Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 36

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 36

Kakek dewa yang tersenyum lebar itu menatap mereka dengan bangga.

"Kalian benar-benar ingin menagih janjiku, anak-anak?" tanya Sin Hong, melompat kegirangan.

"Tentu saja, Sian-su," sahut Siauw-cut, melompat ke depan. "Aku ingin minta petunjukmu tentang pelajaran silat ini!" Tapi Sin Hong membalas, "Aku yang lebih dulu dijanjikan, Sin Hong. Kau tak boleh hanya menumpang keberuntungan yang kudapat!" Sin Hong terkejut, "Tapi aku juga mendapat janji Sian-su, Siauw-cut. Aku tidak menumpang keberuntunganmu seperti yang kau katakan!" "Tapi buktinya kau ikut-ikutan, Sin Hong. Kau merebut hakku secara tak tahu malu!" "Keparat...!" Sin Hong marah. Saat mereka mulai bertengkar, seruan Bu Beng Sian-su menghentikan mereka.

"Anak-anak, jangan berkelahi. Masing-masing dari kalian mendapat bagian yang sama!" Kakek itu lalu menggerakkan lengannya ke kiri, turun ke tanah, dan mengusap kepala keduanya dengan lembut. Sin Hong dan Siauw-cut terkejut merasakan kepala mereka yang tadi panas kini dingin seketika. Saat mereka sadar bahwa permusuhan tidak ada gunanya, kakek dewa itu melanjutkan kata-katanya sambil tertawa.

"Anak-anak, kalian datang bersama. Karena itu, secara bersama pula kuberikan petunjuk tentang mempelajari hawa sakti. Kalian ingin mempunyai sinkang yang kuat, bukan?" Sin Hong sangat gembira. "Justeru itu yang kutunggu, Sian-su. Mohon pelajaran ini segera diturunkan!" Siauw-cut tidak mengerti. Dia belum tahu apa-apa tentang ilmu silat, tetapi melihat Sin Hong sangat gembira mendengar kata-kata Bu Beng Sian-su, dia tahu bahwa apa yang akan diajarkan kakek itu pasti sesuatu yang sangat penting. Setidaknya, itu adalah dasar ilmu silat tingkat tinggi. Maka Siauw-cut yang tersenyum lebar dan wajah berseri itu pun mengangguk. "Ya, boleh kau turunkan sekarang, Sian-su. Aku juga siap mempelajari!"

Bu Beng Sian-su tertawa. Dia melepaskan keduanya, lalu menunjuk ke depan. "Kalian lihat dua batu hitam itu, anak-anak?" Sin Hong dan Siauw-cut mengangguk. "Nah, sekarang masing-masing ke sana. Sin Hong ke sebelah kiri dan Siauw-cut ke kanan. Kalian raba bagaimana keadaan batu hitam itu?" "Dingin, Sian-su," jawab Sin Hong. "Ya, dan keras!" sambung Siauw-cut.

Kedua anak yang belum mengerti maksud kakek itu tiba-tiba disuruh duduk bersila. Tapi ketika keduanya duduk bersila di atas batu, Bu Beng Sian-su menggoyang lengannya. "Tidak, bukan bersila di atasnya, anak-anak. Tapi di sebelah batu itu. Kalian di depannya!" Sin Hong dan Siauw-cut menurut. Setelah duduk dengan baik, kakek itu berkata dengan sungguh-sungguh, "Sekarang atur napas kalian, anak-anak. Pukul batu itu dengan telapak tangan kalian."

Sin Hong dan Siauw-cut mulai memukul. Mereka menepuk-nepuk batu hitam itu, setengah heran setengah tak mengerti mengapa pelajaran sinkang harus dimulai dengan memukul batu. Tapi ketika mereka memukul tanpa irama, Bu Beng Sian-su melangkah maju dan tersenyum lebar. "Anak-anak, kalian salah. Pukulan harus berirama...!" Sin Hong dan Siauw-cut menghentikan gerakan mereka. Mereka melihat Bu Beng Sian-su duduk di depan mereka. Sebelum memberikan contoh, kakek itu memandang Sin Hong.

"Anak baik, kau tahu tentang apa yang dinamakan sinkang (hawa sakti), bukan?" "Ya." "Apa itu?" "Tenaga dalam, Sian-su. Pemupukan tenaga dalam di tubuh kita agar menjadi kuat dan dahsyat!" Bu Beng Sian-su tertawa. "Ya, tapi tahukah kau bahwa melatih sinkang tak boleh dilakukan sembarangan, Sin Hong? Tahukah kau ada intinya melatih sinkang ini?" Sebelum Sin Hong menjawab, Bu Beng Sian-su melanjutkan, "Melatih sinkang pada dasarnya melatih napas, anak baik. Karena napas adalah penghantar getaran tenaga yang dapat menjadi luar biasa bila digunakan secara tepat. Kau tahu tentang ini, bukan?" Sin Hong mengangguk.

"Nah, kalau begitu, ada berapa macam jenis melatih tenaga?" "Dua, Sian-su, gwakang (tenaga luar) dan iweekang (tenaga dalam)." "Bagus, kalau begitu kau tahu apa bedanya dari keduanya ini?" "Gwakang untuk melatih otot, Sian-su. Sedang iweekang atau sinkang untuk melatih kekuatan batin kita!" Bu Beng Sian-su tertawa. "Boleh dikata begitu, anak baik. Tapi yang jelas ialah gwakang harus menyentuh langsung sasaran yang dituju, sedang tenaga dalam atau lweekang boleh langsung atau tidak langsung menyentuh obyek yang kita tuju! Kau mengerti, bukan?" Sin Hong mengangguk.

Tapi Siauw-cut yang tidak mengerti tiba-tiba bertanya, "Kalau begitu, dapat kau beri sebuah contoh kepada kami, Sian-su?" Bu Beng Sian-su berbalik. "Baik, lihat ini, Siauw-cut. Tenaga luar atau gwakang adalah tenaga penghancur yang langsung menuju sasarannya. Seperti ini... plak!" Bu Beng Sian-su tiba-tiba memukul batu di sebelah kanannya hingga hancur. Siauw-cut memandangnya terbelalak. Tapi anak itu dikejutkan oleh seruan kedua kakek dewa itu.

"Dan yang ini adalah tenaga dalam, Siauw-cut. Kita tak perlu menyentuh sasarannya, tapi obyek yang kita tuju juga dapat remuk dan hancur melebihi tenaga yang pertama! Lihat, wutt...!" Lengan si kakek dewa yang tiba-tiba didorongkan ke dinding gua mendadak mengeluarkan suara gemuruh seperti bendungan jebol diterjang air bah. Tapi Siauw-cut tidak melihat apa-apa. Dinding gua yang dipukul Bu Beng Sian-su hanya bergetar sedikit, lalu diam. Tidak ada yang remuk, apalagi hancur. Tapi Sin Hong, yang lebih mengerti teori tenaga dalam, tiba-tiba berteriak kaget. Anak itu melompat bangun, menjulurkan lengan menyentuh dinding gua itu. Namun, baru angin gerakannya tiba dan lengan masih sejengkal lagi, tahu-tahu dinding gua itu mengeluarkan suara keras dan roboh menjadi tepung!

"Ah, hebat, Sian-su. Gua ini hancur...!" Siauw-cut tertegun. Dia mendengar pekik Sin Hong yang penuh kekaguman itu keluar secara spontan. Siauw-cut yang bangkit berdiri oleh pemandangan luar biasa ini tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan kakek dewa itu. "Sian-su, tolong ajarkan aku ilmu kesaktian ini...!" Bu Beng Sian-su tertawa. "Memang hendak kuajarkan, anak baik. Sekarang kalian tahu perbedaan tenaga luar dan tenaga dalam, bukan?"

Sin Hong juga menjatuhkan diri berlutut. "Ya, kami tahu, Sian-su. Bahwa tenaga dalam bisa langsung atau tidak langsung menghancurkan sasaran, sedang tenaga luar harus langsung dilakukan untuk menghancurkan sasaran!" "Bagus, memang begitu perbedaannya, anak baik. Tapi tahukah kalian bagaimana cara melatih tenaga dalam yang benar ini?" "Aku mohon petunjuk, Sian-su." Bu Beng Sian-su yang sudah duduk di depan batu hitam segera memberi petunjuk.

"Perhatikan, anak-anak. Pertama, kita harus mengkonsentrasikan diri pada batu hitam ini. Kedua, mulai mengatur napas untuk mengiringi pukulan secara berirama. Artinya, kalian harus menarik dan mengeluarkan napas secara teratur sesuai hentakan-hentakan ringan di atas batu hitam ini. Kalian paham sampai di sini?" Sin Hong mengangguk. Tapi Siauw-cut menggeleng. "Aku belum jelas, Sian-su. Tolong kau beri contoh!"

"Baik, lihat ke sini, Siauw-cut," Bu Beng Sian-su tersenyum. "Lihat baik-baik apa yang akan kulakukan ini. Pertama, sebelum mulai memukul, kita angkat tangan kita hingga di sisi telinga, menarik napas perlahan dengan gerakan itu. Lalu begitu tangan kita turunkan dan menepuk permukaan batu hitam, bersamaan itu pula kita keluarkan napas seirama dengan pukulan ini. Kalian jelas?" Lihat contohnya. Satu, plak... dua, plak... tiga, plak... empat, plak... begitu seterusnya. Kalian paham, bukan?" Siauw-cut mengangguk girang. Dia mulai paham pelajaran ini. Begitu mengerti maksud Bu Beng Sian-su, dia pun tiba-tiba menepuk permukaan batu hitam itu dengan hentakan berirama. Tapi pukulannya terlalu keras, terlalu bersemangat.

Bu Beng Sian-su yang tertawa lebar oleh sikap anak itu menegur, "Siauw-cut, tak perlu buru-buru. Melatih sinkang harus perlahan dan sabar. Kau tahanlah kegembiraan hatimu yang meluap. Satu per satu, kiri kanan... kiri kanan... begitu seterusnya hingga lima ribu hitungan." Siauw-cut mengangguk. Dia langsung mempraktikkan pelajaran menghimpun tenaga sakti ini, diawasi dan ditegur Bu Beng Sian-su bila masih mendapatkan kesalahan. Sin Hong yang juga segera berlatih mengikuti Siauw-cut sudah memukul-mukul telapak tangannya di batu hitam itu. Mereka berdua mulai menghitung dalam hati, sementara Bu Beng Sian-su yang berseri memandang kedua anak itu tampak gembira dan tersenyum lembut.

Tapi Sin Hong tiba-tiba menghentikan latihannya. "Sian-su, apa nama ilmu menghimpun sinkang ini?" Bu Beng Sian-su tertawa. "Kunamakan Teng-liong-kang (Menghimpun Seribu Naga), Sin Hong. Sesuai dengan maksud kita menghimpun tenaga sedahsyat dan sekuat naga!" Sin Hong tertegun. Dia tampak terkejut, heran, dan kagum. Karena memiliki sinkang sekuat dan sedahsyat seribu ekor naga benar-benar bukan hal biasa. Tapi Bu Beng Sian-su yang menggerakkan lengannya tiba-tiba berkelebat lenyap.

"Sin Hong, Siauw-cut, kalian berlatihlah terus. Jangan remehkan ilmu Jeng-liong-kang itu. Aku pergi dulu...!" Sin Hong tercekat. Dia teringat mereka tidak mengetahui jalan keluar. Melihat Bu Beng Sian-su meninggalkan mereka, buru-buru anak itu berteriak, "Sian-su, bagaimana kami keluar?" Terdengar jawaban lembut, "Kalian dapat mengikuti lorong gua ini, Sin Hong. Belok tiga kali ke kanan, maka kalian sampai di dekat air terjun!" Sin Hong tertegun. Dia melihat Siauw-cut asyik memukul-mukul batu hitam, berkonsentrasi penuh semangat. Tampaknya sangat menggebu-gebu. Sin Hong yang bingung setelah ditinggal kakek dewa itu tiba-tiba mengambil keputusan, tidak mau berlatih di tempat itu, tidak mau campur dengan Siauw-cut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment