Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 31

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 31

Sementara itu, si Mayat Hidup, yang juga tahu ada seseorang di atas sana, sengaja membiarkan pelayan itu melihatnya bermain cinta, sebab dengan begini nafsu berahinya jadi semakin berkobar.

Bahkan, untuk mencegah pelayan itu melarikan diri, dia secara diam-diam telah menotok dari jauh tubuh pelayan itu agar dapat menonton lebih jelas!

Demikianlah, dua orang ini memang manusia-manusia yang tidak lagi memiliki rasa malu.

Tok-sim Sian-li didorong kekecewaan dan kebencian hatinya terhadap Pendekar Gurun Neraka, sedangkan si Mayat Hidup memang sesungguhnya iblis yang suka menculik wanita-wanita cantik untuk dipermainkan dan diperkosa.

Namun, dalam perjalanan hidupnya, iblis ini tak mengenal kepuasan.

Setiap wanita yang diperkosanya selalu berada dalam keadaan ketakutan, menjerit-jerit dan histeris saat melayani nafsu binatangnya.

Mayat Hidup, yang akhirnya geram oleh ketidakpuasan ini, lalu menggila dan membunuhi korban-korban yang sudah diperkosanya itu.

Akibatnya, iblis ini ditakuti.

Namun, karena dia melakukan semuanya itu di daerah luar perbatasan, yang mengenal dan menakuti iblis ini adalah orang-orang di luar tembok besar, kaum nomad, atau suku perantau yang suka diganggunya itu!

Kembali pada Bu-beng Siauw-cut.

Hari itu, dia telah tiba di Lembah Cemara, melihat sebuah air terjun tumpah di dasar sungai berbatu yang deras airnya.

Bu-beng Siauw-cut, yang mencari-cari Gua Malaikat, akhirnya bertemu seorang kakek tua yang punggungnya bongkok.

Kakek ini tersenyum, bernyanyi-nyanyi kecil.

Dan ketika tahu dihampiri seorang anak, mendadak dia menghentikan nyanyiannya dan menoleh.

"Anak baik, siapakah yang kau cari?" Bu-beng Siauw-cut buru-buru memberi hormat.

Dia gembira bertemu kakek ini, satu-satunya orang yang dapat diajak bicara di tempat sunyi itu.

Maka, membungkukkan tubuh dengan muka berseri, dia langsung menjawab, "Aku mencari Gua Malaikat, Kakek tua. Tahukah kau di mana tempat itu berada?" Si kakek tersenyum lebar.

"Wah, ada perlu apa kau mencari tempat itu, anak baik? Dapatkah kau mengunjunginya?" Si anak mengerutkan alis.

Hm, lagi-lagi orang ingin mengetahui urusan pribadinya.

Apakah semua orang usil terhadap keperluan orang lain hingga dia perlu bertanya tentang itu? Maka, Bu-beng Siauw-cut, yang tak menjawab itu, langsung mencemberutkan mulut.

"Kakek, kenapa kau harus tahu keperluan orang lain? Perlukah itu bagimu?" Si kakek membeliakkan mata. "Wah, kau perasa sekali, anak baik. Ah, maaf kalau begitu. Tapi pertanyaanmu dapat kujawab. Gua Malaikat itu ada di situ, di balik air terjun itu!" Si kakek menuding ke atas, di tengah-tengah dinding curam dari air terjun itu.

Bu-beng Siauw-cut, yang terkejut oleh jawaban ini, segera tertegun.

"Apa, Kek? Di belakang air terjun itu? Di tengah-tengah tebingnya yang curam?" Bu-beng Siauw-cut makin terkejut.

Dia tak mendapat jawaban. Ketika menoleh ke kiri, tahu-tahu si kakek tua yang tadi ada di dekatnya itu ternyata lenyap!

"Hei, ke mana kau, Kek?" Namun tak ada jawaban.

Dan ketika Bu-beng Siauw-cut sedang tertegun, mendadak suara si kakek muncul di sebelah kanan, jauh di balik pepohonan sambil bernyanyi-nyanyi!

Ketika dia melompat menghampiri, tampaklah si kakek sedang memetik tanaman obat dengan kaki dihentak-hentak kecil, bersenandung.

"Heh-heh, di mana kau, Cing-shiang? Di mana kau, Pi-chih? Hayo, lekas temui aku, cucuku sakit demam yang tidak ketulungan!" Siauw-cut tertegun.

"Kek, apa itu Cing-shiang? Apa itu Pi-chih? Apa yang sedang kau cari di sini?" Si kakek terkejut.

"Lho, kau mengejarku, anak baik? Bukankah kau hendak ke Gua Malaikat?" Siauw-cut melompat maju.

"Aku meragukan keteranganmu, Kek. Aku tak melihat apa pun di balik air terjun itu."

"Heh-heh, mana bisa dilihat, anak baik? Tempat itu harus didatangi. Tak tampak kalau dilihat dari bawah!"

"Jadi kau tak menipuku, Kek?" "Wah, untuk apa menipumu? Kau kira aku tukang tipu?"

Bu-beng Siauw-cut melongo. Dia serasa percaya dan serasa tidak pada kakek ini, yang tertawa seakan menggodanya.

Namun, melihat orang itu bicara sungguh-sungguh, dia pun menarik napas.

"Baiklah, kalau begitu bagaimana caranya menuju ke sana, Kek? Apakah ada jalan khusus?" Si kakek tertawa.

"Bocah, mana ada jalan khusus ke gua itu? Tak ada yang bisa membuat jalan ke sana, kecuali terbang seperti burung. Atau, kalau pun ingin ke sana, satu-satunya jalan adalah merayap! Kau bisa memanjat dinding itu?" Anak ini terkejut.

"Merayap, Kek? Di dinding yang licin itu?" "Ya, bukankah itu satu-satunya jalan, anak baik? Manusia tak mempunyai sayap, jadi harus merayap atau memanjat dinding itu. Mampukah kau ke sana?"

"Hm...." Siauw-cut tertegun, memandang terbelalak ke atas tebing yang tertutup oleh tumpahan air terjun itu.

Namun, masih setengah sangsi, dia bertanya, "Tapi betulkah ada gua itu di sana, Kek? Bagaimana kalau kau bohong?"

"Heh-heh, bohong atau tidak itu harus dibuktikan, bocah. Kau percaya, baik; tidak percaya juga tidak apa-apa. Eh, siapa namamu?"

"Aku Siauw-cut. Bu-beng Siauw-cut!"

"Heh, Bu-beng Siauw-cut? Ha-ha, aku Bu-beng Siauw-jin, anak baik. Aku juga orang yang tidak berguna seperti namamu itu!" Si kakek terbahak, keras suaranya dan terbelalak memandang Siauw-cut.

Namun, Bu-beng Siauw-cut, yang mendengar jawaban ini, mengira si kakek berolok-olok.

"Kek, kau mengejekku? Aku benar-benar Bu-beng Siauw-cut, bukan bercanda!"

"Lho, siapa yang bercanda? Aku juga Bu-beng Siauw-jin, anak baik. Aku pun juga tidak bercanda atau main-main denganmu!" Anak ini tersentak.

Dia kembali melihat si kakek bersungguh-sungguh bicara, tidak main-main. Merasa aneh bahwa mereka berdua mempunyai persamaan nama, tiba-tiba Bu-beng Siauw-cut tersenyum, tertawa lebar.

"Kek, rupanya kita senasib. Kenapa kau memilih nama Bu-beng Siauw-jin (Orang Hina) yang lebih jelek daripada Bu-beng Siauw-cut ini?" "Apa yang kau alami?" Si kakek menyeringai.

"Aku tak mengalami apa-apa, anak baik. Tapi aku memang suka pada nama itu, nama yang selalu mengingatkan aku bahwa aku bukan orang mulia atau orang besar. Aku si tua tolol yang rendah dan hina!"

"Hm, lalu di mana rumahmu, Kek?"

"Aku tidak mempunyai rumah. Namun, jika ingin tidur atau beristirahat, aku menyelinap di lubang pohon itu!" Siauw-cut terbelalak.

Dia melihat sebuah pohon besar berdiri tak jauh dari mereka, tegak dengan daunnya yang rimbun. Sementara itu, sebuah lubang besar yang menganga di pokok batangnya membuat anak ini terheran.

"Jadi itu tempat tinggalmu, Kek?"

"Ya."

"Seorang diri?"

"Heh-heh, sekarang tidak, anak baik. Aku mendapat seorang cucu yang tampan dan gagah!"

"Siapa dia?" Si kakek mengerutkan alis.

"Perlukah kau tahu urusan orang lain, bocah? Bukankah kau sendiri bilang tak perlu tahu urusan orang lain?" Bu-beng Siauw-cut tertegun.

Dia menarik napas, lalu menganggukkan kepala sambil menyeringai pada kakek itu.

"Ya, aku salah, Kek. Maafkan!"

"Dan kau masih berceloteh saja di sini?"

"Maksudmu?"

"Kau tidak segera menyelidiki bohong atau tidaknya aku tentang gua di balik air terjun itu?" Bu-beng Siauw-cut terkejut.

Dia sadar, namun tersenyum kecut sambil memutar tubuh.

"Ya, aku akan menyelidiki kebenarannya, Kek. Tapi kuharap kau tidak bohong!"

"Heh-heh, untuk apa aku bohong padamu? Tapi bisakah kau memanjat ke sana?" Anak ini menghentikan langkahnya, bingung. "Ini yang belum kutahu, Kek. Karena, mungkinkah seseorang dapat memanjat dinding yang licin itu? Bisakah mereka ke sana?" Si kakek tertawa aneh.

"Tentu saja, bocah. Setidak-tidaknya aku dapat ke sana tanpa mempergunakan sayap!"

"Kau...?" Bu-beng Siauw-cut terbelalak.

"Ya, kau tidak percaya, bocah? Lihat, aku akan ke sana dalam lima puluh hitungan cepat. Buktikan!" Dan si kakek yang tiba-tiba melempar keranjang obatnya sudah berlari ke dinding curam itu sambil tertawa.

Tubuhnya menerobos tumpahan air terjun, lenyap di balik sana.

Tak tampak bayangannya.

Namun, ketika Bu-beng Siauw-cut memburu ke tempat ini, tiba-tiba di atas sana terdengar tawa bergelak yang menutupi gemuruh air terjun.

"Bu-beng Siauw-cut, kau dapat melihat aku?" Anak ini tertegun.

Dia tak melihat bayangan si kakek. Maklum, tempatnya demikian tinggi, juga terjal sekali.

Bu-beng Siauw-cut, yang menggelengkan kepalanya, berteriak nyaring, "Aku tak dapat melihatmu, Kek. Mungkin kau menipuku dengan pantulan suaramu...!"

"Ha-ha, siapa bilang? Lihat ini, bocah.... lihat aku akan membuyarkan tumpahan air terjun ini..... Prat-prat!" Dan Bu-beng Siauw-cut yang mendongak ke atas tiba-tiba melihat air terjun yang meluncur deras terbelah sekejap saja, tak dapat terus-menerus.

Namun, bayangan si kakek bongkok yang menempel di dinding atas sudah membuat anak ini terkesima dan berseru takjub!

"Ah, benar, Kek. Aku sudah melihat mukamu...!"

"Ha-ha, apa aku bilang? Dan sekarang lihat, bocah. Aku akan turun dalam lima puluh hitungan pula. Awas...!" Dan suara yang sudah meluncur turun itu tiba-tiba disusul oleh kelebatan tubuh yang menerobos tumpahan air terjun.

Bu-beng Siauw-cut melihat si kakek sudah berada di depannya, cepat sekali.

Dan baju yang basah dari kakek ini membuktikan bahwa dia benar-benar telah melorot turun dari tebing yang curam itu.

Tidak sampai lima puluh hitungan!

"Ah, kau hebat, Kek!" Bu-beng Siauw-cut akhirnya mendesah kagum, penuh takjub memandang si kakek yang tertawa-tawa di depannya, seolah geli melihat anak ini terbelalak matanya, tak berkedip.

Bu-beng Siauw-jin, yang tiba-tiba tertawa nyaring, menyambar keranjangnya.

"Siauw-cut, aku masih mau mencari obat. Kau naiklah ke atas seperti caraku!" Anak ini terkejut.

Dia melihat kakek bongkok itu sudah lenyap dalam dua kali lompatan saja. Namun, Bu-beng Siauw-cut, yang girang mendapat bukti bahwa dinding air terjun itu bisa dipanjat manusia, sudah melompat pula menghampiri air terjun itu.

Dia mengira dinding itu hanya seram saja dipandang dari kejauhan, seolah tak dapat didaki.

Namun, ketika dia mendekat dan melihat dinding ini penuh lumut dan bekas tapak si kakek bongkok ada di atas lumut yang hijau licin itu, tiba-tiba saja dia tertegun dan bengong!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment