Chapter 26
Dia terbelalak mendengar kata-kata itu, sekilas namun kemudian tertawa geli hingga terpingkal. Lalu bangkit berdiri sambil masih tertawa geli. Anak itu berkata, "Locianpwe, pintar sekali akalmu ini. Bukankah dengan begitu kau ingin bersamaku terus dan membatalkan janjimu sendiri? Ah, kau tak perlu menipu aku, locianpwe. Kau tak dapat membodohiku dengan caramu begini...!"
Laki-laki itu memerah mukanya. "Aku tak bohong, Bu beng. Aku mempunyai ilmu silat pedang yang selama ini kurahasiakan untuk menghadapi pendekar muda itu!"
Tapi Bu-beng Siauw-cut tak tertarik. Anak itu menghela napas, duduk kembali dengan mata melamun, dan menggeleng. "Tidak, aku tak tertarik pada ilmu pedangmu, locianpwe, atau pada ilmu silat orang lain yang bagaimanapun hebatnya. Aku telah menemukan calon guruku sendiri. Dan itu baru kuketahui ketika aku berada di rumah musuh besarku itu!"
Kun Seng terbelalak. "Siapa, Bu-beng?"
"Hampir sama dengan namaku. Tapi tak kuketahui di mana dia berada!"
"Hm... Siapa dia? Mampukah dia menandingi ilmu pedangku?"
Si bocah tertawa aneh. "Aku tak tahu bagaimana kehebatan ilmu pedangmu, locianpwe. Tapi aku merasa kau tak dapat menandingi orang yang menjadi pilihanku ini, biarpun aku juga belum pernah melihat muka ataupun ilmu kepandaiannya!"
Orang tua itu penasaran. Ia jadi marah mendengar kata-kata ini, namun menekan kemarahannya. Tiba-tiba ia mencabut pedang yang tersembunyi di balik punggungnya. "Bu-beng, beranikah kau bertaruh bahwa orang itu benar-benar mampu menandingi ilmu pedangku? Siapa dia dan yakinkah kau akan kehebatannya?"
"Hm, aku yakin, locianpwe. Karena Pendekar Gurun Neraka sendiri tampaknya berubah mukanya begitu menyebut nama orang ini! Dia pasti orang hebat, kalau tidak tak mungkin pendekar itu gemetar menyebut namanya...!"
Kun Seng jadi mendongkol. "Dan kau berani menerima taruhanku?"
Si anak tiba-tiba bangkit berdiri. "Kenapa tidak, locianpwe? Aku berani bertaruh untuk nama yang satu ini. Tapi dengan syarat, bila kau mengakui kebesaran namanya, kau harus menunjukkan padaku di mana orang itu berada!"
Si tua terbelalak. "Hanya dengan mengakui kebesaran namanya? Jadi belum bertanding?"
"Ya, tak perlu bertanding, locianpwe. Karena kalau bertempur kau pasti kalah! Kau berani mengakuinya dengan jujur?"
Laki-laki ini membanting kakinya. "Bu-beng Siauw-cut, kau benar-benar bocah kurang ajar! Mana mungkin bertaruh macam ini? Kau gila!"
Tapi anak itu tersenyum. "Tidak, aku tidak gila, locianpwe. Justru aku merasa yakin setelah Pendekar Gurun Neraka sendiri menyebut namanya. Sesungguhnya aku telah mendengar nama itu banyak disebut-sebut orang!"
"Hm, siapakah dia?"
Namun anak ini menyeringai kecil. "Locianpwe, sebaiknya kita bicara dengan jujur. Beranikah kau mengakui kekalahanmu bila benar orang ini di atas dirimu? Artinya, bila benar orang ini memiliki nama besar di atas dirimu sendiri, kau harus jujur mengakuinya dan tak boleh banyak cakap lagi. Tapi kalau aku yang kalah, apa pun boleh kau minta dariku, termasuk menjadi muridmu ataupun pelayanmu!"
Kun Seng naik darah. Ia tertawa bergelak untuk melampiaskan kemarahannya, namun menggeram lirih ia berkata, "Bu-beng, baru kali ini aku, si tua bangka, diadu macam jangkrik tak berdaya oleh bocah macammu ini. Tapi baiklah, bila dia memang betul-betul hebat dan sanggup melayani ilmu pedangku, saat itu juga aku tunduk dan menyerah kalah. Tapi kalau tidak, kau harus melayaniku sebagai budak selama sepuluh tahun!"
Anak ini mengangguk. "Boleh, kuterima tantanganmu. Tapi bagaimana kalau aku yang menang?"
"Kau boleh minta apa saja dariku, bocah kurang ajar. Tapi yang tidak melanggar kebenaran!"
"Baik, aku hendak minta satu saja, locianpwe. Yakni kau harus menunjukkan padaku di mana orang besar ini tinggal!"
Kun Seng tertawa beringas. Ia penasaran sekali, merasa "diaduk-aduk" bocah ini. Tapi laki-laki tua yang mendongkol bercampur tegang itu membentak, "Baiklah, sekarang katakan siapa dia, Bu-beng Siauw-cut. Aku siap mendengar dan memaki namanya kalau dia cecunguk macam dirimu ini!"
Anak itu tersenyum. "Kau benar-benar siap, locianpwe?"
"Ya, cepat katakan!"
"Baiklah, dia adalah Bu beng Sian-su!"
"Hah...?" Si tua mencelat ke belakang, "Bu-beng Sian-su? Kau gila, anak setan? Kau hendak menandingkan manusia dewa itu dengan si tua bangka ini?"
"Ya, kau mampu mengalahkannya, locianpwe. Kau anggap nama ini tidak berharga dibanding namamu? Kau siapakah dan siapa julukanmu?"
Tapi Kun Seng sudah tertegun bingung. Ia terkejut mendengar nama yang diajukan Bu-beng Siauw-cut ini, mengira anak yang tidak bisa silat itu tak mengenal nama yang tersohor di kalangan orang-orang kang-ouw ini. Nama yang tidak ada bandingannya di seluruh jagat persilatan, nama yang tidak bisa disejajarkan dengan orang-orang "biasa" karena Bu-beng Sian-su dianggap dewa yang tingkatannya jauh di atas manusia "biasa". Karena itu mendengar Bu beng Siauw-cut tiba-tiba mengajukan nama ini, kontan saja kakek itu terkejut dan bengong. Tapi akhirnya malah marah-marah!
"Bu-beng, kau curang. Nama ini terang tak dapat disejajarkan dengan manusia!"
"Hm. Kenapa begitu, locianpwe? Bukankah dia juga manusia seperti kita?"
"Benar, tapi Bu-beng Sian-su manusia istimewa, bocah. Dia manusia dewa yang disegani orang jahat maupun baik!"
"Dan kau mengakui kebesarannya?"
"Tentu saja. Tapi..."
"Tapi kau tentu tak menolak kekalahanmu bukan, locianpwe?" anak ini memotong, tersenyum memandang lawannya.
Dan si kakek yang blingsatan oleh potongan kata-kata itu akhirnya membanting kaki dengan marah. "Bu-beng Siauw-cut, kau curang. Kau benar-benar mengakali aku!"
"Tapi aku merasa tak menipumu, locianpwe. Kita masing-masing bicara apa adanya!"
"Ya, tapi Bu-beng Sian-su bukan tandingan manusia biasa, anak setan. Kakek itu manusia dewa yang tidak ada tandingannya di muka bumi ini!"
"Jadi karena itu dia betul-betul hebat luar biasa?"
"Tentu saja!"
"Nah, dialah calon guruku. Aku telah menjatuhkan pilihan untuk menjadi murid manusia dewa ini."
Tapi si lelaki tua yang mendengus tiba-tiba tertawa mengejek. "Siauw-cut, kau bagai pungguk merindukan bulan! Tidak tahukah kau watak yang aneh dari kakek dewa ini?"
"Hm, watak aneh yang bagaimana, locianpwe? Apa yang kau maksud?"
"Kau tidak akan berhasil mewujudkan angan-anganmu, bocah. Bu-beng Sian-su tak mungkin mau mengambilmu sebagai murid!"
"Kenapa?"
"Kakek itu tak lagi terikat oleh segala hubungan duniawi. Dia tak mau terikat dan diikat oleh urusan murid dan guru. Biarpun kau jungkir balik seribu kali di depannya!"
"Ah, kau bohong, locianpwe-... Kau menakut-nakuti aku?"
"Hm, kenapa aku harus bohong padamu, Siauw-cut? Kenapa aku harus membohongi seorang bocah? Kau kira untuk membujukmu menjadi muridku aku harus berbuat yang tidak-tidak? Huh. Orang she Kun ini masih punya harga diri, bocah. Aku tak sudi melakukan perbuatan memalukan kalau kau memang tak mau menjadi muridku!"
Bu-beng Siauw-cut percaya. Dia memang melihat watak yang gagah membersit di wajah laki-laki tua ini, sikap yang penuh kejantanan di balik keriput muka tua itu. Tapi sangsi bahwa Bu-beng Sian-su benar-benar tak mau "diikat" urusan duniawi, ia pun mencoba tersenyum, senyum tak percaya. "Locianpwe, aku belum membuktikannya sendiri. Mungkin kau benar tapi mungkin juga tidak. Siapa tahu nasib keberuntungan sedang ada di pihakku. Kau katakanlah sekarang, di mana aku bisa menemui kakek itu dan kita sama lihat, siapa yang menang untuk urusan ini. Kau masih menepati janjimu, bukan?"
Kun Seng tertawa mengejek, gemas juga! "Siauw-cut, kau benar-benar anak bandel. Kenapa tidak percaya omongan orang? Kaukira mudah membujuk kakek itu? Tapi baiklah, kalau benar-benar kau ingin menemui manusia dewa ini, kau boleh mencarinya di Gua Malaikat! Kakek itu ada di situ. Biasanya bersemadi berhari-hari sebelum turun gunung mencari seseorang."
"Hm, di mana Gua Malaikat itu, locianpwe?"
"Di sana. Tiga hari perjalanan dari sini di sebelah timur Lembah Cemara. Kau temuilah kakek itu kalau kau berhasil!" Si tua menuding ke timur, ke arah sebuah gunung yang hijau kebiruan, jauh dari tempat mereka berada.
Dan Bu-beng Siauw-cut yang sudah gembira hatinya buru-buru melompat bangun dan menjura. "Locianpwe, kau benar-benar baik. Terima kasih...!"
"Hm, kau mau berangkat sekarang juga?"
"Ya. Mau tunggu apalagi, locianpwe? Bukankah kita..."
"Ya-ya, kita tak ada urusan lagi, Bu-beng Siauw-cut. Aku tahu... aku tahu itu! Bukankah kau hendak bilang bahwa aku tak perlu menguntitmu di belakang?" si kakek memotong, gemas tapi juga mendongkol.
Dan Bu-beng Siauw-cut yang tertawa ditahan segera membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. "Locianpwe, jangan marah. Sesungguhnya kalau belum berhasil kutemui manusia dewa itu, tak puas rasanya hati ini. Kita rupanya tak berjodoh, hingga maaf tak dapat kupenuhi permintaan baikmu untuk mengambilku sebagai murid. Tapi masih banyak anak-anak lain yang berbakat, bukan? Nah, sampai ketemu, locianpwe. Selamat tinggal dan... jangan melanggar janjimu sendiri untuk mengejar-ngejarku lagi!"
Anak itu sudah memutar tubuh, siap meninggalkan kakek she Kun ini. Tapi si tua yang menggapai lengannya mendadak melompat maju, berseru memanggil, "Bu-beng, tunggu dulu! Bolehkah kutanya sebuah hal?"
"Hm, apa yang hendak kautanyakan, locianpwe?"
Kakek itu batuk-batuk. "Aku ingin bertanya tentang kecerdikanmu ini, anak baik. Bahwa agaknya semenjak di kuil Teekong-bio itu kau sudah tahu tentang nama Bu-beng Siansu ini! Benarkah?"
Anak itu tersenyum. "Memang benar, locianpwe."
"Dan kau sengaja menguji kebesaran nama ini di depan Pendekar Gurun Neraka dan aku sendiri?"
"Hm, sebetulnya tidak demikian, locianpwe. Untuk Pendekar Gurun Neraka aku mendapatkannya secara kebetulan saja."
"Dan untuk diriku?"
Si anak tertawa. "Setan, kenapa kau kau tertawa, Bu-beng?"
Bu-beng Siauw-cut geli hatinya. "Maaf. Aku sengaja mengulang nama itu untuk meyakinkan diriku, locianpwe. Dan ternyata benar kau terkejut sekali begitu mendengar nama Bu-beng Sian-su!"
"Jadi dengan begini kau yakin dia merupakan orang yang dapat kauandalkan, bocah?"
"Ya."
"Setan...!"