Chapter 30
"Aku tidak takut...!" Raksasa ini melengong.
Dia masih terheran-heran memandang bocah yang luar biasa itu, tetapi ketika Ceng Liong membentaknya lagi untuk kedua kalinya, tiba-tiba raksasa ini tertawa bergelak dan menyeringai lebar.
"Bocah, kau benar-benar sinting. Otakmu rupanya tidak waras...!" Mu Ba yang sudah mendekatkan mulutnya tahu-tahu mengisap kembali sumsum dan darah anak ini, mengira Ceng Liong main-main dan "mengujinya".
Namun, ketika si anak mengeluh dan memejamkan mata seolah-olah keenakan disedot darahnya, tiba-tiba raksasa ini menghentikan sedotannya dan menjadi ngeri, ketakutan sendiri!
Pada saat itulah A-cheng tiba-tiba muncul!
"Iblis tua, jangan ganggu majikanku. Dia keturunan Pendekar Gurun Neraka...!" Temu Ba langsung berjengit. Dia kaget sekali dan Ceng Liong yang masih keenakan di bawah cengkeramannya tiba-tiba dilempar seolah-olah sebuah dinamit yang siap meledakkan tangannya!
"Apa? Anak siluman ini keturunan pendekar itu, setan betina? Dia putra si jahanam sombong?" A-cheng sudah tiba mendekat. Ia sengaja menyebut nama itu agar musuh gentar, karena bagaimanapun juga ia merasa ngeri berhadapan dengan Sin-thouw-liong ini, raksasa Mongol yang matanya sebesar jengkol itu.
Melihat Ceng Liong dilempar kaget oleh si tinggi besar, ia pun mengangguk dan buru-buru membangunkan anak ini. "Benar, Liong-siauw-ya adalah putra pendekar itu, iblis tua. Janganlah kauganggu dia kalau ingin selamat!"
Tetapi Ceng Liong tiba-tiba melengking, "Tidak, siapa sudi mempunyai ayah seperti itu, Bibi A-cheng? Dia laki-laki sombong yang mempunyai utang kepada kita. Tak sudi aku menjadi anaknya!"
A-cheng terkejut. "Tetapi kita perlu menyelamatkan diri dari raksasa ini, Siauw-ya. Dia harus ditakuti dengan nama Pendekar Gurun Neraka!" sang pelayan berbisik, mencoba memberi pengertian pada majikan mudanya ini.
Namun, Ceng Liong yang mengedikkan kepala tiba-tiba menampar muka pembantunya. "Bibi, kau tak tahu malu! Jangan sebut lagi nama itu di depanku...!" Plak-plak! A-cheng terjungkal.
Ia kaget melihat Ceng Liong malah marah kepadanya, tetapi si raksasa Mongol yang melompat ke depan tertawa bergelak. "Ha-ha, jadi kau benar-benar membenci dan ingin membunuh ayahmu sendiri, bocah? Wah, kau memang mengagumkan!"
Ceng Liong memutar tubuh. "Apanya yang mengagumkan, Sin-thouw-liong? Dia itu musuhku, bukan kerabat maupun ayah!"
"Ah, tapi bagaimanapun kau keturunan laki-laki itu, bocah. Mana mungkin menyangkal?"
"Keparat...!" Ceng Liong tiba-tiba menggeram. "Kau masih mau mengejekku dengan kata-kata itu, iblis tua? Kubunuh kau...!" Dan Ceng Liong yang tiba-tiba menubruk ke depan kembali melancarkan serangannya ke bawah pusar lawannya ini. Ia menggunakan Tok-hiat-jiu, ilmu yang diwarisinya dari sang ibu.
Tetapi Temu Ba yang terbahak mendapat serangan itu sekonyong-konyong mendahului. "Bocah, siapa namamu tadi? Ceng Liong? Ha-ha, bagus Ceng Liong. Kita bersahabat kalau begitu. Kau kuangkat sebagai muridku. Des!"
Pukulan Ceng Liong yang sudah diterima tangan si tinggi besar ini tahu-tahu lenyap tenaganya ketika bertemu hawa dingin yang menyambut pukulan Tok-hiat-jiu. Ceng Liong merasa tangannya lumpuh, lalu begitu tubuhnya terangkat naik, tiba-tiba si raksasa ini sudah menjungkirbalikkan dirinya di udara. Persis orang main baling-baling!
"Ceng Liong, kau harus menjadi muridku. Kau pemberani dan gagah...!" Anak ini terkejut. Dia terbelalak berjungkir-balik, tak dapat mencegah tubuhnya yang dilempar-lempar di udara itu.
Namun, ketika Mu Ba menghentikan gerakannya dan ia meluncur turun, anak ini langsung berkacak pinggang. "Iblis tua, kau siapakah dan bagaimana berani bilang hendak mengambil murid diriku ini? Mampukah kau mengalahkan Pendekar Gurun Neraka? Mampukah kau melawan ibuku?"
"Ha-ha, kepandaian ibumu tak ada artinya bagiku, bocah. Aku sejajar dengan mendiang sukongmu, Cheng-gan Sian-jin! Dia itu kawan karibku. Aku datang untuk membalas kematiannya!"
"Hm, tapi mampukah kau melawan Pendekar Gurun Neraka, iblis tua? Dia lihai, ilmu kepandaiannya hebat. Kalau tak dapat mengalahkan pendekar itu, sebaiknya tak perlu aku mengangkatmu sebagai guru!"
"Ha-ha, siapa bilang ilmuku tak hebat, bocah? Aku memiliki dua ilmu mukjizat hasil gemblengan sepuluh tahun terakhir ini. Khusus untuk menghadapi pendekar sombong itu. Kau ingin tahu? Nah, lihat, aku akan menghancurkan batu besar itu dari sini, sepuluh tombak...!"
Si raksasa Mongol yang tiba-tiba membentak perlahan sekonyong-konyong mendorongkan telapak tangannya ke batu hitam yang jaraknya sepuluh tombak dari tempatnya berdiri. Ceng Liong merasa angin berdesir, lalu begitu sinar kebiruan berkelebat menyambar, tahu-tahu batu itu meledak dan hancur berkeping-keping. "Blarrr...!"
"Ha-ha, bagaimana, bocah?" Ceng Liong terkejut. Dia mundur selangkah, mukanya berubah, dan si raksasa Mongol yang tampak bangga dengan hasil pukulannya tiba-tiba melanjutkan seruannya dengan kata-kata nyaring, "Dan lihat ini, setan cilik. Aku akan membuat pembantumu itu terangkat tanpa kusentuh...!"
A-cheng tiba-tiba menjerit. Pelayan ini tahu-tahu terangkat seolah ada tenaga gaib yang mengangkat tubuhnya begitu lengan kiri Temu Ba diulurkan ke depan. Dan ketika raksasa ini tertawa bergelak, tahu-tahu ia memutar lengannya itu dan A-cheng pun ikut terputar, berteriak dengan muka kaget tanpa disangga!
"Ah, tolong, Siauw-ya! Hamba bisa jatuh...!"
Namun, si raksasa malah terbahak. Dia membuat Ceng Liong terperangah oleh kesaktiannya, lalu begitu ia mendorong-majukan lengannya, maka tubuh A-cheng juga ikut maju mundur seperti disetel dari jarak jauh! Tentu saja pelayan ini ngeri. A-cheng yang berteriak-teriak mencoba meronta dan melepaskan diri, tetapi gagal. Ketika si raksasa berseru keras sambil melempar tangannya, tahu-tahu A-cheng ikut terlempar dan menjerit di atas pohon. Tersangkut!
"Ha-ha, bagaimana, bocah? Ibumu dapat melakukan itu?"
Ceng Liong terbelalak. Dia melihat A-cheng menangis di pohon itu; menggigil dengan tubuh tak bergerak, ketakutan sekali. Ceng Liong yang tiba-tiba tertawa mendadak berlutut di depan raksasa tinggi besar ini. "Suhu, kau memang hebat. Aku percaya sekarang...!"
Temu Ba bergelak girang. Dia menyambar anak ini, dibuat jungkir balik di udara, persis seperti orang memainkan bola. Dan Ceng Liong yang kegirangan oleh perbuatan gurunya itu terkekeh-kekeh sambil berteriak gembira, "Suhu, ajarkan aku ilmu kesaktian ini. Aku ingin membuat Pendekar Gurun Neraka juga kulempar seperti A-cheng...!"
Raksasa ini terbahak. Ia gembira sekali menemukan bocah ini, anak laki-laki yang dianggapnya aneh dan luar biasa. Sebab bocah yang sudah diisap sedikit darah dan sumsumnya itu ternyata tidak mengenal takut dan memejam-melekkan mata ketika disedot tengkuknya, seperti orang keenakan disedot nyawanya sedikit demi sedikit.
Mu Ba yang diam-diam "ngeri" pada anak laki-laki ini merasa bahwa anak itu kelak akan jauh lebih hebat daripada dirinya sendiri. Calon iblis yang bisa menggegerkan dunia! Demikianlah, raksasa ini lalu bermain-main dengan Ceng Liong, pura-pura tidak mendengar seruan Mayat Hidup yang mengkhawatirkan ia membunuh anak itu. Teriakan yang membuat ia semakin geli dan terbahak-bahak.
Ketika ibu sang anak dan Mayat Hidup sendiri muncul di situ dan tampak tertegun oleh perbuatannya, iblis tinggi besar ini pun tertawa menghadapi temannya. "Bagaimana, Mayat Hidup, kau tak terkesan oleh keberanian anak ini? Dia bocah luar biasa, tak takut disedot sumsum tulang belakangnya! Bagaimana kalau kau ambil dia sebagai murid dan kau ajarkan ilmumu Jari Penusuk Tulang itu?"
Si Mayat Hidup menyeringai. Ia terkejut dan kagum oleh cerita Temu Ba ini, cerita yang dianggap langka. Sambil mengangguk dengan mata bersinar-sinar ia menjawab, "Boleh. Kalau kau telah memuji anak ini tentu dia bukan anak sembarangan, Mu Ba. Aku tidak keberatan mengambilnya sebagai murid!"
"Dan kita gembleng dia untuk menghadapi Pendekar Gurun Neraka?"
"Tentu saja. Tapi kalau anak itu tidak berubah, Mu Ba. Aku khawatir dia berbalik haluan kalau kepandaiannya sudah tinggi!"
"Ha-ha, tidak mungkin Ceng Liong akan menarik dendamnya, Mayat Hidup. Bocah ini keras hati sekali dan tidak mundur pada segala cobaan!"
"Baik, aku percaya omonganmu, Mu Ba. Boleh kita gembleng dia untuk membantu kita kelak!" Ceng Liong sudah gembira bukan kepalang. Dia menjatuhkan diri berlutut, menyebut "ji-suhu" (guru kedua) pada kakek kurus kering ini.
Si raksasa yang tidak dapat menahan hatinya tiba-tiba menendang bocah itu lalu menyambar tubuhnya, dibawa lari sambil melempar-lempar. "Mayat Hidup, kita beruntung. Kita mendapat murid paling jempolan!"
Si Mayat Hidup terkekeh. Ia menyeringai, melirik ibu anak itu. Lie Lan yang lega anaknya tidak kurang suatu apa tiba-tiba tersenyum manis, maklum apa yang dikehendaki kakek yang lihai ini. Begitu ia tertawa dan merenggut bajunya, tahu-tahu wanita cantik ini telah berdiri telanjang di depan iblis kurus kering itu.
"Mayat Hidup, boleh kita mulai. Aku siap melayanimu...!"
Si Mayat Hidup terkekeh. Ia terkejut oleh perbuatan wanita itu, tetapi mendengus gembira ia sudah menubruk wanita ini dan menciuminya penuh nafsu. "Niocu, kita main di sini?"
"Ya, mau di mana lagi, Mayat Hidup? Bukankah kau sudah tak tahan melihat diriku terus?"
Maka Mayat Hidup yang tertawa serak ini sudah membuang bajunya pula. Ia tidak memedulikan keadaan sekitar, dan begitu mendekap sambil terkekeh tahu-tahu keduanya pun sudah terguling di atas tanah dalam keadaan telanjang bulat. Melampiaskan nafsu berahi dengan cara yang liar seperti sikap binatang buas di tengah hutan. Mereka tampak tak tahu betapa di atas pohon sepasang mata terbelalak memandang semuanya itu. Mata A-cheng!
Namun, benarkah keduanya tidak tahu kehadiran pelayan itu? Sebenarnya tidak. Lie Lan sendiri tahu bahwa pelayannya ada di situ, tetapi ia sengaja tidak memedulikannya.