Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 37

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 37

Khawatir perkelahian timbul kembali.

Padahal bagaimanapun juga dia telah berutang budi pada anak ini.

Anak yang memusuhi dia dan keluarganya!

Maka Sin Hong yang tiba-tiba menyelinap keluar sudah beringsut meninggalkan Siauw-cut, menyusuri lorong gua itu dan masih sempat mendengar tepukan-tepukan Siauw-cut berlatih Tengliong kang untuk akhirnya membelok tiga kali ke kanan dan...

tiba di luar gua, di belakang air terjun!

Tapi di sini Sin Hong lagi-lagi tertegun.

Dia mendengar suara orang menangis, menggerung-gerung.

Dan Sin Hong yang melompat keluar segera terbelalak ketika melihat si kakek bongkok Bu-beng Siauw-jin ada di situ!

Sejenak Sin Hong termangu, mengerutkan kepala di bilik batu karang.

Berpikir apakah dia harus pergi atau menghampiri kakek itu.

Tapi ketika mendengar si kakek bongkok berkali-kali menyebut mamanya dan menyesali "kematiannya" di dalam jurang mendadak Sin Hong terharu dan tergetar.

Bagaimanapun kakek itu bukanlah orang jahat.

Maka Sin Hong yang iba terhadap kakek ini tiba-tiba menarik napas, melompat dari batu karang dan siap menghampiri kakek itu.

Tapi baru dia menarik napas dan melakukan gerakan perlahan, tiba-tiba Bu-beng Siauw-jin mencelat terbang ke batu di mana dia sembunyi dan membentak, "Siapa di situ?" Sin Hong terkejut.

Dia melihat Bu-beng Siauw-jin tahu-tahu sudah berada di depannya, melotot dan siap menyerang.

Tapi begitu melihat dia ada di situ dan masih hidup mendadak kakek ini mengeluh dan tersentak mundur.

"Sin Hong, kau masih hidup?" Sin Hong mengangguk.

"Ya, aku masih hidup, locianpwe. Dan kau harus mengembalikan aku ke Ta-pie-san lagi!" Kakek ini tertegun, tapi sekejap saja.

Karena Bu-beng Siauw-jin yang tiba-tiba sudah tertawa tergelak-gelak tahu-tahu menyambar pinggang anak ini diputar-putar di udara.

"Ha-ha, kalau begitu kau ditolong manusia dewa Bu-beng Sian-su, Sin Hong! Kau bertemu dia di dalam jurang sana?" Sin Hong mengangguk.

"Ya, secara kebetulan saja, locianpwe." "Dan di mana temanmu yang satu itu?" "Siauw-cut?" "Ya." "Dia juga selamat, locianpwe. Bu-beng Siauw-su telah menolong kami berdua!" "Ha-ha, tapi kenapa ia tak muncul, Sin Hong?" Sin Hong ragu-ragu.

Dia enggan menjawab, karena membicarakan Siauw-cut berarti mengingatkan dia betapa besarnya permusuhan anak itu.

Maka menjawab sambil lalu dia pun membalikkan muka, "Siauw-cut tak mau bersamaku, locianpwe. Dia mengerjakan urusannya sendiri dan tidak mau diganggu!" Bu-beng Siauw-jin terbahak.

"Tapi kalian tentu mendapat sesuatu dari kakek dewa itu, Sin Hong. Apa yang kau peroleh?" Sin Hong mengerutkan alisnya.

"Tak perlu kau tahu, locianpwe. Yang penting sekarang, kembalikan aku ke Ta-pie-san!" Bu-beng Siauw-jin menghentikan tawanya.

Dia juga mengerutkan kening melihat sikap si bocah, beradu pandang dengan mata Sin Hong yang dingin dan keras.

Tapi menggelengkan kepala kakek ini tiba-tiba berkata, "Tidak, kau tak perlu kembali ke Ta-pie-san, Sin Hong. Kau harus menjadi muridku dulu selama sepuluh tahun!" Sin Hong menjengit.

"Aku dapat belajar dari ayahku sendiri, locianpwe. Dan aku juga dapat belajar dari kakekku Ciok-thouw Taihiap!" "Hm, tapi ayahmu sibuk dalam urusan negara, Sin Hong. Kakekmu juga tak mungkin mendidikmu karena dia jauh dari kalian. Juga sudah punya cucu langsung!" Sin Hong memandang tak senang.

"Apa maksudmu, locianpwe?" "Ciok-thouw Taihiap menganakemaskan cucunya sendiri, Sin Hong. Kakek itu tak mungkin mau mendidikmu sungguh-sungguh. Dia lebih berat pada cucunya sendiri yang masih ada hubungan darah ketimbang kau yang sama sekali bukan apa-apa baginya!" Sin Hong marah.

"Kau jangan bicara yang tidak-tidak! Dia sama baik terhadap Bi Lan maupun aku!" "Hm, itu lahirnya, Sin Hong. Kau tak tahu betapa diam-diam Ciok-thouw Taihiap mulai pilih kasih. Dia memberi ilmu pada adikmu Bi Lan itu yang dinamakan Soan-hoan-ciang (Kibasan Angin Taufan)!" Sin Hong terkejut.

"Dari mana kau tahu?" "Ha-ha, aku si tua bangka ini tahu sejak melihat bayangan kakekmu, Sin Hong. Betapa diam-diam dia memasuki kamar adikmu dan mengajar ilmu silat itu pada Bi Lan, cucunya sendiri!" Sin Hong mundur, pucat mukanya, jelas terlihat tertampar.

Tapi anak yang tidak mudah percaya ini tiba-tiba bertanya, suaranya menggigil, "Locianpwe, dapatkah kau buktikan kata-katamu ini? Bagaimana kalau dusta?" Bu-beng Siauw-jin menyeringai.

"Aku si tua bangka ini tak perlu mendustaimu, Sin Hong. Kalau kau tidak percaya boleh kita buktikan. Mari kembali ke Ta-pie-san. Tapi bagaimana kalau omonganku betul? Mau kau menjadi muridku selama sepuluh tahun?" Sin Hong terlanjur marah.

"Boleh. Tapi kalau omonganmu betul, locianpwe. Kalau tidak, kau harus minta maaf pada ibu dan ayah untuk perbuatanmu menculik ini!" Bu-beng Siauw-jin terbahak.

Dia menyambar Sin Hong, lalu melempar dan menangkap anak itu di udara. Dia pun tiba-tiba menjejakkan kakinya, meluncur turun ke bawah lembah sambil tertawa tergelak-gelak.

"Boleh, tapi kau juga harus menepati janjimu, Sin Hong. Tak boleh menjilat ludah kembali sebagai turunan seorang pendekar…!" Sin Hong tak menjawab.

Dia merasa terpukul dan "sakit hati" oleh cerita Bu-beng Siauw-jin itu, cerita yang diam-diam membuat hatinya merintih dan pedih.

Tapi Sin Hong yang masih mengharap cerita kakek itu bohong mencoba menguatkan hati dan menekan debaran jantungnya.

Dia kurang percaya, tapi ketika Bu-beng Siauw-jin benar-benar mengarahkan tujuannya kembali ke Ta-pie-san tiba-tiba Sin Hong terguncang dan mulai gelisah.

Hingga akhirnya, setelah melalui perjalanan dua malam dua hari mereka berdua benar-benar telah tiba di pegunungan itu.

"Sin Hong, bagaimana caramu mengorek Bi Lan?" Sin Hong terpaku.

Dia sekarang benar-benar sudah berada di rumah sendiri, di belakang kamar Bi Lan dengan jantung berdegup kencang.

Tapi Sin Hong yang bingung dan gelisah tiba-tiba malah terhuyung dengan kaki menggigil, tak menjawab pertanyaan itu.

Dan Bu-beng Siauw-jin yang tertawa pendek sekonyong-konyong melayang ke kusen jendela, melongok ke dalam.

Lalu mengintai sekejap kakek itu pun turun kembali dengan muka berseri-seri.

"Adikmu di dalam, Sin Hong… bersamadhi!" Sin Hong masih pucat.

"Kenapa kau pucat?" Bu-beng Siauw-jin tertawa.

"Bukankah kau datang ke sini untuk membuktikan tuduhanku?" Sin Hong gemetar bingung.

Dia terbelalak memandang kakek itu, tapi melihat Bu-beng Siauw-jin tersenyum menyeringai tiba-tiba dia melayang pula ke jendela kamar adiknya.

Dengan hati-hati dia melongok, mengintai ke dalam.

Dan melihat Bi Lan benar-benar ada di dalam sedang bersamadhi berjungkir balik tiba-tiba anak ini melayang turun dan giginya bergemeletuk.

"Locianpwe, apa yang harus kulakukan?" "Wah, kenapa tanya kepadaku? Kau masuk saja ke dalam, Sin Hong. Tanyai saja adikmu itu secara terus terang!" Sin Hong ragu-ragu.

Dan Bu-beng Siauw-jin yang mengerti kebimbangan anak ini tiba-tiba tertawa kecil.

"Atau kau pergunakan akalku, Sin Hong. Tarik perhatian adikmu itu keluar dan serang dia secara tiba-tiba!" Sin Hong mengusap keringat. Entah mengapa setelah Bu-beng Siauw-jin betul-betul menepati janjinya kembali ke Ta-pie-san dia jadi gundah dan tidak enak.

Merasa betapa diam-diam bibit ketidaksenangan muncul di hatinya, bibit kebencian terhadap kakeknya itu, Ciok-thouw Taihiap!

Dan Sin Hong yang merah mukanya tiba-tiba mengangguk.

"Boleh, tapi bagaimana caranya, locianpwe?" "Ha, mudah saja, Sin Hong. Kau tutup mukamu dengan sapu tangan dan totok jalan darah di pinggang adikmu itu, tentu dia akan keluar…!" Sin Hong mengambil kerikil.

Dia meminta Bu-beng Siauw-jin pergi bersembunyi, lalu begitu si kakek berkelebat dan dia sudah melayang di jendela kamar adiknya tiba-tiba Sin Hong melepaskan kerikil kecil itu, menotok pinggang adiknya yang sedang bersamadhi.

Lalu begitu melihat adiknya membuka mata dan mengeluh tertahan, tahu-tahu Sin Hong mendobrak jendela dan melompat masuk!

"Jahanam, siapa kau?" Bi Lan mengeluarkan bentakan kaget, langsung berjungkir balik dan melayang di depan kakaknya.

Tapi Sin Hong yang sudah menutup muka dengan sapu tangan dan sengaja membisu tiba-tiba tanpa banyak bicara menyerang dan mencengkeram leher adiknya itu!

Lalu begitu melompat dan menggerakkan kakinya, Bi Lan pun sudah menendang dagu Sin Hong dan balas menyerang!

"Tikus busuk, siapa kau?" Tapi Sin Hong tak menjawab.

Dia tak boleh mengeluarkan suara karena Bi Lan tentu mengenalnya, mengenal suaranya karena bagaimanapun juga mereka tak pernah berpisah, sehari-harinya berkumpul di tempat yang sama.

Maka Sin Hong yang tidak banyak bicara dan terus menyerang adiknya sudah berkelebat ke sana kemari dengan cengkeraman dan tamparan, bertubi-tubi menghujani serangan.

Dan Bi Lan yang marah oleh serangan lawan yang tidak menjawab pertanyaannya sudah mengimbangi pula gerakan Sin Hong yang mencoba merobohkan adiknya, tentu saja dengan hati-hati agar tidak sampai cedera berat.

Tapi Bi Lan yang mempertahankan diri serta balas menyerang tiba-tiba terbelalak.

Dia melihat gerakan-gerakan yang dikenal dari lawannya ini, gerakan dari ilmu silat keluarga mereka.

Seperti Cap-jiu-kun dan Khong-ji-ciang itu, silat Sepuluh Kepalan dan silat Hawa Kosong itu.

Dua ilmu silat yang dimainkan lawannya ini dengan baik, meskipun di sana-sini terdapat variasi-variasi berbeda yang oleh Sin Hong sengaja diubah agar tidak begitu kentara, tidak menyolok karena bagaimanapun juga dia maklum adiknya tentu mengenal gerakan-gerakan ilmu silatnya bila tidak dibuat janggal di sana-sini, sengaja membuat “kacau”!

Dan Bi Lan yang terbelalak oleh semua gerakan ilmu silat itu tiba-tiba terkejut, lalu mendesah.

Dua pikiran berkelebat di depannya, bahwa si “tikus busuk” ini adalah Sin Hong atau orang lain yang mencuri ilmu mereka secara diam-diam!

Maka Bi Lan yang terkejut serta terbelalak itu tiba-tiba menggigit bibir.

Baginya tak mungkin bahwa lawan yang bertempur itu adalah Sin Hong.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment