Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 27

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 27

Kau benar-benar bocah siluman, Bu-beng. Sungguh tak kusangka kau memiliki kecerdikan besar!" Bu-beng Siauw-cut tertawa. Dia tak menghiraukan lagi kakek Kun ini, memutar tubuh dan berlari cepat meninggalkan kakek itu. Tapi melambaikan tangan dia berteriak, "Locianpwe, jangan penasaran. Kita berpisah dulu sampai jumpa...!" Jilid 5 SI KAKEK terang tak dapat mengejar. Dia terikat perjanjian, tak boleh mengganggu bocah itu lagi. Dan Kun Seng yang menjublak bengong akhirnya mengepal tinju dan memasukkan pedangnya. Laki-laki tua ini menggelengkan kepalanya, mendesis lalu berbalik punggung, mengambil arah berlawanan dengan Bu-beng Siauw-cut untuk melangkahkan kakinya dengan gontai. Lalu begitu dia menyeringai dan tertawa sendirian tiba-tiba tubuhnya pun berkelebat dan lenyap dari tempat itu. Tak tahu pergi ke mana!

"Ibu, bagaimana kita sekarang?" Tok-sim Sian-li menangis. Dia bersama anaknya sudah meluncur turun dengan air mata bercucuran, meninggalkan tempat Pendekar Gurun Neraka diiringi pelayannya setia Acheng. Sementara Ceng Liong yang diseret ibunya sepanjang jalan tiba-tiba bertanya dengan tinju terkepal, marah dan bingung melihat ibunya menangis tak berkesudahan! Tapi akhirnya wanita ini berhenti juga. Mereka sudah jauh dari Ta-pie-san, tak mungkin terkejar lagi. Dan Tok-sim Sian-li yang menangis sampai bengkak matanya lalu membanting tubuh di pinggir jalan, menggigit bibir dengan mata penuh kebencian, berapi-api. "A-cheng, bagaimana menurut pendapatmu menghadapi hinaan ini?" Sang pelayan menundukkan kepalanya. "Hamba kira sia-sia, hujin Pendekar Gurun Neraka memang terlalu tangguh untuk kita!" "Jadi dengan begitu kita diam saja tak membalas?" Pelayan ini bingung. "Tentu saja, hujin..... tentu saja kita harus membalas! Tapi-bagaimana caranya?" Ceng Liong tiba-tiba maju. "Sebaiknya kita cari seorang teman, ibu. Kita bekerja sama dengan seseorang untuk membalas hinaan ini'" Tok-sim Sian-li bersinar matanya, tampak tertegun. Tapi wanita cantik yang semula berseri itu tiba-tiba menggeleng sedih, menarik napas. "Tak mungkin itu kita lakukan, Liong-ji. Orang-orang yang membenci Pendekar Gurun Neraka sudah tiada lagi. Mereka tewas pada sepuluh tahun yang lalu, termasuk guruku sendiri Cheng-gan Sian jin...!" "Tapi sekarang tentu ada tokoh baru, ibu. Masa tak ada teman untuk kita membalas dendam?" "Hm, sulit, Liong-ji. Aku juga lama tak turun gunung. Siapa tokoh itu? Kukira tak ada, kecuali kalau kita keluar perbatasan dan minta tolong pada beberapa sahabat mendiang sukongmu (kakek guru)!'' "Nah, itulah....!" Ceng Liong berjingkrak girang. "Kenapa tidak kita lakukan itu, ibu? Kita keluar perbatasan saja, kita cari mereka!" Tapi sang ibu muram mukanya. "Aku tak tahu tempat tinggal mereka, Liong ji. Mereka merupakan orang-orang aneh yang tak tentu rimbanya!" "Ah...." Ceng Liong kecewa. "Kalau begitu kita gagal, ibu. Tapi tidak adakah jalan lain untuk membalas hinaan ini?" Tiba-tiba, seperti menjawab kekecewaan anak itu mendadak terdengar suara tawa bergelak yang menggetarkan tanah sekitarnya. Ceng Liong dan ibunya melihat dua bayangan berkelebat lalu begitu muncul di depan mereka tahu-tahu dua laki-laki aneh berdiri di depan mereka dengan liur berketes-ketes, yang seorang tinggi besar bagai raksasa menyeramkan dengan bulu dada lebat menghitam sedang yang lain kurus kerempeng dan terbatuk-batuk bagai orang kena tbc! "Ha-ha, siapa bocah ini, hujin? Anakmu kah?" Tok-sim Sian-li terkejut. "Dan siapa kau, niocu? Ibu anak ini kah?" Tok-sim Sian-li terbelalak. Dia memandang dua orang laki-laki itu dengan muka pucat, tergetar dan turut selangkah melihat keadaan mereka yang menyeramkan. Terutama si tinggi besar itu, yang matanya terbelalak sebesar jengkol. Liurnya berketes-ketes bagai raksasa yang mencium daging segar! Dan kaget serta terpengaruh oleh kehadiran tak disangka-sangka yang mengejutkan dari dua orang laki-laki ini Tok-sim Sian-li akhirnya membentak, "Siluman-siluman buas. Kalian siapakah dan ada apa datang?" Si kurus kering terbatuk-batuk. "Heh-heh, kau cantik, niocu. Tubuhmu segar dan menggairahkan sekali. Tidak tahukah kau siapa kami?" Si raksasa tertawa bergelak. "Kami dua sahabat dari luar perbatasan, hujin. Kami datang karena kau menyebut-nyebut nama mendiang sahabat kami Cheng-gan Sian-jin!" "Oh...!" Tok-sim Sian-li terkejut. "Kalian siapakah, ji-wi locianpwe? Bagaimana bisa mengaku sahabat dari mendiang guruku?" "Heh-heh, Cheng-gan Sian-jin gurumu, nio-cu? Jadi kau ini muridnya yang berjuluk Tok-sim Sian-li itu?" Tok-sim Sian-li terbelalak. "Ya. Kalian siapakah, ji wi locianpwe?" "Ha-ha, aku adalah Naga Kepala Sakti, hujin. Di luar perbatasan orang memanggilku Temu Ba, raksasa pemakan bocah macam anakmu ini!" Ceng Liong terkejut. Dia bersama ibunya mengeluarkan seruan kaget, ngeri dan pucat melihat si tinggi besar itu tiba-tiba melangkah maju, mengulurkan lengan dan tahu-tahu menangkap anak laki-laki ini. Dan Ceng Liong yang sudah dicengkeram si raksasa Temu Ba tiba-tiba menggaplok muka lawan sambil menjerit. "Siluman busuk, lepaskan aku...!" Tapi Temu Ba terbahak. Dia membiarkan mukanya digampar, lalu melihat Ceng Liong menendang perutnya tiba-tiba jari raksasa tinggi besar ini menotok pundak, membuat Ceng Liong lumpuh. Dan begitu si anak mengeluh dengan mata terbelalak tahu-tahu hidungnya mengendus-endus ubun-ubun Ceng Liong, dijilat-jilat! "Ha-ha, anak ini segar sekali, Mayat Hidup. Otaknya bersih dan sumsum tulang belakangnya kental! Tentu darahnya juga segar dan bersih...!" Tok-sim Sian-li terkesiap. Dia kaget melihat anaknya disambar Temu Ba, dan melihat kepala Ceng Liong dijilat-jilat dan gigi si raksasa mulai mencuat lebar mendadak wanita cantik ini melengking dan membentak marah, "Temu Ba, lepaskan anakku...!" Tapi raksasa Mongol itu terbahak. Dia tak menghiraukan bentakan itu, tapi ketika lawan berkelebat menamparnya mendadak laki-laki ini mengegos, berkelit dan menerima tamparan Tok-sim Sian-li dengan bahunya yang lebar. "Plak....!" dan Tok-sim Sian-li tergetar mundur, menjerit kecil dengan muka pucat! "Ha-ha, bagaimana, hujin? Kau masih berani memukulku lagi?" Tok-sim Sian-li memekik. Dia melihat si raksasa liurnya semakin berketes-ketes, tampak tergiur sekali oleh kepala Ceng Liong yang segar, seperti seekor kucing menjilat-jilat kepala seekor tikus. Dan Tok-sim Sian-li yang gelisah serta marah oleh keselamatan puteranya mendadak melompat maju dan menampar lagi, kali ini ke leher si raksasa Mongol dengan pukulan Tok-hiat-jiunya! "Temu Ba, lepaskan anakku.....!" Si raksasa menyeringai. Dia melihat lengan Tok-sim Sian-li yang sudah berobah merah itu, melayang menamparnya lehernya dengan kecepatan kilat. Tapi raksasa yang tidak menangkis ini malah tersenyum dan tertawa lebar pada temannya. "Mayat Hidup, dia benar-benar murid sahabat kita. Lihat pukulan Tok-hiat-jiunya itu!" Si kurus berpenyakitan mengangguk. "Heh-heh, tampaknya benar, Mu Ba. Dia cocok sekali menjadi murid sahabat kita. Pukulannya ganas dan hebat sekali!" Temu Ba tertawa. Dia tak menghindar tamparan wanita cantik ini, mengangguk bersamaan datangnya pukulan. Tapi melihat angin tajam mengiringi tamparan itu dia mengguncang tubuh dan mendesis, "Haya, sinkangnya lumayan, Mayat Hidup. Bisa pecah leherku kalau tidak menolak pukulannya..!" lalu, bersamaan jari Tok-sim Sian-li menghantam lehernya tiba-tiba raksasa ini membentak dan menggelembungkan lehernya. Dan begitu suara pukulan mengenai dirinya tahu-tahu Tok-sim Sian-li sendiri terpelanting dan menjerit roboh! "Ah.!" Raksasa Mongol itu tertawa bergelak. Dia tampak gembira melihat wanita ini terguling-guling, tapi ketika lawan melompat bangun dan mencabut pedang di pinggang sekonyong-konyong mukanya beringas. "Mayat Hidup, tolong kaulayanai siluman cantik itu. Aku tak tahan mencium bau anak ini." Si kurus kering mendengus. Dia rupanya acuh saja, tapi ketika kakinya berjengit tiba-tiba tubuhnya melayang ke depan di muka temannya, tak tampak bergerak tapi tahu-tahu sudah terbang seperti iblis! Dan si raksasa tinggi besar yang berseri mukanya ini tiba-tiba memutar tubuh pergi membawa Ceng Liong! "Hujin, anakmu kupinjam. Aku ingin menyedot sumsum tulang belakangnya!" Tok-sim Sian-li tergetar. Ia kaget melihat Mu Ba tiba-tiba terbang ke timur, terbahak sambil menjilat-jilat kepala Ceng Liong. Dan maklum bahwa anaknya dalam bahaya tiba-tiba ibu muda ini menjerit sambil menimpukkan tiga jarum rahasianya, jarum-jarum merah yang mengandung racun jahat! Lalu tak puas dengan timpukan senjata am-gi (gelap) ini ia pun menyusul dengan lompatan panjang memburu si raksasa Mongol! "Temu Ba, jahanam kau.... cet-cet-cet!" Tapi Temu Ba tertawa bergelak. Dia tak menghiraukan serangan jarum-jarum beracun, yang runtuh begitu mengenai punggungnya. Tapi ketika lawan mengejar dan menusuk pinggangnya sekonyong-konyong raksasa ini menggerakkan tangan ke belakang, mengibas. "Mayat Hidup, jangan diam saja. Dia bagianmu... plak!" dan Tok-sim Sian-li yang tiba-tiba roboh sudah terpelanting bergulingan disambar angin pukulan si tinggi besar ini. Wanita itu marah, tapi ketika dia melompat bangun tahu-tahu si Mayat Hidup sudah berdiri di depannya. "Niocu, biarkan anakmu itu melayani Mu Ba. Lebih baik kaulayanai aku dan kita bersenang-senang, heh-hehl" Tok-sim Sian-li memekik. Ia langsung menikam si Mayat Hidup ini, lalu berteriak pada pembantunya ia membentak, "ACheng, kejar! Jangan ndomblong saja di situ...!" A-cheng terkejut. Pelayan ini sadar, dan melihat si raksasa sudah jauh melarikan Ceng Liong tiba-tiba iapun menjejakkan kakinya mengejar, setengah takut tapi juga setengah bingung! Sementara Lie Lan yang bertubi-tubi menyerang si Mayat Hidup karena dihalangi gerakannya untuk mengejar Temu Ba sudah membacok dan menusuk dengan penuh kemarahan lawannya yang kerempeng ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment