Chapter 33
Ia menyadari kesalahannya karena menyerang orang yang sedang sakit. Maka, mengambil minuman di dalam sebuah cangkir, ia menyandarkan Hong dan seteguk demi seteguk menuangkan obat yang seperti jamu pahit itu ke mulut lawannya. Sin-Hong masih pingsan, tak tahu apa yang dilakukan anak ini.
Ketika obat sudah diminumkan semua, Bu Beng Siauw-Cut lalu mengambil daun-daun obat di dalam keranjang. Dedaunan itu basah, rupanya sudah direndam si kakek bongkok. Maka membalutkan daun-daun ini ke tubuh Sin Hong. Siauw-Cut tahulah betapa tinggi panas badan anak ini. "Ah, dia benar-benar sakit. Pantas tak dapat melawan aku!" Bu-Beng Siauw-Cut menyesal. Bagaimanapun, ia merasa tak enak dan malu sendiri.
Namun, ketika ia sedang merawat Sin Hong, tiba-tiba di luar pohon terdengar suara berdebuk. Si kakek bongkok rupanya terjatuh, keras sekali hingga ia menjerit dan memaki-maki Sin-Yan Mo-Li. Tapi ketika lawan terkekeh dan menyerang kembali, mendadak kakek ini berseru keras sambil mendorongkan lengannya. "Mo-Li, pergilah. Aku tak ada waktu melayanimu!" Plak! Sin-Yan Mo-Li terpekik.
Siauw-Cut melihat nenek ini terjengkang, tak kuat menerima dorongan si kakek bongkok. Dan sementara si nenek terguling-guling, mendadak kakek ini melompat masuk menyambar Sin Hong. "Siauw-Cut, larilah. Aku harus menyelamatkan anak ini, aku tak dapat melindungimu..." Bu-Beng Siauw-Cut terkejut. Ia melihat si kakek sudah membawa Sin Hong keluar sambil mengebut. Runtuh dua panah yang kembali disambitkan Sin-Yan Mo-Li yang berteriak marah.
Dan si kakek bongkok yang sudah melarikan diri membawa Sin Hong, tahu-tahu menjejakkan kakinya, melompat bagai terbang. "Mo-Li, aku tak ada waktu melayanimu. Carilah anak lain pengobat kekecewaanmu!" Sin-Yan Mo-Li membentak. Ia marah melihat si kakek bongkok melarikan diri, membawa Sin Hong yang memang ia cari. Maka melengking tinggi dengan pekik penuh kemarahan, tiba-tiba ia pun melesat memburu lawan. "Bu-Beng Siauw-Jin, kau tua bangka keparat. Lepaskan anak itu kalau tidak ingin kubunuh!" Bu-Beng Siauw-Jin tertawa bergelak. Ia menambah kecepatan larinya, tancap gas.
Hingga Siauw-Cut, yang melihat kejar-kejaran ini terjadi di depan mata, tahu-tahu melongo ketika melihat kakek bongkok itu terpental-pental kedua kakinya, terpental bagai bola, melarikan diri dengan cara yang aneh, sementara Sin-Yan Mo-Li yang mengejar di belakangnya meluncur lurus "terbang" tak menginjak tanah bagai iblis bersayap yang menempel ketat di belakang kakek bongkok ini! "Ah, menakjubkan. Mereka ternyata orang-orang sakti...!" Bu-Beng Siauw-Cut terperangah, mendesah dengan muka penuh kagum.
Dan bayangan keduanya yang sebentar saja lenyap dari pandang matanya, tahu-tahu disusul sebuah suara si kakek bongkok, melengking tinggi dengan nada marah, "Siauw-Cut, apa lagi yang kau tunggu? Hayo pergi dari situ, aku akan kembali setelah mempermainkan nenek ini!" Bu-Beng Siauw-Cut tertegun. Ia kurang mengerti omongan kakek itu, tapi ketika memandang ke depan, mendadak bayangan si kakek bongkok muncul kembali ke tempat semula, melingkar dari arah sebelah kanan, kembali lagi! Sementara si nenek yang mengejar ketat di belakangnya memaki kalang kabut. "Siauw-Jin, lepaskan anak itu. Kalau tidak kalian berdua akan kubunuh...!"
Bu-Beng Siauw-Cut terbelalak. Ia melihat dua orang itu terbang dengan sama cepatnya. Hanya kalau Bu-Beng Siauw-Jin terpental-pental seperti katak melompat, adalah si nenek iblis lurus ke depan dengan muka beringas. Bahkan kini telah memegang sebatang cambuk berduri yang ujungnya meledak-ledak, mirip petir di siang bolong. Dan sementara ia terdiam di tempat itu, tahu-tahu si kakek bongkok sudah tiba di depannya. "Siauw-Cut, kau gila! Tidak segera pergi dari tempat ini?"
Bu-Beng Siauw-Cut menjawab, "Aku hendak mencari Bu-Beng Sian-Su, Kek. Aku harus menemui kakek itu kalau pergi dari sini!" "Sialan, tapi Bu-Beng Sian-Su tak ada di sini, bocah. Aku sendiri sudah menunggunya tiga hari untuk maksud yang sama!" "Ah, kalau begitu di mana dia, Kek?" Tapi Bu-Beng Siauw-Jin tak dapat menjawab. Ia sudah keburu dikejar si nenek iblis, Sin-Yan Mo-Li, yang meledak-ledakkan cambuk berdurinya itu.
Dan ketika melihat si kakek bongkok bicara dengan Bu-Beng Siauw-Cut, tiba-tiba nenek ini meledakkan cambuknya ke pinggang si bocah. "Anak liar, kau pergilah...!" Bu-Beng Siauw-Cut terkejut. Ia tak dapat mengelak, maka begitu cambuk menjelerat di pinggangnya, tiba-tiba ia terangkat naik dan jatuh di bawah air terjun yang banyak batunya itu. Tak ayal, Bu-Beng Siauw-Cut menjerit. Dan ketika tubuhnya menimpa batu di bawah air terjun ini, tahu-tahu punggungnya berderak seakan patah!
Tapi Bu-Beng Siauw-Cut melompat bangun. Ia melihat dua orang kakek dan nenek itu sudah kembali kejar-kejaran, lenyap dari depan matanya. Namun, baru ia mentas (keluar dari air), mendadak bayangan si kakek bongkok muncul kembali, kini berputar dari arah kiri! "Siauw-Cut, kau tidak apa-apa?" Bu-Beng Siauw-Cut mendengar kakek itu berteriak, menanyakan keselamatannya. Dan anak yang meringis sambil menekan punggungnya itu menjawab, "Aku tidak apa-apa, Kek. Hanya punggungku sakit dihajar nenek iblis itu!"
"Nah, apa kubilang. Dia memang jahat, Siauw-Cut, kau menyingkirlah. Di sebelah kanan air terjun ada jurang. Kau larilah ke sana dan sembunyikan diri. Cepat...!" Bu-Beng Siauw-Cut mengangguk. Tapi baru ia berlari dua langkah, tiba-tiba pantatnya ditendang kakek bongkok ini hingga mencelat jauh. Ia terkejut, tapi ketika kakinya jatuh di pinggir sebuah jurang, ia pun mencelos dan hampir berteriak kaget. Dan si kakek pun tertawa. "Kau terkejut, Siauw-Cut? Nah, bersembunyilah, jurang itu yang kumaksud!"
Anak ini lega. Ia segera menyelinap di bawah jurang ini, bersyukur bahwa si kakek bongkok rupanya tidak bermaksud buruk. Tapi karena kakek itu harus berhenti sebentar untuk mendepaknya tadi, maka si nenek iblis Sin-Yan Mo-Li sudah berada di belakangnya, mengejutkan kakek ini dengan cambuknya yang menjelerat nyaring. "Bu-Beng Siauw-Jin, kau masih tidak mau menyerahkan anak itu?"
Si kakek tercekat. Ia melompat tinggi, melambung jauh sambil berjungkir balik. Tapi ketika kakinya turun, tahu-tahu cambuk si nenek iblis mengenai telinganya. "Tar... kau masih membandal, tua bangka?" Bu-Beng Siauw-Jin mendesis. Ia kesakitan oleh babatan cambuk yang panas menyengat itu. Yang membuat telinganya merah dan robek terluka. Tapi karena lawan sudah dekat dan menyerang bertubi-tubi dengan cambuk berduri, mau tidak mau kakek ini pun terpaksa melayani.
"Sin-Yan Mo-Li, kau nenek jahanam. Kenapa harus mengejar-ngejarku begini?" "Tak perlu banyak cakap, Siauw-Jin. Kau serahkanlah anak itu dan boleh pergi baik-baik!" "Keparat, kau mau menangmu sendiri, nenek iblis?" "Tidak, kaulah yang mau menang sendiri. Kau tak mau mengalah pada wanita!" Maka dua orang yang sudah saling maki dan pukul ini sama-sama menyerang. Sin-Yan Mo-Li mempergunakan cambuk berdurinya, sedangkan si kakek bongkok mempergunakan kedua kaki dan tangannya, membentak-bentak marah.
Tapi karena Sin Hong berada di pondongannya dan lawan menyerang gencar, akhirnya kakek ini kewalahan. Ia kurang bebas bergerak, kembali menerima dua serangan cambuk yang meledak di leher dan pelipisnya. Dan ketika Sin-Yan Mo-Li memainkan cambuk dengan amat lihai, sekonyong-konyong Sin Hong yang ada di pundak kakek ini dibetot naik dengan gulungan melingkar! "Siauw-Jin, kau tak dapat mempertahankan anak ini. Lepaskanlah dia...!"
Si kakek terkejut. Ia melihat Sin Hong terenggut dari atas pundaknya, melayang ke arah nenek iblis itu. Dan Siauw-Jin yang marah oleh perbuatan nenek ini, tiba-tiba menjentikkan jarinya menimpa sebuah kerikil hitam, membentur cambuk si nenek. Dan begitu terdengar suara "tak" yang keras, tahu-tahu Sin Hong terlepas dari gulungan cambuk disusul lengkingan marah si nenek iblis. "Siauw-Jin, keparat kau...!"
Dua-duanya sudah menubruk. Masing-masing menyambar Sin Hong, sama cepat dan saling mendahului. Tapi ketika lengan si kakek sudah hampir menyentuh punggung baju Sin Hong, tiba-tiba Sin-Yan Mo-Li melepaskan totokannya. Ia menotok siku kakek itu, membuat lawan mengeluh tertahan, sekejap lumpuh kehilangan tenaga. Tapi si kakek bongkok yang sudah menggetarkan lengan dan membalikkan kakinya, tahu-tahu ganti menendang lawan ketika si nenek iblis juga hampir mencekal Sin Hong. Akibatnya mereka sama gagal, dan begitu si nenek menjerit dengan pekik marah, tiba-tiba cambuknya meledak menyambar Sin Hong, menggantikan lengan kanan yang lumpuh ditendang si kakek bongkok.
Dan persis cambuk meledak, sekonyong-konyong lengan kiri Bu-Beng Siauw-Jin didorong ke depan menghantam cambuk lawan yang sudah menggubat Sin Hong. "Mo-Li, lepaskan anak itu. Kau tak berhak memilikinya... Tas!" dan cambuk yang tiba-tiba putus dihantam angin pukulan Bu-Beng Siauw-Jin, tahu-tahu melempar tubuh Sin Hong ke jurang, menimpa Bu-Beng "Hei... bress!"
Bu-Beng Siauw-Cut terhenti teriakannya. Ia sedang terkesima oleh pertandingan dua orang itu, maka begitu Sin Hong menimpa tubuhnya dan ia tak sempat menghindar, tahu-tahu keduanya terguling ke dalam jurang, tak ampun lagi, melayang ke bawah dengan amat cepat sekali. Dan Siauw-Cut yang kaget melihat dirinya meluncur ke bawah dengan kecepatan luar biasa, tahu-tahu menjerit dan mengaduh ketika kepalanya membentur sesuatu di tebing, sesuatu yang keras yang membuatnya tak ingat apa-apa lagi dan pingsan menyusul Sin Hong!
Sementara di atas, si kakek bongkok dan Sin-Yan Mo-Li yang sama-sama tertegun melihat peristiwa tersebut berlangsung dengan demikian cepatnya di depan mata, sedetik terkejut dengan mata tak berkedip. Mereka tak mengira kejadian itu bakal terjadi, tapi begitu sadar dan menggeram marah, sekonyong-konyong si kakek bongkok memutar tubuh, menerjang lawannya. "Mo-Li, kau bertanggung jawab atas kematian anak itu!" Sin-Yan Mo-Li memekik, "Kau yang bertanggung jawab, tua bangka. Kau yang melempar anak itu ke dalam jurang!" "Tidak, kau yang merampasnya, Mo-Li."