Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 38

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 38

Karena Sin Hong diculik seseorang dan belum kembali!

Lagi pula, seandainya Sin Hong kembali, untuk apa ia menyerang adiknya sendiri? Gilakah kakaknya itu? Maka, kemungkinan kedua adalah dugaan terakhir, bahwa lawannya ini adalah pencuri tak tahu malu yang menjiplak secara diam-diam ilmu silat keluarga mereka.

Tetapi, sewaktu dia dan kakaknya berlatih, mereka berdua memang berlatih di tempat terbuka!

Maka, Bi Lan yang marah oleh kesimpulan ini tiba-tiba memekik. Ia memutar kakinya, mengelak ketika Sin Hong menyambar pundaknya. Dan begitu merendahkan tubuh sambil mengibas lengan ke depan, sekonyong-konyong gadis ini melancarkan serangan yang mengeluarkan deru angin hebat, memukul lambung Sin Hong!

"Pencuri busuk, kau robohlah…!"

Sin Hong tertegun. Ia melihat adiknya memutar lengan dua kali, mendorong, dan tiba-tiba menghantam lambungnya. Gerakan yang tidak dikenal. Agaknya, itu adalah Soan-hoan-ciang, Kibasan Angin Taufan. Dan Sin Hong yang terbelalak oleh pukulan ini tiba-tiba tak dapat menghindar ketika serangan adiknya datang.

"Dess!" Sin Hong terpelanting roboh. Ia mengeluh kaget oleh pukulan itu, terguling-guling, dan melompat bangun, terbelalak memandang adiknya.

Namun Bi Lan yang sudah girang bahwa lawan dapat dirobohkan dengan ilmu silatnya yang terakhir itu sudah menubruk sambil melengking tinggi. "Pencuri hina, kau robohlah…!"

Tapi kali ini Sin Hong tak melonjak. Ia mengegos ke kanan, dan begitu Bi Lan lewat di sampingnya, mendadak jarinya mencengkeram punggung. Tapi Sin Hong terkejut. Bi Lan ternyata menggeliatkan pinggang, dan begitu dua muka saling berhadapan, sekonyong-konyong Bi Lan membentak dan mendorongkan lengan kirinya, menghantam dada.

"Pencuri hina, robohlah… plak!"

Dan Sin Hong yang terjengkang ke belakang tiba-tiba roboh terpelanting oleh pukulan Bi Lan yang tidak dikenal!

"Aah…!" Sin Hong benar-benar terkejut. Ia terbelalak oleh gaya pukulan yang aneh dari adiknya itu.

Tapi baru saja ia melompat bangun untuk yang kedua kalinya, mendadak sebuah bayangan berkelebat. Sin Hong melihat ibunya nomor dua muncul, Ceng Bi, ibu kandung adiknya. Dan begitu melayang masuk ke dalam kamar, tiba-tiba Ceng Bi menyambar Sin Hong dan merenggut kedok sapu tangannya hingga lepas.

"Bocah, siapa kau?"

Sin Hong berusaha mengelak. Ia terperanjat melihat munculnya ibu Bi Lan ini, tapi karena kalah cepat dan kaget oleh sambaran tak disangka itu, tiba-tiba kedoknya terenggut terbuka oleh Ceng Bi!

"Brett…!" Sin Hong mengeluarkan keluhan pendek. Ia tak dapat menyembunyikan dirinya kini, dan Ceng Bi serta Bi Lan yang melihat Sin Hong tertegun memandang mereka, tiba-tiba berteriak tertahan dengan mata terbelalak.

"Sin Hong, kau kiranya?"

"Hong Koko, kau yang datang…?"

Tapi tawa serak seorang kakek tiba-tiba memecah kekagetan ibu dan anak ini. Bu-beng Siauw-jin muncul, dan kakek bungkuk yang langsung melompat di dekat Sin Hong itu sudah menepuk-nepuk pundak anak itu.

"Sin Hong, bagaimana kata-kataku tadi? Bohongkah aku, si tua bangka ini?"

Sin Hong menggigil. Ia pucat memandang Bi Lan, tapi menganggukkan kepala, ia bicara gemetar, "Anda benar, Locianpwe. Adikku… adikku itu mendapat warisan Soan-hoan-ciang."

Ceng Bi dan Bi Lan terkejut. Mereka tertegun melihat bahwa Sin Hong muncul di situ, datang bersama seorang kakek bungkuk yang tidak dikenal. Tapi Bi Lan yang sudah girang melihat kakaknya selamat tiba-tiba menubruk ke depan.

"Hong Ko, siapa kakek ini? Kenapa kau menyerangku?"

Tapi Sin Hong tiba-tiba bersikap dingin. Ia melepas pelukan adiknya itu, lalu memutar tubuh menghadapi Ceng Bi.

"Ibu, tolong sampaikan pada ayah bahwa aku mengikuti kakek ini selama sepuluh tahun. Aku terikat perjanjian. Tak akan pulang sebelum waktunya habis…!"

Ceng Bi terkejut. "Sin Hong, apa yang terjadi padamu? Siapa kakek ini?"

Bu-beng Siauw-jin terbahak. "Aku Bu-beng Siauw-jin, Nyonya. Orang menjulukiku Si Naga Bongkok!"

Ceng Bi terbelalak. "Si Naga Bongkok?"

"Ya, kau tak mengenalku, Nyonya. Tapi ayahmu, Si Pendekar Kepala Batu itu pasti mengenalku dengan baik. Katakan saja Si Naga Bongkok tahu perbuatannya yang tidak adil. Karena itu aku ingin membawa Sin Hong untuk menjadi muridku!"

Ceng Bi tiba-tiba melompat maju, mulai marah. "Tua bangka, tahukah kau siapa anak ini? Tahukah kau siapa Sin Hong?"

"Ha-ha, aku tahu, Nyonya. Dia adalah putra Pendekar Gurun Neraka bersama istri pertamanya, Kwan Nyonya, murid si keledai gundul dari Tibet itu. Kau tanya ini, bukan?"

"Ya, dan tahukah kau bahwa Sin Hong juga anakku sendiri?"

"Ha-ha, tapi yang melahirkan bukan kau, Nyonya. Ibu kandung anak ini bukan kau orangnya!"

"Betul, tapi dia kuanggap anak kandungku sendiri, Naga Bongkok. Anak Enci Hong bukan anak lain bagiku!"

"Ah, tapi anak ini mengalami kekecewaan, Nyonya. Apa yang kau bilang tidak berlaku bagi kakeknya!"

"Apa maksudmu?"

"Anak ini boleh kau anggap anakmu, Nyonya. Tapi Ciok-thouw Taihiap tak menganggap Sin Hong sebagai cucunya!"

"Keparat…!" Ceng Bi membentak, siap menerjang. "Apa arti omonganmu ini, tua bangka? Kau hendak mengacau rumah tangga orang?"

Bu-beng Siauw-jin tertawa. "Jangan marah dulu, Nyonya. Aku tak hendak mengacau rumah tangga orang. Aku punya bukti…!" Lalu menghadapi Bi Lan, tiba-tiba kakek itu bertanya, "Nona, dari mana ilmu pukulan Soan-hoan-ciang itu kau dapat?"

Bi Lan terkejut. Gadis ini tak segera menjawab, mukanya merah. Dan Ceng Bi yang melihat anaknya menggigil oleh pertanyaan itu tiba-tiba maju selangkah menghampiri putrinya. Ia tak tahu tentang apa itu Soan-hoan-ciang. Maka mendengar pertanyaan si bungkuk tentang ilmu silat ini, ia pun seketika tertegun dan membelalakkan matanya, mencengkeram pundak Bi Lan.

"Lan Ji, apa maksud kata-kata kakek itu? Betulkah kau memperoleh atau mempelajari Soan-hoan-ciang?"

Bi Lan masih tak menjawab. Ia tiba-tiba terisak, dan Ceng Bi yang marah melihat putrinya tak segera menjawab tiba-tiba mengguncang pundak anak itu.

"Bi Lan, kau tak punya mulut? Kau tak dapat menjawab pertanyaan ini?"

Bi Lan tiba-tiba menangis. Ia memeluk ibunya, dan anak perempuan yang tampak bingung dan ketakutan itu menganggukkan kepalanya dengan terpaksa. "Ya, aku… aku benar mendapat ilmu Soan-hoan-ciang ini, Ibu… aku… aku telah melatihnya secara diam-diam…!"

Ceng Bi terkejut. Tapi Bu-beng Siauw-jin yang menyeringai gembira tiba-tiba menepuk pahanya. "Nah, apa kataku, Nyonya? Bukankah anakmu mendapat warisan ilmu pukulan itu? Ayahmu tak adil, berat sebelah terhadap cucu dari menantunya sendiri!"

Ceng Bi tiba-tiba memutar tubuh anaknya. "Bi Lan, benarkah engkongmu yang mengajarkan ilmu pukulan itu? Kapan kau mendapat?"

Bi Lan tersedu-sedu. "Aku… aku mendapatnya setahun yang lalu, Ibu. Ketika Kong-kong datang berkunjung ke sini!"

Ceng Bi seketika tertegun. Ia kaget dan tak menyangka perbuatan ayahnya itu, yang merusak dan menikam perasaan Sin Hong, bocah yang tentu saja merasa dianaktirikan oleh ayahnya, Ciok-thouw Taihiap!

Dan sementara nyonya muda ini terpaku bingung, tiba-tiba dua buah bayangan berkelebat. Itulah Pek Hong dan Ceng Han, madu sekaligus kakak ipar dari nyonya muda ini. Dua orang yang datang karena mendengar suara ribut-ribut. Dan Pek Hong yang sudah melayang masuk ke kamar Bi Lan tiba-tiba memekik dan berteriak girang begitu melihat Sin Hong ada di situ.

"Hong Ji, kau datang, Nak?"

Sin Hong tak dapat menahan runtuhnya air mata. Ia sudah ditubruk dan dipeluk ibunya, yang begitu gembira dan hampir terguling ketika menubruknya. Tetapi Sin Hong yang terisak dan menggigit bibir tak menjawab seruan ibunya, tiba-tiba dilepas dan dipandang terheran-heran oleh ibunya, yang terbelalak memandang putranya dan tiba-tiba kaget ketika mendengar Bi Lan tersedu-sedu, menangis di pelukan ibunya sementara Ceng Bi sendiri pucat memandang Sin Hong!

"Ah, apa yang terjadi Hong Ji? Apa yang terjadi, Bi Moi? Siapa kakek ini?" Pek Hong gemetar. Ia melihat Sin Hong dan Bi Lan sama-sama menangis. Hanya saja, jika Bi Lan menangis secara wajar, putranya ini menangis sambil menggigit bibir, mengepal tinju!

Dan belum ia mendapat jawaban, tiba-tiba Sin Hong melompat keluar! "Ibu, aku tidak dapat menemuimu selama sepuluh tahun. Aku akan mengikuti kakek ini…"

Pek Hong kaget bukan main. Ia langsung berteriak, mengejar putranya. Dan begitu menginjakkan kaki sambil menyambar punggung Sin Hong, tiba-tiba nyonya muda ini membentak.

"Hong Ji, apa yang terjadi? Kenapa kau hendak meninggalkan ibu?"

Sin Hong menggigit bibirnya kuat-kuat. "Karena aku kalah perjanjian, Ibu… aku kalah bertaruh gara-gara perbuatan Kong-kong…!"

Pek Hong seketika tertegun, ia kaget mendengar disebut-sebutnya nama ini, nama Kong-kong, atau kakek dari kedua anak itu. Dan Ceng Han yang sudah melompat masuk ke ruangan itu tiba-tiba menyentuh bahu Sin Hong dan bertanya, "Sin Hong, apa yang sesungguhnya terjadi? Siapa Locianpwe ini?"

Bu-beng Siauw-jin tertawa serak. "Aku Bu-beng Siauw-jin, orang muda. Di luar Tembok Besar orang menyebutku Si Naga Bongkok!"

Ceng Han mengerutkan kening. Ia baru pertama kali itu mendengar nama ini, tapi melihat sinar mata yang tajam berkilat dari kakek ini, tiba-tiba ia melangkah maju, memberi hormat.

"Maaf, aku belum pernah mendengar namamu, Locianpwe. Tapi perkenalkan, aku Souw Ceng Han, kakak dari adikku Souw Ceng Bi."

"Ha-ha, aku sudah tahu, anak muda. Mukamu mirip benar dengan wajah ayahmu di kala muda. Hanya kau lebih halus dan tidak berangasan!"

Ceng Han terkejut. "Kalau begitu kau telah mengenal ayah, Locianpwe?"

"Ya, tiga puluh tahun yang lalu. Kami pernah bertempur dua hari dua malam!"

Ceng Han membelalakkan mata. Ia semakin terkejut oleh kata-kata kakek ini, orang yang belum pernah ia dengar namanya dari cerita ayahnya. Tapi maklum, kakek ini benar-benar lihai, terbukti dari matanya yang tajam berkilat. Ceng Han pun bersikap hati-hati, tak berani sembrono. Dan teringat Sin Hong datang bersama kakek ini, dia pun langsung menuju sasaran.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment