Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 41

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 41

Dan begitu mereka menarik sambil meronta, tahu-tahu Bu-beng Siauw-jin menyendal kedua tangannya sambil menarik.

Tak ayal, Pek Hong berdua tertarik maju, dan sementara mereka terpekik kaget, tahu-tahu Bu-beng Siauw-jin menendang lutut mereka hingga terpelanting roboh.

"Dess-dess!" Pek Hong dan Ceng Bi mengeluh tertahan.

Mereka terlempar dua tombak, melepas senjata, dan menumbuk dinding ruangan, terkejut tapi langsung melompat bangun, berjungkir balik mematahkan daya dorong yang masih menghantam mereka.

Tapi Bu-beng Siauw-jin yang rupanya ingin menyelesaikan pertandingan tiba-tiba sudah melompat maju mendahului mereka.

"Ji-wi hujin, sekarang robohlah...!" Ceng Bi dan Pek Hong membelalakkan mata.

Mereka baru saja turun, kaki masih bergoyang.

Mana mungkin mengelak atau menangkis? Maka melihat lawan menggerakkan kedua lengannya ke arah mereka, Pek Hong maupun Ceng Bi terkesiap.

Tak sempat lagi mereka menghindar, tinggal menunggu kekalahan.

Tertotok roboh!

Tapi Ceng Han yang tak dapat lagi menunda kesabarannya tiba-tiba berkelebat maju, mendorongkan lengan menerima totokan kakek itu, sekaligus menangkis sambil menjajal kekuatan sendiri!

"Locianpwe, jangan tergesa-gesa. Masih ada aku di sini...." Bu-beng Siauw-jin terkejut.

Totokan jarinya sudah disambut telapak Ceng Han, menangkis sekaligus mendorong balik serangan terakhir itu.

Tapi Bu-beng Siauw-jin yang tertawa ditahan menambah tenaganya dan berseru pendek.

Ceng Han merasa kakek itu "memuntir" jarinya, dan begitu jari si kakek bertemu telapak tangannya, tiba-tiba dia berteriak keras ketika tangannya tertolak dan terdorong mundur!

"Ah, kau hebat, locianpwe...!" Kakek itu tertawa.

Dia melihat Ceng Han berjungkir balik mematahkan daya dorong dari luncuran tenaga saktinya, berubah mukanya dan mengakui kakek ini benar-benar hebat.

Tapi Ceng Han yang sudah mencabut pedang melompat lagi ke depan dengan muka merah.

"Hong-moi, Bi-moi, kakek ini benar-benar tidak sombong. Kita boleh mengeroyoknya sekarang...!" Bu-beng Siauw-jin melempar pedang dan rantai rampasan.

"Ya, dan mari kita main-main lagi, ji-wi hujin. Sekarang boleh kita lihat siapa yang kalah di sini. Terimalah!" Pek Hong dan Ceng Bi cepat menangkap.

Mereka tadi melihat betapa Ceng Han tak kuat menahan dorongan sinkang kakek itu.

Maka mereka berdua yang gembira serta penasaran oleh kesaktian kakek ini maju ke depan menerjang bersama.

"Baik, kami akan mengujimu untuk yang terakhir kalinya, kakek bongkok. Kalau kau betul dapat mengalahkan kami bertiga, aku rela melepas Sin Hong...!" Bu-beng Siauw-jin tertawa mendengar ucapan Pek Hong ini.

Dia sudah melompat ke sana-sini, tidak menggeser kaki lagi seperti semula ketika dia menghadapi nyonya muda itu.

Dan Ceng Han bertiga yang sudah mengerubut dengan pedang di tangan serta rantai perak yang menyambar-nyambar dirinya dari segala penjuru sudah disambut kekeh kakek ini yang tampaknya gembira bukan main.

"Baik, kau sudah berjanji, hujin. Aku lebih mantap lagi kalau Sin Hong direstui ibunya...?" Kakek itu menunduk, menghindar rantai di tangan Pek Hong yang menyambar kepalanya.

Lalu begitu dia memutar tubuh dan menggerakkan kaki kanannya, tahu-tahu pedang di tangan Ceng Han dan Ceng Bi ditangkis hingga saling bentur sendiri.

"Trang!" "Ah, hati-hati, hujin...!" Ceng Bi mendongkol.

Dia marah oleh ejekan kakek itu, yang menyeringai dan sengaja mengejek mereka berdua karena secara "nakal" diselewengkan arahnya hingga saling bentur dengan pedang kakaknya.

Namun Ceng Han yang memberi kedipan padanya tiba-tiba melompat ke belakang dan berseru, "Bi-moi, tak perlu gusar. Serang dia dari depan dan aku di belakang!" Ceng Bi menurut.

Ia melengking memutar pedangnya, lalu begitu bergerak dan menusuk ke depan, nyonya muda ini sudah menyerang bertubi-tubi bagian depan tubuh kakek itu, sementara Pek Hong yang juga penasaran dan ingin melihat kemudahan dari pertandingan ini juga menggerakkan rantainya dan memainkan kembali ilmu silat Hongbaikun-nya itu.

Maka ramailah pertandingan ini.

Bu-beng Siauw-jin benar-benar dikeroyok tiga, sesuai dengan permintaannya sendiri.

Dan Ceng Han serta dua orang temannya yang menggerakkan senjata dari segala arah sudah mengiringi pula serangan mereka dengan pukulan-pukulan tangan kiri.

Menampar atau mendorong dengan pukulan sinkang.

Tapi Bu-beng Siauw-jin yang bersikap tenang masih tak gugup.

Kakek ini melayani mereka dengan baik sekali, menggeliatkan tubuh dan mulai meliuk-liuk bagai naga menari, mengelak dan sekaligus "mematuk" dengan kedua tangannya yang membentuk cengkeraman, atau agaknya mulut naga.

Dan Ceng Han yang melihat ilmu silat kakek ini tiba-tiba berseru, "Sin-liong hoat (Silat Naga Sakti)...!" Si kakek tertawa.

"Kau agaknya tajam pandangan, anak muda. Kau persis ayahmu yang awas itu!" Tapi Ceng Han tak menggubris pujian ini.

Dia mulai terkejut ketika si bongkok mengeluarkan ilmu silatnya, Sin-liong hoat yang pernah didengar sebagai milik satu-satunya dari seorang tokoh di Himalaya bernama Wu Tong, tokoh yang katanya tak pernah turun gunung dan dikenal ayahnya pada empat puluh tahun yang lampau ketika ayahnya mengembara dan menjajal kepandaian orang-orang sakti di pegunungan itu.

Maka melihat kakek ini mahir memainkan ilmu Silat Naga Saktinya dan tampak mirip dengan cerita ayahnya, tiba-tiba Ceng Han tercekat dan membelalakkan matanya.

"Locianpwe, kau kakek bernama Wu Tong itu?" Bu-beng Siauw-jin terbahak.

Dia terkejut mendengar seruan itu, sekejap saja.

Karena kakek yang sudah tertawa bergelak sambil menggoyang tubuh menangkis ke sana ke mari semua serangan senjata sudah mengelebatkan tubuhnya dan bersikap tawar terhadap pertanyaan ini, acuh tak acuh.

"Aku lupa namaku sendiri, orang muda. Tak tahulah siapa Wu Tong itu!" Ceng Han melengong.

Dia melihat kakek itu tampaknya tak suka membicarakan tokoh ini.

Dan maklum tak ada gunanya menduga-duga siapa lawannya itu, maka Ceng Han kembali pada persoalan semula dan menyerang kakek itu.

Mereka bertiga kembali terlibat pertempuran sengit, dan ketika satu saat si kakek melayani pedang dan rantai Pek Hong yang menyambar di depan, sekonyong-konyong Ceng Han membentak dan menusukkan pedangnya ke punggung kakek itu, membarengi dorongan telapak kirinya yang menghantam tengkuk si Naga Bongkok!

"Locianpwe, awas...!" Si kakek bongkok mendengus.

Dia tahu serangan di belakang ini, terbukti daun telinganya bergerak mendengar desir angin serangan.

Tapi Bu-beng Siauw-jin yang rupanya ingin membuat kejutan tak mengelak atau menangkis serangan itu, hal yang membuat Ceng Han terkejut.

Dan sementara Bu-beng Siauw-jin mendengus oleh seruan itu, tahu-tahu kedua lengannya sudah menolak pedang dan rantai di tangan Pek Hong berdua, tentu saja dengan dorongan sinkang, membuat dua nyonya muda itu terpekik ketika senjatanya mencelat, lepas dipukul runtuh Bu-beng Siauw-jin.

Dan begitu pedang dan rantai terlempar dari tangan pemiliknya, saat itu juga tusukan dan tamparan Ceng Han mendarat di punggung dan tengkuk kakek itu!

"Plak-dess!" Ceng Han terkejut.

Dia juga terpekik oleh gebrakan ini, bukan karena pedangnya mencelat atau terlempar seperti Ceng Bi melainkan karena pedangnya bertemu benda kenyal yang tiba-tiba menarik dan menghisap pedangnya, tak dapat dibetot dari punggung si kakek bongkok.

Dan sementara tangan kirinya sendiri sudah mengenai tengkuk lawannya, tiba-tiba tangan itu juga tak dapat ditarik ketika bertemu kulit tengkuk yang dingin bagai kulit ular.

Melekat!

"Ahh...!" Ceng Han kaget bukan main.

Dia merasa telapak dan pedangnya disedot tenaga dingin yang bukan main hebatnya.

Tapi baru dia meronta dan mengeluarkan bentakan keras, tahu-tahu si kakek bongkok terkekeh dan memutar tubuh.

Dengan cepat sekali Bu-beng Siauw-jin merampas pedang, lalu begitu kakinya bergerak, tahu-tahu tiga orang lawannya sudah ditendang bergantian dan... mencelat membentur dinding!

"Des-des-dess...!" Ceng Han bertiga berteriak.

Mereka sama-sama terlempar, tak dapat menguasai diri karena lutut mereka ditotok ujung sepatu lawan.

Dan Bu-beng Siauw-jin yang terkekeh dengan suara gembira tiba-tiba menyambitkan pedang rampasannya ke leher Ceng Han.

"Crep." Ceng Han melotot dengan muka pucat.

Dia mendengar desing senjata yang mengerikan itu, menyusul tubuhnya yang terbanting di dinding ruangan.

Dan begitu dia roboh dengan mata terbelalak, tahu-tahu ujung pedangnya sendiri sudah "memantek" leher bajunya di dinding ruangan, satu inci saja di kulit leher!

"Ah...!" Ceng Han terbengong dengan muka berubah.

Dan Ceng Bi serta Pek Hong yang melihat Ceng Han "dipantek" dengan ujung pedang seperti itu hampir berbarengan mengeluarkan keluhan tertahan.

Dari jauh seolah leher Ceng Han yang disate, maklum pedang demikian dekat dengan kulit leher.

Tapi begitu melihat Ceng Han bangkit berdiri dan terhuyung menghampiri si kakek bungkuk, dua orang nyonya muda ini pun menjadi sadar dan lega.

Tahu bahwa si Naga Bongkok tidak bersungguh-sungguh dalam serangannya itu!

Maka Ceng Bi dan Pek Hong yang sudah melompat bangun setelah membebaskan totokan di lutut mereka segera mendekati Ceng Han yang sudah menjura di depan kakek bongkok itu.

"Locianpwe, kau benar-benar hebat. Kami menyerah kalah...!" Bu-beng Siauw-jin tertawa.

Dia acuh saja mendengar pujian itu, namun lengannya yang melambai ke kiri meminta Sin Hong mendekat padanya.

"Kau dengar pengakuan pamanmu, Sin Hong? Bagaimana sekarang dengan ibumu?" Pek Hong mendahului anaknya, "Aku menepati janji, Bu-beng Siauw-jin. Sin Hong rela kulepas menjadi muridmu!" Sin Hong gembira sekali.

Dia sudah melompat maju mendekati kakek itu, yang sungguh tak diduga memiliki kesaktian demikian hebat.

Tapi Bu-beng Siauw-jin yang berseri mukanya mendadak menyeringai kecut dan menggerak-gerakkan daun telinganya.

"Hujin, di samping kita berlima, siapa lagi yang berada di rumah ini?" Pek Hong terheran.

"Tak ada siapa-siapa lagi, locianpwe. Kenapa?" "Hm, kita kedatangan seorang tamu, hujin. Ada seseorang mendatangi tempat kita!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment