Chapter 35
Sin Hong dan Siauw-cut terbelalak. Mereka melihat seorang kakek muncul di situ, tersenyum lembut kepada mereka, namun wajahnya tertutup halimun. Siauw-cut serta Sin Hong yang kaget oleh kehadiran kakek ini tiba-tiba melongo. Mereka terkejut setengah mati setelah melihat kakek itu ternyata "duduk" di tengah udara, mengambang tak bergerak bagai patung batu atau roh yang hidup di alam halus.
Siauw-cut yang kaget oleh pemandangan luar biasa ini tiba-tiba menjerit tanpa dapat ditahan lagi, "Setan...!" Anak yang langsung jatuh terduduk di lantai gua itu seketika bengong dan melotot; ngeri, tapi juga heran.
Namun, Sin Hong yang sama-sama terkejut ternyata bersikap lain. Anak ini adalah putra Pendekar Gurun Neraka, jadi ia tahu akan hebatnya ilmu kesaktian seseorang seperti yang ditunjukkan kakek ini. Begitu melihat seorang sakti yang dapat duduk mengambang di tengah udara dengan muka tertutup halimun, tiba-tiba ia teringat cerita ayahnya bahwa di dunia ini ada seorang manusia dewa yang disebut Bu-beng Sian-su, tokoh luar biasa yang hebat ilmu kesaktian serta kebijaksanaannya.
Begitu sadar bahwa dia berhadapan dengan manusia dewa yang luar biasa ini, tiba-tiba Sin Hong menjatuhkan diri berlutut dan berseru, "Sian-su, teecu menghaturkan hormat!"
Siauw-cut melengak. Dia melihat temannya itu membenturkan dahi di atas tanah dengan wajah gembira dan berseri-seri, sama sekali tidak takut seperti dirinya. Siauw-cut yang tiba-tiba merah mukanya seketika sadar, apalagi ketika Sin Hong menyebut "Sian-su" kepada kakek itu, nama yang mudah ditebak siapa adanya. Maka, begitu tahu bahwa dia masih hidup di atas bumi, tiba-tiba Bu-beng Siauw-cut juga menjatuhkan diri berlutut dan mengiringi seruan temannya, "Suhu, teecu juga menghaturkan hormat!"
Sin Hong dan Bu-beng Sian-su terkejut mendengar sebutan "suhu" itu, seolah Siauw-cut adalah murid kakek dewa ini. Bu-beng Sian-su akhirnya tertawa lepas dan tiba-tiba bangkit berdiri, masih mengambang di tengah udara.
"Anak baik, kau siapakah dan mengapa menyebut suhu kepadaku?"
Siauw-cut berseri-seri. "Karena teecu sudah lama mencarimu, Sian-su. Teecu ingin menjadi muridmu dan mengabdi padamu seumur hidup!"
"Ah, dan namamu?"
"Siauw-cut, Sian-su. Bu-beng Siauw-cut!"
Kakek dewa ini tertegun. Sejenak dia terbelalak, tapi kemudian tersenyum lebar dan tertawa lembut. "Anak baik, namamu aneh. Kenapa harus menyebut diri sendiri Kerucuk Tanpa Nama (Bu-beng Siauw-cut)? Siapa orang tuamu?"
"Teecu tidak memiliki orang tua, Sian-su. Teecu hidup sebatang kara sejak tujuh tahun yang lalu!"
"Oh, dan kau mencariku untuk menjadi murid?"
"Ya, teecu ingin membalas dendam, Sian-su. Teecu ingin mempelajari ilmu kesaktianmu untuk membalaskan kematian ibu teecu!"
Bu-beng Sian-su menarik napas. "Siauw-cut, ilmu dipakai bukan untuk membuat keonaran. Mana bisa kau menjadi muridku kalau begitu? Seseorang yang ingin menikmati kebahagiaan tak seharusnya mengotori diri sendiri, Siauw-cut. Dan satu di antara kekotoran itu adalah nafsu dendam!"
Bu-beng Siauw-cut terbelalak. Dia belum mengerti penuh isi wejangan itu, namun Bu-beng Sian-su yang melihat sinar kekecewaan di mata anak ini tiba-tiba mengibaskan lengannya ke depan. "Anak baik, kemarilah. Kau benar-benar ingin belajar silat, bukan?"
Siauw-cut maju dengan girang. "Ya, teecu ingin sekali, Sian-su. Harap kau tidak menolak keinginanku!"
"Baiklah, tapi mampukah kau memenuhi permintaanku, Siauw-cut? Aku mempunyai dua permintaan. Kalau dapat kaulakukan saat ini juga, aku akan memberimu petunjuk-petunjuk dasar tentang ilmu silat!"
Siauw-cut tertegun. "Permintaan apa, Sian-su?"
Bu-beng Sian-su tersenyum. "Sederhana saja, anak baik. Pertama, kau carilah seorang ahli pedang berjuluk Bu-tiong-kiam dan yang kedua, kau pecahkanlah rahasia dari syair ini. Bu-tiong-kiam boleh membantumu. Kalau jawaban sudah kauperoleh, bolehlah kau datang ke mari lagi menemuiku sewaktu-waktu!"
"Ah, hanya itu, Sian-su?"
"Ya, hanya itu, Siauw-cut. Tapi kalau kedua-duanya belum berhasil kaukerjakan, kau tidak boleh menemuiku."
"Baik, tapi apa perlunya mencari Bu-tiong-kiam ini, Sian-su? Dan di mana dia?"
Bu-beng Sian-su tertawa. "Siauw-cut, kalau aku memberitahumu di mana dia berada, lalu apa gunanya aku menyuruhmu? Kau harus mencarinya sendiri, tidak boleh bertanya kepadaku. Tapi tentang maksud keperluannya bolehlah kauketahui sekarang, yakni untuk mengambil sesuatu di Gua Naga. Kau bantulah orang itu dan ikutlah baik-baik dengannya selama rahasia syair belum terjawab!"
Siauw-cut bangkit berdiri dengan hati tertarik. "Sian-su, syair bagaimanakah yang harus kujawab itu? Bisakah sekarang kulihat?"
"Boleh, tapi tunggu dulu, Siauw-cut. Siapa temanmu ini?"
Siauw-cut terkejut. Dia sadar bahwa Sin Hong ada di situ, diam tidak membuka suara ketika dia bercakap-cakap dengan si kakek dewa. Sin Hong yang menjatuhkan dirinya berlutut segera menjawab, "Teecu Sin Hong, Sian-su. Yap Sin Hong, putra Pendekar Gurun Neraka!"
"Ah, kau putra pendekar sakti itu, anak baik?"
"Ya, dan teecu telah mendengar banyak tentang dirimu, Sian-su. Ayah dan ibu bercerita tentang kesaktian Sian-su yang tiada tara!"
Bu-beng Sian-su tertawa. "Anak baik, ayah dan ibumu memang suka menyanjung-nyanjung orang. Bagaimana kau bisa terjatuh di jurang ini?"
Sin Hong menggeleng. "Teecu tidak tahu, Sian-su. Tapi sebelumnya teecu dibawa si kakek bongkok Bu-beng Siauw-jin."
Siauw-cut menyambung, "Ya, dia terjatuh di jurang ketika kakek bongkok mempertahankannya dari serangan Sinyan Mo-li, Sian-su. Teecu tertimpa dan kami berdua sama-sama masuk ke jurang!"
Bu-beng Sian-su menghela napas. "Sin Hong, sekarang apa yang kauinginkan setelah kalian berada di sini?"
"Teecu ingin pulang, Sian-su. Teecu ingin menjumpai ibu yang tentu cemas mengharap-harapkan kedatangan teecu."
"Hm, kau tidak ada niatan lain selain itu, anak baik?"
Jantung Sin Hong berdegup. Dia mendengar ajakan tersembunyi di balik kata-kata kakek dewa ini. Sin Hong, yang mendengar dari orang tuanya bahwa kakek itu dapat dimintai petunjuk tentang apa saja, tiba-tiba bangkit berdiri dan membungkukkan tubuhnya.
"Sian-su, kalau dikabulkan, teecu ingin mendapat petunjuk barang sedikit tentang ilmu silat. Apakah bisa teecu peroleh?"
Bu-beng Sian-su tertawa. "Kau sama seperti temanmu, Sin Hong. Ilmu silat juga yang diminta. Tapi bukankah ayahmu sudah merupakan pendekar sakti yang pilih tanding? Untuk apa minta petunjuk lagi?"
"Tidak, ayah sendiri mengakui kesaktianmu, Sian-su. Bagaimanapun juga, aku yang bodoh mohon petunjuk!"
"Dan kau ingin pula mengetahui syair yang hendak kuberikan pada Bu-beng Siauw-cut ini, Sin Hong?"
"Kalau kauperkenankan, Sian-su. Karena teecu tahu bahwa apa yang kauberikan pada seseorang pasti berharga dan berguna bagi hidupnya!"
Bu-beng Sian-su tersenyum lebar. "Baiklah, aku tidak menjanjikan sesuatu yang muluk-muluk pada kalian, anak-anak. Tapi bila kalian dapat mengerti intisari dari syair ini, satu hal yang jelas kalian peroleh: yakni kalian menjadi orang pandai yang tahu tentang hidup dan kehidupan!"
Lalu, kakek ini tiba-tiba membalikkan tubuh dan melakukan corat-coret dengan cepat untuk menggurat sesuatu di dinding gua. Sin Hong dan Siauw-cut memandang dengan terbelalak. Mereka takjub melihat kakek ini dapat mengguratkan jari-jarinya di dinding yang keras seolah-olah menggurat sepotong agar-agar. Begitu selesai, kakek itu membalikkan tubuh dan tertawa menghadapi mereka.
"Kalian dapat membacanya, anak-anak?"
Sin Hong dan Siauw-cut tertegun. Mereka melihat tujuh kalimat tersusun rapi dengan huruf-huruf indah yang mengukir dinding gua bagai dilukis. Mereka segera membaca:
*Berikan canang pukullah bende*
*Lekkatkan benang di atas mega*
*Jadilah orang hidup berguna*
*Rautlah itu sepanjang masa!*
"Ah, apa artinya ini, Sian-su?" Siauw-cut tiba-tiba berseru heran karena tidak mengerti.
Tetapi Bu-beng Sian-su yang tertawa kecil tiba-tiba mengangkat lengannya. "Kau yang harus menjawab, Siauw-cut, bukan aku. Tidak boleh bertanya!"
Siauw-cut tertegun. Dia melihat Sin Hong juga terpaku memandang, lalu melirik kepadanya. Putra Pendekar Gurun Neraka itu menarik napas dan tiba-tiba menggeser kakinya. "Sian-su, bolehkah kutanya satu hal?"
"Hm, apa yang hendak kau tanya, anak baik?" Bu-beng Sian-su tersenyum.
"Jawaban dari syair ini, Sian-su. Tidakkah kau memberi ancar-ancar kepada kami untuk menemukan kuncinya?"
Bu-beng Sian-su tertawa. "Kau cerdik, Sin Hong. Baiklah, boleh juga kujawab pertanyaan ini!"
Setelah mengebutkan jubahnya dua kali, kakek dewa itu tiba-tiba menuding dan menggurat tujuh kali di udara sambil berseru, "Lihatlah baik-baik, anak-anak. Jawaban ini sudah terletak di syair itu sendiri. Kalian tinggal berlari secara zig-zag dan memungut yang penting, lalu menghubungkannya satu demi satu, maka terjawablah syair ini! Kalian jelas?"
Sin Hong dan Siauw-cut bengong. "Kami tidak jelas, Sian-su. Berlari dan memungut satu per satu? Apanya yang dipungut?"
Bu-beng Sian-su tertawa kembali. "Artinya kalian harus menemukan jawaban itu dengan cara sudut-menyudut, anak-anak. Kalian berlari secara silang dan memungut apa yang penting, lalu dihubungkan satu demi satu untuk mendapatkan jawabannya. Kalian belum paham?"
"Belum."
"Kalau begitu kalian cari sendiri. Jawaban yang berharga tidak boleh tergesa-gesa diberitahukan!"
Bu-beng Sian-su tertawa, mengebutkan lengan, dan tiba-tiba berkelebat lenyap. Keadaan gua seketika menjadi gelap, segelap pikiran mereka yang buntu oleh teka-teki aneh itu.
Siauw-cut berteriak tertahan, "Sian-su, bagaimana dengan janjimu? Mana itu petunjuk-petunjuk dasar tentang ilmu silat?"
Tiba-tiba Bu-beng Sian-su muncul kembali, membuat gua terang benderang. Kehadirannya yang seperti iblis itu mengejutkan kedua anak tersebut.