Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 32

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 32

"Wah, bagaimana bisa ke atas? Apakah lumut ini kasar permukaannya?" Bu-beng Siauw-cut meraba. Dia ingin meyakinkan diri, tapi ketika tangannya tergelincir dan berkali-kali jatuh di atas permukaan lumut, dia pun jadi kaget dan gelisah. Ternyata lumut itu benar-benar licin!

"Lalu bagaimana caranya si kakek bongkok dapat 'merayap' ke atas? Mempergunakan sihir?" Bu-beng Siauw-cut penasaran. Dia benar-benar penasaran oleh perbuatan kakek itu tadi, maka sambil menggigit bibir dan mengepal tinju, tiba-tiba dia nekat mencengkeram dinding air terjun dan memanjat!

Tapi celaka. Baru semeter dia merayap, tahu-tahu cengkeramannya lepas.

"Bluk!" Bu-beng Siauw-cut mengumpat. Dia menyeringai kesakitan, pinggulnya terbanting di atas batu. Tapi sambil mengebaskan baju, dia mulai mencoba lagi. Untuk kedua kalinya dia merayap pelan sambil mencengkeram kuat-kuat. Tapi ketika untuk kedua kalinya pula dia terjatuh dan terbanting di atas tanah, anak itu pun tertegun dan terduduk bengong, tak tahu bagaimana caranya agar dapat memanjat dinding.

Pada saat itulah si bongkok tiba-tiba muncul.

"Haha, bagaimana, Siauw-cut? Kau tak dapat melaksanakan niatmu?"

Bu-beng Siauw-cut melompat bangun. Dia kaget melihat kakek ini tahu-tahu muncul, tapi dengan wajah berseri girang dia memandang kakek itu. "Kek, bagaimana caramu memanjat dinding? Apakah kau mempergunakan sihir?"

"Haha, aku si tua bangka ini tak mempunyai sihir, Siauw-cut. Aku mengandalkan kepandaianku untuk memanjat dinding itu!"

"Ilmu siluman?"

"Tidak, tapi ilmu merayap yang memang sudah kupunyai puluhan tahun yang lalu!"

"Ah, kalau begitu apakah aku dapat kauajari, Kek?"

"Untuk apa? Dan apa yang kau cari di atas sana?"

Bu-beng Siauw-cut tertegun. Dia ragu-ragu menjawab, tapi melihat kakek ini tampaknya orang baik-baik, dia pun berkata juga. "Aku mencari seseorang, Kek. Katanya dia ada di situ dan dapat kujumpai."

"Siapa?"

"Bu-beng Sian-su!"

"Haha, kau kira mudah menemui manusia dewa ini, Bocah? Kau ada keinginan apa hingga jauh-jauh mencari kakek ini?"

"Aku ingin belajar silat, Kek. Aku merasa dia calon guruku yang paling baik!"

Si kakek tertawa bergelak. Dia tampaknya geli sekali, terbahak sampai tubuhnya terguncang-guncang. Bu-beng Siauw-cut yang tidak senang tiba-tiba mendesis, "Kek, apa yang kauketawakan? Kau menertawakan aku?"

Si kakek masih tak dapat menahan gelinya. "Aku tertawa melihat kebodohanmu. Siauw-cut, Bu-beng Sian-su tak ada di tempat itu!"

Anak ini terkejut. "Dia tak ada di situ?"

"Ya, siapa yang memberi tahu dia ada di situ?"

"Seseorang, Kek. Dia..." Bu-beng Siauw-cut menghentikan kata-katanya. Dia melihat si kakek bongkok memutar tubuh dengan cepat sekali. Sebuah panah kecil yang menyambar tengkuknya tahu-tahu ditangkis dengan kebutan lengan bajunya hingga terpental jatuh. "Plak!"

"Ah, siapa main-main di sini?"

Seorang nenek tiba-tiba muncul. "Heh-heh, kau masih tangkas seperti dulu, Siauw-jin. Mana itu anak buruanku?"

Bu-beng Siauw-jin terkejut. Dia berseru perlahan melihat kehadiran nenek ini, tapi sambil tertawa bergelak tiba-tiba dia berseru, "Mo-li, apa yang kaubicarakan ini? Siapa anak yang kaumaksud?"

Tapi sambil berbisik perlahan pada Bu-beng Siauw-cut, kakek bongkok ini tergesa-gesa bicara, "Anak baik, kau tolonglah aku. Pergilah ke lubang pohon itu dan jaga cucuku di sana. Nenek ini berbahaya, ia mau merampas cucuku!"

Siauw-cut tertegun. "Siapa dia, Kek?"

"Sin-yan Mo-li, nenek iblis yang tiga hari ini mengejar-ngejarku!"

"Ah, dan keperluannya?"

Si kakek mendesis, "Jangan cerewet, Siauw-cut. Pergilah ke sana dan tolong jaga cucuku. Dia sakit demam!"

Bu-beng Siauw-cut terbelalak. Dia melihat nenek berjuluk Sin-yan Mo-li itu berkelebat di depan mereka dengan sikap yang sangat bengis. Sepasang matanya yang berkilat kebiruan menyala-nyala memandang dirinya.

"Siapa anak ini, Siauw-jin?"

Bu-beng Siauw-cut tergetar. Dia merasakan pengaruh mengerikan dari suara nenek ini. Tapi si kakek bongkok yang tertawa lebar menjawab pendek, "Dia anak liar, Mo-li. Pencari obat dan mungkin penduduk di bawah lembah itu."

"Dan anak yang kaubawa?"

"Heh-heh, anak apa yang kubawa, Mo-li? Aku tak punya anak dan tidak membawa anak. Bukankah kau tahu aku belum kawin dan masih bujangan hingga saat ini?"

Si nenek mendengus. "Jangan main-main, Siauw-jin. Kau tak perlu menipuku dan cepat serahkan anak itu kepadaku!"

"Wah, anak yang ada saat ini ialah anak ini, Mo-li. Kenapa kau mengancamku dan tidak percaya? Lihat, dia ketakutan melihat kedatanganmu. Sebaiknya kutendang saja... dess!"

Bu-beng Siauw-cut yang tiba-tiba ditendang kakek ini tahu-tahu mencelat terlempar ke batang pohon yang menganga lubangnya itu. Hampir saja dia marah, namun tiba-tiba terdengar bisikan si kakek, "Anak baik, kau tolonglah aku. Jaga cucuku di dalam itu. Jangan keluar!"

Bu-beng Siauw-cut tertegun. Dia simpatik pada kakek bongkok ini yang dilihatnya sebagai orang baik-baik. Tidak seperti si nenek yang matanya mengerikan itu, yang memandangnya seperti mata setan! Maka dalam keadaan bingung oleh kejadian ini, tiba-tiba anak itu malah terbengong-bengong tak keruan, memandang si nenek dan sang kakek bongkok yang melotot padanya.

"Eh, kenapa kau tak masuk, Anak Baik? Bukankah kusuruh kau menjaga cucuku di dalam? Jangan melengong saja, nenek ini berbahaya!"

Bu-beng Siauw-cut kembali mendengar seruan itu, seruan si kakek bongkok yang dibisikkan perlahan sekali dengan gerak bibir yang hampir tak kentara. Baru saja dia memandang Bu-beng Siauw-jin, tiba-tiba si nenek menggerakkan lengannya.

"Bocah, kau pergilah ke neraka. Aku tak suka matamu yang melotot itu!"

Bu-beng Siauw-cut terkejut. Dia melihat sinar berkelebat, disusul suara "wir" yang halus namun tajam. Begitu dia terbelalak, sebatang panah kecil seperti yang tadi menyerang Bu-beng Siauw-jin sudah berada di depan dadanya dengan kecepatan kilat!

Tapi Bu-beng Siauw-jin mendorongkan lengannya, menangkis dengan pukulan jarak jauh. Sambil menggerakkan lengan, mulutnya pun memaki, "Sin-yan Mo-li, jangan bersikap keji. Bocah itu tak tahu apa-apa... plak!" Panah yang runtuh ditampar kakek ini membuat Sin-yan Mo-li berjingkrak marah.

"Kau melindungi bocah itu, Siauw-jin? Kau bilang dia anak liar?"

Si kakek tertawa meringis. "Aku memang bilang begitu, Mo-li. Tapi bukan berarti kau boleh membunuhnya meskipun dia anak tak berharga!"

"Dan kau tetap melindunginya kalau aku membunuh?"

"Heh-heh, itu kewajibanku, Mo-li. Tak boleh kau membunuh orang di depan hidungku!"

"Keparat...!" Sin-yan Mo-li tiba-tiba membentak, berkelebat ke depan sambil menyambit lagi dua panah kecilnya menyerang Bu-beng Siauw-cut. Nenek ganas itu mengulurkan lengan dengan cengkeraman cepat bagai walet menyambar, benar-benar mengejutkan Bu-beng Siauw-cut.

Tapi si kakek bongkok kembali menghadang di depan. Dia mengebaskan runtuh dua panah kecil itu, lalu mengulurkan lengan kiri untuk menangkis pukulan si nenek, sekaligus menendang pantat si anak yang melengong di mukanya itu.

"Siauw-cut, kau pergilah.... bluk!"

Bu-beng Siauw-cut tahu-tahu terlempar ke dalam lubang. Dia langsung terjeblos di situ dan menimpa seseorang yang mengaduh perlahan. Begitu dia memandang, tiba-tiba mulutnya ternganga dan mendesis, "Kau...?"

Orang yang ditimpanya pun bangkit berdiri. Dia adalah seorang anak laki-laki sebaya yang melangkah pucat dengan kaki terhuyung. Begitu melihat Siauw-cut, tiba-tiba saja anak itu menudingkan telunjuknya dan berseru gemetar, "Kau...?"

Dua orang anak itu sama-sama tertegun, terbelalak saling pandang. Tapi Bu-beng Siauw-cut yang wajahnya sudah berubah sekonyong-konyong melompat maju, "Kau putra Pendekar Gurun Neraka...!"

Anak laki-laki yang pucat itu mengangguk. "Ya, aku Sin Hong, Siauw-cut. Kau anak yang membuat onar di rumah orang tuaku!"

Siauw-cut mengepal tinju. Dia melihat anak itu marah, hal yang membuatnya terbelalak. Karena jika dihitung-hitung, justru dialah yang harus marah pada lawannya ini—putra si musuh besar yang membunuh ibunya!

Maka Siauw-cut yang marah oleh sikap lawannya ini mendadak mengayunkan tinju dan menerjang ke depan. "Sin Hong, kau musuh besarku. Ayahmu telah membunuh ibuku!"

Sin Hong tak mengelak. Dia menangkis pukulan itu, tapi begitu mengerahkan tenaga, tiba-tiba anak ini mengeluh dan mukanya tertonjok. "Plak!" Sin Hong terpelanting roboh.

Siauw-cut yang melihat lawannya roboh segera melancarkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Dia seolah hendak membalas kekecewaan hatinya di Ta-pie-san, atas kegagalan dendamnya terhadap Pendekar Gurun Neraka. Maka Sin Hong yang terus-menerus diberi bogem mentah dan tendangan itu akhirnya mengeluh, menjadi bulan-bulanan anak yang marah ini.

Sin Hong memang bermaksud membela diri, menangkis, dan menghindari semua pukulan Siauw-cut. Tapi karena sedang sakit dan panas tubuhnya tinggi karena demam, anak ini pun tak berdaya dan kehilangan tenaga. Sampai akhirnya, ketika pukulan Siauw-cut menghantam lehernya, anak ini terguling dan tidak sadarkan diri. Pingsan!

Bu-beng Siauw-cut terengah. Dia puas melihat lawannya tergeletak dengan tubuh biru lebam. Pipinya bengkak dan mukanya memar. Tapi ketika ingat bahwa lawannya sedang sakit dan Sin Hong sama sekali tidak mengeluh akibat perbuatannya yang tidak adil itu, tiba-tiba anak ini tertegun. Mau tak mau warna merah merona di mukanya, sadar bahwa perbuatannya tadi bukanlah kegagahan yang pantas dibanggakan.

Sementara dia tertegun sambil mengusap peluh, tahu-tahu terdengar bentakan si kakek bongkok yang ditujukan kepadanya. Bentakan yang diluncurkan lewat ilmu sakti Coai-im-jip-bit, "Bocah, kau menyerang cucuku? Keparat, anak itu sedang sakit, Siauw-cut! Tak tahu malu benar kau ini! Apa yang kaulakukan itu? Hayo, beri dia obat, tuangkan minuman di sudut, dan balur mukanya dengan daun di dalam keranjang obat itu..."

Bu-beng Siauw-cut tertegun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment