Chapter 40
"Ayah sendiri belum tentu berani menantang kami seperti kau..."
"Ha! Itu karena kalian telah mengenal ilmu silatnya, Hujin. Kalau tidak, belum tentu kalian dapat melawannya pula. Seperti aku!"
Ceng Bi terkejut. Ia merasa kata-kata kakek ini masuk akal juga. Nyonya muda yang tertegun oleh jawaban itu tiba-tiba disambut seruan Ceng Han yang melangkah ke depan. "Baiklah, boleh kita layani maksudnya, Bi-moi. Tapi tidak perlu kita maju bersama secara berbarengan. Sebaiknya kau dulu, atau kau bersama Hong-moi yang mencoba kakek ini. Kalau tidak dapat merobohkannya, barulah aku menyusul belakangan!"
Bu-beng Siauw-jin tertawa. "Jangan sungkan-sungkan, orang muda. Aku, si tua bangka ini, boleh kalian keroyok sesuka hati. Tidak perlu menunggu lama. Kalau tidak, tentu kalian tidak akan mengenal kepandaian yang kumiliki!"
Ceng Bi menjadi panas. "Kalau begitu serang saja, Han-ko. Kakek ini tampaknya sombong sekali!"
"Haha, boleh, Hujin. Silakan...!"
Ceng Bi langsung mencabut pedang. Ia sudah memungut rantai perak Pek Hong dan melemparkannya kepada kawannya itu. Namun, melihat Ceng Han masih berdiri tak bergerak, nyonya muda ini berseru, "Han-ko, kenapa tidak kauturuti kemauan si tua bangka ini? Bukankah dia sendiri yang memintanya?"
Ceng Han tersenyum, sikapnya tampak hati-hati. "Aku ingin melihat kalian maju duluan, Bi-moi. Kalau bisa merobohkannya, tentu aku tidak perlu capai-capai mengeluarkan tenaga."
"Jadi kau menyusul belakangan?"
"Kalau diperlukan, Bi-moi. Kalian majulah!"
Bu-beng Siauw-jin tertawa kembali. "Yap-hujin, kakakmu ini cerdik. Dia ingin mengetahui dulu aliran ilmu silatku!"
Ceng Bi terkejut. Ia melihat wajah kakaknya memerah, tanda bahwa tebakan itu tepat. Namun, Bu-beng Siauw-jin yang menyeringai kepada mereka sudah mengibaskan lengannya. "Ayo, tidak perlu sungkan-sungkan, Ji-wi Hujin. Kalian maju saja dan lihat dalam berapa jurus aku bisa merobohkan kalian!"
Ceng Bi mendesis. Ia merasa tersinggung. Melihat kakek itu menertawakannya, tiba-tiba nyonya muda itu membentak dan menggerakkan pedangnya untuk mulai menyerang.
"Enci Hong, kakek ini rupanya sombong. Jangan sungkan-sungkan kalau begitu. Mari kita serang...!"
Ceng Bi yang sudah memainkan ilmu pedang Cui-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Pengejar Iblis) tiba-tiba melengking dan menusukkan pedangnya dari atas. Ia menikam ubun-ubun kakek itu dengan gerakan cepat, sebat, dan kuat. Sementara itu, Pek Hong yang gembira melihat kakek itu menyuruh mereka mengeroyok, juga sudah memberi peringatan dan menggerakkan rantai peraknya menyambar pinggang.
Begitu dua wanita cantik ini menyerang bersamaan, gerakan mereka susul-menyusul dengan cara yang cerdik. Ceng Bi sengaja menyerang bagian atas kakek bongkok itu, sementara Pek Hong menyerang bagian bawah, mulai dari pinggang hingga kaki untuk menutup jalan keluar.
Namun, hal yang mengherankan terjadi. Kakek ini hanya tertawa tanpa mengelak atau menghindar. Begitu dua senjata itu hampir mengenai dirinya, mendadak ia menjatuhkan diri tengkurap dan menendang pedang serta rantai tersebut.
"Tring-plak!"
Ceng Bi dan Pek Hong mengeluarkan seruan tertahan. Mereka merasa lengan yang memegang pedang dan rantai bergetar, hampir lumpuh dan melepaskan senjata. Namun, Ceng Han yang rupanya sudah mengenal tenaga sinkang kakek ini yang memang hebat luar biasa, segera memberi aba-aba, "Bi-moi, Hong-moi... jangan adu tenaga. Lawan saja dengan kecepatan!"
Ceng Bi dan Pek Hong mengangguk. Pek Hong sudah lebih dulu menyadari bahwa tenaga kakek ini memang hebat dan jelas berada di atas tenaga mereka. Maka, Pek Hong yang tidak mau mengadu sinkang langsung membentak nyaring dan memainkan rantainya dengan cepat sesuai anjuran Ceng Han. Hal yang sama dilakukan oleh Ceng Bi yang memainkan pedangnya dalam ilmu silat Cui-mo Kiam-hoat untuk mencecar lawan.
Namun, Bu-beng Siauw-jin malah tertawa semakin keras. Kakek ini tetap tenang. Mendengar Ceng Han memberi petunjuk pada dua wanita cantik itu, ia malah terkekeh.
"Ya, benar, Ji-wi Hujin. Sebaiknya kalian tidak mengadu sinkang denganku. Mainkan saja pedang dan rantai secepat kalian bisa...!"
Lalu kakek yang tertawa dengan wajah gembira itu menggerakkan kaki dan tangannya untuk menangkis. Bu-beng Siauw-jin melakukan gerakan naik turun, mengikuti ke mana rantai dan pedang menyambar. Ia menyampok atau bahkan mendorong senjata lawan agar tidak melukai tubuhnya.
Ceng Bi dan Pek Hong yang tidak mau beradu tenaga lagi segera mengubah arah serangan setiap kali si kakek bongkok menangkis. Kedua wanita ini selalu menghindari tangkisan langsung karena menyadari betapa hebatnya sinkang kakek itu yang mampu menggetarkan lengan mereka. Karena keduanya selalu melompat dan mengelakkan pukulan si bongkok serta melencengkan sasaran setiap kali ditangkis, pertandingan pun menjadi lama dan seru.
Hal ini membuat Ceng Han mengerutkan alis. Ia berkali-kali melihat betapa pedang atau rantai adiknya terpaksa diubah arahnya begitu Bu-beng Siauw-jin siap membenturkan senjata atau menggerakkan lengan dan kakinya untuk menangkis. Karena Ceng Bi dan Pek Hong selalu menghentikan serangan di tengah jalan untuk dilanjutkan dengan serangan lain demi menghindari benturan tenaga, lama-kelamaan kedudukan mereka menjadi tidak menguntungkan. Apalagi ketika tiba-tiba Bu-beng Siauw-jin membalas!
Kakek ini mengetahui kebimbangan lawan yang merupakan kelemahan mereka karena tidak berani menerima benturan dalam tangkisan langsung. Karena keduanya selalu gagal dalam serangan pertama akibat takut beradu tenaga, Bu-beng Siauw-jin tiba-tiba mulai berada di atas angin. Ia melakukan gerakan aneh seperti naga yang meliuk-liuk dan melecutkan ujung bajunya yang tiba-tiba mengeras, kaku bagaikan sebatang tongkat!
"Ji-wi Hujin, hati-hati. Kalian akan kurobohkan dalam dua puluh jurus...!"
Ceng Bi terkejut. Ia melihat ujung baju kakek ini tiba-tiba menyambar dadanya, padahal saat itu ia sedang melancarkan serangan menusuk dada kakek itu dengan tikaman lurus ke depan karena Bu-beng Siauw-jin tidak menangkis. Melihat dadanya diancam pukulan ujung baju yang menyambar bagai tongkat baja, seketika nyonya ini mencelos dan melengking tinggi. Tidak ada pilihan baginya saat itu kecuali meneruskan serangan atau membatalkannya untuk menangkis serangan kakek itu.
Namun, karena meneruskan serangan berarti bahayanya lebih besar sebab pukulan kakek itu mengeluarkan deru angin yang kuat, maka secepat kilat nyonya muda ini membanting tubuhnya. Ia langsung mengubah gerakan pedang untuk menangkis sekaligus membabat lengan kakek itu.
"Tak!"
Ceng Bi terkesiap. Pedangnya dengan tepat mengenai kakek itu, menghantam lengannya dari samping dengan sangat keras. Ceng Bi yang mengira siku kakek itu bakal buntung dibabat pedang, tiba-tiba terbelalak melihat kakek itu sama sekali tidak apa-apa. Kakek itu tertawa dan bahkan menggerakkan ujung baju satunya untuk meneruskan serangan yang gagal.
"Yap-hujin, berhati-hatilah. Ujung bajuku tidak mengenal mata...!"
Ceng Bi kaget bukan main. Ia tertegun, heran dan terkejut melihat kakek ini ternyata kebal berkat perlindungan sinkang. Saat melihat ujung baju sebelah kiri menotok pundaknya, tiba-tiba nyonya ini menggulingkan tubuh dan menggerakkan pedangnya untuk menangkis.
"Tak!"
Kembali Ceng Bi tertegun. Untuk kedua kalinya, pedangnya menyambar ujung baju yang luar biasa keras, seperti batu granit! Saat ia menggulingkan diri sambil menangkis, tahu-tahu ujung baju si kakek bongkok berubah lemas dan melilit badan pedangnya, lalu menariknya dengan kuat!
"Hujin, robohlah. Lepaskan pedangmu...!"
Ceng Bi tidak dapat bertahan lagi. Ia tidak kuasa menahan betotan lawan. Begitu pedang terlepas dan mencelat dari tangannya, si kakek pun tertawa dan menyusulkan serangan terakhir dengan menotok pinggangnya.
Namun, Pek Hong yang ada di sampingnya tidak tinggal diam. Wanita cantik ini berseru keras, dan tepat saat pedang Ceng Bi terlepas, ia menyambarkan rantainya ke leher kakek itu seraya menendang temannya.
"Bi-moi, minggir...!"
Ceng Bi terlempar. Ia ditendang Pek Hong tepat ketika si kakek hendak menotoknya, sehingga ia luput dari serangan terakhir itu. Dengan gerakan melenting, nyonya muda ini berjungkir balik di udara, menyambar kembali pedangnya, dan mendarat dengan muka pucat. Ia berteriak dan menyerang bertubi-tubi untuk membantu Pek Hong yang baru saja menolongnya dari totokan si kakek yang ternyata benar-benar lihai!
"Enci Hong, hati-hati. Si bongkok ini benar-benar hebat...!"
Pek Hong mengangguk sebagai jawaban. Ia sadar bahwa lawan mereka sangat lihai dan tidak boleh diremehkan. Sambil membentak dan mengayun-ayunkan rantai peraknya, nyonya muda ini kembali menyerang bersama Ceng Bi.
Bu-beng Siauw-jin yang tertawa melihat serangan kedua nyonya itu berseru, "Waspadalah, Ji-wi Hujin. Sebelum dua puluh jurus, aku benar-benar akan merobohkan kalian!"
Pek Hong dan Ceng Bi memutar senjata. Mereka tetap menyerang dengan gencar, namun kini dilakukan bergantian untuk saling melindungi. Mereka menjaga agar tidak terjadi lagi keadaan buruk seperti sebelumnya, di mana Ceng Bi hampir kalah dalam beberapa gebrakan begitu Bu-beng Siauw-jin membalas. Tanpa menjawab seruan si kakek, kedua wanita cantik itu terus mencecar lawan mereka yang hebat ini.
Namun, Bu-beng Siauw-jin tiba-tiba membuktikan ucapannya. Kakek itu berkelebat saat diserang secara bergantian. Begitu ia menggerakkan kakinya melejit ke kanan dan ke kiri, mendadak Pek Hong dan Ceng Bi terkejut. Mereka melihat wujud kakek itu lenyap, berubah menjadi gulungan putih yang menyambar mereka. Saat si kakek mengibaskan lengan ke kiri dan ke kanan, mendadak ia mencengkeram pedang dan rantai keduanya!
"Ji-wi Hujin, lepaskan senjata kalian...!"
Pek Hong dan Ceng Bi kaget bukan main. Mereka benar-benar tidak dapat menyerang lagi karena senjata mereka telah dicengkeram oleh lawan.