Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 39

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 39

"Dan kau yang membawa Sin Hong, Locianpwe?"

"Ya, aku yang membawa kemari anak itu, orang muda. Dia berjanji untuk menjadi muridku sejak saat ini!"

Tetapi Pek Hong tiba-tiba membentak, "Tidak bisa! Peraturan manakah yang mengharuskan ini, orang tua? Tahukah kau betapa cemas aku memikirkan anakku yang hilang?"

Dan Ceng Han menimpali, "Ya, apa yang dikatakan ibu anak ini benar, Locianpwe. Kami bertiga gelisah tak menentu sejak Sin Hong diculik. Karena itu, kami mengucapkan banyak terima kasih bahwa kau telah menolong Sin Hong dari tangan penculiknya!"

Bu-beng Siauw-jin tiba-tiba tertawa bergelak. "Aku tidak perlu ucapan terima kasih dari kalian, Ji-wi Hujin. Karena sesungguhnya yang menculik Sin Hong adalah aku sendiri!"

"Ah, kalau begitu apa maksudmu, Naga Bongkok?" Pek Hong terkejut.

Tetapi Bu-beng Siauw-jin yang tertawa sambil mengebutkan ujung bajunya itu menuding Sin Hong. "Karena aku kasihan pada anakmu itu, Hujin. Karena Ciok-thouw Taihiap telah bertindak tidak adil pada dua orang cucunya!"

Ceng Han terkejut. "Locianpwe, apa maksud omonganmu ini? Kau hendak memfitnah Ayah?"

Bu-beng Siauw-jin tertawa mendengar bentakan itu. Dia tenang-tenang saja, tetapi kakek yang tiba-tiba menuding Bi Lan itu sudah menjawab sambil menyeringai, "Kau boleh tanya pada keponakan perempuanmu itu, orang muda. Kau tanyalah apa yang telah dilakukan ayahmu terhadap kedua cucunya!"

Ceng Han pucat. Dia melihat Pek Hong juga berubah mukanya; heran, tetapi juga penasaran. Ceng Han yang memandang keponakannya langsung bertanya, "Bi Lan, apa yang dilakukan kakekmu pada kalian? Apa yang terjadi dalam peristiwa ini?"

Bi Lan menangis. "Persoalan Soan-hoan-ciang, Supek..."

"Soan-hoan-ciang?"

"Ya."

Tetapi belum Bi Lan melanjutkan jawabannya, tiba-tiba Ceng Bi melangkah maju sambil menarik napas; tampak berat bicara. Nyonya muda yang sudah menggigit bibir ini langsung menghadapi Ceng Han dan Pek Hong, lalu berseru lirih, "Enci Hong, Han-koko... tidak perlu kalian perdebatkan lagi masalah ini. Ayah memang bersalah. Dia telah bertindak pilih kasih terhadap Sin Hong...!"

Ceng Han terbelalak. "Dalam hal apa, Bi-moi? Soan-hoan-ciang itukah?"

"Ya, Ayah mengajarkan ilmu ini pada Bi Lan, Koko. Melatihnya secara diam-diam sementara Sin Hong dibiarkan saja seolah bukan cucunya!"

"Ahh...!" Ceng Han melangkah mundur, terkejut dan tiba-tiba mengepalkan tinju. "Kalau begitu aku akan menegur Ayah, Bi-moi. Kita harus menegur sikapnya yang tidak adil ini!"

Tetapi Bu-beng Siauw-jin tertawa. "Percuma, orang muda. Sin Hong terlanjur menjadi muridku dan tidak akan mempelajari ilmu silat kakeknya!"

Ceng Han membalikkan tubuh. "Locianpwe, kau agaknya sengaja hendak membuat onar di rumah ini. Apa sebenarnya maksudmu?"

"Haha, aku tidak bermaksud apa-apa, orang muda. Kecuali menarik Sin Hong menjadi muridku. Dia harus dapat mengalahkan Soan-hoan-ciang, mewarisi ilmu silatku sebagai tandingan ilmu silat ayahmu yang baru itu!"

Ceng Han mulai marah. Dia memberi isyarat kepada adiknya untuk menjaga pintu keluar, tetapi Sin Hong yang melangkah maju tiba-tiba berkata nyaring, "Supek, apa yang dikatakan Bu-beng Siauw-jin memang benar. Aku akan menjadi muridnya untuk memenuhi janji...!"

Ceng Han tertegun. Dia dan Ceng Bi memandang anak ini, sementara Pek Hong yang mengeluh perlahan tiba-tiba mencengkeram pundak anaknya. "Hong-ji, kau benar-benar ingin meninggalkan ibumu? Kau tidak dapat berlatih silat dari ayahmu sendiri?"

Sin Hong terkejut. Dia melihat mata ibunya yang basah, siap meledak dalam tangis penuh kekecewaan. Tetapi Sin Hong yang terlanjur sakit hati terhadap kakeknya dan teringat janjinya sendiri pada Bu-beng Siauw-jin tiba-tiba mengedikkan kepala, mengeraskan hati. "Aku tidak dapat menjilat kata-kataku sendiri, Ibu. Aku terpaksa mengikuti kakek ini untuk menjadi muridnya!"

"Dan kau tidak menunggu dulu ayahmu datang?"

Sin Hong terkejut. Dia sadar akan ketiadaan sang ayah di situ, digantikan oleh kehadiran pamannya, Ceng Han. Sin Hong yang tertegun oleh kenyataan ini tiba-tiba bertanya lirih, "Ibu, ayah ke mana?"

"Ke kota raja, Hong-ji. Sri Baginda memanggilnya untuk suatu urusan negara!"

"Dan kapan kembali?"

"Secepatnya!"

"Ah, kalau begitu aku tidak dapat menunggu, Ibu. Sampaikan saja kepada Ayah bahwa aku mengikuti Bu-beng Siauw-jin untuk memenuhi janjiku!"

"Jadi kau benar-benar tidak mau tinggal di sini?"

"Terpaksa, Ibu..."

Baru saja ucapan itu selesai dikeluarkan, tiba-tiba Pek Hong melompat mundur dengan mulut terisak. Ia mencabut senjata dan membentak Bu-beng Siauw-jin, "Baik! Kalau begitu kau harus dapat mengalahkan aku, Naga Bongkok. Kalau tidak, percuma kau membawa anakku!" Pek Hong yang sudah memutar rantai peraknya tiba-tiba melompat ke depan dengan air mata bercucuran. "Naga Bongkok, robohkanlah aku...!"

Sin Hong terkejut. Dia melihat ibunya tiba-tiba menyerang kakek bongkok itu; rantainya mendesing dalam gerak Honghai-kun dengan terjangan ganas. Tetapi si kakek bongkok yang maklum bahwa dia harus menunjukkan kepandaiannya tiba-tiba tertawa, mengulurkan lengan, dan menampar rantai perak si nyonya muda.

"Yap Hujin, tidak perlu kau maju seorang diri. Kalian semua boleh mengeroyokku... plak!"

Pek Hong tersentak. Dia melihat ujung rantainya melenceng ke kiri, dipukul oleh tamparan si kakek bongkok. Tetapi Pek Hong yang membentak nyaring sudah bertubi-tubi melancarkan serangan. Ia melanjutkan kegagalannya tadi dengan babatan miring, menghantam, dan bertubi-tubi menyerampang kakek itu dengan rantainya yang bersiutan, bergelombang naik-turun. Bahkan meliuk dan melingkar bagai ular yang mematuk kiri-kanan, naik-turun dengan indah tetapi dahsyat bukan main.

Tubuhnya yang berkelebatan kian kemari dengan pengerahan ginkang Coan-goat-hui (Terbang di Atas Bulan) sudah membuat tubuh nyonya muda ini berseliweran lenyap, membentuk gulungan cahaya putih yang naik-turun mengelilingi si kakek bongkok.

Mengejutkan sekali, Bu-beng Siauw-jin ternyata malah tertawa mendapat serangan ganas ini. Ia menggeser kaki maju-mundur tetapi sama sekali tidak pernah melompat, apalagi menjauhi serangan Pek Hong yang gencar bagai ombak samudra di laut luas. Ia selalu berhasil mengelak dan bahkan menolak sambaran rantai yang bertubi-tubi menghujani tubuhnya dengan cepat tetapi tepat.

Pek Hong merasa dari lengan kakek itu tiba-tiba muncul tenaga kuat yang selalu mendorong senjatanya hingga menyeleweng, tak pernah mengenai tubuh si kakek bongkok. Ia terkejut setengah mati ketika suatu saat kakek itu membentaknya dan mengebutkan ujung lengan baju.

"Yap Hujin, hati-hati. Aku akan mulai membalas...!"

Pek Hong terbelalak. Dia melihat kakek itu memutar tubuh setengah lingkaran untuk menghindari sambaran rantai yang meluncur ke dahi. Lalu, begitu senjata lewat di atas kepalanya, mendadak kakek ini menggerakkan lengan dengan cepat memukul rantai yang mendesing di sisi kepalanya itu.

"Plak...!"

Pek Hong menjerit. Ia merasakan gempuran tenaga yang luar biasa dahsyat pada pukulan ini, membuat lengannya lumpuh dan rantainya mencelat jatuh di atas lantai. Sementara dia bengong dengan muka kaget, tahu-tahu kakek itu telah mendorongkan lengan kirinya ke punggung sambil tertawa. "Hujin, beristirahatlah!"

Pek Hong tidak dapat mengelak. Ia mengeluh ketika punggungnya didorong tenaga yang dingin namun kuat, mengangkat dan melemparnya ke dinding ruangan. Begitu mengeluh dan berteriak tertahan, tahu-tahu nyonya muda ini terbanting membentur dinding.

"Bress...!"

Pek Hong dan semua orang tertegun. Ceng Bi terkejut melihat madunya roboh hanya dalam dua balasan si Bongkok; didorong dan dipukul lepas rantai di tangannya. Ceng Bi yang sudah memekik sambil mencelat menghampiri Pek Hong segera mengangkat bangun madunya itu dengan suara cemas, "Enci Hong, kau tidak apa-apa?"

Pek Hong bangkit berdiri. Ia tertegun dan terbelalak ke arah lawannya itu; kaget tetapi juga tergetar. Ia terkesiap oleh kehebatan lawan. Namun nyonya muda yang menggelengkan kepalanya sambil menarik napas ini menjawab lirih, "Tidak... aku tidak apa-apa, Bi-moi. Bu-beng Siauw-jin tidak melukaiku, tapi dia benar-benar hebat...!"

Ceng Bi lega. Ia menepuk-nepuk baju Pek Hong yang kotor oleh debu, lalu membalikkan tubuh menghadapi kakaknya. "Han-ko, bagaimana pendapatmu?"

Ceng Han juga terkejut. Ia tidak menyangka bahwa begitu cepat si Bongkok mengalahkan Pek Hong, padahal istri Pendekar Gurun Neraka itu bukanlah wanita sembarangan. Karena maklum si Bongkok betul-betul lihai, ia pun memberi kedipan pada adiknya.

"Bu-beng Siauw-jin memang mengagumkan, Bi-moi. Tapi bagaimana pendapat Adik Hong sendiri? Relakah dia melepas Sin Hong setelah sedikit mengenal ilmu silatnya ini?"

Pek Hong masih tergetar. Ia tidak menjawab pertanyaan itu; bengong, tetapi mulai girang bahwa kakek yang hendak membawa anaknya ini ternyata hebat. Memiliki ketenangan ilmu silat yang mengagumkan dan juga tenaga sinkang yang dahsyat, terbukti dari pukulannya yang melumpuhkan itu, bahkan membuat rantainya mencelat.

Namun Pek Hong yang masih kurang puas tiba-tiba melangkah maju, berpikir bahwa demonstrasi kakek itu perlu diuji lagi. Sebab, orang yang dapat mengalahkan dirinya memang bukan satu-dua orang, melainkan ada beberapa di antaranya orang-orang sakti yang tingkat kepandaiannya sejajar dengan suaminya sendiri, Pendekar Gurun Neraka!

Tetapi sebelum nyonya muda ini mengeluarkan unek-uneknya, tiba-tiba Bu-beng Siauw-jin sudah tertawa dan menggoyangkan tangan. "Hujin, jangan khawatir. Aku tahu kecemasanmu. Kau ingin membuktikan kepandaianmu sampai puas, bukan? Nah, majulah... majulah kalian bertiga dan keroyoklah si tua bangka ini. Kalau aku kalah, biarlah Sin Hong tidak jadi kubawa. Kita bertaruh!"

Pek Hong terkejut. Ia tertegun menyadari si kakek bongkok ini rupanya dapat membaca apa yang dia pikirkan; dapat bicara sebelum ditanya. Tapi Ceng Bi yang galak serta marah tiba-tiba melengking tinggi, "Bu-beng Siauw-jin, jangan sombong!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment