Chapter 25
"Bagaimana pendapatmu, Yap-sicu? Apakah kita harus memencar untuk mencari kembali pedang yang hilang ini?" Pendekar ini menarik napas berat.
"Aku belum dapat menentukannya, Lo-suhu. Tapi bagaimana pula dengan anak kami, Sin Hong? Kami juga mendapat musibah ini, tentu tak mungkin membiarkannya begitu saja dilarikan penjahat!"
"Hm, kalau begitu pinto dapat membantunya, Pendekar Gurun Neraka. Pinto dan Bu Wi Lo-suhu akan meminta semua anggota Ho-han-hwe yang ada untuk dikerahkan mencari anakmu itu. Tapi siapa yang harus lebih dulu dicari?" Thian Kong Cinjin tiba-tiba bicara, menimpali pembicaraan rekannya.
Dan Pek Hong yang tentu saja lebih memberatkan anak daripada sebuah perkumpulan sudah menjawab dengan alis berkerut, "Tentu saja kami akan mencari Sin Hong dulu, Locianpwe. Pedang Medali Naga setidak-tidaknya dapat dicari oleh kalian para anggota Ho-han-hwe!"
"Tapi kami akan membantumu, Hujin. Pinto tidak bermaksud mendahului urusan pribadi kalau itu lebih penting!"
"Ya, tapi sebaiknya begini saja, Yap-sicu. Karena Paduka Pangeran menghendaki kedatanganmu di istana, sebaiknya kita cari kedua-duanya secara berbarengan. Ada suatu urusan yang hendak dibicarakan empat mata oleh Sri Paduka Pangeran. Kalau kau setuju, pinceng dapat mengerahkan murid-murid pinceng untuk mencari jejak anakmu. Bagaimana menurut Hujin?"
Pek Hong memandang Hwesio Go-bi ini. Dia tentu saja masih keberatan, tak mau urusan mencari Sin Hong "dipisah" seperti itu. Karena ia menghendaki anaknya itu dicari dulu, bukan dicari sambil lalu. Tapi belum ia menjawab, mendadak Ceng Han sudah mendahului maju.
"Adik Hong, sebaiknya begini saja, aku punya usul. Kalau kalian setuju dan tidak keberatan, sebaiknya biarkan Yap-twako ke kota raja memenuhi permintaan Sri Paduka Pangeran. Ho-han-hwe mengalami cobaan berat, hanya Yap-twako seorang yang bisa mengatasinya. Kalau kalian tak dapat menunggu kembalinya Yap-twako untuk mencari Sin Hong, biarlah aku mewakili Yap-twako bersama kalian mencari anak itu. Bagaimana menurut pendapat kalian?"
Pek Hong tidak segera menjawab, ia memandang suaminya, meminta pertimbangan. Dan Pendekar Gurun Neraka yang menghela napas tiba-tiba bertanya, "Han-te, urusan apakah sebenarnya yang hendak dibicarakan pangeran kepadaku? Tidakkah urusan itu bisa dilimpahkan pada orang lain saja?"
"Aku tidak tahu masalahnya, Twako. Tapi pangeran bilang ingin bicara empat mata denganmu!"
"Dan Bu Wi Lo-suhu atau Thian Kong To-tiang juga tidak tahu?"
"Pinceng kurang jelas, Yap-sicu. Tapi tentunya itu penting sekali."
"Ya, dan pinto rasa keadaan sudah mendesak, Pendekar Gurun Neraka. Karena pangeran sendiri berpesan agar secepatnya bertemu denganmu!" Thian Kong Cinjin menjawab, menyusul kata-kata Bu Wi Hosiang.
Dan Pendekar Gurun Neraka yang bagaimanapun juga terjepit oleh dua urusan yang sama-sama penting ini akhirnya mengangguk.
"Baiklah, aku akan ke kota raja kalau begitu, Ji-wi Locianpwe. Dan kukira tidak ada jeleknya kalau adik iparku ini membantu istriku mencari Sin Hong." Lalu menoleh pada istrinya pertama pendekar ini bertanya, "Hong-moi, kau tentu dapat menyetujui pendapatku, bukan? Istana meminta kedatanganku, urusan pribadi terpaksa kusampingkan dulu. Bagaimana menurut pendapatmu?"
Pek Hong terisak. Ia tiba-tiba sedih, tetapi merasa tidak dapat menolak karena di situ sedang ada tiga orang tamu mereka, maka nyonya muda ini pun menganggukkan kepala dengan hati disayat. Merasa betapa mereka lagi-lagi harus berpisah!
"Terserah padamu, Koko... kalau kau merasa itu paling baik bagi kita, aku akan mengikutimu...!"
Ceng Bi terharu. Ia tahu apa yang sedang bergolak di hati madunya ini, maka memeluk pundak madunya ia berbisik, "Enci Hong, jangan berduka. Aku akan menemanimu mencari Hong-ji. Bagaimanapun juga dia adalah puteraku, anak-anak kita berdua!"
Pek Hong menangis di pelukan madunya. Ia tersedu-sedu, tetapi istri pendekar sakti yang tahu keadaan ini akhirnya mampu menahan diri. Ia menggigit bibir, dan ketika mereka sudah menentukan rencana untuk apa yang diperbuat, maka Pendekar Gurun Neraka serta tiga orang tamunya segera mengurus mayat Ta Bhok Hwesio yang ada di ruangan itu.
Pek Hong hampir pingsan melihat keadaan gurunya ini, dan Ceng Bi yang bijaksana lalu menyeret madunya itu ke dalam kamar untuk dihibur. Sementara keesokan harinya, setelah semua urusan di atas gunung beres, berangkatlah Pendekar Gurun Neraka ke kota raja bersama Bu Wi Hosiang dan Thian Kong Cinjin.
Mereka bersama turun gunung, tetapi ketika tiba di kaki bukit tiga orang ini berpisah. Thian Kong Cinjin dan Bu Wi Hosiang belok ke kiri menuju markas Ho-han-hwe, sedangkan Bu Kong terus ke barat menuju kota raja, meninggalkan Ceng Bi dan Pek Hong serta Ceng Han di atas gunung. Tiga orang yang siap mencari Sin Hong kalau dia terlalu lama kembali!
"Siauw-cut, bagaimana kesanmu di atas gunung?"
"Hm, mereka benar-benar lihai, Locianpwe. Pendekar Gurun Neraka dan dua orang istrinya itu benar-benar tidak dapat dipandang enteng!"
"Dan kau sekarang percaya omonganku?"
"Ya."
"Ha-ha, kau memang anak keras kepala, Siauw-cut. Kalau belum membuktikan sendiri agaknya kau tak kenal puas!"
Dua bayangan itu bicara sambil berlari cepat. Mereka adalah Bu-beng Siauw-cut dan Kun Seng, laki-laki tua yang belum begitu dikenal si bocah. Dan Kun Seng yang tertawa bergelak oleh pengakuan anak laki-laki ini akhirnya menuding ke kanan.
"Bu-beng, kita istirahat dulu. Pohon itu rindang sekali untuk kita!"
Anak itu mengangguk. Dia tidak mengeluh diajak berlari di panas terik begitu. Tetapi ketika lawan mengajaknya berteduh dia pun tidak menolak. Mereka membelok ke kanan, dan begitu tiba di bawah pohon rindang ini si laki-laki tua membanting pantatnya sampai berdebuk.
"Bu-beng, kau sungguh anak luar biasa. Gembira sekali aku berkenalan denganmu, ha-ha...!" Dan Kun Seng yang memandang si bocah penuh kagum tidak menyembunyikan rasa gembiranya yang amat besar.
Tetapi anak laki-laki ini acuh saja. Dia menyeka peluh, lalu duduk di bawah pohon itu dia memandang lawan bicaranya.
"Locianpwe, kapan kau akan meninggalkan aku?"
"Wah, kenapa buru-buru, anak baik? Bukankah aku baru saja menolongmu dari kejaran dua orang istri Pendekar Gurun Neraka itu? Kalau tidak tentu kau sudah ditangkap mereka dan mungkin mendapat perlakuan tidak menyenangkan yang menyakitkan hatimu!"
Anak ini tersenyum mengejek. "Ya, kata-katamu benar, Locianpwe. Tapi bagaimanapun juga kau harus menepati janji!"
Orang tua ini menyeringai. Dia mengebut-ngebutkan bajunya yang penuh debu, lalu mengambil roti kering dan arak putih dia menggapaikan lengannya. "Bu-beng, aku tidak akan melanggar janji. Tapi tidak adakah rasa terima kasihmu pada tua bangka ini? Hayo ke mari, kita minum arak dulu sebelum berpisah!"
Anak itu menggeser duduknya. Dia sudah disodori arak putih itu, juga roti kering. Tetapi mengerutkan alis, mendadak dia bertanya, "Apakah untuk makanan dan minuman ini aku juga dianggap utang, Locianpwe?"
"Eh, apa maksudmu?" si tua terbelalak.
"Artinya, bila aku menerima tawaranmu ini apakah juga wajib kau menagih utang terima kasih padaku?"
Laki-laki tua itu tertawa terbahak. "Bu-beng, kau kurang ajar sekali. Kenapa bicaramu ceplas-ceplos begini? Siapa mengharuskan kau berterima kasih padaku? Hayo, sambar saja roti kering ini dan celupkan pada arak. Tentu sedap sekali dinikmati pada saat terik begini, ha-ha...!" Dan si tua yang sudah melempar sepotong roti pada anak laki-laki itu menggelogok araknya dengan lahap.
Bu-beng Siauw-cut mengamati, tertegun sejenak. Tapi melihat temannya itu menggelogok arak dengan muka gembira dia pun jadi tersenyum kecil. Kun Seng sudah melempar guci araknya pula, dan laki-laki tua yang berseri mukanya itu menepuk pundaknya.
"Bu-beng, hayo minum. Celup roti kering itu dan nikmatilah...!"
Anak ini tidak menolak lagi. Dia sudah menerima guci arak itu, lalu minum sedikit membasahi kerongkongannya yang haus diapun mulai menggigit roti kering itu. Masih sungkan-sungkan. Tetapi si tua Kun Seng yang tidak sabar melihat sikap anak ini menyambar gucinya.
"Wah, kenapa malu-malu? Hayo buka mulutmu itu, Bu-beng. Aku akan menuangnya..." Gluk-gluk-gluk! Dan Bu-beng Siauw-cut yang tiba-tiba meneguk arak yang sudah dituang dalam mulutnya yang terbuka mendadak terbatuk-batuk dan tersedak!
"Wah... sudah, Locianpwe... sudah, sudah cukup...!"
Orang tua itu tertawa. Dia melempar kembali gucinya pada anak laki-laki itu, dan bangkit berdiri dengan muka gembira. "Minumlah, Bu-beng. Dan jangan kaget kalau beberapa saat lagi kau akan merasa bertambah semangat dan enteng sekali tubuhmu! Tapi tidak khawatirkah kau bahwa arakku beracun?"
Si anak mengusap bibirnya. "Aku tidak khawatir racun atau tidak beracun, Locianpwe. Yang jelas aku percaya kau tidak mempunyai maksud buruk!"
"Ha-ha, dari mana kau tahu?"
"Dari sikapmu ini. Bukankah kau telah menolongku dari kejaran dua orang istri Pendekar Gurun Neraka?"
Laki-laki tua itu terbahak. Dia gembira sekali berdekatan dengan anak ini, tetapi teringat dia harus meninggalkan anak ini sesuai perjanjiannya di kuil Tee-kong-bio, tiba-tiba ketawanya lenyap terganti rasa muram yang membuat mukanya gelap.
"Bu-beng," dia menarik napas. "Kau benar-benar anak mengagumkan sekali. Tetapi bolehkah kutanya satu hal sebelum kita berpisah?"
Anak itu terheran. "Apa yang hendak kau tanyakan, Locianpwe?"
"Dirimu ini. Ke manakah kau akan pergi setelah kegagalanmu di puncak gunung?"
"Hm, itu urusanku sendiri, Locianpwe. Apakah kau hendak secara diam-diam menguntit perjalananku?"
"Ah, tidak, anak baik. Tetapi aku hendak memberi nasihat padamu."
"Tentang apa?"
"Tentang kelemahanmu ini. Kau harus belajar silat, tidak boleh begini terus kalau ingin berhasil menghadapi Pendekar Gurun Neraka. Laki-laki itu terlalu hebat untukmu, Bu-beng. Di dunia ini kukira hanya dua orang saja yang dapat menandinginya!"
Si anak tertegun. "Siapa, Locianpwe?"
"Aku sendiri dan seorang lain!"
Bu-beng Siauw-cut tiba-tiba tertawa.