Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 34

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 34

"Kau yang menjadi sebab dari semuanya ini!" "Tidak bisa, kau yang menculik anak itu, Siauw-jin. Kau yang menjadi gara-gara kematian anak itu!" Dan masing-masing pihak yang sudah saling gebrak dan tempur dalam mempertahankan adu pendapat ini sudah sama-sama menerjang dan melanjutkan pertandingan.

Si kakek bongkok marah sekali, melancarkan serangan bertubi-tubi dengan tamparan dan pukulan. Sementara Sin-yan Mo-li yang juga merasa tidak bersalah dalam kematian Sin Hong membalas dengan tidak kalah serunya. Masing-masing ingin menang, tak mau mengalah.

Namun ketika si bongkok mulai melancarkan pukulan-pukulan berat, si nenek iblis tiba-tiba terdesak. Sin-yan Mo-li keteteran, memaki kalang kabut sambil memainkan cambuknya yang buntung. Dan ketika si bongkok kembali mendorongkan lengannya sambil mengerahkan sinkang memukul ke depan, tiba-tiba si nenek menjerit. Ia tak dapat menghindar ketika telapak si bongkok menghantam pundaknya, mengaduh dan langsung terpelanting. Namun ketika si bongkok melompat maju menyusulinya dengan sebuah pukulan miring, mendadak nenek ini melengking tinggi. Secepat kilat dia membalik, lalu begitu pukulan lawan menderu, tiba sekonyong-konyong nenek ini melepas tiga panah kecilnya ke dada, leher, dan mata si bongkok!

"Bu-beng Siauw-jin, mari kita mati bersama!" Si bongkok terkejut. Dia terang tak mau sampyuh dengan lawannya ini. Maka, melihat panah meluncur berturut-turut di depan mukanya, terpaksa dia menyampok tiga senjata berbahaya itu dengan mengibaskan lengan ke samping. Akibatnya Sin-yan Mo-li selamat, dan ketika dia memukul runtuh panah si nenek, mendadak lawannya melompat mundur dan melarikan diri. "Tua bangka, tak sudi aku main-main lagi denganmu. Kau carilah mayat anak itu dan mampuslah di dasar jurang!" Si kakek menggeram.

Dia membentak marah, dan melihat lawan melarikan diri dengan licik, dia pun mengejar dengan muka berang. "Sin-yan Mo-li, jangan lari kau! Pertanggungjawabkan dulu kematian anak itu!" Namun si nenek melengking aneh. Dia sudah jauh dari tempat ini, berlari cepat yang membuat tubuhnya terbang bagai siluman. Dan melihat dirinya dikejar si bongkok, tiba-tiba dia mengerahkan ginkangnya, berkelebat lenyap. Si bongkok ditinggal, sengaja membelak-belok di pohon-pohon cemara yang banyak jumlahnya di situ. Dan ketika si nenek berzig-zag dalam gaya larinya, tiba-tiba Bu-beng Siauw-jin sudah kehilangan jejak, tak menemukan lawannya lagi, berputar-putar di dalam hutan, dan akhirnya kembali ke tepi jurang untuk membanting pantat dan menangis di situ!

Apa yang terjadi pada dua orang anak ini? Matikah mereka? Hampir dapat dipastikan memang begitu. Sin Hong dan Siauw-cut sama-sama tak sadarkan diri, melayang jatuh di dalam jurang yang dalam. Namun ketika mereka sudah berada di tengah-tengah, mendadak suatu keajaiban terjadi. Saat itu Sin Hong lebih dulu meluncur, dua puluh kaki di bawah Siauw-cut karena memang dialah yang terlebih dulu jatuh.

Namun ketika melewati sebuah gua di tengah dinding jurang, tiba-tiba sebuah seruan terdengar disusul berkelebatnya sebuah benda putih melesat dari dalam gua. "Ah, Thian Yang Maha Agung! Siapa anak-anak ini?" Dan sebuah jubah menyambar keluar.

Jubah ini mengembang, terbuka mirip "papan" yang aneh, menerima tubuh Sin Hong. Dan begitu Sin Hong menimpa kain lebar ini, seketika tubuhnya terlempar ke atas mirip seseorang yang jatuh di atas sebuah tempat tidur berpegas, melenting sepuluh kaki untuk akhirnya kembali ke "papan" jubah itu dengan guncangan perlahan, habis daya bantingnya yang tinggi akibat meluncurnya tubuh dari mulut jurang. Lalu begitu dia menimpa papan jubah ini, tahu-tahu jubah itu dikedut ke dalam, menyendal masuk dan membanting anak itu dengan lunak di sudut gua.

Sementara Siauw-cut yang juga menyusul belakangan ternyata mengalami nasib serupa. Orang di dalam gua melempar jubah kedua, dan begitu jubah berkembang menerima tubuh anak ini, tahu-tahu bocah itu pun sudah dikedut ke dalam dan terbanting dengan lunak di sebelah kiri gua, berjajar di dekat Sin Hong yang nyaris binasa di dasar. Dan sekarang orang di dalam gua terbelalak.

Dia mengeluarkan seruan lembut, tampaknya terkejut. Namun begitu tertawa dan memuji kebesaran Tuhan, tiba-tiba lengannya diulurkan ke depan. Tidak tampak dia mengusap, tetapi Sin Hong dan Siauw-cut yang sama-sama merasa hawa dingin menyentuh muka mereka mendadak sadar dan membuka mata, melompat bangun!

"Sin Hong, kau sudah menjadi siluman?" Sin Hong tertegun. Dia mendengar suara Siauw-cut, dekat di sebelah kanannya. Namun Sin Hong yang baru siuman dari pingsannya dan tak melihat apa-apa karena tempat itu gelap jadi mendesis dan mengepalkan tinju.

"Siauw-cut, apa kau bilang? Aku menjadi siluman? Apa maksudmu?" Siauw-cut terkejut. Dia juga tak melihat Sin Hong, karena tempat itu gelap sekali. Namun dia yang tahu keadaan mereka yang terjatuh di dalam jurang dan mengira mereka sudah mati bersama tiba-tiba tertawa.

"Ya, kau menjadi siluman, Sin Hong. Kita mati bersama dan rupanya menghuni dasar neraka yang gelap gulita!" "Keparat, apa maksudmu, Siauw-cut? Siapa yang mati?" "Ha-ha, kita mati berdua, Sin Hong. Kita terjatuh dari atas jurang yang tinggi sekali. Eh, kau sudah menjadi makhluk halus? Di mana kau, Sin Hong? Apa yang kau perbuat di situ?" Sin Hong tertegun.

Dia terkejut mendengar Siauw-cut bicara bahwa mereka terjatuh ke dalam sebuah jurang, hal yang baru kali itu diketahuinya. Namun Sin Hong yang tiba-tiba mengaduh ketika mencubit paha segera disambut seruan heran lawannya.

"Sin Hong, ada apa kau? Terpanggang api neraka?" Sin Hong membentak, "Kau yang melantur, Siauw-cut. Kita belum mati dan tidak menginjak dasar neraka!" "Eh, mana mungkin, Sin Hong? Kita terlempar di bawah jurang ini. Tak mungkin selamat karena kita tak mempunyai sayap!" Namun Sin Hong yang lebih "rasional" tak menggubris.

Dia mendengar cerita bahwa orang yang sudah mati tak mempunyai lagi hubungan dengan badan. Jadi, kalau badan dicubit dan tidak terasa sakit, itulah tandanya orang sudah berpisah ke lain zaman. Namun kalau masih sakit dan bisa mengaduh, ini tanda seseorang masih hidup.

Maka, Sin Hong yang tiba-tiba menggeser kakinya ke kanan, tiba-tiba mengulurkan lengan. Dia menggerayangi sana-sini, karena mendengar suara Siauw-cut ada di dekat situ. Dan begitu mencekal sesosok lengan dingin, tiba-tiba saja anak ini mencengkeram.

"Siauw-cut, kau merasa sakit, bukan?" Siauw-cut mengaduh. Dia sakit dicengkeram seperti itu, cengkeraman Sin Hong yang kuat mencengkeram lengannya. Namun Siauw-cut yang marah oleh cengkeraman ini tiba-tiba memukul muka lawan yang ada di depannya.

"Sin Hong, lepaskan aku... plak!" Dan Sin Hong yang seketika mundur dengan mulut mendesis tiba-tiba naik kemarahannya digampar lawan.

"Siauw-cut, kau tak tahu diri. Berani kau memukulku?" Siauw-cut tertawa mengejek. "Aku bukan hanya ingin memukulmu, Sin Hong, tetapi malah ingin membunuhmu!" "Kalau begitu kenapa kau tolong aku?" "Siapa menolongmu?" "Tubuhku tak panas lagi. Demamku hilang!" "Persetan!" Siauw-cut tertegun.

"Aku tak memberimu apa-apa, Sin Hong. Aku hanya membalurkan obat sesuai permintaan kakek bongkok itu!" "Hm, kalau begitu aku tetap berutang budi padamu, Siauw-cut. Biarlah tamparanmu kepadaku kuanggap pembayar utang!" "Cih, siapa menghutangimu? Aku tak melepas budi, Sin Hong. Aku ingin membunuhmu!" Dan Siauw-cut yang tiba-tiba menerjang di dalam gelap sudah menyerang Sin Hong dengan kalap.

"Siauw-cut, hentikan seranganmu. Kalau tidak, terpaksa aku akan membalas!" Siauw-cut meronta. Dia melepaskan pundaknya dari cengkeraman Sin Hong, lalu begitu membentak, tiba-tiba muka Sin Hong sudah ditampar kembali.

"Sin Hong, aku ingin kau membalas. Jangan bersikap pengecut... plak-plak!" Dan muka Sin Hong yang dua kali menerima tamparan membuat anak ini terhuyung dan marah bukan main.

"Siauw-cut, kau iblis jahanam. Tak tahu diri... wut!" Dan Sin Hong yang tiba-tiba melompat ke depan bertubi-tubi menghujani serangan. Dia tak dapat mengendalikan diri lagi sekarang, benar-benar marah dan membalas serangan. Dan begitu anak ini bergerak seraya memainkan tangan dan kakinya, tiba-tiba Siauw-cut mengeluh dan terlempar bergulingan.

Anak itu terang bukan lawan Sin Hong, putra sang pendekar sakti Gurun Neraka. Dan Siauw-cut yang dihajar pulang balik oleh Sin Hong yang geram, akibatnya jatuh bangun di dalam gua. Namun Siauw-cut benar-benar nekat.

Setiap kali dia bangun berdiri, selalu dia menyerang Sin Hong, tak peduli tubuhnya yang babak belur. Dan Siauw-cut yang memaki-maki lawan tanpa mengenal kalah itu berteriak membentak-bentak membuat Sin Hong gemas. Hingga akhirnya, ketika Sin Hong tidak dapat mengendalikan diri lagi dan melayangkan pukulannya ke tengkuk Siauw-cut, barulah lawannya itu roboh tak dapat bangun kembali!

"Kau menyerah, Siauw-cut?" Siauw-cut melengking tinggi, "Biar sudah di dasar neraka pun aku tak menyerah, Sin Hong. Kau dan ayahmu berutang nyawa ibuku!" "Keparat, kita masih hidup, Siauw-cut. Apakah kau benar-benar ingin minta kubunuh?" "Bunuhlah... bunuhlah aku. Aku ingin mati kedua kali!" Dan Sin Hong yang mengepal tinju dengan gemas ini akhirnya melangkah maju.

"Baiklah, aku akan menghentikan suaramu, Siauw-cut. Kau bocah tak tahu diri yang menyebalkan!" Namun belum Sin Hong memukul pingsan lawannya ini, tiba-tiba gua menjadi terang oleh sinar yang tak diketahui dari mana masuknya. Dan bersamaan dengan terangnya gua, mendadak seseorang muncul dengan tawanya yang lembut.

"Anak-anak, tak perlu kalian bertengkar lagi. Bukankah jelek-jelek kalian senasib jatuh di jurang ini? Nah, diamlah. Kalian seharusnya bersahabat dan tak perlu ribut-ribut."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment