Chapter 28
Namun, betapa mengejutkan.
Mayat Hidup itu ternyata luar biasa.
Dia menggoyangkan tubuh ke kiri dan ke kanan, menggerakkannya bagai daun ditiup angin. Dan begitu dia doyong ke sana kemari sambil terkekeh, tahu-tahu semua serangan pedang itu luput dan mengenai angin kosong!
"Hia-ha, kau tak dapat menyentuh tubuhku, Nona. Gerakanmu terlalu lamban dan ringan sekali... heh-heh!" Tok-sim Sian-li mendelik.
Ia kaget, tetapi juga marah, maklum bahwa si kurus kering yang suka batuk-batuk ini memang hebat. Namun, mengingat Ceng Liong dalam cengkeraman bahaya, ia pun melengking dan bertubi-tubi menyerang, melanjutkan serangannya dalam tikaman dan bacokan yang lebih sengit.
Dan ketika suatu saat lawan tampak lambat mendoyongkan tubuh, tiba-tiba pedangnya mendesing hebat menyambar leher Si Mayat Hidup. Namun, Si Mayat Hidup terkekeh. Dia tidak mengelak, rupanya sengaja menerima babatan pedang yang meluncur deras itu. Dan ketika pedang persis menyambar lehernya, tiba-tiba jarinya terulur ke depan mengusap pinggang wanita muda itu.
"Heh-heh, pinggangmu ramping, Nona. Kau tentu pandai sekali melayani pria!" Tok-sim Sian-li terbelalak. Dia merasa pinggangnya tahu-tahu dielus, diraba, dan dicubit oleh jari-jari nakal Si Mayat Hidup. Namun, begitu pedang mengenai leher lawan, tiba-tiba pedangnya mental bertemu batang leher yang kurus tetapi alot.
"Takk!" Tok-sim Sian-li menjerit. Wanita ini mengeluarkan seruan tertahan, kaget melihat pedangnya hampir lepas dari cengkeraman. Sementara Si Mayat Hidup yang terkekeh dengan mata berkilat tahu-tahu melanjutkan cubitannya ke pinggul!
"Nona, pinggulmu bulat sekali. Ah, sedap...!" Tok-sim Sian-li terbelalak. Ia benar-benar kaget melihat kehebatan lawannya ini, tetapi melengking tinggi, tiba-tiba ia menubruk ke depan, menghantam dengan tangan kiri yang penuh Tok-hiat-jiu, sementara menusukkan pedang dengan tangan kanan ke dada Si Mayat Hidup.
Namun, Si Mayat Hidup terbeliak. Dia tertegun sejenak, rupanya terkejut. Namun, tertawa lebar, mendadak dia membusungkan dadanya yang kerempeng.
"Wah, kau hendak membunuhku, Nona?" "Heh-heh, jangan bermimpi, Nyonya manis. Hun Phi si Mayat Hidup tak dapat dibunuh!" Lalu, begitu dia tertawa, tahu-tahu kedua lengannya bergerak ke depan, yang kanan menerima telapak lawan yang mengandung Tok-hiat-jiu, sedang yang kiri dipakai untuk mengusap pipi wanita cantik itu, sementara pedang yang menusuk dadanya dia biarkan begitu saja menikam!
"Takk...!" Dan Tok-sim Sian-li tertegun. Pedangnya kembali tidak berhasil melukai lawan. Jangankan melukai, menggores saja tidak! Sementara tangan kirinya yang menghantam dengan pukulan Darah Beracun (Tok-hiat-jiu) sudah diterima tangan kanan lawan yang membuka telapaknya, menerima pukulan itu sambil terkekeh, sementara pipinya sudah diusap secara kurang ajar!
Dan sementara dia terkejut oleh kesaktian Si Mayat Hidup ini, tahu-tahu lawannya itu "menyedot" pedang dan tangan kirinya hingga melekat, tidak dapat ditarik!
"Heh-heh, kita seharusnya tidak boleh bermusuhan, Nona. Kau cantik dan masih murid dari sahabatku sendiri!" Si Mayat Hidup bicara, matanya berkilat-kilat penuh nafsu memandang Tok-sim Sian-li yang memang cantik dan menggairahkan ini.
Namun, Lie Lan yang sedang gelisah pikirannya, tiba-tiba membentak, mengerahkan ilmu terakhirnya yang berbau sihir itu, Sinhun-to yang menggetarkan jiwa, "Mayat Hidup, lepaskan aku. Lihat pedangku menjadi naga untuk menyerangmu!" Namun, Si Mayat Hidup terkekeh.
Dia masih tertawa, tetapi ketika pedang Lie Lan tiba-tiba berubah jadi naga dan berkoak di depan hidungnya, mendadak Si Mayat Hidup melepaskan cekalannya dan melompat mundur.
"Wah, usir nagamu, Nona. Aku khawatir dia menggigit bajumu." Tok-sim Sian-li girang. Ucapan lawan jelas menunjukkan bahwa lawan terpengaruh oleh bentakan sihirnya, terkejut dan melepaskan kedua tangannya dengan sikap kaget, tanda Si Mayat Hidup terkecoh melihat pedang sebagai "naga". Maka, begitu lawan melompat mundur dan berteriak ketakutan, ia pun mengejar sambil menggerakkan pedangnya.
"Mayat Hidup, kau mampuslah dicabik nagaku..." Si kurus kering menjerit. Dia melompat lagi, mundur ke belakang. Namun, ketika naga menyambar dadanya, sekonyong-konyong dia mengangkat tangan dan berseru, "Nona, awas. Aku khawatir naga ini menggigit bajumu!" Dan baru dia berteriak, tahu-tahu si naga sudah berkoak di depan, membuka mulutnya dan... "Bret bret!" Baju Tok-sim Sian-li pun benar-benar "digigit" naga ini hingga robek dan terkuak lebar!
"Ah...!" Lie Lan berseru kaget. Dia tidak mengerti bagaimana pedangnya tiba-tiba membalik, menyobek baju sendiri sampai terputus kancingnya, memperlihatkan pakaian dalamnya yang hijau tipis. Namun, masih mengira lawan ketakutan oleh sihirnya yang berbau hoat-sut itu, dia melengking tinggi dan menambah kekuatan.
"Mayat Hidup, nagaku akan mencaplok kepalamu...!" Si Mayat Hidup terbelalak. Dia tidak diketahui gentar atau tidak, karena mukanya yang putih itu sudah pucat sejak semula. Namun, ketika Lie Lan melengking tinggi dan menambah pengaruh ilmu sihirnya sambil membentak nyaring, tiba-tiba mulutnya menyeringai dan mengebutkan lengan dua kali.
"Nona, tolong aku. Biar naga itu merobek sehelai baju dalammu saja. Aku ingin menonton bukit dadamu yang menggairahkan...!" Dan begitu dia menggerakkan lengan ke depan, tahu-tahu naga yang sudah berada di depan hidungnya itu membalik, berkoak, dan menyambar Lie Lan sendiri. Dan begitu Lie Lan terpekik kaget, tahu-tahu baju dalamnya yang hijau tipis sudah "dimakan" pedangnya sendiri!
"Brett....!" Wanita ini mengeluh. Dia menjerit kecil, melempar pedang, dan mendekap buah dadanya yang tiba-tiba tersembul montok dan segar bagai buah mangga yang sudah masak!
Namun, Si Mayat Hidup yang rupanya tidak dapat menahan diri sudah terkekeh dan tahu-tahu menotok kedua pergelangan Lie Lan yang mendekap buah dadanya.
"Nona, jangan ditutupi. Pemandangan ini terlampau indah!" Lie Lan mengeluh pendek. Dia ditotok tak berdaya, lengannya menggelantung lemah, dan buah dadanya benar-benar tidak dapat ditutup lagi, telanjang dipandang mata jelalatan Si Mayat Hidup yang terkekeh gembira!
Lalu, begitu Si Mayat Hidup melangkah maju dan menundukkan kepalanya, tahu-tahu iblis ini telah membelai buah dadanya dan meremasnya kurang ajar!
"Nona, kau benar-benar menggairahkan. Tubuhmu mulus dan cantik sekali!" Lie Lan pucat mukanya. Dia gemetar memandang Si Mayat Hidup yang mulai terengah, napasnya mendengus-dengus penuh nafsu. Namun, teringat keselamatan Ceng Liong, tiba-tiba dia berseru dengan suara menggigil, "Mayat Hidup, tolong selamatkan dulu putraku. Aku siap melayanimu dengan gembira asal anakku kau selamatkan!" Si Mayat Hidup terkekeh.
"Wah, mana bisa aku mengganggu kesenangan temanku, Nona? Temu Ba pasti marah-marah, tidak boleh dia diganggu!" "Tapi dia anakku satu-satunya. Mayat Hidup. Kalian tidak boleh membunuh anakku begitu saja." "Hmm, itu kesukaan temanku, Nona. Dia paling tertarik dan terangsang kalau melihat bocah macam anakmu itu. Seperti aku juga tertarik dan terangsang melihat keindahan tubuhmu ini, heh-heh!"" Lie Lan putus asa.
"Kalau begitu, kau akan menikmati diriku seperti menikmati sebuah mayat, tua bangka. Kau tidak akan mendapatkan belaian cinta seperti layaknya dua orang laki-laki dan perempuan berhubungan!" "Eh, apa maksudmu?" Si Mayat Hidup terbelalak.
Dan Lie Lan mempergunakan kesempatan ini. "Artinya, kau akan mendapat tubuhku yang dingin, Mayat Hidup. Aku akan mematikan rasa dan ragaku kalau kau main paksa!" "Wah, tetapi aku dapat mencegahmu, Nona," Si Mayat Hidup terkekeh. "Aku dapat menotok jalan darah di punggungmu agar kau sadar kembali!" "Betul, tetapi kau tidak dapat mencegah bila aku menggigit putus lidahku sendiri, Mayat Hidup. Dan kau akan mendapatkan diriku sedingin mayat yang tidak dapat melayani nafsu berahimu lagi!"" Si Mayat Hidup terkejut. Dia harus mengakui kebenaran kata-kata itu.
Dan Lie Lan yang melihat kata-katanya mulai berhasil mengejutkan lawan sudah tertawa dingin sambil menggoyangkan tubuh, menggetarkan buah dadanya yang kenyal lembut dengan gerakan erotis, merangsang, dan semakin membakar nafsu berahi Si Mayat Hidup.
"Dan jangan lupa, Mayat Hidup. Jelek-jelek aku adalah murid guruku, Cheng-gan Sian-jin, yang mahir bermain cinta. Aku dapat memberi kepuasan padamu seumur hidup, akan mengajarimu bermain cinta yang membuat kau mabuk tujuh turunan dan lupa daratan. Tetapi begitu kau menggangguku dan aku marah, jangan harap kau akan mendapatkan kehangatan cintaku!" Si Mayat Hidup terbelalak.
"Kau bersungguh-sungguh, Nona? Kau tidak menipuku?" "Hmm, siapa main-main, Mayat Hidup? Siapa menipumu?" "Jadi kau..." "Ya, aku akan melayanimu tanpa kau paksa, Mayat Hidup!" Lie Lan memotong. "Tetapi dengan syarat bahwa kau tidak boleh menggangguku dan menyelamatkan jiwa anakku, Ceng Liong, dari temanmu yang rakus itu. Dan sebagai imbalannya, aku akan memberimu kehangatan cinta selama kau perlukan dan boleh kau bunuh kalau aku menipumu!" Si Mayat Hidup tiba-tiba terkekeh.
"Nona, omonganmu benar. Tetapi aku sangsi, maukah kau melayani orang bermuka buruk macam diriku ini?" "Hmm, bagiku, asal kau laki-laki normal dan kita saling memberi dan menerima, masalah rupa bukan menjadi soal bagiku, Mayat Hidup. Asal kau dapat menyelamatkan anakku dan tidak mengganggunya, cukuplah sudah!" "Wah, sungguh, Nona? Kau tidak ngeri melayaniku?" Lie Lan menjebikan bibirnya.
"Aku tidak pernah menarik kata-kataku sendiri, Mayat Hidup. Dan kau tidak perlu khawatir mengingat kepandaianmu masih jauh di atas tingkatku!" Si Mayat Hidup tertawa melengking. Suaranya serak parau, gembira luar biasa. Namun, begitu Lie Lan mengedipkan mata dengan manis padanya sebagai isyarat sebuah "tantangan", tiba-tiba si kurus kering ini sudah menyambar tubuh yang montok menggairahkan itu dengan usapan gembira di buah dadanya.
"Nona, kau hebat. Benar-benar pantas kau menjadi murid kesayangan sahabatku, Cheng-gan Sian-jin...!" Lalu, begitu dia memekik dan melompat, tahu-tahu Si Mayat Hidup ini telah melesat ke timur memondong Lie Lan yang tersenyum mengejek di atas pundaknya.