis-habisan oleh bekas pembantunya ini, Fan Ciangkun yang gagah perkasa.

Tapi kalau panglima itu lebih cenderung untuk membela kerajaan dan junjungannya, adalah dia lebih menitikberatkan persoalan itu pada kebenaran.

Tak peduli apakah "kebenaran" itu sedang berkaitan dengan kerajaan atau bukan kerajaan, dengan kelompok atau bukan kelompok.

Dan bahwa dia harus membela Yueh karena sikap Wu sudah di luar garis kebenaran, maka dia harus menyingsingkan lengan dan melawan kejahatan itu.

Hal yang sudah menjadi tugas seorang pendekar!

Sementara Fan Li, yang gembira mendapat kesanggupan pendekar ini untuk membela kerajaannya, saat itu juga langsung berunding dengan orang yang diharap dan diandalkannya ini.

Panglima itu bersemangat sekali, tak kenal lelah dan waktu.

Dan ketika semuanya selesai dan tugasnya berhasil dengan sukses, dia pun kembali ke kota raja setelah menginap satu malam di rumah pendekar itu.

Turun gunung dengan muka berseri-seri setelah tugas pertamanya ini berhasil baik dan memuaskan!

Dan beberapa bulan kemudian, atas restu Pangeran Kou Cien serta "berkah" dari Pedang Medali Naga, didirikanlah perkumpulan Ho-han-hwe itu.

Pedang ini diikutsertakan untuk memberi "pengayoman" secara psikis, pedang keramat yang diminta bantuannya secara gaib untuk memberi keberhasilan pada misi mereka.

Perjuangan yang siap mereka lancarkan dari bawah dan amat berat itu.

Dan karena saat itu banyak orang-orang sakti yang percaya pada benda-benda pusaka yang dikeramatkan orang-orang tertentu, apalagi seperti benda-benda istana macam Pedang Medali Naga ini, maka secara moral mereka merasa mendapat tambahan kekuatan batin yang tidak kecil artinya bagi perkumpulan itu.

Pedang yang secara simbolik dijadikan lambang pintu "gaib" untuk memperoleh keberhasilan mereka dalam perjuangan melawan kezaliman raja muda Wu!

Perjuangan "bawah tanah" yang harus dilakukan dengan hati-hati sekali!

Dan kini, kembali pada peristiwa di atas Gunung Ta-pie-san, di mana saat itu Pendekar Gurun Neraka mendengar berita tentang hilangnya Pedang Medali Naga, sang ketua Go-bi Bu Wi Hosiang yang tidak sabar melihat pendekar ini termenung terlalu lama sudah bertanya sambil mengetukkan tongkatnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment