Chapter 29
Sebentar saja mereka mengejar bayangan si raksasa Mongol. Sementara itu, Lie Lan yang berdebar hatinya mengkhawatirkan keselamatan Ceng Liong, diam-diam mencabut sebatang jarum untuk ditusukkan ke mata si Mayat Hidup. Mata adalah satu tempat yang tidak mungkin dapat dilindungi dengan kesaktian apa pun, jika ternyata Ceng Liong tewas di tangan si raksasa Mongol!
Dan Mayat Hidup yang berkelebat sambil memondong wanita cantik ini sudah berteriak-teriak, "Temu Ba, jangan bunuh anak itu! Tunggu sampai aku datang...!"
Sekejap kemudian, sampailah mereka di tempat yang dicari. Mayat Hidup masih berteriak-teriak, sementara Lie Lan semakin tegang hatinya dan siap menusukkan jarum ke mata lawan. Tapi ketika mereka sampai di tempat itu, tiba-tiba keduanya tertegun. Ternyata Ceng Liong ada di situ, tertawa-tawa sambil menarik rambut Temu Ba yang berjungkir balik di atas pohon, terbahak-bahak melayani anak ini bermain.
Ketika Mayat Hidup serta Lie Lan muncul, anak itu pun menghambur maju dengan pekik gembira, "Ibu, Suhu Temu Ba mengangkatku sebagai murid...!"
Lie Lan tertegun. Dia melihat Ceng Liong selamat tanpa kurang suatu apa pun. Sang ibu yang bernapas lega dengan muka berseri langsung menubruk anaknya dengan mata terheran-heran. "Liong-ji, kau tidak apa-apa? Apa yang kau katakan?"
Bocah itu tertawa. "Temu Ba mengangkatku sebagai murid, Ibu. Aku kini memanggilnya Suhu!"
"Oh...!" Lie Lan terbengong. Dia hampir tidak percaya mendengar keterangan anaknya, tetapi si raksasa Mongol yang sudah terjungkir balik di atas tanah tiba-tiba berseru dengan suara menggelegar, "Mayat Hidup, bocah ini keturunan Pendekar Gurun Neraka...!"
Mayat Hidup dan Lie Lan terkejut. Lie Lan tidak tahu siapa yang mengatakan hal itu, tetapi si Mayat Hidup yang sudah melengking lirih tiba-tiba menyambar Ceng Liong di samping ibunya. "Heh, kau benar anak Pendekar Gurun Neraka, bocah? Kau keturunan laki-laki sombong itu?"
Ceng Liong tersentak. Kepalanya tahu-tahu terasa dingin disentuh jari-jari Mayat Hidup yang bergetar, tetapi dengan mengangguk bangga dia menjawab, "Ya, aku putra pendekar itu, Locianpwe. Tapi aku benci pada ayahku yang sombong itu!"
"Ha-ha, kalau begitu kau harus dibunuh, setan cilik! Pendekar Gurun Neraka itu tidak boleh bersahabat biarpun hanya keturunannya saja!" Lalu, begitu lengannya bergerak, tahu-tahu ubun-ubun Ceng Liong sudah ditampar oleh si Mayat Hidup.
Namun, Temu Ba tiba-tiba mengerang, "Mayat Hidup, lepaskan muridku! Dia harus kita didik untuk melawan ayahnya sendiri... Plak!"
Lengan si Mayat Hidup yang beradu dengan lengan si raksasa Mongol tiba-tiba terpental dengan ledakan nyaring. Si Mayat Hidup terkejut dan terhuyung mundur. Sinar matanya yang beringas keji mendadak menyorotkan hawa pembunuhan. "Temu Ba, kau lupa bahwa pendekar itu musuh kita? Kau tidak ingat dia telah membunuhi kaum kita?"
Temu Ba melangkah lebar. "Tidak, aku tidak lupa, Mayat Hidup. Tapi harap kau lihat kegagahan anak ini. Dia sendiri memusuhi ayahnya, tidak boleh kita bunuh karena dia merupakan sekutu kita!"
Lie Lan juga menghadang di depan, menyambar Ceng Liong yang baru saja lepas dari cengkeraman si Mayat Hidup. Ibu muda itu mengepalkan tinju dan membentak, "Mayat Hidup, kau lupa perjanjian kita? Kau berani mengganggu kami, anak dan ibu?"
Si Mayat Hidup tertegun. Dia melihat Tok-sim Sian-li melindungi anaknya dengan tatapan mata yang berapi-api. Namun, matanya melirik ke arah dada yang belum tertutup rapat karena wanita cantik itu hanya merapatkannya ala kadarnya. Tiba-tiba si Mayat Hidup menyeringai. "Tapi aku tidak tahu anakmu keturunan Pendekar Gurun Neraka, Niocu. Berarti kalian adalah keluarga pendekar sombong itu!"
"Hm, siapa bilang? Aku dan anakku membenci laki-laki itu, Mayat Hidup. Dia telah menghina kami. Aku ingin membalas dendam!"
Ceng Liong juga mengepalkan tinju. "Ya, aku juga ingin membalas hinaan itu, Locianpwe. Aku ingin membunuh ayahku kelak karena dia telah menghinaku dan tidak mengakuiku sebagai anak!"
Si Mayat Hidup terkejut. "Apa? Pendekar Gurun Neraka tidak mengakui keturunannya sendiri, Niocu? Dia menyangkal anakmu ini?"
"Hm, itu urusan pribadiku, Mayat Hidup. Yang jelas, aku dan Ceng Liong ingin membalas dendam. Kami tidak dapat membiarkan sakit hati ini berlalu begitu saja!"
"Ha-ha, sudah kau dengar sendiri, Mayat Hidup! Anak ini cocok sekali untukku. Jiwanya bengis dan keberaniannya besar!" Si raksasa Mongol menimpali, lalu menyambar Ceng Liong dan melempar-lemparnya ke udara.
Mayat Hidup yang mendengar semua itu tiba-tiba tertegun, namun akhirnya terkekeh. "Heh, bagaimana kejadian ini bisa berubah begini? Apa yang telah terjadi?"
Temu Ba terbahak. Dia lalu menceritakan kejadian itu, sementara Lie Lan yang mendengar di samping anaknya terbelalak tanpa berkedip. Ternyata sebuah kejadian yang berawal dari tingkah Ceng Liong sendiri, bocah yang tidak mengenal takut yang akhirnya justru membuat si raksasa Mongol kagum.
Sebab, ketika dibawa lari oleh si tinggi besar ini, Ceng Liong sepanjang jalan berontak dan meronta-ronta. Bahkan, satu kali dia menggigit pundak si raksasa, membuat Temu Ba mengaduh dan menghantam tengkuknya dengan sangat keras!
"Bedebah, kau berani menggigitku, setan cilik?" Ceng Liong terguling-guling. Dia ditarik raksasa itu, dilempar, dan dibanting di atas tanah. Namun, Ceng Liong sudah melompat bangun dengan tinju terkepal. Dia membentak dan berdiri berhadap-hadapan, menantang penuh kemarahan, "Kenapa tidak berani, iblis tua bangka? Jangankan menggigit, membunuhmu pun aku berani...!"
Ceng Liong menerjang ke depan dan melancarkan serangan bertubi-tubi ke perut dan paha lawan, karena tingginya hanya sebatas pusar bagi raksasa Mongol itu. Temu Ba yang terbelalak melihat kemarahan anak ini akhirnya tertawa bergelak penuh kegelian.
"Ha-ha, kau mau membunuhku, setan cilik? Kau bisa membunuhku?"
Ceng Liong terus melancarkan serangan tanpa menghiraukan ejekan itu. Namun, ketika pukulannya membalik karena paha dan perut raksasa itu sekeras baja, mau tidak mau dia terkejut dan mengeluh juga. Akhirnya, ketika lawan menertawakan serangannya yang sia-sia, mendadak dia menubruk dan mencengkeram kemaluan si tinggi besar ini.
"Ah, kau bisa berbuat keji, bocah?" Temu Ba terkejut dan menghentikan tawa. Tiba-tiba dia berkelit ke kiri menghindari serangan yang bisa menghancurkan anggota rahasianya itu. Karena kaget anak ini berani menyerang tempat berbahaya, dia menyeringai dan mengulurkan lengan untuk mencengkeram leher si bocah.
Begitu Ceng Liong terpekik, anak itu sudah diangkat di depan hidungnya bagai seekor kelinci muda di hadapan harimau garang! "Ha-ha, apa yang hendak kau lakukan sekarang, bocah? Kau bisa membunuhku?"
Ceng Liong menendang. Dia tidak mau menyerah, tetapi ketika tangan kiri si raksasa menotok punggung kakinya, dia pun mengeluh tak berdaya. Tubuhnya terkatung-katung dalam cengkeraman si tinggi besar yang melotot sambil tertawa lebar. "Setan cilik, kau mau bilang apa sekarang?"
Ceng Liong memaki kalang kabut, "Aku tidak bilang apa-apa, tua bangka! Hanya ingin memakimu, semoga kau dirajam setan neraka sampai mampus tujuh turunan!"
"Ha-ha, dan tidak takut kalau kau mati duluan? Aku ingin menghisap sumsum tulang belakangmu, bocah. Kau memiliki darah yang sehat serta bersih...!" Temu Ba memutar-mutar tubuh korbannya. Dia hendak membuat anak ini ketakutan, karena semakin dia takut, semakin lancar darah yang mengalir di tubuhnya.
Tetapi Ceng Liong yang membelalakkan mata tidak tampak ketakutan seperti yang diharapkan. Hal ini membuat Temu Ba marah! "Keparat, kau tidak takut, bocah? Kau malah melotot padaku?"
Ceng Liong tertawa mengejek. "Kenapa harus takut padamu, iblis tua? Aku pun dapat membuatmu ketakutan kalau memiliki kepandaian lebih tinggi darimu. Apa anehnya itu?"
Si raksasa terbelalak lebar. "Kau benar-benar tidak takut?"
"Hm, kenapa diulang-ulang pertanyaan itu, tua bangka? Lakukanlah ancamanmu, sedotlah sumsum tulang belakangku kalau kau suka!"
Temu Ba terkejut. "Kau menggertak aku?"
"Siapa menggertakmu? Ayo lakukan kata-katamu tadi. Kau boleh menyedot dan meminum darahku!" Ceng Liong malah berteriak. Hal ini membuat si raksasa benar-benar marah sekaligus heran!
"Wah, kau benar-benar bocah luar biasa, setan cilik. Baru kali ini selama hidup Sin-thouw-liong (Naga Kepala Sakti) dibentak-bentak dan disuruh korbannya untuk menghisap sumsum tulang belakangnya. Keparat...!" Si raksasa memutar leher Ceng Liong, menghadapkan mulutnya pada tengkuk anak itu, menempelkannya, dan bersiap-siap.
"Kau benar-benar tidak takut, bocah?"
Ceng Liong merasa taring yang dingin sudah berada di tengkuknya, siap menggigit. Namun, anak yang sangat tabah ini tertawa dingin. "Kau tidak perlu menguji keberanianku, iblis tua. Aku tetap tidak takut meskipun sumsumku kau sedot sampai kering!"
"Bah! Kalau begitu rasakan ini, setan cilik. Aku benar-benar akan menghisap darah dan sumsummu... Kres!" Si raksasa benar-benar menghunjamkan giginya pada tengkuk Ceng Liong dan menghisap darah anak itu yang menggeliat kesakitan.
Ceng Liong merasa nyeri dan sempat pucat akibat hisapan tersebut. Namun, ketika dia merasa darahnya mengalir deras disedot oleh mulut si raksasa dan menimbulkan rasa nyeri bercampur geli, mendadak anak ini tertawa dan menggeliat keras.
"Tua bangka, pelan-pelan sedikit. Aku geli!"
Temu Ba terbelalak. Otomatis dia menghentikan hisapannya, merasa heran dan tertegun mendengar seruan itu. Seolah tidak percaya, dia mencengkeram anak ini dan bertanya, "Setan cilik, apa yang kau katakan?"
Ceng Liong menyeringai. "Aku bilang hisaplah pelan-pelan, goblok! Aku merasa geli sekali kalau disedot terlalu kuat!"
Temu Ba benar-benar tertegun. Dia merasa aneh dan bengong memandang anak ini, sementara Ceng Liong yang melotot padanya membentak, "Kenapa berhenti? Ayo sedot dan hisap lagi!"